Vitamins Blog

Land Under Heaven : Ketidakadilan

Bookmark

No account yet? Register

345 votes, average: 1,00 out of 1 (345 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

Kamar itu dilingkupi kesunyian yang menusuk relung hati, memaksa Ailesh terpental jauh ke masa lampau. Kamar itu menjadi saksi bahwa ada segenggam cinta yang menyapa dan merajutkan benang-benang cintanya yang kusut. Namun kini cinta itu tinggal cerita pahit, ketika cinta yang mulai digenggamnya menorehkan luka yang menganga dan membekas dihatinya.

Ailesh memejamkan mata dengan rahang mengatup keras. Perasaan tak berguna ini membuatnya lemah, membuatnya terperdaya dan terus terpaku dengan masa lampau. Sekaligus membuatnya terlihat semakin pengecut dibalik topeng dingin yang selalu membentenginya.

Manusia tak berguna bertebaran di muka bumi, dan sialnya Ailesh harus bertemu dengan salah satu manusia seperti itu dengan kondisi yang tak terduga. Memaksanya untuk menundukkan segenap hatinya yang tinggi, menanggalkan tahtanya demi seonggok daging hidup tak berguna. Tangan Ailesh terkepal kuat, pergolakan emosi antara hati dan pikiran yang memaksanya untuk mengarungi pahitnya kenangan masa lampau.

“Yang mulia, keempat jenderal menunggu anda di aula.” Seorang pelayan bergumam gugup diluar pintu kamar, menghempaskan segenap jiwa yang tadinya terhempas jauh dari kenyataan. Ailesh berbalik dengan sikap gusar, meninggalkan ruangan itu yang seolah tertawa pongah.

“Ada apa?” Ailesh datang dengan gusar, wajahnya terlihat muram dengan ekspresi dingin tak terbaca. Keempat jenderal dihadapannya menunduk dalam, menyembunyikan kegentaran dihatinya sekaligus menghormati sosok dihadapannya.

Satu dari keempat jenderal itu berucap dengan suara sedikit gemetar, melihat aura tidak menyenangkan Ailesh bahkan sebelum laki-laki itu menemui mereka.

“Saya diperintahkan raja untuk menyampaikan pesan, bahwa hari ini anda akan menemui kaki tangan pemberontak dari kerajaan barat.”

Ailesh terdiam cukup lama, membiarkan keempat jenderal di hadapannya menunggu dengan gelisah. “Untuk melakukan apa?” Tekannya dengan suara yang halus namun mengancam. Ailesh memang terkenal dengan wajah dingin dan pembawaan sikap yang tenang, ia tidak pernah memperlihatkan emosinya secara berlebihan, seolah wajahnya itu tercipta hanya untuk mengguratkan wajah yang menggambarkan keburukan daripada kebaikan.

Jenderal itu berdehem gugup, lalu menjawab dengan suara yang terdengar susah payah dilontarkan. “Untuk melakukan kesepakatan, yang mulia.” Keempat jender

“Dan kalian dikirim untuk menemaniku?” Tebaknya.

“Benar, yang mulia.”

Ailesh terdiam kembali, memberikan aura yang semakin tidak nyaman yang membuat keempat jenderal menginginkan untuk seceupatnya pergi dari hadapannya. Ia bukan sedang menimang permintaan sang raja, hanya saja sikap sang raja yang tidak terduga itu membuat Ailesh sedikit merasa gusar. Laki-laki itu berdiri lalu berjalan melewati keempat jenderal yang masih termangu ditempatnya masing-masing.

Ailesh berjalan semakin jauh, dan sebelum laki-laki itu mencapai daun pintu ia mengeluarkan suaranya yang tenang namun tajam. “Apa yang kalian tunggu? Jangan buang-buang waktuku hanya untuk melakukan hal yang sia-sia ini.”

Keempat jenderal langsung berdiri dan mengikutinya dengan terpogoh-pogoh, sekaligus mengutuk diri dalam hati karena Ailesh adalah laki-laki yang tidak bisa dan tidak ingin menunggu. Tubuh mereka yang besar berotot, tegap dan penampilan yang gagah itu berubah menciut jika sudah menyangkut dengan Ailesh. Laki-laki itu adalah satu-satunya orang yang berpengaruh bahkan dapat melebihi pengaruh sang raja sendiri.

Ailesh dan keempat jenderal menunggangi kuda dan segera memacu kuda ke hutan disebelah selatan kerajaan inka. Kuda mereka melesat dengan cepat, menembus hutan rimbun yang semakin ke dalam semakin rimbun dan jarang terjamahi manusia. Dari jauh mata tajam Ailesh menangkap siluet tubuh dua laki-laki yang ia duga adalah kaki tangan pemberontak itu, Ailesh menekan perut kuda dan kudanya melesat semakin cepat.

Keempat jenderalnya tertinggal beberapa meter dibelakangnya, tentu saja tertinggal. Karena Ailesh sangat ahli berkuda dan juga kudanya ini adalah salah satu kuda tercepat dan terbaik dikerajaan.

Ailesh menghentikan kudanya dan menatap tajam kedua laki-laki dihadapannya yang tampak gemetaran dan langsung bersujud dihadapannya, lalu jenderal dibelakangnya langsung menghujamkan pedang ke arah mereka. Kedua laki-laki anggota pemberontakan itu sontak langsung terbelalak lebar melihat pedang tajam itu terhujam ke arah mereka tanpa diduga.

Namun ketegangan itu tergantikan dengan suara yang terdengar memekik kecil khas anak-anak, jelas-jelas itu bukan suara salah satu dari mereka dan rupanya langsung membuat pendengaran tajam Ailesh bereaksi, wajahnya semakin dingin dan menyiratkan ekspresi terganggu.

“Siapapun itu, bunuh dia sekarang.” Ucapnya dengan tenang namun dingin menusuk.

Keempat jenderal di belakangnya bersama kedua laki-laki bertudung itu langsung berpencar ke segala arah tanpa menunggu lagi, mencari sumber suara. Ailesh mengerutkan alis dan sedikit terkekeh dalam hati menyadari bahwa jenderal-jenderalnya beserta kedua laki-laki tadi terlihat bodoh dengan mengabaikan bahwa sumber suara itu jelas-jelas berada sangat dekat dengan mereka. Ailesh memilih diam, menunggu sang kelinci yang akan segera menjadi buruannya itu keluar dan berlari ketakutan, dan tidak menunggu lama, mata tajam Ailesh langsung menangkap gerakan lincah seorang anak kecil yang berlari dari rerimbunan semak-semak berduri yang ia tahu bahwa itu adalah tanaman penghasil buah inka.

Tanpa basa-basi Ailesh langsung mengejar anak kecil dihadapannya dengan kecepatan tinggi, mengejar sang buruan yang berlari dengan keranjang kecil dan kaki kecilnya yang begitu lincah. Ailesh tersenyum keji melihat buruannya itu tampak lincah dan lumayan gesit, mengartikannya sebagai tanda kalau buruannya itu ingin bermain-main dengannya.

“Berhenti kau bocah sialan!” Entah kenapa nada kasar itu keluar dari mulutnya tanpa kendali, senyum Ailesh berubah hancur ketika melihat buruannya itu berlari lebih cepat dari lari anak kecil biasa. Benar-benar buruan yang kuat.

Ia mengeluarkan anak panahnya dan langsung melesatkannya sesaat ketika anak kecil dihadapannya itu tiba-tiba memelankan langkah kakinya.

Beruntungnya anak panah itu dapat dihindari anak kecil tersebut dan malahan melesat menancap ke dalam batang pohon dihadapannya, Ailesh menggeram kesal mendapati bahwa untuk pertama kalinya ia tidak tepat sasaran, padahal jelas-jelas ia adalah anak-anak yang pastinya lebih lemah dari perempuan. Ailesh melihat tubuh kecil itu membeku ditempat, melihatnya yang kini berada begitu dekat dengannya.

Anak kecil itu langsung bersujud dan berkata dengan suara bergetar, “Aku mohon tuan, jangan bunuh hamba.” Ada nada suara yang membuat Ailesh membeku dalam sedetik, ketika ia mengerjap dan menyadari apa yang salah dalam dirinya hanya karna disebabkan suara anak tersebut.

Angin tertiup dengan halus, pohon-pohon seolah bergoyang menikmati tiap hembusan angin. Daun-daun berguguran menciptakan suasana berbeda di musim hujan kali ini. Dan Ailesh masih terdiam menatap kepala anak kecil tersebut yang masih bersujud dan menenggelamkan wajahnya sambil menahan isak tangis.

Ailesh mengernyitkan dahinya dalam, mengetahui perasaan asing yang membuatnya malah terpaku menatap anak perempuan itu. Lalu suaranya melunak dan tanpa diduga ia bertanya hal yang sama sekali tidak ada dalam pikirannya. “Siapa namamu?”

Ailesh dapat melihat gadis itu terperangah dibawahnya, namun dengan bibir bergetar ia memberanikan diri menjawab pertanyaan tak terduga itu, “Eila.” Suaranya nyaris berupa bisikan yang sarat akan makna namun begitu kebingungan dan polos.

Ailesh menajamkan matanya dan langsung tersadar dengan sesuatu yang berdenyut keras didalam kepalanya, ia kembali pada keadaan sadar dan berkata dengan nada yang sangat dingin.

“Maap Eila, tapi aku harus membunuhmu.” Anak perempuan itu menegang ditempat.

Ailesh menarik gagang pedangnya, sengaja membiarkan suara pedang yang bergesekan dengan tembaga itu terdengar ngilu dan mengerikan. Entah kenapa melihat anak kecil itu membuatnya kehilangan kendali, dengan perasaan yang lebih mengandalkan emosi yang tidak berguna dan melemahkan itu.

Lalu tanpa diduga gadis itu mendongakkan kepala dengan berani menatapnya dan berkata, “Apakah aku berbuat salah tuan?” Tanya gadis itu polos.

“Ibu berkata jika aku berbuat baik maka tidak akan ada orang yang berani menyakitiku, ” sambungnya dengan suara yang kini terdengar gemetar. Ailesh dapat melihat dengan jelas mata beriris merah kecoklatannya yang bulat dan basah karna air mata itu menatapnya dengan kebingungan, khas anak kecil.

Ailesh kembali terdiam, terperangah menatap kecantikan anak kecil itu meskipun tampak masih sangat anak-anak. Rambut coklatnya yang lurus dan lebat itu berkibar dengan bau yang entah kenapa tercium begitu wangi di inderanya. Garis wajahnya, oh begitu sangat menggemaskan sekaligus tenang, dan entah kenapa serasa tidak asing di matanya.

Entah berapa lama Ailesh hanya menatap anak kecil itu hingga ia menunduk kembali dan menangis terisak dalam diam. Ailesh menggeram dan tanpa membuang waktu, ia turun dari kudanya dan berjalan tenang ke arah gadis kecil itu yang kini kembali membeku menatap sepatunya dari balik bulu mata lentiknya itu.

Tanpa diduga tangan Ailesh menyentuh dagunya, membuat anak kecil itu tertegun sambil menatapnya.

Dari dekat Ailesh dapat melihat sepasang bola mata hazel milik Eila yang begitu jernih saat cahaya matahari memantul pada matanya. Gadis itu menatapnya dengan ketakutan, kepolosannya membuat Pria itu merasa gemas. “Ailesh, namaku Ailesh.” Gumamnya dengan nada yang tidak biasa, ia menatap sekali lagi Eila yang menatapnya dengan pandangan bertanya.

Ailesh langsung menaiki punggung kuda lalu meninggalkan Eila yang terdiam menatapnya dengan terkejut.

Eila

Siapa kau?

Dan rasa,

Apa yang telah kau perbuat?

*

Eila menyibakkan gaunnya dari debu, lalu meraih keranjangnya yang tergeletak dengan sebagian buah inka yang keluar. Gadis kecil itu shock, membuat kepala mungilnya itu dipenuhi dengan kebingungan dan ketakutan. Tentu saja ia tidak dapat bernafas lega, belum bisa selama ia belum berada di rumahnya.

Eila berjalan menyusuri jalanan aspal kecil, berjalan cepat dan berharap tidak ada lagi hal-hal yang dapat menakutinya. Ia ingin segera pergi, secepat mungkin menjauh dari hutan itu.

Ia menatap ke atas, menyadari bahwa gumpalan awan-awan hitam itu akan segera menurunkan hujan. Segera kaki kecilnya itu melangkah dengan lebar dan cepat, berharap secepat mungkin ia dapat sampai setidaknya sampai pemukiman warga.

“Eila!” Suara itu membuat pandangan Eila beralih ke depannya. Parvati berdiri tidak jauh darinya, menatapnya dengan kerutan di dahi yang menandakan bahwa ia begitu khawatir pada Eila.

“Kenapa kamu ke hutan sendirian? Dimana rubhya?” Eila menatap ibunya yang masih memakai sarung tangan kain yang terlihat lusuh. Parvati adalah petani serabutan, dan kebetulan hari ini ibunya sedang memanen.

“Rubhya sepertinya sakit bu, jadi dia menyuruhku untuk memetik buah inka di hutan.” Eila sengaja berbohong, tentu saja ia tidak ingin Rubhya dimarahi. Meskipun terselip perasaan dihatinya yang ingin mengatakan bahwa kakaknya itu menyuruhnya melakukan tugas-tugas yang harusnya dilakukan oleh Rubhya.

Parvati menyipitkan matanya, menatap lekat-lekat Eila yang terlihat sangat pucat dan terlihat muram, tidak ceria seperti biasanya. “Kau baik-baik saja, nak?” Eila gemetaran, antara takut dan perasaan ingin berlindung di dalam dekapan ibunya. Namun ia segera menyingkirkan perasaan takutnya itu dan tersenyum lebar menatap ibunya.

“Tentu saja bu, ayo kita pulang. Sepertinya langit akan segera hujan.”

*

Istana itu begitu sesak dengan suara musik yang mengalun keras memenuhi hampir ke seluruh penjuru istana. Suara tawa bahagia terdengar samar-samar tertutupi suara musik yang semakin liar dengan tempo cepat. Para penari meliuk-liukkan badannya dengan lincah sambil tersenyum genit, menikmati tiap alunan musik yang semakin menggairahkan.

Seorang pelayan menghampiri pria berpakaian paling megah dan berkuasa diantara yang lainnya, lalu pria itu mengisyaratkan tangannya dan pelayan itu hanya mengangguk dan segera pergi.

Ailesh berdiri diam menatap keramaian istana yang hampir selalu mengadakan pesta hura-hura untuk sang Raja yang haus akan kekuasaan dan kesombongan. Seorang wanita berpakaian menggoda menghampirinya dengan isyarat tubuh yang sudah terlihat begitu menginginkan Ailesh. Tanpa tahu malu wanita itu menyentuh Ailesh dan menempelkan dadanya pada lengan Ailesh, pria itu menggeram.

“Singkirkan tubuh menjijikanmu dariku.” Wanita itu tersentak kaget mendengar penolakan Ailesh yang secara gamblang menyatakannya. Bahkan tubuhnya itu langsung merespon penolakan dengan menyentak kasar sedetik setelah wanita itu menempelkan tubuhnya secara tidak tahu malu.

“Kau benar-benar kasar pada wanita, Ailesh.” Pria bertubuh besar dengan pakaian kemegahan dan kekuasaan itu tersenyum menatap Ailesh dan wanita itu.

“Sayang sekali kau harus ditolak oleh pria ini Santosi. Kau boleh pergi.” Wanita itu menunduk lalu meninggalkan kedua laki-laki itu dengan gurat wajah kesal dan kecewa karena pertama kalinya ditolak oleh seorang laki-laki apalagi laki-laki ini adalah laki-laki paling tampan dibanding laki-laki lain.

“Apa mau mu Bhoopat.”

Laki-laki itu langsung tertawa keras mendengar sebutan Ailesh padanya. Wajahnya menyiratkan kegelian dengan pembawaan yang terlihat menyebalkan.

“Kau harus hormat padaku Ailesh, karena aku sekarang adalah rajamu.” Raja Bhoopat menekan bagian terakhir dengan menyeringai. Ailesh menatapnya datar dan sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapan Raja Bhoopat yang begitu pongah menunjukkan kekuasaan padanya.

“Kaki tangan pemberontak sudah ku habisi, jenderalmu akan memberitahu dimana letak para pemberontak itu.” Ailesh membalikkan badannya dan melengos begitu saja tanpa penghormatan pada Raja Bhoopat. Dan bukannya tersinggung dengan sikap Ailesh, pria itu malah kembali tertawa lebih keras dari tawanya yang pertama.

“Lupakan saja Prameswa-mu itu Ailesh, dan tunjukkan sikap hormatmu padaku.” Suara Bhoopat berubah tajam dan tegas, ia menatap punggung Ailesh yang membeku setelah beberapa langkah berbalik darinya. Raja Bhoopat menyeringai puas melihat reaksi laki-laki itu.

Ailesh sama sekali tidak mau repot-repot berbalik menatap Raja Bhoopat dan menanggapi perkataan yang sengaja memancing kesabarannya. Dan laki-laki itu membalas perkataan Raja Bhoopat dengan lebih dingin. “Aku sudah melupakan wanita sialanmu itu dan jangan berharap terlalu banyak padaku, kau tahu itu Bhoopat.”

Ailesh meninggalkan tempat itu dengan langkah lebar, merasakan tusukan tajam mata Bhoopat yang malah memakan senjata pancingannya sendiri.

*

Baru dua part nih tapi kelabakan nyari idenya nyampe setahun wkwk. Btw ini adalah cerita fantasi pertama saya, sebelumnya menyeritakan sepasang manusia yang diturunkan dari surga, terinspirasi dari kisah nabi Adam as dan istrinya, saya bahkan buat ceritanya diawal mula sebelum saya membentuk dunia yang saya gambarkan ini. Selamat menikmati semuanya, terima kasih banyak atas apresiasi dan semangatnya. Karena sejujurnya saya mungkin tidak akan melanjutkan cerita ini kalau tidak ada sama sekali orang yang sekedar membaca dan memberi semangat. Terima Kasih banyak juga buat tim psa yang kreatif dan baik sekali memberi kesempatan kepada kami para penulis amatari dan pemula untuk diperbolehkan membagi karyanya, kalian luar biasa!

syniaraikai

Dunia kedua yang menjadi pelipur lara adalah ketika pikiran melayang meninggal raga sekejap rasa.

17 Komentar

  1. Ailesh sepertinya jatuh cinta pd pandangan pertama ya sama si Eila :NGEBETT
    Menarik dan bikin penasaran.. masih belum terpikir si Ailesh itu posisinya apa hehe

  2. Baguuss ,, kereeenn ceritanya
    Semedi giih biar dpt ilham alur cerita wkwkwk
    Lanjut ya ceritanya,,

    1. Semedinya setahun lagi ya? Wkwk

  3. cerita nya bagus kok….
    aku suka.
    tetep di lanjut ya sampe ending. ??????

  4. Akhirnya abang ailesh dilanjut
    Nahh loh apa yg dimaksud prameswa itu adalah kekasih abang ailesh yg dijadiin salah satu istri si raja ‘edisi sok tau haha’
    Eyyyyy ada yg dah tumbuh benih2 suatu rasa tak kasat mata nih di hati ny hihi
    Ayoo dongs semangat yak, ketika memulai sesuatu pasti ada setitik rasa akan mengakhirinya kan, nahh sambil menanti si titik itu jdi sebuah pintu untuk dikau mengakhiri cerita ini, yuks bikin dlu proses titik2 itu menjadi pintu
    ‘aihhh aq ngomong apa sih’
    Asal dikau tau, salah satu cerita yg aq tunggu ya cerita ini, sejak baca cerita dikau pertma kli di lomba psa, aq dah suka sma karya dikau, so jdiin adany komen2 kita disini penyemangat dikau bikin cerita ini ya
    Ditunggu kelanjutanny
    Semangat trs ka

  5. wow,,,setaun tp hasilnya keren loh. nama tokohnya unik2 semua… emang sih nulis itu klo awal2 berasa sulit ngerangkai kata2nyaa yaaa…….semangaaat deh

  6. Aku pkir ceritanya udh cukup panjang tapi bagi aku kayaknya belum cukup karna cerita terlalu enak buat dihayati sama aku? Serius, baru 2 part aja udh segini sukanya. Ga sabat buat part ke 3 jadinya hahahaa

  7. Ceritanya keren, bikin penasaran ama lanjutan ceritanya dan semangat teruss :tebarbunga

  8. DinarTiffaniErdi menulis:

    Akuh nyari nyari kemarin , oh ini toh lanjutannya ..
    Makasih ya , ceritanya lumayan lah , fantasi tpi gak bikin sakit kepala buat berimajinasinya ..

  9. Ceritanya keren

  10. KhairaAlfia menulis:

    Prameswa?? Siapanya Ailesh??

  11. Penasaran sama lanjutan nya

  12. Suka ceritanya, ditunggu ya lanjutannya

  13. fitriartemisia menulis:

    wah, kayaknya love at first sight ya? eh hehhe

  14. Menarik ceritanyaaa??

  15. Ceritanya bagus. Masih dilanjut nggak?

  16. Ditunggu kelanjutannyaa

Tinggalkan Balasan