My Bride
Vitamins Blog

My Bride

Bookmark

No account yet? Register

Chapter One

-Jason POV-

Aku merebahkan tubuhku ke kursi mobil, memejamkan mata berharap dapat menghilangkan sedikit penat yang kurasakan. Pukul 10 tadi pagi keluar dari barak, aku langsung menemui fans dan beberapa media yang meliput kepulanganku. Fansku sangat bahagia melihat diriku sudah selesai masa wajib militer bahkan tak sedikit fans yang menangis saat melihatku. Setelah menjawab pertanyaan wartawan tentang perasaanku setelah mengikuti wamil, bahkan pertanyaan tentang kekasihpun dijawabku dengan senyuman karena memang belum bukan lebih tepatnya tidak mempunyai pacar.

“Jason, hyung sudah mempersiapkan semua yang kamu keperluan untuk fansmeeting di Indonesia” ujarnya.

Aku hanya mengangguk. Ini sudah sekian kalinya hyung mengingatkan fansmeeting ini, fansku di Indonesia juga tidak sedikit, promotor Negara itu juga sudah menyepakati semua yang aku inginkan.

Kubuka mataku melihat keluar kaca mobil, kota Seoul memang selalu ramai dengan aktivitas penduduknya bahkan di malam hari. Mobil hyung membelah jalanan kota seoul menuju rumahku.

Aku memasuki rumah peninggalan appaku, melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah. Melihat sekeliling rumah ini mengingatkan masa lalu yang menyakitkan itu, tapi aku harus tetap bertahan dirumah ini karena appa. Rumah ini tetap sama seperti 2 tahun lalu, sejak kematian appa, aku memutuskan untuk masuk wajib militer yang selama ini aku tunda karena karirku untuk menghilangkan kesedihan atas kepergian appa.

Aku merebahkan tubuhku ke kasur, mencoba untuk tidur, besok aku harus ke agensi, malamnya berangkat ke Indonesia. Aku sengaja memilih penerbangan malam hari, agar tidak terlihat mencolok dibandara Incheon nanti.

***

-Mei POV-

Itulah sedikit info tentang Raja Ampat di papua, bentangan alam Indonesia yang sangat indah. Kapan ya Mei bisa kesana mungkin ada pendengar setia radio muda ingin ajak Mei kesana, mimpi kali ya. Oke berhubung sekarang sudah dipenghujung acara. sampai ketemu lagi di selasa malam bersama saya Mei di radio muda 94.7 fm.

“Akhirnya selesai juga, Don pulang dulu ya” kataku sambil mengemasi barangku.

Yang diajak bicara malah manggut-manggut aja. Itulah kebiasaan si Doni selalu serius kalau di ruang radio. Lupa sama sekitar.

Aku keluar dari parkiran kantor membawa motor metikku ke sebuah restoran milik kakekku, ada seseorang yang ingin aku temui disana.

“ada apa ingin menemuiku? Tanya Mei langsung saat tiba di restoran.

“kamu ini, belum juga duduk, ayo duduk dulu” ujarnya

Aku duduk setelah berdiam diri sesaat, Gilang memperhatikanku memberikan senyumannya. Pasti ada sesuatu yang diinginkannya sekarang.

“kamu, masih marah karna masalah windi?” Tanya Gilang

“kalau mau bicara tentang Windi lebih baik, aku pulang saja” jawabku ketus.

“jangan begitu, Aku ngajak ketemuan sama kamu soal kerjaan kok, bukan masalah windi” ujar Gilang.

“kerjaan apa?” Tanyaku malas.

“bos ku sedang mencari penerjemah bahasa korea, karena penerjemah yang kami kontrak tiba-tiba masuk rumah sakit karena tipes kemarin malam, dan fansmeeting besok lusa, jadi aku merekomendasikan kamu ke bosku, karna dia selalu marah marah karena kami belum mendapatkan penerjemah, takut fansmeetingnya gagal, maklum ia sudah berusaha untuk mendatangkannya” ujarnya panjang lebar kaya kereta api.

“kenapa kamu sebawel ini sih, pantas saja Windi ninggalin kamu” grutuku kesal mendengar ucapannya.

“habis, ini sudah mendesak banget, jadi kamu mau ya? Tanyanya.

“bagaimana ya, sebenarnya aku masih marah sama kamu soal Windi” jawabku.

“aku mohon ya, aku akan melakukan apa saja buat kamu Mei” memohon dengan tampang melasnya.

“baiklah, mengingat kamu adalah sahabatku, tapi dengan syarat?”

“apa?” Tanya Gilang antusias.

“kamu harus minta maaf sama Windi karena mulut kamu yang tak bisa diam itu dan berbaikan dengannya, apakah kamu sanggup? Tanyaku.

“ehm, oke” ujarnya mengangguk menyanggupi.

“kedua, kamu harus belajar mengganti tabiat kamu yang jelek itu” ujarku

“tapi Mei, aku sudah berusaha” Gilang menyanggahku.

“kamu kurang berusaha Gilang, berapa banyak masalah yang kamu berikan buatku, jangan pura-pura lupa. Kamu sanggup Gilang?” tanyaku penuh penekanan.

“oke” ujarnya lemah.

“sekarang masalah kamu sudah selesaikan, sekarang traktir aku makan dulu”

“tapi Mei, inikan restoran kakek kamu, kenapa malah minta makan sama aku”

“ya udah kalau begitu, aku batal jadi penerjemah aja” ujarku mengancam.

“oke, aku traktir kamu” ujarnya pasrah.

***

-Jason POV-

Aku sedang duduk di lobi hotel, hyung sedang mengecek penginapan yang disediakan oleh promotor, perbedaan waktu Indonesia 2 jam lebih awal dari pada Korea jadi, di Korea sekarang sudah pukul 1 pagi tapi Jakarta masih pukul 11 malam itu yang dijelaskan oleh hyung tadi.

Aku terbangun karena bunyi alarm, aku harus siap-siap sekarang, pukul 8 ada janji dengan penerjemah, tapi sekarang masih pukul 6 pagi. Aku memutuskan untuk turun ke lantai bawah terlebih dahulu, lebih tepatnya ke restoran hotel ini. Aku ingin sarapan disana. ku ambil topi dan kaca mata diatas nakas lalu mengenakannya.

Saat tiba disana, aku memilih duduk di salah satu kursi yang dekat jendela ingin menikmati kota di pagi hari. Pandanganku teralihkan ketika seorang yeoja berdiri di pintu masuk dengan mengenakan rok hitam selutut dan kemeja putih dipadukan dengan blazer. Berdiri didepan pintu beberapa menit dan melangkah dengan sedikit dipaksakan.

Entah kenapa aku terus saja memperhatikan yeoja itu, ia duduk tak berapa jauh dari tempat dudukku, sekarang yeoja itu sedang menerima telpon dari seseorang, raut wajahnya menampakkan bahwa ia enggan akan seuatu hal, dia berbicara dengan bahasa yang tak kumengerti, tapi sepertinya aku tahu apa yang ia maksud, ia melepas high heels yang ia kenakan, sepertinya ia protes kenapa harus mengenakan heels setinggi itu, karena sekarang ia memejit kakinya.

Aku tetap saja memperhatikan yeoja itu yang sedang menikmati minuman yang diantar pramusaji kepadanya, ia mendapat telpon dari seseorang tapi ekspresi yang timbul di wajahnya memperlihatkan bahwa dia sedang senang tidak seperti telpon sebelumnya. Aku melirik jam tanganku, sekarang sudah pukul 07.00 pagi, aku harus meninggal restoran ini segera dan yeoja ini tentunya.

***

Aku menatap pantulan diriku didepan cermin, sekarang sudah pukul 07.15, aku merapikan pakaian yang ku kenakan yang ku pinjam dari Windi karena aku tak memiliki pakaian formal seperti ini, aku selalu mengenakan pakian yang membuatku nyaman saja, tak peduli dengan pendapat orang lain. Tapi ini berbeda sekarang karena aku sedang bekerja terlebih lagi aku menjadi penerjemah hari ini bahkan heels yang berhak tinggi yang kupakai saat inipun pinjaman dari Windi karena ia bersikeras tentang keserasian sepatu dengan pakaian yang aku kenakan sekarang. Tapi kenapa harus menggunakan sepatu setinggi ini sih gerutuku.

Aku menghela napas, bagaimanapun aku sudah memutuskan untuk membantu Gilang sebagai penerjemah, maka dari itu aku mengajukan syarat kepadanya, karena aku ingin menyatukan kedua sahabatku itu yang sangat gengsi untuk mengungkapkan perasaan mereka sebenarnya. Menjadi penerjemah bukanlah pekerjaanku sebenarnya aku lulusan UI jurusan sastra Indonesia. Aku mempelajari bahasa karena terbiasa, aku terlahir dari seorang ayah berkewarganegaraan jepang dengan seorang ibu berkebangsaan korea selatan dan ayah jepang sedangkan ibuku orang Indonesia asli campuran minang dengan sunda. Aku bisa bahasa inggris, korea, jepang, mandarin, yang pastinya Indonesia. Maka dari itu perbedaan bahasa bukanlah hal yang biasa bagiku.

Kemampuan berbahasaku tidak digunakan untuk pekerjaan, aku mempelajari bahasa karena ingin keliling dunia seperti ayah dan ibuku, itulah impianku selama ini. Pekerjaanku sebenarnya hanyalah penyiar radio selebihnya hanya mengurus kakek dan nenek ku saja, sedangkan kakakku berada di jepang bersama halmeoni sedangkan abeoji sudah meninggal sejak aku berumur 13 tahun, orang tuaku meninggal saat aku kelas 3 senior high school. “sebaiknya aku pergi sekarang” saat kulihat waktu dijam tanganku.

***

ini cerita pertama udah hampir 3 tahun tersimpan di leptop.

memberanikan diri buat post 🙂

terima kasih sudah mau baca cerita ini.

10 Komentar

  1. farahzamani5 menulis:

    Wahhhh cerita member boy band ama penerjemahnya eaaa hihi
    Ditunggu kelanjutanny
    Ini msh lanjut kan yak, itu Jason si bawel ya ehhh hihi
    Semangat Semangat Semangat

    1. farahzamani5 menulis:

      Oia, ditmbh dikit dibagian atas tulisan dikau, tmbhin kata [ratings] spy nnt muncul lope lope bwt kita2 klik untuk mengapresiasi karya ny dikau
      -Pake kurung [ ] tanpa spasi
      -Pake huruf r
      -Pake huruf s dibelakangny
      Yuks dicba
      Semangat

  2. Sukaaa :inlovebabe

    1. PrincessSusan menulis:

      Samaaa incess juga syukaaaaaaaaaaa kak sela :NGEBETT

    2. Eeiiyy inces ikut-ikutan aja nih :plakkk

  3. ok ko…. semangat yah nulis nya

  4. Lgi seach2 mau baca2 eh nemu ini cerita. Chapter 2 bikin pngen lanjut. Next read ya thor ?

  5. fitriartemisia menulis:

    semangattt lanjutannya

  6. Baru pertama kali baca cerita para vitamins, dan ini cerita pertama yang ku baca~~
    Wahhh udah berapa lama aku gak baca fanfic >_<ini sejenis fanfic kaan??
    Si Mei kelakuannya aku banget ini, bantu temen pakai traktir hihihi~ bedanya si Mei di restaurant kakeknya sendiri~
    Berharap jadi kaya si Mei bisa bernagai bahasa asing..

  7. KhairaAlfia menulis:

    Banyaknya campuranmu Mei,,
    Kayak gado gado aja,,

Tinggalkan Balasan