Vitamins Blog

PANDORA’S CURSED : PART 20 (END)

Bookmark

No account yet? Register

42 votes, average: 1.00 out of 1 (42 votes, average: 1.00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

“Yang Mulia Raja Charles, apa itu kau?”

 

Charles terperangah. Ia memegang toplesnya erat-erat. Ophelia berlahan-lahan membuka matanya. Pandangannya tertuju pada Charles yang masih berdiri disana dengan ekspresi terkejut. Ophelia tersenyum, lalu bangkit dari tidurnya.

 

“Apa yang tengah kau pegang, Yang Mulia?” Ophelia kembali bertanya.

 

Charles melirik sejenak kepada toples tersebut. Lalu, ia menjawab: “Bukan apa-apa.”

 

Ophelia turun dari ranjangnya. Tangannya meraih toples yang berada di dekapan Charles. Ia mengambilnya dan meletakkannya di meja nakas.

 

“Kenapa apa Yang Mulia datang kesini?” Ophelia mencium bibir Charles. “Kau merindukanku di malam-malam dingin seperti ini?”

 

Ophelia kembali mencium bibir Charles. Kali ini melumatnya dan tangannya melingkari pinggang Charles. Charles mengerutkan dahinya. Ophelia tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Dia sangat pemalu.

 

“Op-Ophelia…”

 

Ophelia membuka matanya dan menampakkan iris mata berwarna merah menyala.Charles membelalakkan matanya dan mendorong jauh tubuh Ophelia. Seketika tubuh Ophelia ambruk, tapi tidak dengan sesuatu yang bersemayam di tubuhnya. Asap keluar dari balik tubuhnya dan berlahan-lahan menggumpal sehinggan berbentuk wujud seorang laki-laki dengan mata merahnya.

 

Charles terkejut dan spontan melangkah mundur. Ia menunjuk kearah wajah Samuel.

 

“Kau….kau…. iblis yang aku lihat waktu itu…”

 

“Iya,” Samuel menjawab. “Aku adalah iblis yang bersemayam di tubuh adikmu dan juga iblis yang kau lihat waktu itu.”

 

Samuel terkekeh. Charles meraih pedang yang berada di pinggangnya. Tapi, ia terkejut saat menyadari bila pedang itu tidak berada di tempatnya.

 

“Kau tidak bisa membunuhku, Charles. Kau hanya bisa membunuh Ophelia, bukan aku,” Samuel tersenyum. “Aku tahu bila kau menginginkan Ophelia.”

 

Charles melirik kearah tubuh Ophelia yang terbaring di lantai. “Ilana, bukan Ophelia.”

 

“Kau tahu bila mereka adalah orang yang sama, bukan?”

 

Samuel berjalan mengelilingi Charles. Charles mengangguk.

 

“Ya, aku tidak pernah menyadarinya,” Jawab Charles. “Tapi aku bersumpah untuk membunuh Ophelia seperti yang dilakukan raja terdahulu sebelumnya, membunuh saudara atau pun saudarinya yang terkena kutukan untuk melindungi kerajaan.”

 

Samuel tersenyum miring. “Tapi kau tidak bisa mengangkat untuk membunuhnya,” Samuel berisik tepat di telinga Charles. “Kau terlanjur mencintai adikmu sendiri, bukan?”

 

Charles menatap ke tubuh Ophelia. Benar, ia mencintai adiknya sendiri tanpa ia sadari. Ia tidak mengingat pasti seperti apa Ophelia waktu dulu. Ibunya sering menjauhkan dirinya dari Ophelia, takut bila saudarinya yang terkutuk itu akan membunuhnya secara tidak sengaja. Dan sekarang ia terjebak dengan perasaannya sendiri.

 

“Aku dapat membantumu untuk melakukan sumpahmu,” Samuel menawarkan bantuan yang menggoda untuk Charles.

 

Seketika Charles menoleh kepada Samuel, tercengang dengan tawaran yang diberikan oleh Samuel.

 

“Apa?”

 

“Kau hanya melakukan apa yang aku sarankan,” Samuel berjalan menuju ranjang, lalu duduk di pinggirannya. “Tidak lama lagi Claudia akan mengandung anak Aaron. Kau harus melakukan acara khusus untuknya. Mungkin… acara keluarga kerajaan seperti jamuan minum teh.”

 

“Apa katamu? Claudia hamil?”

 

“Apa kau tercengang,” Samuel menelengkan kepalanya. “Apa itu mengenai tantanganmu kepada Claudia,” Samuel terkekeh sambil mengibaskan tangannya. “Itu bukan urusanku.”

 

Charles mengatupkan mulutnya. “Lalu, apa rencanamu?”

 

“Air itu…” Charles melirik kearah toples bening tersebut. “Kau harus membawanya disaat acara itu. Kau harus membuatku keluar dari tubuh Ophelia karena hal itu akan membuat bukti bila Ophelia adalah anak terkutuk.”

 

“Apa disaat itu aku harus membunuhnya?”

 

“Kau takut membunuhnya?” Samuel terkekeh. “Aku tidak menyangka bila kau selemah itu,” Charles mengerutkan dahinya, tidak suka dengan perkataan Samuel. “Baiklah, bila kau tidak bisa membunuhnya biarkan ibumu melakukannya.”

 

Charles membulatkan matanya. Ia tahu bila Ratu Theresa sangat membenci Ophelia dan iblis ini mengatakan bila ibunya akan membunuh anak kandungnya sendiri.

 

“Ibumu sangat membenci Ophelia. Biarkan wanita itu melakukan apa yang ingin ia lakukan dahulu.”

 

–{—

 

“Aku menyuruh Samuel untuk memasukkan air itu kedalam cangkir dan di larutkan bersama teh. Dan juga aku sengaja meracuni diriku sendiri,” Charles memandang kepada Ratu Theresa. “Aku menyimpannya di balok gula yang khusus disediakan untukku.”

 

“Karena itu sebelum acara berlangsung, kau menyuruhku untuk menyiram air teh ke wajah Ophelia?” Ratu Theresa bertanya. “Apa kau ingin menunjukkan bila Ilana adalah Ophelia?”

 

“Iya. Aku ingin menunjukkannya kepada ibu bila aku salah. Aku sudah masuk kedalam godaan iblis.”

 

Charles menoleh kepada Ratu Theresa. “Maafkan aku ibu. Seharusnya aku mendengarkanmu. Iblis itu berkata bila ibu bisa melakukan apa yang ingin ibu lakukan dahulu, melindungi kerajaan ini dan rakyat.”

 

Ratu Theresa mengangguk. Ia mengerti apa yang di maksud oleh Charles.

 

“Ibu akan menggantikanmu untuk sementara.”

 

–{—

 

Ophelia di bangunkan oleh penjaga yang menjaga selnya. Seember air di siramkan kepadanya hingga ia menjadi basah kuyup. Ophelia mendongak, menatap kearah penjaga dengan wajah sangar itu. Penjaga itu hanya menatapnya dengan tatapan yang dingin dan angkuh, menganggap Ophelia adalah makhluk rendahan di muka bumi ini.

 

Ia menyipitkan matanya saat menyadari bila penjaga itu tidak sendirian. Ada dua orang dibelakangnya dengan pakaiannya yang sangat mewah. Ophelia terbelalak saat menyadari bila mereka adalah Ratu Theresa dan Aaron. Ophelia bangkit dari posisinya dan duduk di atas jerami sambil menundukkan kepalanya.

 

“Yang Mulia Ratu Theresa,” Ucapnya. “Ibu…”

 

Ratu Theresa mendecakkan lidah. “Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Aku tidak ingin menganggapmu bagian dari keluarga.”

 

“Yang Mulai Raja Charles telah bangun dari sakitnya. Ia memerintahkanku untuk menghukum mati dirimu esok pagi saat matahari terbit.”

 

Ophelia terdiam, dalam hati ia terkejut dan takut. Tangannya tanpa sadar meremas roknya di lutut.

 

“Ba-bagaimana… keadaan Raja Charles?” Ophelia berani untuk menanyakannya.

 

“Dia baik-baik saja, setelah kau meracuninya. Aku bersyukur bila racun itu tidak membunuhnya,” Ratu Theresa memandang hina kepad Ophelia. “Kau tahu? Charles sangat mencintaimu dan kau mengkhianatinya. Memang terlihat aneh ketika hubungan persaudaraan terlihat saling mencintai. Tapi tetap saja kau mengkhianatinya sebagai saudarinya dan juga kekasihnya.”

 

“Aku tidak mencintai Charles. Aku hanya menganggapnya sebagai kakak.”

 

“Sayangnya Charles tidak pernah menganggapmu sebagai saudarinya.”

 

Ratu Theresa mencoba untuk mendekat. Aaron mencegahnya, mencekat lengan ibunya. Ratu Theresa menoleh dan memberikan tatapan aku-tidak-akan-mati-karena-wanita-terkutuk-itu. Ophelia masih menundukkan kepalanya. Ia bisa melihat bayangan Ratu Theresa mendekati dirinya.

 

Ratu Theresa berdiri tepat dihadapan Ophelia. Ia memandang kepala Ophelia yang tampak lebih rendah darinya. Lalu, ia memberanikan diri untuk membungkuk, menarik rambutnya hingga menampakkan wajah Ophelia yang telah rusak akibat terkena teh panas berisikan air suci itu.

 

“Kau tahu alasannya aku sangat membencimu?” Ratu Theresa bertanya. “Karena kau adalah anak yang membawa sial dan di tambah dengan kau mempunyai wajah yang sangat mirip denganku. Karena itu semua orang mencintai dirimu, termasuk saudara-saudaramu,” Ratu Theresa mengelus pipi Ophelia yang melepuh. “Aku bersyukur wajahmu telah rusak karenaku.”

 

Ratu Theresa melepaskan cengkraman rambut Ophelia dengan kasar. Lalu, ia berjalan keluar dari sel diikuti oleh Aaron di belakangnya.

 

“Aaron…”

 

Panggilan Ophelia membuat Aaron menghentikan langkahnya. Aaron menoleh kepada Ophelia. Ada perasaan luka di sinar matanya saat menatap Ophelia dengan pakaian lusuh di dalam sel.

 

“Tolong aku… kumohon, hanya kau yang bisa aku harapkan….”

 

Ophelia memohon. Air matanya menetes membuat wajah dan roknya basah.

 

“Maafkan aku, Ophelia,” Aaron menjawab dengan perasaan menyesal. “Aku berpikir bila kau tidaklah sejahat itu, seberbahaya itu. Aku berpikir bila kau tidak akan pernah menyakiti orang lain. Tapi aku salah!” Aaron menghentikan kalimatnya, meresa berat melanjutkan kalimatnya. “Maafkan aku, Ophelia. Aku tidak bisa membantumu.”

 

Setelah mengucapkan kata-kata yang menusuk hati Ophelia. Aaron melangkah pergi meninggalkan sel. Air mata semakin deras menyucur dari balik kelopak mata Ophelia.

 

“Kau benar, Samuel. Tidak ada yang bisa dipercaya di istana ini.”

 

–{—

 

Lonceng istana di bunyikan saat matahari menampakkan dirinya. Semua rakyat berkumpul di alun-alun kota, melingkari tempat hukuman mati akan diadakan. Charles dari balik jendelanya menatap kearah alun-alun. Walaupun ia tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi tapi ia bisa merasakan hati rakyatnya yang tengah bergemuruh untuk melihat dan memaki penyebab kerajaan mereka selalu dilanda kutukan.

 

Ophelia diseret dari pintu gerbang istana menuju alun-alun kota, bertelanjang kaki dengan ikatan di tangannya. Bagaikan sapi ia ditarik dan di giring menuju tempat penyembelihannya. Semua rakyat memakinya, mengutuknya, melemparnya dengan batu. Salah satunya mengenai dahi Ophelia hingga darah menyucur dari pelipisnya.

 

Ratu Theresa yang telah berada sebelumnya disana melihat apa yang tengah terjadi kepada Ophelia. Ia duduk di tempat yang tinggi dan teduh, dengan dayang-dayang dengan kipasnya di kiri dan kanannya. Begitu juga dengan Aaron, Aaron duduk di samping ibunya, melihat apa yang sedang terjadi.

 

Ophelia di tarik untuk menaiki gundukan jerami. Ia diikat di tiang yang berada di tengah-tengah gundukan tersebut. Dari sana ia bisa melihat Ratu Theresa duduk di singgasana yang dibuat khusus untuknya dengan Aaron disampingnya. Tatapannya tidak ada perasaan iba kepada Ophelia. Berbeda dengan Aaron, wajahnya lesu dengan tatapan nanar dan kasihan kepadanya. Sesekali ia bisa melihat Aaron memalingkan mukanya kearah lain.

 

Ratu Theresa berdiri dari singgasananya. “Tenang, rakyat-rakyatku.”

 

Semua orang mulai hening dan menoleh kepada Ophelia.

 

“Di depan kalian adalah seorang wanita terkutuk yang selalu menghantui kalian disetiap malam. Dia mempunyai paras cantik yang dapat menipu setiap orang, tak terkecuali raja kalian, Yang Mulia Charles. Kemarin ia telah meracuni raja kalian dengan menggunakan teh buatannya.”

 

Semua orang mulai berbisik-bisik. “Aku minta maaf atas nama keluarga kerajaan terdahulu yang telah membawa kutukan ini ke tanah kita. Aku tidak tahu pasti mengapa kutukan ini terjadi. Tapi, kita dapat mencegah kutukan ini untuk tidak semakin menyebar ke orang lain. Masa lalu biarlah terjadi. Tapi sekarang kita harus melakukan tindakan untuk memberantas kutukan itu.”

 

Semua orang berteriak dengan keras. Para pria mengacungkan tangannya sambil berteriak “bakar dia”. Jantung Ophelia semakin berdebar. Semuanya menginginkan dirinya mati. Ophelia mencari-cari di mana keberadaan Samuel, tapi ia tidak melihatnya.

 

“Bakar dia.”

 

Ratu Theresa memerintah. Salah satu prajurit mengambil obor dan berjalan ke gundukan jerami. Lalu, ia meletakkan ujung obor tersebut ke atas jerami. Seketika api dari obor tersebut melalap semua jerami yang ada. Api semakin berkobar dengan besar. Ophelia bisa merasakan panas melingkupi sekitarnya.

 

“Samuel… Samuel… tolong aku…”

 

Tidak ada tanda-tanda kemunculan Samuel. Api semakin besar hingga menutupi penglihatannya. Dari balik api tersebut ia bisa melihat Aaron yang pergi dari atas podium, meninggalkan dirinya begitu saja dengan api yang akan memakannya. Hatinya benar-benar hancur. Air mata menetes dari kelopak matanya. Turun menuju pipi hingga berlabuh di dagunya dan jatuh menjadi uap.

 

“Ophelia…”

 

Samuel muncul di hadapannya. Ia bisa melihat dari balik kobaran api tersebut.

 

“Samuel, tolong aku,”Ophelia memohon. “Kau berjanji untuk tidak akan membiarkanku mati.”

 

“Aku selalu menepati janjiku,” Jawab Samuel. “Tapi kita harus berpisah.”

 

“Apa?”

 

“Selamat tinggal, Ophelia. Aku senang telah mendapangimu selama ini.”

 

Setelah mengucapkan kata-kata itu, bayangan Samuel tiba-tiba saja menghilang. Ophelia terdiam tidak bersuara, walau api telah menghanguskan kakinya. Ia tidak berteriak sedikit pun disaat proses kematiannya. Ia tidak merasakan sakit apa pun saat api menjilat kulitnya. Karena yang ia rasakannya hanyalah kehampaan disaat semua orang yang sangat ia percaya menghilang begitu saja saat ia membutuhkan mereka.

*para pembaca semua, maaf ya dengan endingnya yang menggantungkan. Aku yakin kalian pada kesel semua hehe…

*Pandora’s cursed akan ada season 2 nya. Jadi tunggu kelanjutan Ophelia dan Samuel di season berikutnya yaa…

*Untuk yg sudah vote comment, makasih banyak ya…

16 Komentar

  1. nananafisah184 menulis:

    Sakitnya digantungin kaaakk :nangisgulinggulingan :gakbisadiginiin
    Aku tunggu pandora’s cursed season 2’nyaaaa.. Akuu tungguu.. Aku tungguuuuuu :DOR! :DOR! Inget kak.. Aku menunggumu disini *eehhh

  2. Ditunggu
    Keren :NGEBETT

  3. samuel jahat hiks, ditunggu lanjutannya kak

  4. wuhuu kerenn ~~~ slalu ditunggu :TERHARUBIRU :TERHARUBIRU

  5. aku ga sabr tunggu season ke 2 nya… apa yg akan terjadi sebenarnya :PATAHHATI

  6. Ohmy, ini keren bgttttttttt. Dan ak gk sabar buat nunggu season 2 nyaaa, semangattt authorrrrr, you did a great job, i really really love it.

  7. Lanjutken

  8. Anjir ending nya gila! PANDORA CURSE SEASON 2 CEPET CEPET DATANG LAH WKWKWK

  9. Melanuraisyah menulis:

    Bakalan tambah penasaran nihhh…???

  10. ampe nangis bacanya :TERHARUBIRU

  11. Judul keduanya apa?

  12. Opheliaaaaaaaaaaaaa
    Samuel kok gtu ke dia
    Samuel jahaddd bngt sih, krna udah mindahin kutukan ke Claudia kah jdi ngerasa ga butuh ophelia lgi huaaaaaa
    :PATAHHATI :PATAHHATI :PATAHHATI :PATAHHATI

    1. Ehhh bukan ga butuh denk, Samuel mah ga butuh siapa2 kan
      Tp kan tp kan masa dia tega gtu ke ophelia
      Huhu msh ga terima nih huhu

    2. Udh jangan nangis kak fara

  13. fitriartemisia menulis:

    ini kenapaaaa Samuel gak nolongin Opheliaaaaaaaaaaaaaaa :tidakks! :tidakks! :tidakks!

  14. ShasiiKetchill menulis:

    Akhir yang tragis…huhuuu…