Dear Future Husband – Love Letters #1

18 Januari 2017 in Vitamins Blog

312 votes, average: 1.00 out of 1 (312 votes, average: 1.00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

Untuk suami masa depanku,

 

Sebelum memulai, aku memberi tahu kalau surat ini berisi sangat panjang. Jadi, kalau kamu membaca ketika istirahat kerja, lebih baik kamu makan dulu. Nanti waktu istirahatnya keburu habis. Atau, kalau kamu membacanya sebelum tidur, kamu boleh pipis dulu. Daripada kebelet waktu membaca? Karena, ketika kamu membaca isi suratnya nanti, aku gak mau kamu berhenti di tengah-tengah.

 

Jika surat ini sudah berada di tanganmu, berarti kamulah lelaki terpilih yang akan menemaniku hidup hingga mati. Kamu hebat! Karena berhasil mengambil hati ibu untuk merelakan anak bungsunya menikah denganmu. Yeah, seperti yang kamu tahu, sejak ayah meninggal dan kakakku memiliki kehidupan sendiri, cuma akulah yang menemani ibu. Selama bertahun-tahun sejak kakak menikah dan tinggal bersama suaminya, kami hanya tinggal berdua. Eh, bertiga Miki. Kucing liar yang selalu masuk lewat atap dapur kami. Dia jantan, tapi aku hampir gak pernah lihat dia ngejar-ngejar kucing betina. Jangan-jangan dia homo, ya? Kadang, Miki nyuri makanan di tudung saji. Tapi kehadirannya bikin tikus-tikus kabur ke atap tetangga sebelah. Jadi, entah sejak kapan, secara tidak langsung, kami mengaggap Miki bagian keluarga.

 

Selama ini, ibuku selalu bersikap skeptis kepada lelaki yang datang. Ibu memang tidak pernah mengatakan bahwa calon suamiku  harus begini-begitu, tapi sikapnya yang seolah tidak rela  aku dibawa oleh lelaki yang akan menjadi suamiku, membuat kebanyakan dari mereka mundur. Kemarin, ibu pasti bilang, beliau mau ikut ke manapun kamu membawaku pergi, ya? Kebanyakan dari mereka, keberatan dengan permintaan ibu―meski tidak mengatakannya terang-terangan.

 

Yeah, aku tahu. Ketika menikah dan membangun rumah tangga, pasti berat menerima orangtua yang ingin tinggal bersama. Kesempatan hidup mandiri justru terganggu dengan bayangan kehidupan rumah tangga direcoki ibu mertua seperti di film-film. Apalagi ibuku rewel. Setiap pagi, harus dibuatkan susu cokelat panas. Harus susu cokelat, lho, ibu gak suka rasa vanila. Dan, harus low fat. Setiap malam, punggung dan kakinya harus digosok krim urut. Ibu harus selalu aku selimuti setiap mau tidur. Gak peduli aku udah tidur atau belum, ibu akan manggil aku ke kamarnya, untuk menyelimuti beliau.

 

Iya, ibuku sudah sepuh dan kenyataannya beliau memang serewel itu.

 

Jadi, tidak berlebihan kalau kubilang kamu hebat; bisa menerima ibuku dan menyanggupi keinginannya. Kamu hebat karena berhati besar, bersedia memilihku yang penuh kekurangan sebagai pendamping hidup.

 

Suami masa depanku, sejak remaja, ketika aku mulai kecanduan novel-novel romantis dan drama Korea, aku suka membayangkan seperti apa hidupku nanti setelah berumah tangga. Aku ingin memiliki dua orang anak. Yang pertama laki-laki, akan kuberi nama Ismail. Sebab Ismail adalah putra yang saleh. Sangat mencintai orangtuanya, dan begitu taat kepada Allah.

 

Kalau anak kedua … aku maunya sih, laki-laki juga. Namanya siapa belum ada rencana. Jadi, untuk anak kedua nanti kamu saja yang memberi nama. Siapa pun namanya, aku pasti suka. Asalkan yang islami, ya? Pasti begitu, karena aku yakin kamu juga mau.

 

Impianku di rumah kita nanti, aku ingin memiliki sebuah ruangan khusus untuk menyimpan buku-bukuku. Semacam perpustakaan. Tapi juga bisa digunakan tempat beristirahat; melepas lelah setelah beraktivitas seharian. Tempat bersenda gurau sambil memadu kasih. Atau tempat kita membicarakan banyak hal.

 

Tidak masalah lantainya terbuat dari kayu. Yang penting harus ada jendela kaca besar supaya matahari bisa masuk tanpa ragu-ragu. Aku akan mengajari anak kita membaca dan mengaji di sana. Aku mau anak kita akrab dengan buku. Bukankah Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, bahkan Mahatma Gandhi menjadi orang besar karena banyak membaca?

 

Suami masa depanku, surat ini kutulis sehari setelah aku berulang tahun ke-20. Tiga hari setelah aku menjalani operasi pengangkatan kista ovarium. Aku akan sulit hamil. Bahkan mungkin tidak bisa sama sekali. Ibu pasti sudah bilang, kan?

 

Dari sekian banyak wanita, kamu justru melangkah mendekatiku. Si Wanita yang (mungkin) Tidak Bisa Memiliki Anak. Mantan pacarmu, juga wanita-wanita yang menginginkanmu, mungkin menertawai. Mengapa kamu tetap ingin aku?

 

Suami masa depanku, operasi pengangkatan  ovarium itu adalah kenyataan paling pahit yang kurasakan. Aku tahu harus ikhlas, tapi sulit. Rasanya sakit sekali. Lebih sakit dibandingkan ketika aku jatuh dari sepatu roda ketika berumur lima tahun, dan lututku tidak bisa ditekuk selama seminggu.

 

Operasi ini menjauhkan mimpi-mimpiku dari memiliki dua orang anak. Bagaimana aku mengajari mereka membaca dan mengaji jika hamil saja aku belum tentu bisa?

 

Aku tak akan pernah tahu bagaimana rasanya mengandung. Merasakan titipan Allah itu bergerak dan bersemayam di dalam rahim. Aku  tak akan pernah tahu bagaimana rasanya menyusui. Merasakan ada manusia kecil yang menggantungkan hidup kepadaku. Kamu tidak akan bisa mengajari anak kita naik sepeda, bela diri, main layang-layang, atau berenang. Tidak akan ada langkah-langkah kecil yang menyambutmu setiap pulang kerja. Karena, anak-anak dalam impianku itu mungkin tidak akan pernah ada.

 

Suami masa depanku, aku bukan wanita sempurna. Mendekati saja tidak. Bukan hanya karena aku mungkin tidak akan pernah bisa mengandung, tapi lebih dari itu. Aku disahkan menjadi orang gila ketika PMS. Menghabiskan selimut saat tidur. Tulisan tanganku seperti jejak cakar ayam. Aku anti sosial dan irit bicara. Karena itulah aku lebih memilih menulis ini untukmu daripada langsung mengatakannya.

 

Selain ibu, sekarang kamulah yang jadi sumber bahagiaku. Sekaligus muara pelepas semua resah dan masalah. Kamu akan jadi orang pertama yang akan kubagi suka dan duka. Namamu akan terucap dalam barisan doa-doaku. Hadirmu akan jadi yang paling kunantikan. Bersamamu akan menjadi yang paling kuinginkan. Mulai hari ini sampai selamanya.

 

Terima kasih sudah memilihku.

 

 

dari wanita

yang kau pilih.

 

 

Author’s note:

Hai, terima kasih sudah baca tulisanku, ya. Jadi, ini adalah epistolari, cerita yang tiap babnya berisi kumpulan surat, atau surel. Setelah ini akan ada Love Letters #2, dan #3. Pastikan kamu baca semua suratnya, ya!

 

DayNight
DayNight