adelaide-4
Vitamins Blog

DWINA part 9

Bookmark

No account yet? Register

Love it! (No Ratings Yet)

Loading…

9. Alergi tahap 2

Hah….

Tiba-tiba saja hujan turun sangat lebat hingga suara gemuruh petir menyambar membuat kilatan cahaya mengerikan selepas makan malam. Sepertinya alam mendukung Dwina untuk tetap bertahan di rumah keluarga Arya. Semua orang senang, terbalik dengan perasaan Dwina yang begitu kecewa. Untuk menghibur rasa sedihnya ia makin erat bergelayut di lengan Kak Bayu sambil memanyunkan bibirnya. Dwina mengklaim utuh diri Kak Bayu tanpa mau peduli pada Kakaknya yang ingin sekali sayang-sayangan dengan pacar barunya.

“Kalau ngantuk tidur dikamar, nanti dibangunin kalau hujannya udah reda” Kak Bayu membelai lembut rambut adiknya. Jarang sekali Dwina semanja ini padanya. Padahal digandeng tangannya untuk menyebrang jalan saja sudah jengkelnya minta ampun.

“Nggak mau” kalau sudah begini Dwina benar-benar terlihat seperti anak beranjak remaja labil.

Tarikan dan hembusan napas Kak Bayu menenangkan hati Dwina. Sekalipun Dwina tidak pernah melihat Kakaknya marah di hadapannya. Bukan karena Kak Bayu itu orangnya sabar. Dwina kagum sekali dengan Kak Bayu, sebisa mungkin menjaga dan merawat dirinya dengan baik. Sudah gantengnya minta ampun ditambah setiap permintaannya dituruti termaksud juga hobby belanja yang sudah menjadi kodrat perempuan. Paling Kak Bayu hanya geleng-geleng kepala melihat banyak tentengan ditangannya dan melunjaknya tagihan kartu kredit.

“Kakak itu mau anget-angetan ama pacar baru” bisik Kak Bayu di telinga Dwina untuk kelima kalinya.

Dwina segera melepaskan rangkulannya pada lengan Kak Bayu. Hatinya kesal sekali ditambah dia sedang PMS. Meledak sudah emosinya.

“Sana kelonan sama pacarnya biar puas” celetuk Dwina ngos-ngosan

“Makanya cari pacar biar bisa dilendotin” balas Kak Bayu terkekeh pada tingkah adiknya. Begitu juga dengan Arya dan Juwita pacar baru Bayu.

Dwina menghentakan kakinya keras menuju kamar Arya meninggalkan tiga orang sedang menggosipi sikapnya terang-terangan. Keadaan kembali hening menyisakan suara tv menyiarkan pertandingan bola.

Arya meneguk minumannya sampai kandas. Apakah Bayu tau Dwina alergi dingin? tapi sepertinya tidak. Bayu nampak tenang-tenang saja saling menyender satu sama lain pada Juwita.

“Wejangan lo kurang bro” seru Arya

“Kurang apanya?”

“Lo tau Dwina alergi dingin. Badannya pada merah-merah gatel”

Siratan kekhawatiran Bayu akhirnya muncul juga. Sekalipun Bayu tidak pernah mengetahui adiknya mengidap satupun alergi.

“Pantes aja dia mau pulang, disini memang dingin banget sih apalagi tiba-tiba hujan. Udah ke dokter?”

“Udah. Tadi gue manggil dokter langganan keluarga gue kerumah. Katanya harus diberi penanganan cepat takut semakin memarah”

Arya memberi tahu secara lengkap pesan-pesan dokter dan artikel yang ia baca dari internet tentang alergi. Bayu jarang sekali terlihat serius, mau itu adalah pekerjaan rumitnya minta ampun, tapi saat ini dia mendengarkan penjelasan Arya dengan serius tidak ada unsur cengengesan.

“Sorry gue ngerepotin lo” suara Bayu terdengar bersalah

“Santai aja kali. Dwina itu anteng banget nggak ngerepotin sama sekali” Arya melanjutkan bercerita tentang perjalan dirinya dengan Dwina dari mulai berangkat ke Bandung sampai kedatangan Bayu.

“Udah gue bilang, Dwina itu nyambung ngobrol sama ibu-ibu” Bayu tertawa pelan, walau rasa khawatirnya belum kunjung sirna. Adiknya itu memang calon istri yang baik dan pintar.

“Tau nggak nyokap gue sampe jatuh hati sama dia” giliran Arya yang terbahak.

Waktu bergulir cepat menunjuk arah setengah dua belas malam. Menjelang tengah malam hujan semakin deras. Bayu dan Arya mengantar Juwita menuju lantai dua kekamar milik Arya untuk tidur bersama Dwina sekaligus memeriksa keadaan perempuan itu.

Dwina tertidur terbelit selimut tebal dan tak luput alat penghangat didekatnya. Arya lebih dulu mendekati sosok perempuan tersebut yang mulai mengerjab membuka mata.

“Tidur lagi gih” Arya membelai rambut Dwina lembut sambil tersenyum.

“Kak.. aku sesak napas” suara Dwina nyaris tak terdengar matanya sedikit memerah menggulirkan air mata.

Sesak napas! berarti alerginya sudah membuat bengkak saluran pernapasan. Arya langsung berbicara pada Bayu.

Dengan cepat mereka membawa Dwina kerumah sakit. Ternyata Dwina tidak salah kalau dia ingin cepat-cepat pulang. Keadaanya semakin memarah di kota bersuhu dingin. Mobil Bayu menembus hujan lebat. Jalan nampak sangat licin sekali dengan gelutan kegelapan malam.

Diruang UGD Dwina segera diberi penangan cepat. Dokter membuka sedikit pakaian Dwina untuk diperiksa dan menampilkan ruam merah yang sangat parah.

Secara bersamaan rasa bersalah menerpa Bayu dan Arya. Asalkan mereka tidak membawa Dwina ke Bandung, kejadiannya tidak akan seperti ini. Sebuah infus telah menacap di tangan Dwina juga sebuah alat bantu pernapasan telah terpasang.

Dwina dipindahkan ke ruang rawat inap. Juwita mencoba menenangkan kedua laki-laki didekatnya. Wajah mereka berdua begitu pucat sanking paniknya. Nyatanya Juwita juga sedang menenangkan rasa paniknya.

Berulang kali Arya mengusap kasar wajahnya menyiratkan semburat frustasi menggunakan kedua tangannya. Bayangan Dwina sesak napas membuat dia jantungan setengah mati. Ia seolah benar-benar tidak bisa menjaga Dwina. Panggilan telpon dari keluarganya belum juga Arya jawab. Hatinya belum tenang sampai Dwina kembali sadar.

Obat tidur membius diri Dwina dalam beberapa jam kedepan. Perasaan takut tadi mampir pada diri Dwina saat merasakan kesulitan bernapas. Di tambah dia hanyalah seorang diri di dalam kamar luas milik Arya. Dan satu hal lagi, dirinya juga sudah tidak sanggup bergerak oleh rasa gatal membengkak dan panas menyelubunginya, tubuhnya seolah membeku seketika. Hatinya tidak berhenti berdoa pada Allah karena ajal tidak mengenal waktu dan tempat.

Juwita mengambil ponsel milik Arya yang tak kunjung berhenti berdering dan pemiliknya tidak mau mengangkat atau sekedar untuk menonaktifkan.

“Arya gimana keadaan Dwina?” tanya seorang perempuan dengan nada khawatir

“Aku Juwita. Dwina sudah ditanganin dokter. Dia habis dibius tidur beberapa jam lagi dia baru siuman”

“Oh ya udah.. nanti kabarin lagi ya”

“Iya. Assalamualikum”

“Waalaikum salam” panggilan terputus

*

*

*

Bayu dan Juwita tertidur diatas sofa saling menyandar satu sama lain walaupun Bayu tidak sepenuhnya tertidur padahal tubuhnya amat lelah. Sedangkan rasa kantuk belum kunjung mendera diri Arya. Matanya terus memperhatikan sosok Dwina. Berulang kali Dwina terlihat masih kesulitan bernapas, juga sering gelisah dalam tidur dan Arya harus sigap menahan tangan Dwina yang begerak ingin menggaruk ruam merah di sekitar leher dan wajah. Batin Arya menjadi sedih melihat keadaan Dwina seperti ini.

“Haus…” mata Dwina mengerjab membuka perlahan. Suaranya begitu lemah. Jam menunjuk waktu subuh

Dengan cekatan Arya membantu Dwina meneguk minuman secara perlahan. Dilepas alat bantu pernapasan kemudian ditahan tengkuk leher Dwina supaya memudahkannya meneguk minuman. Air hangat mengguyur kerongkongan Dwina menghangatkan seluruh tubuhnya. Akhirnya keadaan membaik, tidak seperti semalam. Benar-benar kejadiaan mengerikan. Dwina tidak ingin merasakan hal itu lagi.

“Maaf..” Arya menggenggam salah satu tangan Dwina erat.

Dwina kebingungan mendengar permintaan maaf itu. Alerginya terjadi diluar rencana jadi semua ini bukanlah salah Arya maupun kakaknya. Sampai satu menit lebih Dwina belum juga memberi balasan. Ia takut salah bicara, ekspresi Arya sedih sekali ia merasa tidak tega.

Hanya seulas senyum dan sebuah anggukan samar Dwina berikan “Lupakanlah. Aku tidak ingin membahas ini” menghindari masalah terlihat seperti pengecut tapi ia butuh berhenti sejenak untuk bernapas lega dari masalah.

Bagaimana Arya mudah meluapkan kejadian ini? Dwina bisa mati karena sesak napas akibat alergi dinginnya. Sisi keras kepala Arya muncul kepermukaan. Batinnya sungguh menekan dirinya tenggelam pada rasa bersalah.

“Kalau tidak bisa melupakan. Pura-puralah lupa. Kalau kakak berani ngebahas ini lagi berarti kakak ngingetin aku kembali pada hal mengerikan itu lagi” Dwina memberi peringatan keras dengan memasang tatapan jengkel ke Arya. Ia sudah ancang-ancang melihat gerak-gerik Arya tadi yang ingin membantah ucapannya.

Dwina menatap jam dinding telah menunjuk arah lima pagi. Perutnya benar-benar lapar. Dwina ingat masih menyelipkan permen Vitamin C di kantung jaketnya. Wajah senang langsung menyerbu Dwina. Dibuka permen tersebut lalu mengemutnya dengan nikmat. Enaknya….

Arya menghela napas sedikit kasar, sungguh ia tidak percaya Dwina menyimpan permen dimana-mana. Kemudian bibir Arya membentuk senyuman tipis.

“Aku punya dua mau nggak kak?” Dwina memberikan satu permen yang tersisa kepada Arya. Jelas Arya langsung menolak itu. Biarkan Dwina menikmati permennya. Terlebih Vitamin C baik untuk alergi. Karena sistem imunya sedang menurun.

6 Komentar

  1. aduh,, itu giginya gak apa-apa ya, makannya permen terus,,

  2. Uda gandengan ajaa .. :HUAHAHAHAHA

  3. Gara2 ujan ditambah suasana yg dingin alerginya jadi tambah parah ,,, seremmm bangettt ampe sesak napas :PATAHHATI

  4. Aduh Ampe sesak nafas gitu

  5. fitriartemisia menulis:

    alergi dingin emang bisa bikin sesak napas lhoo

  6. Waduh alergi sampe segitunya yaa?

Tinggalkan Balasan