Vitamins Blog

Helena – Bab. 3 : Pertemuan Kembali yang Tidak Diharapkan

Bookmark

No account yet? Register

384 votes, average: 1,00 out of 1 (384 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

Author playlist : Beyoncé – Halo

Enjoy! ^-^

***

Helena menarik napas panjang, berusaha meredakan emosi yang berkecamuk di dalam dirinya saat ini. Menjadi bulan-bulanan kemarahan Simon—Kepala Editor tempatnya bekerja paruh waktu terdengar lebih menakutkan untuknya daripada duduk dalam satu mobil yang sama dengan seorang pria yang dengan mudahnya melunturkan topeng yang dikenakannya selama ini.

Wanita muda itu merinding, memeluk tubuhnya sendiri saat mendapati jika perasaan tidak aman itu kini mulai menguasai dirinya dengan hebat, sementara James yang duduk di sampingnya menatapnya dengan sebuah senyum yang nyaris membuat Helena muntah di tempat.

“Bisakah kau berhenti menatapku seperti itu?” tanya Helena tanpa menatap pria yang kini menyunggingkan senyuman lebar. “Aku tidak akan segan-segan untuk menamparmu lagi, Mr. Smith!” tambahnya dengan nada mengancam, namun alih-alih merasa takut, James malah mencondongkan tubuhnya, lalu menepuk-nepuk pipi yang tadi sempat dihadiahi tamparan keras dari wanita asing di sampingnya.

“Kau boleh menamparku hingga puas,” sahutnya dengan nada menggoda. “Kau bahkan boleh mengikatku, mencambukku, atau memukulku jika hal-hal itu biasa kau lakukan dalam permainanmu,” tambahnya membuat kedua mata Helena membola sempurna.

Wanita itu bergerak, berusaha memberi jarak diantara mereka hanya untuk mendapati jika hal yang dilakukannya itu sebuah kesia-siaan.

James memiringkan kepala ke satu sisi, terkekeh lalu mengedipkan mata dengan genit, “Kau sangat menggemaskan, Nona. Ck, melihat tingkah lucumu ini membuatku semakin bergairah,” ujarnya ringan. James bahkan tertawa pelan saat melihat Helena mengepalkan kedua tangan seraya melotot marah ke arahnya.

“Kau benar-benar tidak tahu malu!”

James mengendikkan bahu, terlihat tidak peduli.

“Ucapanmu bisa disalahartikan oleh orang yang mendengar, Mr. Smith,” desis Helena. Kini ia mulai menyesali karena dengan mudahnya ia bersedia untuk ikut ke apartemen James untuk mengambil kamera miliknya.

Sialan! Makinya di dalam hati.

Pria itu mendesah, menyamankan posisi duduknya lalu melirik sekilas ke arah depan dimana supirnya bergeming dan mengerjakan tugasnya dalam diam. “Luther sudah terbiasa mendengar obrolan-obrolan tidak senonohku dengan wanita-wanitaku,” terangnya santai.

“Tapi aku bukan wanita-wanita murahan yang bisa bebas kau gauli untuk memenuhi hasrat biadabmu itu!” desis Helena marah, sementara James menaikkan satu alis menatapnya. “Aku hanya menginginkan hakku yang kau ambil dengan tidak sopannya, Mr. Smith.”

James mendengus, untuk pertama kali ia menatap Helena dengan tatapan tajam penuh misteri, “Hanya waktu yang bisa menjawab pernyataanmu itu, Helena!”

***

Musim dingin, tahun 2015

Helena menggelengkan kepala pelan, berusaha untuk mengenyahkan sosok James yang belakangan ini terus mengusiknya. Sejak pertemuannya dengan James hampir dua bulan yang lalu ia terus dibayang-bayangi sosok pria itu. Bayangan pria itu terasa menerornya di berbagai kesempatan dan itu membuat Helena bingung.

Di usianya yang ke dua puluh empat tahun ia belum pernah jatuh cinta, dan hingga detik ini ia masih beranggapan jika cinta tidak penting.

Ia bisa hidup tanpa cinta dan menghabiskan hidup layaknya seorang biarawati.

Helena menghela napas, lalu menyesap pelan kopi hitamnya penuh nikmat. Di luar hujan salju turun dengan derasnya, membuat jendela apartemen sederhana yang ditinggali oleh Helena itu berembun.

Dari tempatnya berdiri saat ini ia bisa melihat lampu-lampu kota gemerlapan, seperti bintang-bintang yang menghiasi langit malam yang gelap. Helena mendongakkan kepala, mendesah saat mendapati langit dikuasai oleh awan hitam yang menggelayut dengan perkasa. Ah… salju pasti akan terus turun sepanjang malam, pikirnya.

Helena bernapas keras, memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda saat suara bel pintu apartemennya berbunyi nyaring.

Ia menekuk keningnya dalam, melirik ke arah jam yang tergantung di tembok rumahnya. Siapa yang datang berkunjung semalam ini? Tanyanya di dalam hati, namun pada akhirnya ia tetap berjalan menuju pintu apartemennya untuk mencari tahu.

Helena berdiri mematung, tanpa ekspresi saat mengenali salah satu sosok yang kini berdiri di depan pintu apartemennya. Wanita yang berdiri di sana adalah ibunya, ibu kandungnya yang terakhir kali dilihatnya hampir enam belas tahun yang lalu.

“Apa kau tidak akan mempersilahkan kami untuk masuk?”

Suara itu pun masih dikenalinya dengan baik. Suara yang dulu seringkali digunakan untuk menyakitinya. Wanita itu pun masih terlihat sama catiknya seperti yang diingatnya walau garis-garis halus kini terlihat di wajahnya, namun dia masih terlihat sangat cantik.

“Aku tidak pernah mengajarimu untuk bersikap tidak sopan!” tegur Rowena dengan dagu terangkat.

Helena mengepalkan tangan, melirik ke arah pria paruh baya yang berdiri di samping ibunya. Pria itu memberi sebuah senyum hangat ke arahnya, namun Helena hanya membalasnya dengan satu alis terangkat. “Andrew Miller!” Pria paruh baya itu mengulurkan tangan kanannya, masih tersenyum hangat seolah berusaha melumerkan kebekuan diantara dua wanita yang saat ini masih saling menatap dengan ekspresi berbeda.

“Dia ayah tirimu,” jelas Rowena datar.

“Masuklah,” ujar Helena kemudian tanpa berniat untuk balas menjabat uluran tangan dari Andrew. Pria paruh baya itu terlihat kecewa, namun dengan segera ia menggelengkan kepala pelan, mengikuti langkah istrinya untuk masuk ke dalam apartemen putrid tirinya yang baru kali ini ditemuinya.

“Kopi?” tawar Helena basa-basi. Tidak ada nada bersahabat dalam nada suara maupun gerak-geriknya saat ini. Yang diinginkannya saat ini hanya satu; ibunya lekas pergi dari kehidupannya.

“Tidak perlu repot, kami tidak akan lama.” Rowena membalas dengan nada datar yang sama. Ia melihat ke sekeliling ruangan, “Apartemenmu cukup bagus,” ujarnya tanpa terselip nada memuji di dalamnya.

Helena mengangkat sebelah bahu, “Lumayan,” sahutnya pendek. “Jadi, apa yang membawa kalian ke tempatku?” tanyanya langsung pada pokok masalah. “Dan darimana kalian mengetahui rumahku?”

Ia tentu merasa aneh karena ibu yang sudah tidak ditemuinya selama belasan tahun tiba-tiba saja datang kembali. Ah, entah kenapa Helena merasakan sesuatu yang tidak beres saat ini. “Kalian tidak mungkin datang hanya untuk menanyakan kabarku bukan?” Helena kembali bertanya dengan satu alis terangkat.

“Kau dingin sekali, Helena,” cibir Rowena dengan nada tidak suka yang sama sekali tidak bisa disembunyikannya. “Jadi, bagaimana kabarmu?” tanyanya kemudian membuat Helena menatapnya tak percaya.

“Kabarku baik,” jawab Helena tanpa ekspresi. Ia menghela napas kasar, terlihat semakin jengkel dengan keberadaan ibu kandung serta ayah tirinya saat ini. “Bisakah kalian langsung pada pokok permasalahannya?” tanyanya sinis sementara matanya mengamati kedua orang di depannya dengan curiga.

“Apa kau mengenal seseorang bernama James Smith?” tanya Rowena kemudian, membuat kedua alis Helena menyatu. “Melihat dari ekspresimu aku yakin jika kau mengenalnya.”

“Siapa yang tidak mengenalnya, Sayang?” Andrew menimpali dengan senyum terkembang. “Dia sangat populer, seperti artis papan atas namun dengan tambahan kekayaan yang berlimpah di belakangnya,” tambahnya dengan antusias berlebihan yang membuat Helena semakin curiga.

Rowena mengangguk tipis, menyetujui ucapan suami yang telah dinikahinya selama sepuluh tahun. “James datang dengan rendah hati kepada kami untuk melamarmu secara resmi,” ucap Rowena membuat Helena terhenyak.

Apa maksudnya? Tanya Helena di dalam hati.

“Apa maksudmu James datang untuk melamarku?” tanyanya kemudian dengan suara bergetar oleh emosi. Keduanya hanya bertemu dua kali beberapa bulan yang lalu. Keduanya tidak pernah berkomunikasi lagi setelah Helena mengambil kamera dari pria itu dan sekarang tiba-tiba saja ibunya datang untuk memberinya kabar jika James datang melamarnya? Oh, yang benar saja!

Rowena mengangkat dagunya angkuh, “Kau harusnya merasa sangat bersyukur karena seorang pria seperti James mau berbaik hati melamarmu, Helena. Apa kau tahu jika kau sangat beruntung?”

Helena membuka mulutnya, hendak memprotes ucapan ibu kandungnya namun suaranya tercekat, tersangkut di dalam tenggorokannya. Ia pun kembali menutup mulutnya, terdiam dengan jutaan emosi yang meletup-letup di dalam dirinya.

“James sangat tampan, dan di atas semua itu dia pun sangat kaya,” lanjut Rowena tenang sementara Andrew menganggukkan kepala tanda setuju. “Dimana lagi kau akan mendapatkan pria berkelas seperti James?” tanyanya menohok.

Ketiganya terdiam untuk beberapa waktu yang terasa menyiksa untuk Helena.

“Kami sudah menerima lamarannya, dan kalian akan menikah awal musim semi nanti,” terang Rowena membuat Helena tertawa hebat mendengarnya. “Apanya yang lucu?” Rowena bertanya sinis, terlihat tersinggung oleh sikap tidak sopan yang diperlihatkan oleh Helena saat ini.

Helena menahan diri untuk tidak menyeringai geli. Demi Tuhan, ia sungguh tidak tahu apa yang tengah dipikirkan oleh ibunya saat ini. Helena menghela napas kasar, lalu melipat kedua tangannya di depan dada. “Kalian, terlebih anda, Nyonya, tidak bisa mengaturku untuk menerima seseorang untuk kunikahi.” Ia menggelengkan kepala pelan, “Tidak akan bisa.”

“Tentu saja kau harus menerimanya, Helena!” bentak Rowena marah. Wanita paruh baya itu mencondongkan tubuhnya, tangan kanannya terangkat di udara siap untuk menampar pipi Helena andai saja Andrew tidak mencegahnya dengan cepat.

Pria berambut pirang itu berbisik pelan, meminta istrinya untuk mengendalikan diri, sementara Helena tersenyum tipis. Ibunya ternyata sama sekali tidak berubah, pikirnya miris.

“Helena, kami benar-benar berharap kau mau menerima lamaran James.” Andrew berucap tenang, penuh kehati-hatian. “Apa pun masalah diantara kalian, pasti bisa kalian selesaikan dengan baik bukan?” tambahnya dengan senyum ramah yang sama sekali tidak berhasil meluruhkan kekerasan hati Helena. “Kalian pernah menjadi sepasang kekasih, dan sekarang James serius mau menikahimu, bukankah itu berarti dia benar-benar serius denganmu?”

Helena terbelalak, nyaris kembali tergelak keras setelah mendengar pernyataan ayah tirinya itu. Sepasang kekasih? Yang benar saja!

“Aku tidak mau mendengarnya lagi!” balas Helena sengit serayang bangkit berdiri. “Aku mohon kepada kalian untuk keluar dari rumahku!” pintanya dengan nada sopan dipaksakan. “Dan jangan pernah mengungkit masalah ini lagi. Anggap saja kita tidak pernah bertemu,” pintanya seraya memalingkan muka.

Rowena mendesah, tersenyum mencibir. “Kami akan meninggalkanmu untuk memberimu waktu, tapi kau harus ingat satu hal Helen,” ucapnya dengan nada merendahkan. “Kau harus ingat siapa dirimu,” cibirnya dengan kilatan tidak suka. “Seharusnya kau bersyukur kepada Tuhan karena ada pria baik seperti James yang bersedia menikahi anak tidak jelas seperti—”

“Cukup!!!” raung Helena marah. “Sudah cukup!” teriaknya keras. “Berhenti menghinaku. Kau tidak berhak untuk menghinaku!”

Rowena tersenyum jahat.

“Aku bahkan tidak meminta untuk dilahirkan dari rahimmu,” lanjut Helena dengan suara dan tubuh bergetar oleh amarah. “Sekarang kumohon keluar dari rumahku!” pintanya dengan nada lebih rendah. “Keluar!”

“Masalah ini belum selesai, Helena!”

“Keluar!” rintih Helena dengan kedua mata terpejam, sementara kedua tangannya dipakai untuk menutup kedua telinganya dengan erat. “Keluar!!!” raungnya membuat Rowena dan Andrew terpaksa pergi dan menyerah untuk malam ini.

22 Komentar

  1. updatenya cepet banget,senengnya :v

  2. Helena kok gitu ya sikapnya ke ibunya? Da pa ya antara mereka?

  3. Terimakasih
    Ceritanya bagus bagus :olahragasehat

  4. ihhh najonk dah nih emaknya helena bikin baperr
    lanjut segera ya sist greget banged. btw si james juga dih maen dateng ajja emaknya si helena buat ngelamar dia, aduhh

  5. Nice…

  6. Kasian si helena .. james luar biyasaahh

  7. Pengen banget aku nyakar mukanya rowena?

  8. Idiiihh punya ibu kaya gitu mit amiiiittttt…
    Kayanya tuh orang cuma pengen hartanya si james aja deh makanya lamaran gaje nya si james d terima gitu aja… Hmmm kasian helen…

  9. Itu Rowena beneran ibu kandung Helena kok kejam bgt n matre ya. James pasti punya rencana tersembunyi ni hehehehhe

  10. Ckck Rowena menyebalkan….

  11. Kasihan Helena,,
    Tapi kok James tiba” ngelamar Helena ya??
    bikin penasaran,,
    Semangat ya lanjutin ceritanya!!

  12. Bikin greget.. :semburnih

  13. beebetteerrr menulis:

    Akkhhhh . . .. .. . Barusan tau kalo ada cerita vagusss ?????

  14. Gereget..pngen tau slanjutnya…semangat tor..

  15. Helena bales omongannya Rowena lebih pedes dong… Hehehe
    Menurutku segitumah masih sopan gak ada “jleb”nya buat orang jenis Rowena mah. Lewl ibu kok gitu?

  16. rowena nyebelin, jahat banget dia. kayaknya ayah tirinya itu juga jahat deh :LARIDEMIHIDUP

  17. Kristinairmawati menulis:

    Yeeaayy ada 1 lg crta yg aq suka,,,,,,love it. ?????
    Lanjut min,,,,

  18. Ceritanya sekeren cerita buatan Author2 psa!!! Ajib. Di tunggu kelnjutannya ya. Aku sudah tidak sabar :PATAHHATI . btw tadi pertama baca langsung bab 4, jadinya tadi baca dr bab 4 ke bab 1 jadi komen nya di bab 3 deh

  19. Emaknya Helena emang nyebelin yak

  20. fitriartemisia menulis:

    emaknya minta dibejek-bejek :DOR! :DOR! :DOR!

  21. Bagusss

  22. Ditunggu kelanjutannya

Tinggalkan Balasan