Vitamins Blog

SANIKEM

Bookmark

No account yet? Register

    Namaku sanikem .Ayahku bernama Sastrotomo, kata para tetangga nama itu berarti: Juru tulis yang utama. Kata orang ayahku orang yang rajin ia di hormati karena satu satunya yang dapat baca tulis di desa, baca tulis di pergunakan di kantor. Tapi ia tidak puas hanya jadi juru tulis . Ia impikan jabatan yang cukup tinggi dan terhormat , ia tak perlu lagi mencangkul , meluku, berkuli , bertanam dan memanen tebu.

   Ayahku mempunyai banyak adik dan saudara sepupu, sebagai juru tulis masih banyak kesulitan baginya untuk memasukkan mereka ke pabrik . Jabatan lebih tinggi akan lebih memudahkan , lagi pula semakin tinggi pada pandangan dunia . Ia ingin semua kerabatnya kerja di pabrik tidak sekedar jadi kuli paling tidak mandorlah. Ia bekerja sangat rajindan semakin rajin . Lebih sepuluh tahun jabatan dan pangkatnya tak kunjung naik . Jadi di tempuhnya segala jalan : dukun , mantra jampi , tirakat pemutih, tirak Senin Kemis. Tak juga berhasil. Jabatan yang di impikannya adalah juru bayar:  kassier pemegang kas pabrik gula. Dan siapa yang tidak berurusan dengan juru bayar? Paling sedikit mandor tebu , mereka datang untuk menerima uang dan membubuhkan cap jempol. Sebagai juru bayar ia akan menjadi orang besar , pedagang akan membungkuk menghormatinya.

   Mengibakan , bukan kenaikan jabatan , kehormatan , ketakziman yang ia dapatkan sebaliknya kebencian dan kejijikan orang. Dan jabatannya juru bayar tetap tergantung di awang-awang. Tindakannya menjilat dan merugikan teman-temannya menjadikannya tersisih dari pergaulan. Ia terpencil di tengah tengah lingkungannya sendiri. Tapi ia tidak perduli. Ia memang keras hati. Orang muak melihat usahanya menari orang-orang Belanda agar Sudi datang ke rumah. Seorang , dua orang memang datang , disuguhinya segala macam apa yang bisa menyenangkan mereka. Tapi jabatan itu tak kunjung tiba. Malah melalui dukun dan tirakat ia berusaha menggendam tuan besar kuasa agar Sudi datang kerumahnya juga tidak berhasil. Aku sendiri merasa risi dengan semua itu. Kadang dengan diam-diam kuperhatikan ayahku  dan merasa iba. Betapa jiwa dan raganya di sesalkan oleh impian itu. Betapa ia hinakan diri dan martabat sendiri. Tapi aku tak berani bicara apa apa. Kadang aku berdoa ia menghentikan kelakuannya yang memalukan itu. Memang aku tidak mampu bercerita hanya merasakan dalam hati.

    Tuan besar adalah seorang bujangan. Umurnya mungkin seumuran ayahku, juru tulis Sastrotomo. Orang bilang ayahku pernah menawarkan wanita kepadanya. Orang itu tidak menerima tawaran ayahku malah memaki, mengancam akan memecatnya. Sejak itu ayah menjadi tertawaan umum. Ibuku menjadi kurus setelah mendengar sindiran orang: Jangan-jangan nanti anak sendiri yang nanti di warkan. Yang mereka maksud tak lain adalah aku. Sejak saat itu aku tidak berani keluar rumah lagi. Setiap waktu mataku melihat liar ke ruang depan kalau-kalau ada tamu orang kulit putih. Syukur tamu itu tidak pernah ada.

      Waktu berumur tiga belas tahun aku mulai di pingit, dan hanya tahu dapur, ruang belakang dan kamarku sendiri. Malah duduk di pendopo pun aku tak di ijinkan. Semua teman temanku yang lain sudah pada kawin. Bila pabrik gula berhenti bekerja , pegawai dan buruh pulang sering aku lihat dari dalam rumah. Orang lalu lalang menoleh ke rumah kami. Tamu-tamu wanita yang berkunjung selalu memuji bahwa aku sebagai gadis cantik. Kalau aku bercermin tak ada alasan lain selain membenarkan sanjungan mereka. Ayahku seorang yang ganteng, ibuku seorang wanita yang cantik yang tahu semestinya sebagaimana memelihara badan. Semestinya ayahku mempunyai dua atau tiga orang istri. Apalagi ayahku mempunya tanah yang di sewakan pabrik dan tanah lain yang di sewa orang lain. Namun ia tidak demikian, ia merasa cukup dengan satu istri yang cantik , di samping itu ia hanya mengimpikan jabatan juru bayar.

Waktu berumur empat belas tahun masyarakat telah menganggap ku sudah termasuk golongan perawan tua. Aku sendiri sudah haid dua tahun sebelumnya. Ayah mempunya rencana tersendiri tentang diriku. Biarpun ia di benci, lamaran-laman banyak datang meminangku. Semua di tolak. Aku sendiri pernah mendengar dari kamarku. Ibuku tak punya hak berbicara , semua yang menentuka Ayahku. Pernah ibu bertanya kepada Ayah:”menantu seperti apa yang ayah harapkan?” Dan ayah tidak pernah menjawab. Aku hanya bisa menunggu seorang laki-laki yang mengambilku dari rumah, entah kemana ,entah sebagai istri nomor berapa, pertama atau ke empat hanya ayahku yang bisa menentukan. Perempuan itu harus mengabdikan seluruh jiwa dan raganya kepada lelaki yang tidak di kenal itu, seumur hidup, sampai mati atau sampai dia bosan dan mengusir. Tak ada jalan yang bisa di pilih , boleh jadi dia seorang pemabuk , penjudi , penjahat, orang tak bakal tahu sebelum menjadi istrinya. Akan beruntung bila yang datang itu seorang Budiman.

Pada suatu malam tuan besar kuasa itu datang ke rumah. Aku sudah mulai cemas. Ayahku gopoh-gopoh merintahkan ini itu pada ibuku. Kemudian aku di perintahkannya memakai pakaian terbaik, ia mengawasi sendiri aku berhias. Aku curiga jangan-jangan benar bisik desus orang. Ibuku lebih curiga lagi. Belum apa-apa, ia sudah menangis di pojokan dapur dan membisu seribu logat. Ayahku juru tulis Sastrotomo memerintahkan aku keluar menyuguhkan kopi dan kue, Ayah memang sudah berpesan :bikin yang kental. Keluar aku memanting talam, kopi susu dan kue di atasnya. Tak tau aku bagaimana wajah tuan besar. Tak layak seorang gadis baik-baik mengangkat mata dan muka pada tamu laki-laki tak di kenal baik keluarga, apalagi orang kulit putih pula. Aku hanya menunduk biar bagaimanapun nampak pipa celananya kain drill dan sepatunya besar , panjang menandakan orangnya pun tinggi besar.

“ini anak saya tuan besar”kata ayahku dalam Melayu

sudah waktunya punyaenantu” samput tamu itu. Suaranya besar , berat ,dan dalam. Tak ada orang Jawa bersuara begitu.

Aku masuk lagi untuk menantikan perintah. Dan perintah itu tidak datang. Kemudian Tuan besar itu pergi bersama Ayah , kemana tidak tau.

Tiga hari kemudian, pada tengah hari Minggu sehabis makan siang Ayah memanggil aku. Di ruang tengah ia duduk bersama Ibu. Aku berlutut dihadapannya.

“jangang pak , jangan” ibu menengah

“Kem, Sarnikem,” ayah memulai “masukkan semua barang milik dan pakaianmu ke dalam kopor Ibumu. Kau sendiri berpakaian yang rapi, yang menarik “. Betapa banyak pertanyaan sambar menyambar di dalam hati, aku harus melakukan perintah orang tuaku terutama ayahku. Telah ku masukkan semua pakaian dan barang-barang milikku. Dibanding gadis-gadis yang lain pakaianku termasuk banyak yang mahal, maka ku pelihara sendiri, kain batikku lebih dari enam. Diantaranya batikanku sendiri.

Dan keluarlah aku membawa kopor tua coklat yang sudah penyok sama sini. Ayah dan Ibuku masih duduk di tempat semula. Ibu menolak berganti pakaian. Kemadian kami bertiga naik Dokar yang sudah menunggu di depan rumah. Di atas Dokar ayah bilang ” Tengoklah rumahmu itu Ikem , Mulai hari ini itu bukan rumahmu lagi. Aku dapat memahami maksudnya . Ku dengar Ibu tersedan-sedan. Memang aku sedang dalam pengusiran. Aku pun tersedia sedu.

Dokar berhenti di depan rumah Tuan besar. Kamu semua turun. Untuk pertama kalinya Ayah berbuat sesuatu untukku:menjinjingkan koporku. Tuan besar kuasa keluar , ia tersenyum senang dan matanya berbinar. Semakin jelas bagiku betapa tinggi-besar tubuhnya mungkin beratnya tiga kali Ayah. Mukanya kemerahan , Hidungnya begitu mancung cukup untuk tiga atau empat orang Jawa sekaligus. Kulit lengannya kasar dan berbulu lebat. “Jadi aku benar di serahkan kepada raksasa berkulit putih biawak ini?” Aku harus tabah ku bisikkan pada diriku sendiri. Tak ada yang menolong kau!

Untuk pertama kalinya aku duduk di kursi sama tinggi dengan Ayah. Di hadapan kami bertiga. Tuan besar bicaraelayu. Hanya sedikit yang bisa ku tangkap. Semama pembicaraan semua timbul tenggelam. Dari kantongnya Tuan Besar mengeluarkan surat kertas menyerahkannya pada Ayah dan Ayah membubuhkan tanda tangan di situ. Di kemudian hari ku ketahui surat itu berisikan uang lima puluh gulden, menyerahkan diriku padanya dan janji ayah akan akan diangkat menjadi kassier selama dua tahun. Sebagai seorang anak yang dijual oleh Ayahku sendiri, juru tulis Sastrotomo, sejak detik itu hilang sama sekali penghormatan dan penghargaan ku pada ayahku.

Aku masih tetap menunduk, tau takkan ada seorang pun tempat mengadu. Kata- kata terakhir ayah “Ikem kau tidak keluar rumah ini tanpa seijin tuan besar dan kau tidak boleh kembali ke rumah tanpa seijinnya dan seijinku. Itulah suara ayah yang terakhir ku dengar.

Ayah dan ibuku pulang naik Dokar. Aku di tinggal di kursi bermandikan air mata , gemetar apa yang harus ku perbuat. Dunia terasa gelap. Setelah mengantar orangtuaku . Tuan besar mengangkat koporku dan di bawanya masuk. Ia keluar lagi, mendekati aku, ditariknya aku di suruh berdiri , ku menggigil bukan berarti aku membangkan perintah, aku tak kuat berdiri seakan tulang belulang lepas dari perbukuan. Diangkatnya aku seperti guling dibopongnya masuk di letakkan nya tanpa daya di atas ranjang yang indah dan bersih, dudukpun aku tiada mampu mungkin pingsan. Tapi mataku masih bisa melihat sayup sayup tuan besar membuka kopor ku dan memasukkan semua pakaianku ke dalam lemari besar. Kopor itu ia seka dan ia lap dan ia masukkan ke dalam bagian bawah. Ia hampiri diriku “jangan takut” katanya dalam Melayu. Aku tutup mataku rapat-rapat. Akan berbuat apa raksasa ini terhadap diriku? Ternyata dia angkat dan gendong aku kian kemari seperti boneka, ia tak peduli pada kainku yang basah, seluruh tubuhku becucuran keringat dingin. Didirikannya aku di atas ubin . Diangkatnya lagi dan di ciumminya aku “sayang sayangku , bonekakusayang ,sayang”. Di lemparnya aku ke atas dan di tangkap kemudian pada pinggangku. Ia goncang goncang aku , ia membuka bibirku dengan jari-jarinya. Dengan isyarat dia memerintahkan mulai sejak itu menggosok gigi. Maka ia turun dan pergi ke belakang , ke kamar mandi . Itulah untuk pertama kali aku melihat silat gigi dan bagai mana mengunakan sikat gigi. Ia tunggui aku sampai selesai dan gusiku rasanya sakit semua. Dengan isyarat pula ia perintahkan aku mandi dan menggosok diri dengan sabun yang wangi, semua perintahnya aku laksanakan seperti perintah orang tua sendiri. Ai menunggu di depan kamar mandi dengan membawa sandal di tangannya, ia pasang sandal itu di kakiku , sangat besar, sandal pertama yang pernah aku kenakan dalam hidupku -berat. Ia menggendongku masuk ke dalam rumah , ke kamar, di dudukkan aku di depan cermin, ia menggosok rambutku dengan kain tebal bernama anduk sampai kering. Kemudian dia minyaki sampai wangi baunya,dia juga menyisir rambutku seakan aku tidak bisa bersisir sendiri. Kemudian ia menyuruhku berganti pakaian. Aku seperti selembar wayang di tangan dalang, rasanya sudah tak berjiwa lagi.

Pada malam hari tuan besar datang. Ke dengar langkah kaki sepatunya. Ia langsung masuk ke dalam kamar. Aku gemetar . Ia dekati aku ,di angkatnya badanku di letakkannya di atas ranjang dan di golekkan di atasnya. Bernafas pun aku tak berani. Aku tak tau berapa lama bukit daging ini berada di atasku , aku pingsan tak tau lagi apa yang terjadi. Begitu siuman ku ketahui aku bukan sanikem lagi yang kemarin. Aku telah menjadi nyai yang sesungguhnya .

hidup sebagai nyai terlalu sulit. Dia cuma budak Belian yang kewajibannya hanya memuaskan tuannya. Dalam segala hal! Salah salah bila tuannya bosan badan bisa di usir bersama anak, anaknya sendiri tidak di hargai oleh umum pribumi karena di lahirkan tanpa perkawinan yang sah.

Satu tahun lamanya aku hidup di rumah tuan besar tidak pernah keluar. Tidak pernah di ajak jalan-jalan atau menemui tamu. Apa gunanya ? Aku sendiri pun malu pada dunia. Beberapa kali juru tulis Sastrotomo datang menengok . Aku menolak melihatnya pun aku tak Sudi. Tuan besar tidak pernah menegurku . Sebaliknya dia puas dengan segala kelakuanku yang suka belajar, tuan besar sangat menyayangiku. Aku belajar menghemat . Tuan besar tidak pernah menanyakan uang belanja. Dalam setahun dapat kukumpulkan lebih dari seratus gulden . Kalau pada suatu waktu nanti tuan besar mengusirku aku aku sudah punya modal pergi ke Surabaya untuk berdagang apa saja.

Setelah setahun kontrak tuan besar dengan pabrik gula habis. Ia tidak memperpanjangnya. Kami pendah ke Surabaya membeli tanah yang luas di Wonokromo, tapi dulu belum seramai sekarang masih berupa Padang semak belukar. Ia menernalannya sapi perah Australia. Di malam hari di ajarinya aku baca dan tulis . Tuan besar juga mengajari aku berdandan dan memilih warna yang cocok. Ia suka menunggui ketika aku berhias . Pernah saat- saat seperti itu ia bilang ” kau harus selalu kelihatan cantik, Nyai . Muka yang kusut dan pakaian yang berantakan juga mencerminkan perusahaan yang kusut , tak dapat di percaya . Tuan bilang ” kau tidak boleh berkinang , biar gigimu tetap putih . Aku suka melihatnya seperti mutiara. Dan aku tidak berkingang.

Hampir setiap bulan datang kiriman buku dan majalah dari Nederland. Tuan suka membaca. Tak sebuah pun dari bacaan berbahasa melayu . Apalagi Jawa. Bila pekerjaan sudah selesai di senjahari kami duduk di pondok dia suruh aku membaca . Dia mendengarkan bacaan ku , membetulkan yang salah, menerangkan arti kata yang tidak ku mengerti. Begitu setiap hari sampai kemudian diajarinya aku menggunakan kamus sendiri , setiap hari. Kemudian di berinya aku jatah bacaan buku. Aku harus menamakannya dan menceritakan isinya.

Aku tumbuh menjadi pribadi baru, dengan penglihatan dan pandangan baru. Rasanya aku bukan budak yang di jual oleh ayah ku beberapa tahun yang lalu. Kadang aku bertanya pada diri sendiri : adakah aku sudah menjadi wanita belanda ? Aku tak berani menjawab , sekalipun ku lihat betapa terbelakangnya wanita pribumi di sekelilingku.

Setelah lama mengikuti majalah-majalah wanita belanda dan mendapatkan banyak petunjuknya pada suatu hari kutanyakan pertanyaan pada tuan besar 

” sudahkan aku seperti wanita belanda?” Tuan besar hanya ngakak dan: ” Tak mungkin kau seperti wanita belanda. Juga tidak perlu. Kau cukup menjadi kau yang sekarang. Biar begitu kau lebih cerdas dan lebih baik dari pada mereka semua. Semua!” Barang tentu dia melebih lebihkan. Tapi aku senang dan bahagia. Setidak-tidaknya aku tidak lebih rendah dari mereka. Aku senang mendengar pujiannya , ia tidak pernah mencela, hanya pujian melulu, tak pernah mendiamkan pertanyaan ku selalu di jawabnya. Aku semakin berbesar hati , semakin berani.

2 Komentar

  1. Selamat hari Kartini