Jika Aku Bukan Siapa-SIapa

4 Desember 2021
Bookmark

No account yet? Register

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan hampir berganti tahun. Sebagian besar aku habiskan dengan rebahan di atas kasur. Aku tidak mau mengingat tanggal,  yang aku tahu hanya terang kemudian gelap. Itu berlangsung tepat setelah aku dinyatakan lulus jenjang sarjana. Apa yang aku rasakan? Hampa.

Berbulan-bulan menghabiskan siang-malam untuk skripsian. Terkadang begadang, seringnya pusing mencari jurnal. Bimbingan dilakukan melalui kamar kos via google meet. Mau pandemi hingga gunung kidul pindah ngalor, kewajiban skripsi mutlak syarat agar meraih gelar sarjana. Yang aku tahu kini bukanlah sebuah akhir perjalanan, namun baru intro perjalanan sesungguhnya.

Satu per satu teman memiliki kesibukan, entah bekerja, menikah, atau sama sepertiku. Pastinya mereka menjalani proses yang tidak sama waktu denganku. Disitulah aku berpikir, berkali-kali, apakah mereka juga melalui jalan seperti yang sedang aku lalui sekarang. Aku hanya menjadi penonton kisah perjalanan mereka yang mungkin saja sudah jauh di depan sana.

Di kegelapan kamar sebelum terpejam, banyak hal mulai aku risaukan. Mulai dari yang nyata hingga angan-angan.

“Apa aku memang sudah dewasa?”

“Apa aku bisa seperti mereka?”

“Sebenarnya yang aku inginkan itu apa?”

“Apakah aku bisa mandiri tidak bergantung lagi?”

“Apa bisa aku menjadi orang yang bisa diandalkan?”

Dan banyak lagi seterusnya, itu hanya sedikit satu dari banyak malam lain.

Berharap lalu gagal. Di luar banyak sekali yang membuka lowongan. Aku tidak masalah jika bayaran tidak seberapa, setidaknya aku bekerja. Gaji bagiku saat ini adalah bonus, karena tidak memiliki kesibukan pasti sangat tidak nyaman. Tapi apa, kegagalan bertahan sebagai jawaban. Lalu apa yang aku rasakan? Satu-satunya manusia tidak berguna. Dan apa yang aku lakukan kemudia? Malas-malasan.

Berkali-kali aku menguatkan diri sendiri. meyakinkan bahwa memang belum saatnya untuk naik level kesana. Orang-orang terdekat mengatakan jika memang proses setiap orang berbeda, tidak bisa disamakan. Aku merapalkan kalimat itu setiap detik sampai kini menjadi mantra. Padahal aku sudah muak mendengarnya. Menurutku itu hanya alasan saja untukku tidak ingin lebih berusaha. Aku memang hanya semalas itu dan sepecundang itu menuju langkah selanjutnya.

Lalu kini, setelah banyak hari aku lalui tanpa hal pasti. Menyendiri dan merutuki kebodohanku selama ini. Melewatkan banyak kesempatan yang tidak akan datang dua kali.

“Apakah tidak apa-apa aku seperti saat ini?”

“Apakah memang hanya belum waktunya atau aku yang tidak mampu bersaing?”

“Apakah memang tidak apa-apa jika pada akhirnya aku tidak mampu menjadi siapa-siapa?”

 

Jpr-11.8.2021

Comments

Ronaronaroo

I feel youuu siss, mari berpelukann ~
Mereka bilang, hal seperti itu namanya krisis umur seperempat abad, hal apapun bisa jadi bahan overthinking. Tiba-tiba selalu kepikiran kayak ‘jalan yang ku ambil ini bener gak ya?’ ‘kira-kira kalau aku begini, begituu, orangtua-ku malu gak yaa punya anak kayak aku?’
:banjirairmatahuhuhu :banjirairmatahuhuhu :banjirairmatahuhuhu :banjirairmatahuhuhu :banjirairmatahuhuhu
Siang hari hahahihi ketawa ketiwi, malemnya tidur miring pegang guling sambil nangis muehehehe
:REBAHANKEBABLASAN :REBAHANKEBABLASAN :REBAHANKEBABLASAN :REBAHANKEBABLASAN
Semoga badai kita segera berlalu yaa :kisskiss

Novita sari

Ada pelangi sehabis hujan, semangatt

DayNight
DayNight