Vitamins Blog

Being His Girlfriend : tiga

Bookmark
Please login to bookmarkClose

No account yet? Register

[RATINGS]

 

************** 

“Yas, temenin gue ke gedung A ya, Pak Rizal minta softcopy tugas anak-anak kemaren nih,” Jennifer bersuara. Saat ini, keduanya masih duduk menunggu ‘antrian’ keluar pintu ruang kelas mereka. Selalu saja begini kalau jam selesai perkuliahan pada pukul duabelas, tingkat kesadaran mahasiswa akan efek samping dari asam lambung sangat tinggi rupanya.

Jennifer menunggu jawaban dari Tyas, namun masih juga tidak ada. Lalu, ia menoleh dan otomatis memutar bola matanya saat sahabatnya itu sedang asik berkutat dengan ponselnya.

“Yas.” Panggil Jennifer.

“Hm?”

“Tyas.”

“Ape?”

“Temenin gue ya?” Jennifer mencoba. Gadis itu ingin tahu apakah sahabatnya itu mendengar ucapannya tadi atau tidak.

Masih dengan menatap layar ponselnya Tyas kembali bersuara, “Iya, bawel.”

Jennifer menaikkan sebelah alisnya, “Kemana coba?”

Tyas mendongak sambil memamerkan deretan giginya, “Kemana, beb?”

Jennifer berdecak, “Ini nih, kebanyakan ngeliatin handphone jadi lupa sama sekitar.”

“Gue abis pesan lips cream, Jen. Gila lo har–“

“Lagi?” Jennifer menginterupsi.

Tyas mengangguk senang, kemudian ia memperlihatkan gambar produk yang dipesannya itu kepada Jennifer sambil berujar, “Parah, ini lucu abis Jen warnanya. Kenapa kemaren nggak kepikiran ya Jen, ke counter brand ini…”

Jennifer menghela napas.

Benar kata orang, We all have one friend who loves skincare and make up so much.

Dan Jennifer memiliki Tyas. Jennifer suka memakai make up, tapi masih dalam konteks standar. Maksudnya, Facial foam, Toner, Pelembab, bedak tabur dan lipstick.

Jennifer juga tipe cewek yang kalau sudah suka dengan satu produk, dia akan menggunakan produk itu sampai tu produk tidak di produksi lagi. Berbeda dengan Tyas yang cendrung mencoba berbagai jenis dan merk. She’ll buy anything if she likes it. Jadi, tidak heran jika ketika memasuki kamar Tyas, Jennifer akan menemukan beberapa merk untuk satu jenis produk.

“Nah, kelas udah kosong. Yuk, kita ke…” Tyas bangkit, ia menatap Jennifer karena Tyas sendiri belum tahu Jennifer tadi mengajaknya kemana.

“Gedung A.”

“Oke, let’s go.” Ucap Tyas lalu berjalan lebih dulu keluar ruangan.

Jennifer mengikuti dibelakangnya, tangannya sibuk mencari flashdisknya sehingga tidak menyadari kalau Tyas berhenti tepat di tangga paling bawah, “Duh!” Jennifer meringis karena menabrak Tyas. “Yas, kenapa lo berhenti mendadak sik?” Omelnya.

“Ya ampun, Aji sama Radit ngapain ke gedung kita coba? Omaigat!” Tyas terpekik pelan.

Namun reaksi berbeda datang dari Jennifer. Tubuhnya langsung menegang ketika mendengar nama Aji disebut. Bukan karena Jennifer suka dengan cowok itu… Oke, siapa yang tidak suka dengan cowok model Triaji Hanggara, coba? Dia itu tipe mutlak dari sosok gambaran cowok-cowok tampan–menurut Tyas, yang dibenarkan oleh Jennifer–. Tapi, masalah jantung Jennifer yang berdegup dan tegang itu karena ia dan Aji pernah berkirim pesan. Plus, Aji juga pernah menanyakan dirinya ke Nic.

“Yuk ah, ntar pak Rizal nungguin.” Ajak Jennifer.

Berlama-lama di dalam gedungnya saat ini bisa membuat kesehatan Jennifer jadi tidak stabil. Jadi, yang Jennifer lakukan adalah langsung menarik lengan Tyas dan menyeret gadis itu ke pintu keluar gedung.

“Kok lo jadi salting gini sik, Jen? Katanya cuma ngomongin kucing…” Tyas berbisik.

“Gue nggak salting!” Jen mendelik. Tidak terima karena dirinya di bilang salah tingkah karena melihat Aji.

Yang benar saja…

“Jenny! Tyas!”

Kedua pasang kaki berbalut heels itu tiba-tiba saja berhenti berjalan ketika mendengar teriakan melengking yang sudah dikenal mereka. Tyas menoleh kearah jam sembilan lebih dulu, kemudian disusul Jennifer.

“Jen, kayaknya lo bakal kenalan langsung nih sama Aji,” bisik Tyas ketika melihat Aji dan Radit juga berdiri didekat Nicholas.

Nic melambai-lambaikan tangannya dengan semangat, meminta kedua cewek itu untuk menghampirinya. Namun, saat Tyas akan berjalan mendekat, Jennifer menahan lengan Tyas dengan kuat. “Kenapa?”

“Yas, kan pak Rizal udah nunggu…”

Tyas menaikan kedua alisnya dengan ekspresi mengejek, “Jen, Pak Rizal juga lagi makan siang kali, ah. Bentar doang, yuk. Mubadzir cowok ganteng dianggurin.” Ucap Tyas, lalu dengan semena-mena menyeret Jennifer berjalan kearah Nic.

Dan Aji.

 

Jennifer tidak pernah merasakan berdegup seperti ini ketika menghampiri orang. Namun sepertinya tatapan Aji membuat kinerja jantungnya menjadi tak beraturan.

“Aji ngeliatin lo aja tuh,” bisik Tyas dengan tatapan masih terarah ke depan.

“Nggak mungkin. Dia lagi ngeliatin cewek dibelakang kita kali,” balas Jennifer dengan berbisik juga.

Tyas langsung menoleh refleks dan mendapati dosen mata kuliah Statistik mereka yang berbadan subur sedang berjalan menuju ruang jurusan. “Lo ngaco deh kalo kali salting.”

***

Aji dan Radit sedang terlibat pembicaraan dengan Rizki tentang hunting yang akan mereka lakukan di luar kota saat suara Nic dengan lengkingannya menginterupsi pembicaraan ketiganya.

“Oi, tomboy! Kecilin volume lo, Ini bukan tempat karoke.” Rizki yang tepat berada di sebelah Nic langsung memukul bahu Nicenggunakan kertas jilidan yang dipegangnya.

Nic tidak peduli, dia semakin menjadi-jadi melambaikan tangannya kepada dua cewek yang dipanggilnya tadi, kemudian Nic melirik dengan penuh arti kearah Aji, “Gue lagi baik hati nih, Ji. Jadi, lo kenalan langsung aja ya sama orangnya.”

Saat itulah Aji melihat Jennifer. Gadis itu tampak sedang berbisik dengan gadis lain disebelahnya yang tidak diketahui Aji namanya. Kemudian gadis disebelah Jennifer menariknya ketempat mereka berdiri.

“Yang mana, Ji?” Rizki menatap Aji, kemudian kearah Jennifer dan Tyas yang berjalan kearah mereka. “Tyas?”

“Tyas yang mana? Cepol atau rambut pirang?” Tanya Radit.

“Bukan. Jennifer, Ki.” Timpal Nic.

“Rambut pirang?” Radit bertanya lagi. Matanya mengamati kedua cewek yang semakin mendekat kearahnya.

“Siapa yang mau kenalan sih.” Aji menggerutu.

“Bro, jadi Jennifer itu yang mana?” Tanya Radit sekali lagi, kedua tangannya terlipat didepan dada dengan ekspresi kesal karena tak ada satupun yang merespon pertanyaannya.

Aji menghela napas, menatap kesal Radit, “Nggak usah dengerin, Nic.”

“Gue nggak percaya mulutnya Nic. Gue cuman nanya, Jennifer-Jennifer itu yang cepolan atau rambut pirang?”

“Cepol.” Jawab Aji singkat.

Mata milik Aji mengamati Jennifer dan temannya yang kini hanya berjarak kurang dari sepuluh langkah dari tempat mereka berdiri. Aji bisa melihat Jennifer yang menolak untuk bertwmu pandang dengan matanya, dia juga bisa melihat keengganan gadis itu datang menghampiri Nic. Ia baru mengalihkan pandangannya saat Radit yang membisikinya dengan nada menggoda,

“Ngedip kali, bro.”

Aji berdeham sekali. Kemudian, ia mendengar suara Nic kembali menyaring.

“Jenny, lo berdua mau kemana? Buru-buru amat sik, di kosan juga tidur doang.” Tanya Nic.

“Gue dan Tyas mau ke gedung A nih, Pak Rizal minta softcopy tugas kita yang tadi.”

Nic manggut-manggut. Kemudian matanya bermain kode kepada Jennifer dengan mengedip-ngedip dan sesekali melirik kearah Aji. Jennifer menatapnya dengan pandangan bertanya.

Nic mendesah frustasi, baru saja ia akan mengomentari, tetapi suara Aji yang keluar tiba-tiba membuat Nic melirik menggoda kepada Jennifer.

“Hai, Jen!” Aji mengulurkan tangannya kearah Jennifer. “Gue bapaknya Noah.” Sambungnya.

Jennifer memerah. Dia tidak menyangka Aji akan nekat menegornya di depan teman-temannya begini. “Eh… Hai, Ji.” Jennifer tersenyum tipis. Kemudian dengan pura-pura kaget saat melirik arloji nya yang mati, jennifer langsung menyikut Tyas yang sejak tadi hanya diam memperhatikan cowok tinggi di depannya dengan tatapan yang biasa diberikan oleh sebagian besar kaum hawa saat melihat Triaji Hanggara.

“Nic, Ki, Ji, dan…” Jennifer melirik cowok yang berdiri di sebelah Aji dengan menggantungkan kalimatnya, “Radit.” Ucap Radit sambil tersenyum.

Jennifer membalas senyuman itu lalu kembali melanjutkan kalimatnya, “Dan Radit, sorry ya gue sama Tyas duluan. Takut ntar pak Rizal keburu ada acara lain soalnya.” Tukas Jennifer.

Nic menggerutu, tapi Jennifer menolak mendengar dan memilih untuk menarik Tyas keluar gedung setelah sebelumnya matanya bersinggungan dengan manik mata milik Aji.

Aji masih menatap punggung yang menjauh itu sampai benar-benar menghilang, ketika suara Nic kembali terdengar,

“Benerkan gue bilang? Jenny bukan tipe lo, Aji.” Nic menatap Aji dengan pandangan santai,

“Menurut gue juga gitu.” Radit mengiyakan.

“Menurut gue Jennifer itu cantik. Jenis kecantikan yang pastinya beda sama model-model gebetan dan mantan lo, Ji.” Kali ini Rizki yang bersuara, “Kalau aja gue lagi kosong, udah gue gebet dari kapan tau tu cewek.” Kekehnya.

Aji dan Radit saling pandang, lalu keduanya menatap Rizki dengan alis terangkat. Sedangkan Nic langsung berbicara dengan nada mencela, “Gue nggak akan biarin Jenny jadian sama buaya kayak lo kali.”

“Trus menurut lo Aji nggak buaya, gitu?” Rizki melirik Aji dengan senyum tertahan. Yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari cowok tinggi itu, “Jangan bawa-bawa buaya dong, gue ini nggak pernah godain cewek lain kalo lagi ada pacar.”

“Iya.” Nic menyetujui. Menurut Nic, meskipun Aji sering gonta-ganti pacar tetapi cowok itu tidak pernah berselingkuh atau apapun saat masih menjalin hubungan. “Tapi, lo serius nih sama Jenny?”

“Hah?”

Nic mencebik, “Jenny itu sahabat gue. Dan dia bukan tipe cewek yang suka party, Ji. Beda sama Aurel.”

Aji mau tak mau mengerutkan kening, “Tunggu… Gue nggak pernah bilang kalau gue suka sama Jennifer. Gue waktu itu cuman nanya doang.”

***

Jen berulang kali menatap ponselnya tetapi belum juga ada notification balasan dari Tyas. Sepuluh menit yang lalu cewek itu bilang kalau sudah di jalan dan sebentar lagi sampai, tetapi sampai sekarang belum juga kelihatan batang hidungnya.

Jennifer menuju ke rak buku yang berada di bagian ujung, memilih mencari buku referensi terlebih dahulu sehingga nanti saat Tyas datang mereka bisa langsung mengerjakan tugas manajemen pemasaran mereka.

Matanya mencari tangga kayu yang biasa digunakan untuk mengambil buku-buku dibagian rak paling atas, namun tidak terlihat.

“Udah tau gue nggak sampe. Mana sih, tu tangga!” Jennifer menggerutu. Tangannya terangkat dan kakinya menjinjit, mencoba meraih buku yang dimaksudkannya itu. Namun, tidak bisa. Ia berusaha kembali melakukan hal yang sama dan pada saat itu suara berat mengagetkannya.

“Lo mau buku yang mana?” Aji tau-tau saja sudah berjalan mendekat kearahnya. Jennifer menelan saliva. “Ngg… Itu.” Tunjuk Jennifer kepada satu buku berwarna Putih bergradasi Biru laut. Aji dengan cepat langsung mengambil dan memberikan buku itu kepada Jennifer.

“Makasih ya, Ji.” Ucapnya, “Biasanya ada tangga kayu, tapi gue cariin nggak ketemu.”

Kedua nya lalu berjalan beriringan kesatu meja. Jennifer duduk pada satu kursi dan Aji melakukan hal yang sama, duduk pada kursi tempat didepan Jennifer.

“Tangga kayu nya sengaja ngilang, supaya lo ketemu gue.” Canda Aji, yang langsung membuat pipi Jennifer memerah seketika.

Aji tertawa.

“Kenapa?” Tanya Jennifer ketika melihat Aji yang tertawa sambil menatapnya.

Aji menggeleng pelan, “Nggak.” Ucapnya. “Lo ada tugas?” Lanjutnya.

Jennifer menggangguk, “Bu Wenda nggak mau kalau copas bahannya dari wikipedia. Makanya gue sama Tyas ke perpus.”

Aji melirik sekeliling, “Terus, temen lo mana?” Tanya Aji saat tidak melihat Tyas.

“Kayaknya dia ngibulin gue deh, Gue yakin Tyas masih molor di kamarnya.” Ada nada kesal pada suara Jennifer yang malah terdengar lucu ditelinga Aji. Mau tak mau membuatnya kembali bersuara dengan santainya,

“Yaudah, gue temenin deh sampai tugas lo kelar.”

“Lo nggak ngerjain tugas juga?” Tanya Jennifer heran.

“Kita beda fakultas, Jen.” Aji terkekeh.

Wajah Jennifer kembali memerah, “Aih, maksud gue lo kesini bukan untuk ngerjain tugas gitu?”

Aji menggeleng, “Gue telat dateng dan nggak boleh masuk. Sedangkan kunci sekret nggak di gue, jadi gue kesini deh mau tidur.” Jelas Aji santai. Cowok itu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.

“Yaudah, lo tidur aja. Nggak gue ganggu kok.”

Aji menyeringai, “Sekarang gue udah nggak ngantuk lagi.” Ujarnya sambil memerhatikan gadis yang sedang fokus menulis di buku bindernya. Teringat sesuatu, Aji kembali bersuara, “Jen, lo kenapa nggak bales DM dan approve ig gue?”

Tangan Jennifer berhenti menulis, dengan mencoba menenangkan debaran jantungnya gadis itu mendongak kemudian menjawab dengan nada santai, “Gue ketiduran. Paginya gue cek kuota gue abis, Ji.” Dustanya.

Tepat pada saat itu, ponsel Jennifer bergetar. Satu panggilan whatsapp dari Tyas. Jennifer melirik untuk mendapati Aji mengangkat kedua alisnya dan terlihag sedang menahan tawa sehingga membuat gadis itu ingin pura-pura pingsan saja detik ini juga.

Jennifer berdeham sebelum berbicara, “Lo dimana? Gue udah di perpus nih… Hah?…gimana sik lo. Aih… Yaudah ntar gue minta Nic anterin balik ke kosan.”

Setelah sambungan terputus, Jennifer segera memasukkan bukunya dan mengembalikan buku yang tadi diambilnya ke rak. Sebenarnya kalau bisa ia ingin langsung saja menghilang dan berharap supaya tidak bertemu dengan Aji lagi. Jennifer benar-benar malu saat ini.

“Ji, lo tidur aja disini. Sorry ya, Gue harus duluan.” Ucap Jennifer.

“Lo mau ke balik?”

“Iya. Tyas di depan kosan gue dan nggak bisa masuk.” Jennifer mencoba untuk tidak menatap bola mata Aji.

“Tugas lo gimana?”

“Itu masih minggu depan kok deadline nya. Lagian, Tyas bawa buku-buku punya kakaknya dulu, jadi dia ngajakin ngerjain di kosan aja.”

Aji mengangguk paham. Matanya menatap Jennifer tanpa berkedip selama beberapa detik. Kemudian, melihat arloji yang terpasang dipergelangan tangan kirinya, lalu mendongak, “Gue anter lo ke kosan.”

Jennifer membelalakan matanya kaget tak menyangka Aji bakal mengatakan itu kepadanya, dengan cepat gadis itu mencoba menolaknya, “Eh… Nggak usah, Ji. Gue minta anter Nic aja. Nggak papa…”

“Gue juga nggak masalah kok nganterin lo, Jen.”

“Tapi beneran deh, Ji… Gue nggak mau ngerepotin lo.” Jennifer menghela napas. Masih mencoba menolak.

Aji tersenyum, “Gue nggak ngerasa direpotin, Jenny. Yuk?”

Wajah Jennifer langsung memerah saat Aji memanggilnya dengan panggilan itu. Dan ketika Aji mengajaknya untuk yang kedua kali, Jennifer menarik napas kemudian mengeluarkannya perlahan sebelum akhirnya ia mengangguk dan berjalan bersama Aji menuju parkiran.

Sepuluh menit kemudian mobil Aji berhenti tepat di depan gerbang kosan bewarna jingga bertingkat dua.

Jennifer menimang-nimang sebelum berkata, “Lo… Mau mampir dulu?” Merasa aneh dengan kalimatnya, ia buru-buru menambahkan, “Ngg…Maksud gue kalo lo mau ngelanjutin tidur lo tadi gitu.”

“Jadi gue boleh tidur di kosan lo nih?” Aji menggerlingkan matanya kepada Jennifer yang langsung membuat wajah gadis itu seketika merah padam. Mau tak mau Aji terkekeh melihatnya, lalu ia tersenyum, “Becanda, becanda…”

“Aih…”

“Kenapa? Lo pengen gue serius?” Pertanyaan Aji seketika langsung membuat pipi Jennifer merona kembali, “Nggak!” Sergah gadis itu.

Aji mengerutkan dahi, “Jadi lo cuma basa-basi doang nih nawarin mampirnya?”

“Ih, enggak. Maksud gue…” Jennifer tidak bisa mencari kalimat yanh tepat untuk menjawab pertanyaan cowok itu padanya.

Aji terkekeh pelan, dengan gerakan impulsif cowok itu mengacak pelan puncak rambut Jennifer. Lalu berkata, “Kayaknya gue langsung cabut deh, Jam sepuluh ntar gue ada kuliah lagi soalnya.”

Jennifer membeku ditempatnya, wajahnya kembali memerah tetapi sepertinya Aji tidak sadar kalau tangannya tadi yang membuat efek itu kepada gadis dihadapannya. Jen menghela napas yang ditahannya, lalu berucap sambil melepaskan safetybelt nya, “Emm…Yaudah kalau gitu. Makasih ya Ji, udah nganterin gue.” Jennifer balas tersenyum saat cowok itu melakukan hal yang sama kepadanya. Tepat pada saat Jennifer membuka pintu penumpang, Aji kembali memanggilnya.

“Jen?”

Gadis itu menoleh dengan tatapan bertanya.

Aji menatap Jennifer selama tiga detik, kemudian ucapan yang di keluarkan cowok itu sukses membuat wajah Jennifer kembali memerah dan membuatnya ingin pingsan detik itu juga,

“Ntar kalo udah ada kuota, jangan lupa approve ig gue ya.”

 

***

 

Note : yaampun kakak2 makasih udah vote ceritaku!? Ga nyangka aja ada yg baca wkwk. Biasanya aku nulis fanfic di dunia orange, tapi ntah kenapa mau keluar dr zona nyaman dan akhirnya tadaaa. Cerita gaje bin absurd hahah!

Buat yang penasaran, iya, si Nic itu emang rada tomboy gitu dehh. Terinspirasi sih soalnya aku punya tmn yg begitu, tapi sumpah ceriwis abisss. Seru banget temenan sama dia. Hehe? semoga masih ada yang baca yaaa wufff

9 Komentar

  1. Haha sikap Jen sukses bikin ketawa terus senyum2 sendiri deh dia lucuuu Aji jg kok bikin Jen jg aku deg degan terus sihhh hehe
    Ditunggu kelanjutannya suka sma cerita ini..

    1. Aaakkk maacih udh sukaa ?? hihiii

  2. nananafisah184 menulis:

    Wkwkk.. Lucuu bgt jeny’nyaa.. Salting2 gtuu lagii :KETAWAJAHADD
    Btw.. Ini gak dikasih [ratings] yaa?? :ragunih

    1. Udah ka, tp ga muncul and i dunno why :(

  3. eeaaa,,,, ne aji mah sok2 ga mau tapi mau gt wkwkwkwk
    duh sweet banget deh mereka,,, aku jadi gemes sendiri …
    cerita nya ok loh… lanjutkan sampai tamat yah,,, aku tunggu dgn setia aa aji ku *eh :LARIDEMIHIDUP

    1. Thx kakaaaak?

  4. Gemes bangettttt, greget banget baca iniiiiii

  5. Jenny yg salting kok aq yg baper.. :cubitgemas

  6. fitriartemisia menulis:

    Nic tomboy atau Nic itu cowok??? haha aku masih bolak-balik gak paham sama Nic huhu
    Jenny manis banget siiih kalo salting,, Aji tipikal cowok sadar pesona ya haha
    kusuka kusukaaa ceritanyaaa