PicsArt_03-31-01.48.35
Vitamins Blog

A PRIORI ch. 9

Bookmark

No account yet? Register

38 votes, average: 1,00 out of 1 (38 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

A Priori ch. 9 Kesalahan

Bacalah dengan posisi yang nyaman dan jangan membaca terlalu dekat, ingat 30 cm adalah jarak yang paling minimal untuk aman mata.

Terlambat, Zia sudah di seret kearah sisi kiri kamar dengan pistol di kepala Zia “Seharusnya aku menghabisi kalian sejak di rumah tua itu.” Ucap orang itu dengan suara parau.

“Siapa yang ingin kau habisi?” balas Azka tanpa suara ketakutan sedikitpun.

“Tentu peliharaan manis ini.” Ucapnya sambil menarik platuk belakang pistol yang membuat tubuh Zia membeku ketakutan bahkan suaranya tercekat tak mampu mengeluarkan suara apapun.

 “Dia sama sekali tidak manis, lakukan lah hal apapun yang kau inginkan.” balas Azka kembali keposisi tidurnya tanpa memperdulikan tatapan Zia untuk meminta tolong.

Walau tampak tidak peduli Azka meminta Ardi untuk mengarahkan tembakan kerah tangan laki-laki itu dari arah jendela luar, yang memang disanalah temannya mengawasi semuanya.

“Aku sungguh menyukai pikiran mu anak muda.” Ucap lelaki itu sambil membuka masker yang dipakainya.

Mata Azka terbelalak ketika pertama kali melihat wajah lelaki itu, dia tahu pasti siapa lelaki paruh baya yang sedang menyunggingkan senyum liciknya itu. “Lama tidak bertemu dengan mu Azka. Ah tidak tepatnya Azka Shoutwellm, wajah mu benar-benar mirip seperti kakek mu di masa mudanya.” Ucap lelaki itu dengan angkuh.

“Paman kau.” Suara Azka tercekat bahkan untuk mengeluarkan kedua kata yang keluar tanpa pikir panjang.

Zia memejamkan matanya dengan kuat walau masih misa mendengar seluruh pembicraaan yang sedang dilakukan Azka dan sang penjahat, seluruh badannya bergetar ketakutan. Pinstol yang ujungnya masih menyentuh kulit dahi Zia membuatnya ingin menangis.

Prang, kaca jendela kamar Azka pecah akibat sebuat peluru yang melesat cepat dan mengenai tangan penjahat itu sehingga petahanya mulai goyah dengan cepat Azka berdiri dan menarik Zia menjauh tapi keadaan kamar yang gelap membuat lelaki itu cepat kabur keluar sebelum Azka sempat menangkapnya.

“Tunggu!!” teriak Azka ingin mengejar tapi tubuhnya tidak bisa bergerak karena Zia yang memeluknya erat dari belakang.

“Jangan, kau akan mati jika terus berurusan dengannya.” ucap Zia sambil terus mengeratkan pelukannya pada Azka.

Azka diam dan sambil mendengarkan arahan Ardi bahwa mereka yang akan mengejar pelaku. “Tugasmu adalah untuk menjaga Zia. Jadi tetaplah bersamanya aku akan mengejar lelaki itu. Dan ku harap kau bisa menjelaskan indentitasnya kepada ku nanti.” Ucap Ardi selaku ketua. Azka hanya mengerang menahan amarahnya sambil sedikit menjambak rambutnya frustasi, “Aku tidak akan mati dengan mudah.” ucap Azka sambil menepuk-nepuk punggung tangan Zia yang masih memeluknya.

Pelukan Zia semakin menerat sampai pintu kamar terbuka menampilkan beberapa perawat yang mungkin datang karena mendengar suara kegaduhan dari kamar. “Apa yang terjadi.” Ucap salah satu perawat.

Zia dengan cepat melepaskan pelukannya dan berbalik membelakangi perawat itu karena takut akan ada skandal jika orang-orang tau dia sedang berpelukan bersama orang lain di rumah sakit, Azka dengan cepat berkata “Ah itu mungkin ada anak-anak iseng bermain lempar betu sehingga kaca kamar tiba-tiba pecah.”

Setelah itu Azka diminta untuk pindah kamar dan Zia tetap menemaninya sampai semua persiapan kamar yang baru selesai. “Apa kau tidak pulang?” tanya Azka sambil menatap layar hpnya.

“Aku boleh bertanya?” ucap Zia mejawab pertanyaan Azka dengan sebuah pertanyaan sehingga membuat Azka menatapnya sedikt bingung.

“Apa?” balas Azka singkat dengan tatapan malasnya.

“Orang tadi. Apakah pembunuh itu paman mu?” ucap Zia taku-takut.

“Pembunuh?” ucap Azka dengan penuh selidik.

“Sebenarnya tiga bulan lalu ketika perampokan terjadi aku tidak hanya melihat mereka merampok tapi juga membawa seseorang lalu membunuhnya. Lalu sejak hari itu aku selalu mendapatkan teror dan menjadi sasaran seorang pembunuh.” Jelas Zia sambil mengingat seluruh kejadian awal mengapa ia menjadi incaran para penjahat.

“Dia memang seorang pembunuh dan mungkin akan selalu seperti itu. Tapi apa kau yakin dia juga sang pemilik tato mawar hitam itu.” Ucap Azka sambil memalingkan wajahnya menuju arah jendela yang memantulkan sedikit bayangan wajahnya.

“Entahlah aku tidak yakin dengan penglihatanku sendiri. Ini adalah pertama kalinya aku melihat wajahnya secara dekat.” Ucap Zia meragu lalu berdiri dari duduknya dan mendekati Azka dengan membawa beberapa obat kapsul yang sudah ia siapkan.

Azka memlingkan wajahnya lalu mengerutkan dahinya ketika melihat sodoran tangan Zia tepat di depannya. “Minum!” perintah Zia.

“Kalau seperti ini aku jadi ingat kenangan kita saat SMP.” Ucap Azka dengan senyum miringnya.

Zia terkejut ketika Azka membicarakan masa smp mereka dulu sempat dia mengira bahwa Azka tidak akan mengingat sama sekali kenangan pada masa itu, dengan cepat dia menarik tangan Azka dan meletakan 3 buah kapsul ke telapak tangan Azka, “Cepat minum tadi para perawat sudah mengatakan bahwa kau harus meminum obat lalu tidur sebelum larut malam.” Jelas Zia dengan wajah mengancamnya.

Dengan cepat Azka meneguk ke-3 obat itu lalu meminum air yang Zia berikan padanya, “Apa kau tidak merindukan ku Zia?” ucap Azka sedikit menggoda Zia dengan mengedipkan matanya.

  Zia memutar matanya malas lalu kembali berjalan ke arah tempat tidur lain yang memang ada di ruangan itu, sekarang Azka dipindahkan ke ruangan super VVIP sehingga terdapat peralatan yang sangat lengkap sampai tempat tidur untuk keluarga yang memang di siapkan dengan baik oleh rumah sakit.

Zia memutuskan untuk tidak pulang karena takut jika harus mengalami hal buruk lainnya dijalan nanti. “Aku akan tidur duluan. Orang sakit lebih baik juga tidur.” Ucap Zia dengan angkuh sambil menunjuk Azka dengan wajah sombongnya yang sudah kembali seperti semula. Lalu membaringkan tubuhnya dengan membelakangi Azka.

Azka hanya bis amenggelengkan kepalanya menghadapi sikap Zia yang menurutnya sangat lucu, pikirannya masih tidak bisa menerima jika orang yang baru saja ia lihat wajahnya dalah benar-benar pamannya yang dulu dikiranya sudah mati. “Bukankah ayah dulu mengatakan bahwa paman Fadil mengalami kecelakaan di prusahaan.” gumam Azka dalam duduknya yang membuat kepalanya berdenyut sakit.

“Sepertinya pemudah itu hanya stalker biasa dan mengira lelaki tadi adalah teman satu fangrup yang sama dengannya.” Ucap Raka melaporkan hasil pebicaraannya dengan pemuda yang sudah di bekuk oleh Azka sebelumnya.

Dengan gusar Azka mematikan fungsi alat yang beada ditelinganya karena kembali gagal dalam menemukan hal yang dapat membuat mereka dekat dengan organisasi itu. “Tunggu saja aku pasti akan mennagkap mu.” Ucap Azka serius dengan mengepalkan kuat kedua tangannya.

Zia yang telah tertidur kembali terbangun karena merasakan Ac yang menurutnya terlalu dingin sehingga membuatnya merasa tidak nyaman, dia duduk lalu melihat kearah Azka yang rupanya malah sedang berdiri menatap keluar jendela. “Tidak tidur?” tanya Zia dengan suara seraknya.

Azka berbalik lalu menggelngkan kepalanya lalu memberikan senyuman simpul pada Zia. Ditariknya tiang infusnya lalu berjalan mendekati Zia sambil membawa selimut miliknya lalu melemparkannya sehingga dengan sigap Zia menangkap selimut itu.

“Pakai lah aku terbiasa dengan suhu dingin seperti ini.” Ucap Azka menjelaskan lalu kembali berjalan menuju tempatnya berdiri tadi.

Zia menatap selimut yang diberikan Azka, “Apa dia tidak merasakan dingin.” Pikir Zia dalam diam, dia malas berurusan dengan Azka lalu memutuskan kembali berbaring seperti semula yaitu membelakangi Azka dengan berselimut dua lapis sehingga rasa hangat membuatnya lebihnyaman.

Tapi walau sudah lebih dari 10 menit Zia memejamkan mata dia tidak bisa kembali tidur karena pikirannya masih terganggu karena Azka yang belum tidur, dengan gusar Zia duduk lalu menoleh kerah Azka berdiri. Dengan langkah malas dia mendekati Azka dan membawa selimut yang tadi diberikan Azka padanya. “Tidur!” ucap Zia tiba-tiba sehingga membuat Azka bepaling menatapnya bingung.

Zia menarik lengan Azka menuju tepat tidur, “Aku akan membantu mu untuk tidur.” Ucap Zia sambil mengangkat tanganya lalu menutup kedua mata Azka. Mungkin hanya Zia satu-satunya yang tahu cara menidurkan Azka bahkan tidak terdengar satupun protes dari sosok yang sedang ditutup matanya itu.

Zia mengetahui dan selalu mengingat bagaimana dulu dia saat SMP selalu melakukan hal ini dan sekarang pun ia kembali melakukan hal yang sama yaitu memandang wajah Azka yang tengah tertidur. “Apa kau masih susah tidur sampai sekarang?” ucap Zia pada Azka yang memang tidak mungkin menjawab pertanyaannya saat ini karena suara napasnya teratur yang menandakan sekarang ia sudah tertidur.

“Aku selalu berharap tidak lagi bertemu dengan mu. Kalau pun bertemu aku benar-benar ingin membalaskan rasa sakit hatiku. Tapi mengapa aku selalu merasakan rasa kasihan jika melihat wajah mu? Bahkan sampai sekarang.” Ucap Zia dengan raut wajah sedih dan sesekali menampilkan raut wajah kesalnya. Sungguh bagi Zia kenangan masa lalu yang sangat ia benci ialah harus bertemu dengan Azka dan masa depan yang tidak ingin ia milik adalah kembali bertemu kembali dengan Azka tapi takdir bagaikan penghinat untuknya. Azka dan Zia harus kembali bertemu bahkan dalam situasi yang sangat berbahaya sekailipun.

 

SEE YOU ~~~

BY : RP

14 Komentar

  1. nah…masa lalu yang masih samar-samar yaaaa…..

    senang nya jalinan takdir itu seperti benang kusut dalam satu simpul….tetap terhubung gimana pun rumitnya…. #ehkoment apa nih? :KETAWAJAHADD

    typo nya bertebaran….xexexe seperti senyum yang wara wiri nih… :tepuk2tangan

    1. Iya masih memilih2 yg mana yg bagus dan cocok ahaha
      Wkwkw typo nya di mana2 ya wkwk nanti ku perbaiki hehehe

  2. Hah..jd pamannya Azka nih penjahatnya :tidakks! Kenangan apaan tuh yg bikin Zia bnci ma Azka,, hadeeuhh lg2 dibikin kepo kan.. :CURIGAH
    Tiap part ada aj misterinya.. Next next.. Langsung lima part gituuu.. Hahaaa #pembacangelunjak :HUAHAHAHAHA

    1. :KAGEET jadi diakah penjahatnya
      Wkwkw aku kan berusaha lebih keras #penulismenyerah wkwkwkw :LOONCAT

  3. tama……kok sepertinya ada yg misterius ya?apkh ini cinta pertama?

    1. Hmm misterius?
      Buka cerita pertama mungkin yang ke-4 ku

  4. nah,,, satu hal sdh terkuat ne,,, sedikit2 makin tercium bau2 penjahat nya wkwkwk
    sama kaya azka sama zia yg seiring waktu cinta nya makin kuat eeeeeaaaaaa :LARIDEMIHIDUP :LARIDEMIHIDUP

    1. Hemmm sudah milai terciumm bau2nya yam #lah wkwkw
      Eyaaaa kisah cinta uhukkk :dragonmuahsanasini :gosokgigidulu

  5. aishelatsilla menulis:

    :HUAHAHAHAHA

    1. :KETAWAJAHADD

  6. MuzaMuzainah menulis:

    Sudah tercium baunya :KETAWAJAHADD :KETAWAJAHADD

    1. Bau apa :KAGEET :byesampaijumpa

  7. Sudah mulai tersusun puzzle teka-teki nya, wkwkwk
    Bahasaku ngk karuan, apaan coba :LARIDEMIHIDUP

  8. fitriartemisia menulis:

    nahloh, pamannya Azka?

Tinggalkan Balasan