Vitamins Blog

Cinta Pertamaku

Bookmark

No account yet? Register

Namaku Kaila Maharani, umurku 24 tahun aku kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung jurusan broadcasting dan saat ini sedang pusing-pusingnya dengan yang namanya skripsi.

Tapi bukan itu yang aku ceritakan….
Sudah hampir 5 tahun aku tidak pulang ke kampung halamanku. Bukan aku tak rindu dengan keluargaku, hanya saja terlalu banyak kenangan yang ingin kulupakan di tempat itu.

Berkat corona akhirnya aku kembali pulang, entah ini keputusan yang benar atau tidak.

Tapi aku bertemu lagi dengannya orang pertama yang membuatku jatuh cinta dan orang pertama yang menghancurkan hatiku Faisal Kurniawan.

Aku sudah mengenal ical (panggilan akrabku untuknya) sejak smp kelas 1. Semenjak kelas 2 smp kami menjadi sangat dekat. Kami selalu kemana pun bersama-sama.

Dia bukanlah anak laki-laki populer seperti di novel-novel, dia hanya anak laki-laki kurus, sedikit hitam dengan senyuman manis yang tidak pernah hilang dari wajahnya. Dia selalu perhatian terhadap orang-orang di sekitarnya. Mungkin itulah yang membuatku secara tidak sadar jatuh cinta padanya.

Hingga hari itu tiba….
Tepat ketika ulang tahunnya yg ke 17.

***

05 Agustus 2014

Hari ini hari yang sangat spesial, karena pada hari ini sahabat terkasihku berulang tahun. Aku sudah menyiapkan kejutan untuknya. Aku sudah membuatkan kue brownies kesukaannya dan menyiapkan kado sepatu olahraga yang sangat diinginkannya.

Bukan hanya kejutan ulang tahunnya saja, karena rencannya hari ini juga aku akan mengungkapkan perasaanku padanya. Sudah bertahun-tahun aku memendam perasaan ini. Aku pikir sekarang saat yang tepat untuk mengutarakannya, karena sebentar lagi kami akan lulus sma dan mungkin tidak akan ada kesempatan lagi untukku. Aku bertakat mengumpulkan keberanianku.

aku sedikit memoles make up di wajahku dan memakai dress satu-satunya yg aku punya. Bisa dibilang aku anak tomboy dan ini pertama kalinya aku memakai dress, karena hari ini hari yang spesial dan aku ingin terlihat cantik di depan ical. Sedikit menyemprotkab parfum dan aku siap!

“Mah aku berangkat yah…” kataku kepada mamah yg sedang menyapu di halaman depan.

“Eh mau kemana? Tumben pake rok gitu?” kata mamah terlihat heran dengan penampilanku yang tidak seperti biasanya.

“Anakmu mau berjuang mah do’akan yah…hahaha,” kataku sambil bersiap pergi dengan motor bebek ayah yg sudah usang.

“Halah kamu ini…. Berjuang apa pake rok gitu, jangan terlalu sore pulangnya.”

“Siap, Mah! Assalamualaikum.” kataku seraya pergi

Perjalanan dari rumahku ke rumah Ical tidak terlalu jauh, hanya memakan waktu 15 menit. Hari ini dia sendirian dirumah, karena semua keluarganya sedang mengantarkan ayahnya untuk berobat ke rumah sakit di kota.

Ketika aku sampai aku langsung memarkirkan motorku disamping motornya yg terparkir dihalaman. Tapi ada satu mobil juga yg terparkir disana. Aku tidak mengenali mobil itu, setahuku keluarganya tidak ada yg mempunyai mobil.

‘Apa Om Dika beli mobil yah?’ Pikirku

Sudahlah aku langsung saja berjalan ke pintu rumahnya.

“Loh ko pintunya kebuka? Ical teledor banget sih…?” kataku tak habis pikir.

Dia memang terkadang bisa sangat ceroboh. Aku putuskan untuk langsung masuk kerumahnya, karena aku sudah terbiasa dengan rumahnya karena sering bermain kesini. Aku berjalan ke bagian belakang karena kamar Ical di belakang dan biasanya jam 10 dia pasti sedang tidur.

Ketika aku di depan pintu kamarnya terdengar suara gumaman orang samar-samar.

‘apa Ical ngigau yah?’ pikirku

Perlahan kubuka pintu kamarnya dan…
Tak kuasa kue dan kado yang yang aku pegang di kedua tanganku luruh jatuh ke lantai…

Aku hanya terpaku dengan pemandangan didepan mataku… Mataku mengabur dan air mata luruh membasahi pipiku…

‘ya Tuhan apa ini…’ lirihku

“Kai…,” panggil Faisal yang melihatku terdiam di depan pintu dan dia langsung menutupi tubuhnya yang hampir telanjang dengan baju yang ada di bawah kakinya.

“Aku bisa jelaskan, Kai,” katanya lirih sambil menghampiriku

“Hiks.. Apa hiks yang mau kamu jelaskan hah?!” kataku sedikit keras

Dia hanya diam… Sambil menunduk lesu

Ku arahkan telunjuku dengan marah pada lelaki yang menutupi ketelanjangan tubuhnya dengan selimut di kasur ical sahabatku.

“Dia siapa?! Apa yang kalian lakukan hah?!”

“Maaf, Kai…,” lirih nya. 

“Maaf? kenapa kamu meminta maaf? Ical dia siapa? apa yg kalian berdua lakukan…?” kataku.

Dia semakin menundukan kepalanya dan terdiam.

“Faisal pacarku!” lelaki yg berada di kasur ical berkata dengan ketus

Deg

Pacar?

Apa maksunya ini?

Kulirik ical semakin menundukan kepalanya.

“Maaf kai… Maaf…,”

Aku semakin tak kuasa menahan air mataku. Aku langsung berbalik dan keluar dari rumah itu.

***

Sejak hari itu hubungan kami tidak lagi sama. Hari itu merubah segalanya diantara kami. Tak ada lagi dua sahabat yg selalu bersama. Terakhir aku bertemu dengannya pada wisuda kelulusan sma, sejak saat itu dia hilang bak di telan bumi dan aku pun enggan untuk mencari atau pun sekedar mengetahui kabarnya.

Sudah satu bulan aku berada di kampung halamanku dan kemarin tiba-tiba ada nomer tidak di kenal menelpon ke ponselku. Ternyata itu ical dia bilang ingin bertemu denganku.

Dan di sinilah aku di pinggir lapangan sepak bola yang berada di kampungku. Dulu semasa kami sma setiap pulang sekolah kami selalu duduk di bangku pinggir lapangan sambil melihat anak2 sebaya kami bermain bola.

Aku hanya duduk sambil melihat kosong ke tengah lapangan.

“Sudah lama….” Seseorang menepuk pundakku dari belakang.

Kutolehkan kepalaku ke belakang.
Dia berubah…
Dia semakin tinggi dan lebih putih.

“Kai…,” panggilnya pelan

Aku hanya tersenyum tipis.

“Hai…,” sapaku.

Dia langsung duduk di sampingku.
Kami hanya terduduk diam. Sesekali sambil saling lirik canggung. Aku tidak tau harus berkata apa. Semuanya terasa tak sama lagi.

Kami tak mungkin terus diam seperti ini. Harus ada yg menghilangkan kecangguan diantara kami. Sambil meremas kedua tanganku aku beranikan diri untuk menyapanya.

“Kamu apa kabar?” sapaku pelan sambil menatap wajahnya.

“Baik. Kamu?” jawabnya.

“Baik…,” jawabku.

Kembali keheningan menyelimuti kami berdua.

“Maaf, Kai….” Dia berkata lirih.

“Kenapa kamu meminta maaf? bukankah harusnya aku yang meminta maaf?” kataku. Maaf karena reaksiku pada hari itu… Harusnya aku mencoba memahamimu, aku memang sahabat yang tidak berguna,” lanjutku.

“Tidak, kai. Semua orang pasti akan bereaksi sama sepertimu jika melihat apa yg terjadi hari itu…,” jelasnya.

“Tapi sebagai sahabatmu aku harusnya mendengarkan penjelasanmu terlebih dahulu, bukannya bertindak seperti pengecut dengan melarikan diri…maaf,” jawabku.

Dia hanya tersenyum.

Ah senyum itu yang selalu membuat jantungku berdetak dengan kencang….’

Kita berdua salah, Kai…. Karena terlalu mementingkan ego kita masing-masing,” katanya.

“Kamu benar… lalu… Bagaimana sekarang?” kataku.

“Masih sama, Kai…. Aku nyaman dengan pilihanku, aku bahagia dengan hidupku…,” jawabnya.

“Begitu?”tanyaku.

“Aku harap kita bisa kembali seperti dulu kai…,” katanya sambil memegang sebelah tanganku erat. “Keluargaku tidak menerima diriku yang sekarang…. Aku tidak punya siapa-siapa lagi sekarang,” tambahnya dengan lirih sambil menggenggam kedua tanganku dengan lebih erat.

Hatiku sangat sakit melihatnya seperti ini. Kupeluk erat dirinya seperti dulu. Pada akhirnya aku hanya selalu menjadi bayangan dalam hidupnya. Tapi tak apa selama aku bisa melihatnya itu sudah cukup untukku.

Aku tidak akan pernah menyesal mencintaimu, walaupun aku tidak akan pernah menjadi pemeran utama dalam hidupmu…’

*Coretan Gadis Desa*

12 Komentar

  1. Omg, Kai pasti kaget bngt dah
    Duhh aq pun kaget td pas bca huhu

    1. Utprianti Fadhillah menulis:

      lebih kaget lagi kalau ngalamin langsung :wkwkwkwk

  2. So sad… :lovely :lovely

    1. Utprianti Fadhillah menulis:

      tragis :NGAKAKGILAA

  3. Greget banget bacanya…. Merasa aku yg memergoki itu semua… Huhuhu :lovely

  4. Utprianti Fadhillah menulis:

    jangan sampe ngalamin yah, bahaya! sakitnya gak nanggung berasa gak guna jadi perempuan :NGAKAKGILAA

  5. oviana safitri menulis:

    syedih :lovely

  6. Weladalah, jeruk makan jeruk ternyata.

  7. Ini mah lebih menyakitkan daripada kita ditolak karena wanita lain

  8. Indah Narty menulis:

    Tak bisa berkata-kata