“Aww! apa kau tidak punya mata saat berjalan!”
Ucapnya bersungut-sungut, menunduk dan mengusap bahunya yang sakit karena sudah ditabrak tubuh kokoh yang sepertinya terbuat dari beton itu.
Alex yang melihat Renata jatuh menyedihkan di bawahnya langsung berucap meminta maaf dengan nada mengejek.
“Maafkan aku, apa rasanya sakit? Kau juga seharusnya berjalan menggunakan matamu, jangan fokus dengan ponselmu.”
Mendengar orang yang telah menabrak dirinya berkata seperti itu, Renata langsung mendongakkan Kepalanya dengan marah. Dan setelah melihat bahwa Alex yang menabraknya, Renata membelalakkan matanya kaget.
Astaga teryata dia…..
Tiba-tiba saja Alex membukukan tubuhnya kemudian membantu Renata berdiri.
Renata merasa mati kutu saat tahu Alex yang menabraknya. Berhadapan dengan Alex sedekat ini, bahkan saat dia memegang lengannya dengan niat ingin membantunya seperti ini, Renata tidak menepisnya sama sekali atau memarahinya. Apakah dia terlalu pengecut? Sungguh, berkebalikan dengan yang sering Renata lakukan selama ini. Dimana saat dia melihat Alex dari kejauhan, selalu muncul rasa sebal hingga tak sungkan untuk mengumpatnya. Tapi, disaat posisinya yang sekarang ini, kenapa tiba-tiba dirinya menjadi bodoh seperti Adelle?
Renata merasa gugup saat Alex menatapnya, dengan cepat, dia mengedarkan pandangannya dan buru-buru menjawab pertanyaan Bosnya dengan ketus. “Jelas sakit, Anda juga harusnya lebih hati- hati saat berbelok.”
“Maafkan aku” Tanpa diduga Alex mengucapakan permintaan maafnya untuk keduanya kalinya, dan hal itu membuat Renata mendongakkan kepala menatap Bosnya yang sedang menatapnya lekat- lekat.
Renata tidak munafik, dibalik sikap menjengkelkan Alex dia mengakui sosok di depannya ini memang sangat rupawan.
Astaga apa yang dia pikirkan!
Renata menggeleng-gelengkan kepala, kemudian dengan buru-buru segera menimpali ucapan Alex yang sebelumnya.
“Aku juga minta maaf karena sudah berkata kasar.” Renata berucap singkat sambil berusaha melepaskan lengannya dari pegangan Alex.
Tapi tidak disangkanya, Alex enggan untuk melepaskannya, hingga membuat Renata mengerutkan keningnya.
“Bos Alex, tolong lepasan tanganku.”
ucapnya dengan penuh penekanan.
“Tidak Renata, bahumu pasti memar. Ayok akan aku obati di ruanganku, dan ada sesuatu yang ingin aku bicara denganmu.”
Seketika Renata membelalakkan matanya. Apa mengobatinya, Ingin berbicara. Memangnya apa yang akan dia bicarakan?
Sebelum Renata menolaknya mentah-mentah, tangannya sudah ditarik oleh Alex hingga membuat tubuh Renata terhuyung kedepan mengikuti arah Alex yang berjalan cepat di depannya.
“Bos, aku tidak apa-apa, aku tidak perlu diobati” protesnya.
“Diam, aku tahu kau kesakitan.” Alex menjawab dengan keras kepala membuat Renata semakin kesal.
*******
Begitu sampai di ruang kerjanya. Alex mendudukkan Renata di sofa yang ada di pinggir ruangan. “Kau tunggu disini aku akan mengambilkan obat untukmu.” kemudian Alex bergerak menuju tempat kerjanya dan mengambil sejenis salep penghilang lebam di laci mejanya. Sejenak, Alex menolehkan pandangannya ke arah Renata yang duduk dengan canggung disana, membuat senyuman muncul dibibirnya, Alex kemudian kembali mendekat ke arah Renata dan berucap.
“Kau bisa menggunakan salep ini untuk kau oleskan di bahumu yang lebam.” Alex memberikan salep itu dimeja dekat Renata duduk.
Sejenak, Alex memperhatikan penampilan Renata yang mengenakan kemeja dengan model tali yang dikaitkan di lehernya. Dengan model kemeja yang seperti itu, Renata akan melepaskan kaitannya bukan? Memikirkan itu membuat ide jahil untuk menggoda Renata bertumbuh subur.
“Kalau kau kesulitan dalam mengobati memar yang ada di bahumu, aku tidak keberatan membantumu mengoleskan salep itu atau membantu melepaskan tali yanga ada di leher kemejamu itu.”
Dan benar saja, begitu mendengar ucapan Alex yang mesum itu, Renata mendongakkan kepala menatap Bosnya itu dengan ekspresi marah.
Apa dia sudah gila, kenapa dia bilang seperti itu, apa dia tidak sadar dengan berkata seperti itu sama saja dia sudah melecehkannya bukan?
“Maaf Bos aku harus pergi dari sini.”
Setelahnya dia bangkit dari duduknya dan mengabaikan salep pemberian Alex. Kemudian disaat Renata hendak melewati Alex yang berdiri di depannya. Tanpa bisa ditahan, Alex kembali mencekal tangan Renata. Dan berucap kemudian.
“Aku hanya bercanda, maafkan aku.”
Ucapnya dengan sungguh-sungguh. Kemudian Alex menarik Renata mendekat dan melanjutkan ucapannya, kali ini berkaitan dengan pekerjaannya.
“Kau bisa membawa salep itu dan kau bisa mengobatinya nanti saat di rumah.
Alex membungkuk, mengambil salep yang ada di meja dan menangkupkannya ke telapak tangan Renata.
“Asal kau tahu, alasan sebenarnya aku membawamu kemari karna ada tugas untukmu.”
“Tugas untukku?” Renata berucap tak mengerti.
“Ya, tugas baru. Kau tahu, mulai besok aku ditugaskan oleh tuan Adam untuk meninjau keadaan di kantor cabang selama tiga hari. Dan selama tiga hari itu aku diusulkan untuk membawa bawahanku. Karna itulah aku memilih kau untuk menemaniku selama disana.
“Tapi, aku tidak bisa. Lebih baik Anda membawa Maya, dia kandidat yang paling tepat.” Renata berusaha menolak tawaran Alex.
“Tidak, aku butuh kau Renata bukan maya.”
“Tapi__” Renata berusaha membantah.
“Mulai besok kau persiapan semuanya. Untuk masalah tempat tinggal kita selama di sana, Tuan Adam sudah mengatur semuanya.” Alex berucap memberi tahu, sengaja mengabaikan penolakan Renata.
“Kita harus tunjukkan kekompakan kita selama disana Renata. Karna aku memilihmu, maka jadilah tim yang solid, mengerti.” Renata terpaku melihat Alex yang baru kali ini berucap dengan serius tanpa dibumbui senyum yang selama ini sangat tidak disukainya.
“Kau mengerti?” Alex kembali bertanya sengaja untuk membuyarkan Renata dari keterpakuannya. Renata seketika mengerjapkann matanya dan buru-buru menjawab.
“Mengerti bos”
“Bagus” dan barulah, Alex mengeluarkan senyum manisnya yang membuat Renata kembali memasang ekspresi jengah.
********
Di dalam rumah kontrakannya, Renata tidak bisa tidur nyenyak seperti biasanya. Entah apa yang membuatnya malam ini terasa gelisah. Dirinya sudah berguling-guling di kasurnya mencari posisi nyaman untuk tidur. Tapi sialnya, Renata belum kunjung juga menemukan rasa ngantuknya. Dengan kesal, akhirnya Renata bangkit dan mendudukkan dirinya di tengah ranjang.
Apa ini karna tugas besok yang akan dijalaninya bersama Alex, hingga membuatnya susah tidur?
Astaga apa yang dia pikirkan
Renata seketika Menggeleng-gelengkan kepalanya dengan konyol. Mengingat Alex yang playboy, mau tidak mau Renata teringat ucapan Adelle beberapa hari yang lalu.
“Aku berdoa, semoga di masa depan nanti kau akan menjadi korban selanjutnya.”
“Hmmm kalau aku perhatikan, sepertinya kau ini cocok jika dipasangkan dengan buaya kantor kita.”
Dua perkataan Adelle yang dilontarkan untuknya pada waktu itu, saat Renata mengejek kebodohan sahabatnya itu entah kenapa begitu mengingatnya, membuatnya bergidik ngeri .
Astaga tidak! Dirinya tidak sebodoh Adelle
Yang mudah terpesona.
Kembali Renata Menggeleng-gelengkan Kepalanya karna pikirannya sendiri. Seakan itu belum cukup membuat Renata pusing. Ponselnya kini berbunyi dan saat Renata menatap nama yang terpampang,
Keterkejutan kembali menghampirinya.
Astaga kenapa bosnya menelponnya diwaktu semalam ini. Renata menghembuskan nafas pelan, berusaha menenangkan diri. Kemudian mengangkat panggilannya.
“Kau sudah tidur Renata? Maafkan aku sudah mengganggumu” Alex berucap basa-basi diseberang telponnya dengan sengaja.
Hening
“Halo, ada orang disana?”
Begitu mendengar suara Alex yang kedua kalinya, Renata pun buru-buru menjawabnya.
“Ah. Masih Bos, maaf aku baru bangun tidur, jadi kurang fokus.” ucapnya buru-buru memberikan alasan bohong untuk menutupi Keterkejutannya.
“Maafkan aku, karna sudah menganggu tidurmu.”
Alex terdengar menghembuskan nafas dengan kasar diseberang telfon dan ada nuansa antusias saat Alex memulai percakapannya.
“Renata aku sudah tidak sabar untuk besok, bahkan karna hal itu aku mengalami susah tidur. Aku sangat bersemangat sekali, hingga tak sabar menunggu besok datang.”
Astaga pertanda apa ini, kenapa, kenapa dirinya dan Bosnya ini memiliki permasalahan yang sama dalam tidurnya?
Tiba-tiba disaat Renata sedang membatin. Perkataan Adelle yang sebelumnya, kini menerornya kembali bagaikan bisikan yang diucapkan langsung di telinganya.
“Hmm aku perhatikan sepertinya kau ini cocok jika dipasangkan dengan buaya kantor kita.” Bisikan itu terngiang-ngiang kembali berulang-ulang, hingga membuat Renata akhirnya kehabisan kesabarannya. “Diam bodoh! Hentikan ucapan konyolmu itu. Aku sudah muak mendengarnya.”
Alex yang mendengarnya langsung menjauhkan ponselnya itu dari telinganya, menatap ponselnya dan mengangkat alisnya.
Kenapa dengan perempuan ini?
Disaat Alex hendak melanjutkan pembicaraannya itu, tanpa diduga Renata sudah mematikan panggilan telefonnya. Membuat Alex membelalakkan mata karna terkejut.
Perempuan aneh
Walaupun mengucapkan Renata dengan sebutan ‘aneh’ Alex tak bisa menahan senyumnya, seolah terhibur dengan aksi konyol Renata dan tak keberatan memaafkannya karena sudah bersikap tidak sopan.
*******
Setelah mengucapakan kata- kata serampangan yang tidak sengaja di lontarkan pada Alex, Bosnya. Renata langsung membanting tubuhnya terlentang di ranjang. Dia malu bukan kepalang, sampai-sampai selimut yang ada di bawahnya, Renata tarik dengan brutal hingga tubuhnya kini tertutup rapat. Dari ujung kaki sama ujung kepala hanya selimut yang terlihat dari atas terbentang mengubur Renata yang ada dibawahnya.
Seolah dengan melakukan itu, Renata bisa bersembunyi dari rasa malunya.
Memalukan sangat memalukan ishh bagaimana ini, apakah bos Alex akan marah? Tenang Renata tenang, anggap saja kau sudah meluapkan kebencianmu selama ini. Dengan kau meluapkan kebencianmu itu. Kau merasakan kelegaan hati bukan? Dengan begitu, disaat kau bertemu Alex kembali, rasa untuk mengumpatnya sudah musnah bukan? Ya, ya, Itu benar!
Setelah lama bergelut dengan isi pikirannya di bawah selimut yang menutupi seluruh tubuhnya, Renata akhirnya menguap, dan tak lama kemudian rasa mengantuk mulai menguasainya, di titik itu. Akhirnya Renata jatuh tertidur dengan lelap.
****
Di tempat yang berbeda, Alex masih terjaga, walaupun waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dirinya masih semangat melihat pemandangan langit malam yang cerah bertabur bintang di balkon kamarnya, dengan ditemani segelas sampanye yang tergenggam ditangannya.
Pikiran Alex malam ini entah kenapa tidak seperti biasanya, bahkan setelah dia menelpon Renata, sumber kekalutannya, tidak memberikan imbas yang berarti.
Bagaimana Alex bisa tidur nyenyak, disaat dia menelpon Renata. Perempuan itu malah mengeluarkan umpatan yang membuat Alex semakin terjaga seperti ini.
Mengingat itu senyuman muncul di bibir Alex. Renata, sosok anak buahnya itu benar-benar memiliki sifat yang berbeda. Alex selama ini selalu mendapatkan tatapan berbinar penuh cinta dari kaum hawa yang terpesona dengan penampilan fisiknya, ucapan manis menggoda dari para mantan kekasihnya.
Tapi selama Alex mendapatkan itu semua dari mereka, dirinya tidak merasakan sesuatu yang istimewa.
Renata jelas berbeda, perempuan itu selalu menatapnya dengan wajah masam dan sedikit pemarah. Tapi dia polos. Ya, polos. Saat dia mengekspresikan ketidaksukaan padanya, pandangannya benar-benar sangat ketara, hingga orang bodoh sekalipun pasti akan langsung bisa memahaminya. Semula Alex mengabaikan sifat Renata yang tak bersahabat itu. Tapi untuk saat ini, dia memutuskan mulai tertarik dan akan membidik perempuan itu.
Mungkin karna sifat Renata yang sangat berbeda itu yang membuatnya tertarik, Atau Alex hanya sedang mencari sensasi baru dalam mencari korban berikutnya?
Alex tidak tahu jawabannya. Tapi dibenaknya, jika dia sudah berhasil menaklukan Renata, dirinya sudah berjanji untuk menjadi laki-laki sejati dengan cukup setia pada satu wanita, yaitu Renata.