Vitamins Blog

Feel ink : Melihatmu

Bookmark

No account yet? Register

335 votes, average: 1,00 out of 1 (335 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

 

Aruni masih terdiam dengan dengungan keras yang membuat telinganya tidak nyaman. Dalam diam ia mencoba menegarkan hati dengan pendengaran yang seolah begitu waspada. Kata-kata dalam hati terlafalkan bagai mantra yang diulang-ulang.

Kini Aruni berani menoleh lagi walaupun dengan pertimbangan seribu kali atas resiko yang akan terjadi nantinya. Dengan jiwa yang seolah terhenyakkan, Aruni melihat dengan kepalanya sendiri bahwa manusia itu memang ada. Dan manusia itu nyata bagai kepingan kayu pinokio yang hidup, dalam bentuk yang menarik tentunya.

Bidadari macam apa yang mampu menghidupkan manusia ini?

Aruni kembali dalam posisi semulanya. Duduk diam dalam hembusan nafas yang terpacu cepat karena adrenalinnya sedang tinggi saat ini. Darahnya berdesir hebat seolah ada hal yang mampu membuat bulu roma berdiri tegak saking tegangnya.

Baru beberapa langkah setelah penawaran gila tadi, manusia itu kembali duduk di sampingnya. Membuat harapan tentang hatinya yang sekuat baja itu sirna termakan kenyataan sendiri. Bodohnya, Aruni tidak dapat menggerakkan badan selain kepalanya, sendi-sendinya melemas bagai jelly.

Suasana halte mulai sepi, beberapa orang memasuki bus yang datang silih berganti dengan bangku-bangku kosong. Seharusnya kesempatan itu diambil Aruni, namun keadaan tubuhnya yang tiba-tiba melumpuh membuat kesempatan melayang di depannya.

“Sampai kapan kamu diam disitu?” Suara dingin manusia itu kembali menggetarkan tembok pertahanan Aruni, membuat lidahnya kelu dengan suara yang tercekat dipangkal tenggorokannya. Aruni menghembuskan nafas lemah.

“Kamu dengar saya bukan?” Suara Kafvin menajam, membuat Aruni semakin tersudut dengan keadaan halte yang berubah mencekam. Hari mulai menampakkan waktu senja, dan Aruni semakin kebingungan dengan keadaan. Dan hujan, mengapa hujan tidak berhenti saat ini juga?

“Anda siapa ya?” Aruni memberanikan diri untuk bertanya walaupun pada kenyataannya ia berusaha untuk menyembunyikan fakta. Fakta bahwa berpura-pura adalah jalan terbaik menghindarkan diri dari akun yang berubah menjadi manusia nyata ini. Kafvin menoleh dengan tatapan tajam, Aruni tidak menyangka bahwa manusia itu benar-benar berbeda dengan apa yang ada dalam bayangannya.

“Jangan paksa saya untuk membuatmu mengingatnya, Aruni. Jadi, kamu memilih untuk pulang bersama saya atau tetap mempertahankan kekeras kepalaan mu itu?” Suara Kafvin menajam dengan nada rendah yang ditekan dengan emosi tertahan.

Aruni menelan ludahnya dengan susah payah. Tawaran kedua memang pilihannya, namun suara yang mendesak itu membuat Aruni berusaha mencari perlindungan lain.

“Terima kasih atas tawarannya, tapi aku lebih baik pulang sendiri.” Keberuntungan berpihak pada Aruni ketika ia merasa bersikap stabil. Aruni berjalan cepat ketika sebuah angkutan umum melintas ke arah halte. Tanpa banyak kata Aruni langsung memasuki angkot itu dan meninggalkan Kafvin yang menatapnya dalam diam.

Sesampainya di kosan Aruni langsung menghempaskan tasnya ke tempat tidur dengan asal. Perasaan lega tak kunjung di rasa ketika kilasan kenangan semu itu kembali menyeruak dalam ingatan. Padahal sudah sejak dulu Aruni menghapus jejak tentang manusia itu, tidak ada yang tersisa selain kenangan yang tersimpan dalam kepalanya.

Aruni mengenal Kafvin di sebuah sosial media yang biasa dikunjunginya. Pertemuan itu adalah awal dari kisah percintaan di dunia maya, dan Aruni mengalami susah move on yang bertahan sampai dua tahun lamanya. Kabar terakhir yang ia tahu dari teman dunia mayanya, Kafvin ternyata kuliah di daerah jawa barat.

Dan hal yang paling mengejutkan ternyata berada di kota yang hampir tidak terlalu jauh untuk dijangkau dari tempat kuliahnya saat ini. Aruni memejamkan mata mencoba meredakan emosi yang mulai meluap kembali. Manusia itu sekarang benar-benar nyata.

Kenyataan bahwa hari ini adalah pertama kalinya ia dapat memandang manusia itu dalam bentuk yang nyata, sedikit membangun harapan yang dahulu terkubur dalam kebencian. Sejauh apapun ia mencoba menjauh tetap saja harapan itu masih tertanam. Dering handphone mengusik ketenangan sesaat didalam kamar berukuran kecil itu, Aruni mendecak lidah kesal dengan notifikasi yang masuk ke ponselnya itu kadang mengganggu waktu tenangnya.

“Jangan bersikap seolah kamu tidak mengenal saya Aruni. Sampai jumpa besok sore.”

Hampir saja Aruni menjatuhkan ponselnya kalau ia tidak benar-benar sigap. Jantungnya kembali berpacu dengan cepat, membuat perutnya melilit terbawa suasana tegang yang muncul hanya karena sebuah pesan singkat. Dan setelah tiga tahun pria itu tidak muncul di semua sosial media, tidak memberi kabar yang pasti, mengapa ia memilih untuk muncul ketika Aruni sudah merasa benar-benar melupakannya?

Sampai jumpa besok sore? Apakah pria itu memang berniat untuk memporak porandakan hatinya ya? Pesannya itu, kenapa harus mengena ke dalam hatinya?

Aruni menertawakan dirinya dalam hati, tentu sangat miris. Pria itu telah menghapus perjuangannya untuk melupakan selama bertahun-tahun. Dan hadir kembali, menanam benih tanpa di sangka hanya dalam waktu hitungan detik.

Permainan hidup macam apa ini?

Aruni melempar ponselnya asal, lalu menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal dan menangis keras-keras. Cinta, mengapa harus semenyakitkan ini?

*

Keadaan kampus hari ini terlihat lengang, beberapa mahasiswa masih menunjukkan kehidupan kampus belum benar-benar ramai seperti hari biasanya. Aruni berjalan menuju akademik sambil menenteng beberapa berkas yang perlu disimpan. Biasanya Riski selalu menemaninya, namun karena Riski masih disibukkan dengan tugasnya membuat Aruni harus berjalan-jalan dikampus sendirian.

Aruni melirik sekilas jam tangan yang melekat pada pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul tiga sore, sebentar lagi akademik akan tutup. Aruni mempercepat langkahnya menuju ruang akademik.

Karena kurang hati-hati, Aruni tidak sengaja menjatuhkan monitoring yang dibawanya tadi. Beberapa kertas lepas, membuat Aruni harus membereskannya terlebih dahulu. Ia membungkuk dan segera membereskannya, sebelum itu ia mengabaikan getaran ponsel dari dalam tasnya.

Aruni segera menyimpan monitoring di tempat penyimpanan dekat pintu akademik. Setelah itu ia segera menyerahkan berkas yang dititipkan padanya. Dering ponsel kembali bergetar dalam tasnya, Aruni berdecak kesal.

“Halo.” Suara di sebrang sambungan terdengar asing namun sedikit membuat Aruni merasa tidak nyaman. Hatinya menerka-nerka dengan perasaan was-was.

“Saya di kantin.”

Sambungan langsung terputus. Aruni menatap ponselnya dengan perasaan bercampur aduk. Ia segera bergegas menuju kantin dan mengabaikan resiko yang akan kembali ditanggungnya ketika sampai di kantin nanti.

Aruni mengedarkan pandangannya, menatap satu persatu penghuni kantin yang saat ini tidak seramai biasanya. Matanya yang bulat masih terus memindai objek yang menjadi sasarannya. Namun kegiatan yang berlangsung selama beberapa menit itu tidak membuahkan hasil yang baik selain tatapan penghuni kantin yang merasa risih dengan sikapnya.

“Nyari siapa?” Riski muncul disampingnya dengan wajah berseri-seri, Aruni terdiam sebentar lalu kembali menatap Riski dengan seksama. Tepatnya orang yang ada dibelakangnya saat ini.

“Kamu?” Aruni menggantungkan kata-katanya ketika rasa gugup merasuki sebagian dirinya. Namun matanya itu tetap memandang lurus ke belakang Riski. Perempuan itu langsung mengikuti arah pandangannya dan langsung berdecak.

“Kamu tau Run, laki-laki ini mencarimu ke seluruh bagian kampus. Dan dia sama sekali tidak menemukanmu, untung saja aku datang dan ternyata wow laki-laki ini bertanya pada orang yang benar.” Riski menjelaskan dengan panjang lebar, sementara tatapan Aruni terpaku pada laki-laku itu. Begitupun sebaliknya dengan Kafvin.

“Aku mau berbicara dengan kamu sekarang.” Suara Kafvin menginterupsi penjelasan Riski. Gadis itu langsung menghentikan ucapannya dan menatap Aruni dan Kafvin secara bergantian. Lalu matanya langsung membulat sempurna dan gadis itu pun mencoba untuk tidak merusak suasana dengan berada diantara keduanya.

Riski berpamitan pergi dengan beralasan untuk menemui dosen yang menunggunya saat ini, dan hal itu ditanggapi dengan sikap sopan Kafvin. Sedangkan Aruni menanggapinya dengan sikap sebaliknya, ia berharap Riski menemaninya saat ini. Untuk menghilangkan rasa gugupnya yang terasa tidak nyaman, setidaknya temannya itu bisa dijadikan sebagai pelarian.

Kafvin dan Aruni langsung menduduki kursi kantin yang kosong. Keduanya terdiam, tidak membuka percakapan apapun. Sampai kemudian Kafvin membuka percakapan dengan suaranya yang dingin.

“Bagaimana kabarmu?”

Aruni terdiam sebentar lalu menyahut dengan suara pelan, nyaris berbisik. “Biasa saja.”

“Apa tujuan kamu melakukan ini?” Suara Aruni nyaris bergetar, namun gadis itu mencoba untuk tidak terlihat goyah dihadapan Kafvin.

Kafvin menatap Aruni yang saat ini memilih untuk membuang mukanya ke segala arah. Pemandangan itu mengusiknya dan membuat nada suaranya terdengar rendah penuh emosi. “Untuk memperbaiki keadaan.” Kafvin menajamkan matanya.

Aruni tertawa miris, lalu kembali bersikap datar. “Memperbaiki keadaan? Apanya yang diperbaiki?” Ucapannya itu terkesan mengejek, namun Aruni berusaha untuk mengucapkannya dengan datar.

Kafvin menegakkan punggungnya lalu menatap Aruni dengan tatapan menusuk, Aruni mencoba untuk menghindari tatapannya.

“Kita, aku ingin memperbaiki kita berdua.” Suara Kafvin berubah lembut, membuat Aruni tertegun dengan ucapannya. Gadis itu baru berani menatap Kafvin setelah perkataannya itu, dan tatapan itu. Tatapan seorang lelaki yang mendamba cintanya, tatapan yang berlumur luka tak kasat mata.

 

 

syniaraikai

Dunia kedua yang menjadi pelipur lara adalah ketika pikiran melayang meninggal raga sekejap rasa.

18 Komentar

  1. farahzamani5 menulis:

    Ahhhh dikau mah motong2 cerita disaat tegang2 ny Hahaha
    Lanjut dong lanjut penasaran ini aq ny hihi
    Ada apa dngn Kafvin dan Arumi
    Wow cinta di dunia maya yak, akan kan berlanjut di duta eaaa
    Ditunggu kelanjutanny
    Semangat trs ya ka

    1. aishelatsilla menulis:

      Aih,kog udah bersambung aja..padahal lagi seru tuh…

    2. Asik tuh kalo bisa lanjut di duta palah, hehe

  2. Puji lestari menulis:

    Penasaran sama kelanjutannya. Btw Aruni namanya bagus :inlovebabe . Pemeran utama berinisial ‘A’ lagi~

    1. Iya, lagi trend nama A di PSA kayaknya, wkwkwk

  3. wah cerita cinta duma penasaran kelajutannya

  4. :cintakamumuach :cintakamumuach :cintakamumuach :cintakamumuach :cintakamumuach :cintakamumuach :cintakamumuach :cintakamumuach :cintakamumuach :cintakamumuach :cintakamumuach :cintakamumuach :cintakamumuach :cintakamumuach

  5. irmayantiElysapakpah menulis:

    :goyangasoi gk sbar nunggu klnjutannys.. Wkwkwk

  6. elvira naina13 menulis:

    Huaaaa gk sabar dgn kelanjutan.y

  7. Sabar nunggu lanjutan cerita nya

  8. Ceritanya bagus

  9. KhairaAlfia menulis:

    Bagus,,

  10. fitriartemisia menulis:

    eaaaaaaaa udah bersambung ajaaaaa :PATAHHATI

  11. Seru nih kalo misalnya lanjut ke dunia nyata kisah mereka, hihihi

    1. Iya, pasti seru kalo kita ketemu beneran wkwkwk

  12. Baru nemuin cerita yang bagus :inlovebabe

  13. Ditunggu kelanjutannya

  14. Ditunggu kepanjutannya

Tinggalkan Balasan