Love In The Boardroom : Pernikahan part 2 ~END~
24 Maret 2025 in Vitamins Blog
“Hei Bos apa kau akan selalu berpelukan seperti itu, teganya kalian. Cepat lempar bunga itu, apa kau tidak lihat, Maya sudah menunggu momen ini?” Adelle berseru yang langsung direspon kekehan semua tamu undangan yang hadir.
“Hei kau ini. Sepertinya kalimat itu cocok untukmu yang sepertinya sudah tidak sabar ingin menyusul Renata.” Maya menyangga tuduhan Adelle bersungut-sungut. “Ah kau ini terlalu serius Maya. Ah lupakan itu.” Adelle kemudian menatap Alex dan Renata dengan tak sabar. “Ayo Renata, kau cepat lempar bunga itu.”
“Huhhh” suara sorakan dari teman-temanya langsung bergemuruh, membuat Alex dan Renata langsung tertawa.
“Oke, kalian kaum lajang yang belum mempunyai pasangan semuanya maju kedepan.” Bos besar Adam kali ini mengambil alih situasi, yang langsung di turuti anak buahnya yang berbondong-bondong berdiri di depan altar.
“Kalian siap?” Renata berucap memastikan dengan posisi sudah membelakangi mereka semuanya. “Siapp!” semuanya menjawab bersamaan dengan kompak riuh rendah.
Para undangan yang sudah mempunyai keluarga masing-masing hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan terkekeh melihat kelakuan para lajang yang terlihat menggelikan itu.
Saat bunga sudah terlempar, sang bunga ternyata jatuh ditangan Adelle! Dan kesempatan itu pun gunakan oleh teman-temanya untuk menyeret tubuh Adelle mendekat di bibir pantai.
“Adelle kau harus berenang! Sebagai simbol ucapan selamat dari kami.”
“Hei apa yang kalian lakukan! Aku tidak mau! Hei lepaskan aku! Bos Alex, Renata tolong aku!” semua orang yang ada di acara itu semuanya tertawa melihat saat Adelle diseret paksa oleh teman-temanya itu.
Alex menarik wajah Renata, bertujuan fokus untuk menatap dirinya. “Istriku, sampai kapan kau akan terus melihat sahabatmu itu yang basah kuyup, hingga kau mengabaikan pangeran tampanmu ini?” Renata tersenyum dan mengangkat pandangan matanya, tangannya yang lentik dengan kuku bercat warna nude tampak bermain- main dikancing jas yang dikenakan Alex. “Aku melihat mereka untuk yang terakhir, karena setelah ini aku menduga kau akan mengurungku di dalam kamar dan tak boleh melihat dunia luar.”
“Kau benar.” suara pekikan terlontar dari bibir Renata saat Alex tiba-tiba meraup tubuhnya dan membawanya ke dalam gendongan dan berjalan cepat menuju kamar pengantinnya. “Kau benar Renata, kita akan melakukan hal-hal yang menyenangkan yang sudah kita tunggu-tunggu sepanjang acara pernikahannya ini, kau pun sama bukan? Hmm.” sebagai jawabannya Renata hanya terkikik geli dan menutup wajahnya di dada Alex.
Love In The Boardroom Bab: 15 Pernikahan Bahagia part 1
24 Maret 2025 in Vitamins Blog
“Jika malam ini kau menerima tawaran pernikahanku, secepatnya aku akan mengumumkan pada semua orang kalau aku akan menikahimu.” Alex masih berjongkok, dengan tangan masih menunjukan sepasang cicin indah berkilauan dihadapan Renata.
“Aku bahkan sudah memberitahu semua orang rumah, bahwa aku akan segera menikah dan membawa calon nyonya di sana dan respon mereka…” melihat Alex menghentikan ucapannya, Renata langsung memandangnya dengan harap-harap cemas. “Kenapa kau berhenti, bagaimana respon mereka?” melihat tatapan cemas dari mata Renata, Alex tersenyum dan meremas tangannya lembut. “Mereka senang mendengarnya, bahkan sudah antusias sekali menunggu nyonya mereka segera tiba di rumah.”
“Alex, sungguh?” mata Renata berkaca-kaca mendengarnya karna merasa emosinya meledak, Renata langsung memeluk Alex yang masih berjongkok di depannya. Aksi Renata yang mendadak itu, sedikit membuat tubuh Alex yang masih berjongkok dengan menunjukkan cincinnya itu hampir terjengkang kebelakang. Beruntung dengan sigap Alex mempertahankan keseimbangan tubuhnya hingga tidak membuatnya jatuh.
Mereka berdua saling berpelukan, yang satu menangis terharu dan yang satu berusaha menenangkannya. “Sudah, jangan menangis semua akan baik baik saja.”
Di tengah isakannya, Renata berusaha berbicara dengan sesenggukan. “Aku menangis karna aku.. aku.” Renata tak sanggup melanjutkan ucapannya karna emosi yang masih menguasai hatinya. Dan dengan bijaksana Alex tidak mengatakan apa- apa, terus memeluknya memberikan waktu bagi Renata untuk meluapkan segala emosi di hatinya.
“Dulu aku sangat tidak menyukaimu, jangankan memikirkan untuk menikah denganmu melihatmu saja pada saat itu aku sangat membencimu. Tapi setelah aku berusaha membuka hatiku, kau tidak seburuk itu, dulu aku berasumsi kau bukan dari kalangan keluarga yang baik. Aku selalu berpikir seperti itu, tapi setelah mendengar kau mengatakan pada orang di rumahmu bahwa kau akan menikahiku, teryata respon mereka sebaik itu, Itu yang membuat aku terharu Alex, maafkan aku karna di saat aku masih membencimu aku sudah berpikir yang tidak-tidak.”
Di tengah perkataannya yang panjang lebar dan penuh air mata, Alex kemudian mendorong sedikit pelukannya dan menatap wajah Renata yang merah dan basah. “Sudah jangan menangis lagi, itu hanya masa lalu, kau tidak perlu minta maaf padaku, aku yang salah.” ucapnya menenangkan.
Saat di lihatnya Renata masih sesenggukan, Alex kemudian berdiri dan membatu Renata untuk duduk kembali di kursinya, setelahnya Alex menatap kembali ke arah Renata yang masih menunduk. “Lihat, kau menangis seperti itu, wajahmu terlihat kacau, rambutmu berangkatkan bahkan bando yang kau kenakan hampir terlepas seperti itu.” mendengar ucapan Alex yang perhatian itu seketika tangan Renata terangkat dan menyentuh bando yang dia kenakan sebagai aksesoris di rambutnya.
“Renata” Alex memanggilnya pelan, karna dilihatnya sosok yang didepannya masih menundukkan kepalanya, Renata pun akhirnya mengangkat pandanganya. “Ya?” melihat wajah yang berantakan, Alex menghembuskan nafasnya kasar kemudian dia berdiri dan menyeret kursinya agar mendekat di samping Renata.
Setelahnya dia mengambil beberapa lembar tisu yang ada di atas meja makan dan mulai mengelap di wajah Renata dengan lembut. “Kau ini teryata mudah menangis, jika kau keluar dalam keadaan berantakan seperti ini, orang-orang akan mengira bahwa aku sudah melakukan kekerasan padamu.” ucapnya dengan kekehan geli, sengaja untuk menghibur Renata dan aksinya itu berhasil membuat Renata kembali tersenyum.
“Renata, semua orang yang ada di rumahku adalah pelayanku, aku hanya tinggal bersama meraka dan saat aku memberi kabar aku akan menikah, mereka sangat bahagia, karna pada akhirnya majikannya tidak melajang seumur hidupnya.” diakhir setelah mengucapkan perkataannya, Alex tak tahan untuk tak terkekeh kembali.
Di sisi lain Renata yang sudah tidak menangis lagi dan setelah mengetahui informasi itu, dia langsung mengajukan pertanyaannya dengan penasaran. “Orang tuamu tidak…tidak tinggal bersamamu?”
“Ibuku sudah meninggal saat aku masih kuliah dan ayahku…. ” Alex sengaja tidak melanjutkan perkataannya, karna baginya menceritakan sosok ayahnya itu hal yang sangat menjengkelkan, tapi karna ini Renata yang bertanya, dengan baik hati Alex pun tak keberatan menceritakan kebobrokan ayahnya itu. “Ayahku setelah kepergian Ibuku, tak lama kemudian dia menikah lagi dan menetap di luar negeri bersama istri barunya, setelah menikah dia seperti melupakanku tidak pernah pulang ke rumah atau sekedar berbasa basi untuk menanyakan kabarku.”
Menceritakan kisah ayahnya, tiba-tiba ekspresi Alex berubah keras. “Tapi aku tidak ada waktu bersedih hanya untuk memikirkan dia, karna bagiku dia sudah tiada.”
“Aku mengerti Alex.” Renata berucap menenangkan, untuk meredam emosi Alex yang keluar saat membahas tentang ayahnya itu. Renata kemudian tersenyum kearahnya dan berucap riang bertujuan untuk mengalihkan kemarahan Alex. “Hmm kalau dipikir-pikir jika aku menikah denganmu aku akan menjadi nyonya besar tunggal di rumahmu? Ah rasanya pasti sangat menyenangkan, aku bisa membuat kue sesukaku dan berbagi resep makanan dengan pelayananmu di sana.”
Dan benar saja, begitu mendengar perkataan Renata, Alex yang sebelumnya berekpresi keras kini berubah cerah dan meresponnya dengan sensual. “Kata siapa kau kan melakukan itu semua, jika kau sudah menjadi istriku nanti, aku akan membuatmu selalu ada di tempat tidur. Itu tugas utamamu, makan, tidur, menyambut suami pulang kerja dan melakukan hal-hal yang menyenangkan hingga tercipta duplikat kita berdua.”
Wajah Renata memerah mendengar arti kalimat Alex yang penuh makna itu. “Ah lupakan membuat kue, sepertinya aku salah bicara.” Alex terbahak mendengarnya, kemudian secara mengejutkan dia bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya kearah Renata.
“Ayo kita pulang, membicarakan hal-hal yang menyenangkan aku sudah tidak sabar melakukannya.”
“Alex, kau!” Renata memelototinya.
“Tidak melawati batas hanya sekedar berpelukan, anggap saja ini perayaan karna kau sudah menerima tawaran pernikahan ini sayang.”
“Kau, aku tidak mau!” Alex hanya tersenyum manis melihat ekspresi Renata yang galak itu dan tetap menggandeng tangannya mengajaknya keluar dari restoran itu dan menuju hotel terdekat.
Sepanjang Alex menarik tangan Renata berjalan meninggalkan restoran itu, Renata terus menolak, tidak setuju dengan usul Alex yang penuh rencana mesumnya itu, tapi sosok yang sedang menarik tangannya hanya tersenyum sambil lalu, membuat Renata semakin kesal.
****
Dua hari berlalu setelah Renata menerima lamaran pernikahan Alex. Semua rekan yang ada di tempat kerjanya mengucapkan selamat pada Renata, merasa bangga karna pada akhirnya Renata mampu menaklukan Alex.
Alex yang dulu terkenal Playboy, suka membuat anak buahnya menangis karna patah hati. Julukan-julukan aneh pernah disematkan pada Alex, saat mereka marah dan sakit hati karna perbuatannya.
Alex yang awalnya mengejar Renata karena iseng, tanpa diduga Alex malah jatuh terperosok ke dalam pesona Renata dan tak mampu berpaling darinya.
karna hal itu image playboy yang dulu melekat erat, kini memudar musnah berganti menjadi sosok lelaki yang setia hanya mencintai satu wanita.
“Kau hebat Renata, kau mampu menaklukkan Bos Alex sang buaya kantor itu, semoga pernikahanmu selalu bahagia.” ucap salah satu teman kantornya saat Renata baru saja memasuki ruang kerjanya.
Mendapatkan ucapan selamat, Renata membalasnya dengan senyuman ramah.
*****
Jam makan siang sudah tiba, saat ini Renata, Adelle , Maya Anna dan juga Zarah tengah menikmati makan siangnya. Sepanjang mereka melakukan sesi makanya semua tak ada yang berbicara, fokus dengan makanan yang sedang disantapnya.
Sampai di mana, saat mereka semua menyelesaikan makannya, barulah mereka berempat mulai mengobrol satu sama lain. Mereka mengobrol kesana kesana, hingga tanpa sengaja mereka mengobrol tentang anak. Membicarakan tentang anak, Adelle menatap sekilas ke arah Renata yang masih makan, dan muncul ide iseng untuk mengganggunya.
“Hmm membicarakan tentang anak sepertinya sangat menyenangkan, betul tidak Maya, Anna, Zarah?” ucapnya dengan semangat. “Pastinya. Kita tahu sendiri bukan kalau sahabat kita ini akan segera menikah dalam waktu dekat.” Maya berucap memprovokasi.
Adelle tertawa. “Ahahaha…Kau benar maya. Kau bisa tebak, Renata akan punya anak berapa?”
“Satu? ” Anna memberikan Jawaban tak yakin.
“Dua atau kembar tiga? Ah tidak- tidak, tiga terlalu banyak. Dua cukup.” Kali ini gantian Zarah yang berpikir keras.
“Hmm jika dari keluarga Bos Alex ada keturunan kembar dan gen Renata juga ada yang kembar, kemungkinan saat mereka menikah nanti akan mempunyai bayi kembar empat!” Maya berucap berapi-api hingga Adelle tertawa terbahak-bahak.
“Ahaha, Astaga kembar empat. Kau gila maya.”
“Kalian bisa diam tidak.” Renata menegur teman-temanya yang berbicara tanpa henti. “Ah… baiklah Nyonya swan aku berhenti.” Adelle menjawab sambil cekikikan dan Menyenggol sikutnya ke arah Maya.
“Kalian dari tadi selalu bicara anak dan anak. Memangnya kalian pikir mengurus anak hal yang mudah?”
“Memang mudah bukan, kau hanya mengurusnya, jika nanti kau punya anak dan anakmu menangis kau tinggal memberinya susu dan anak itu pada akhirnya diam, beres bukan?
Mendengar jawaban Adelle yang polos dan terkesan menyepelekan itu, Renata menjadi kesal. “Jawabanmu sungguh bodoh Adelle.”
“Hei Renata kenapa kau marah, apa kau sedang menstruasi makanya marah marah seperti ini?”
Mendengar Pertanyaannya, Renata memutar bola matanya, tak habis pikir dengan sahabatnya ini yang jika berbicara suka seenak jidat dan serampangan. “Aku tidak sedang PMS jadi jangan sok tahu.”
Adelle hanya terkekeh mendengarnya, melihat Renata marah-marah seperti ini sudah hal yang bisanya baginya.
“Aku marah padamu, karna jika kau mengatakan hal yang kau ucapkan tadi pada seorang ibu yang punya banyak anak, aku jamin kau akan didorong sangat keras atau bahkan ditampar.” ucapnya berlebihan dengan sengaja, bahkan di saat Renata menyelesaikan kalimatnya itu, dari sudut bibirnya tak tahan untuk tertawa.
Kemudian Renata melanjutkan kembali ucapannya. “Asal kau tahu Adelle. Mengurus anak itu hal yang sangat melelahkan untuk seorang ibu, mereka harus rela mengasuh anak seharian dari pagi hingga malam, bahkan jika anak sakit, si ibu pasti akan merasa panik luar biasa bahkan jika anak sedang demam karna tumbuh gigi, susu yang ada di dalam dot pun tidak akan mau diminumnya, anak akan terus menangis dan menangis. Belum lagi gejala baby blues di mana saat ibu baru melahirkan akan merasa cemas luar biasa hingga untuk melihat anaknya sendiri pun tidak berani dan selalu ketakutan, sedih dan marah bahkan jika si ibu sudah depresi berat, dia akan nekat untuk melakukan bunuh diri. Dan mendengar ucapanmu yang seenak jidat tadi, yang mengatakan mengurus anak adalah hal yang mudah pasti akan membuat ibu di luaran sana ingin sekali membungkam mulutmu itu.”
“Baik-baiklah aku mengerti penjelasanmu Renata dan hentikan itu, itu terlihat mengerikan.” Adelle menimpali perkataannya dengan putus asa.
Hening
“Lantas, jika mempunyai anak semengerikan itu, apa kau tidak mau mempunyai anak setelah menikah?” Maya yang dari tadi diam, kali ini berucap sambil menatap Renata dengan penasaran.
“Aku tetap ingin mempunyai anak, dan aku berencana mengikuti program perintah. Dua anak cukup, laki- laki dan perempuan.” ucapnya sambil tersenyum dan menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya berbentuk V.
“Itu bagus. Saat dirimu sudah menjadi istri Bos Alex, sepertinya kau tidak akan mengalami kesulitan dalam mengurus anak. Karna aku mendengar Bos Alex tinggal di rumah yang besar dan punya banyak pelayanan, sepertinya kau akan menjadi ratu tunggal di rumah itu.” Renata yang mendengar perkataan Maya hanya tersenyum. “Entahlah, aku tidak memikirkan hal itu. Aku hanya ingin hidup bahagia dengan Alex.”
Anna yang sejak tadi menyimak dan jadi pendengar diantara mereka semuanya tampak mengerutkan kening, berusaha mencerna perkataan Renata yang sebelumnya saat menjelaskan mengasuh anak pada Adelle.
Aksi Anna yang aneh itu membuat Adelle mengangkat alisnya. “Kau kenapa? Apa yang kau pikirkan, kau terlihat sedang berpikir keras?” ucapnya dengan nada penuh curiga. Mendengar Adelle berbicara, Anna pun menatapnya kemudian pandangannya beralih ke arah Renata. “Aku hanya berpikir,saat kau menjelaskan soal anak pada Adelle terlihat fasih sekali, padahal kita semua tahu kalau kau masih lajang bukan? Belum punya pengalaman mengasuh anak?”
Renata kembali memutar bola matanya dengan konyol. Sungguh mempunyai sahabat yang kadang pintar kadang bodoh memang sangat menjengkelkan.
Memangnya memahami hal itu harus punya anak terlebih dulu? Di era sekarang, di mana informasi pengetahuan bisa didapatkan dengan mudah untuk bisa diakses dimanapun kapanpun bukan?
Renata menipiskan bibirnya, berusaha menjelaskan dengan cara yang lebih realistis. Renata tidak mungkin menjawab pertanyaan Anna dengan mengatakan jika dia mendapatkan pengetahuannya itu dari Internet bukan?
“Aku tahu hal itu, karna dari lingkungan tempat tinggalku. Asal kalian tahu, aku tinggal di komplek perumahan yang sebagian besar tetangganya adalah seorang Ibu rumah tangga yang kesehariannya mengasuh anak. Dan setiap aku melihatnya dengan segala kompleksitasnya itu, aku sadar bahwa mengurus anak itu tidaklah mudah.”
Semua terdiam saat Renata menyelesaikan penjelasannya. Saat semua masih dalam keheningan tiba-tiba ponselnya berbunyi. Renata menatap ponselnya dan membaca pesan masuk, pesan itu dari Alex. ‘Cepat keruanganku, ada yang ingin aku bicarakan padamu’
Setelah membaca pesan dari Alex, Renata akhirnya memandang keempat sahabatnya itu dengan tatapan meminta maaf.
“Aku harus pergi, Alex memanggilku ada hal penting yang musti dibicarakan.”
“Ah baiklah-baiklah cepat kau pergi dari sini dan datangi kekasih hatimu itu, sepertinya dia sudah rindu sekali ingin bertemu denganmu.” Adella berucap bersungut-sungut hingga membuat semua teman-temanya tertawa.
“Oke, aku pergi dulu.”
“Bye Renata semoga sukses!” Maya, Anna dan Zara berucap bersamaan yang terdengar konyol.
****
“Kau sudah makan siang?” saat Renata baru memasuki ruang kerjanya, Alex langsung bertanya penuh perhatian. “Sudah, aku makan di kantin bersama Adelle dan yang lainnya.” ucapnya sambil mendudukkan diri di sofa. Saat Renata sudah duduk di sana, Alex langsung berdiri dari kursi kerjanya dan bergegas menghampiri Renata. Saat sudah duduk di sebelahnya tangannya langsung merangkul tubuh Renata erat.
“Aku sudah menemukan hari dan tanggal yang cocok untuk pernikahan kita Renata.” Alex berucap memberitahu dengan tatapan penuh cinta. “Sungguh? Secepat itu?”
“Hmm sungguh, aku bahkan sudah menyewa satu resort untuk acara pernikahan kita. Besok lusa kita akan menikah, menikah dengan pemandangan pantai yang indah. Pantai yang akan menjadi saksi untuk cinta kita berdua.”
Alex dengan semangat memberitahu rencananya indahnya itu, hingga membuat Renata akhirnya melepaskan rangkulannya dan mengubah posisi duduknya menghadap ke arah Alex. Matanya berbinar cerah saat berucap. “Pantai? Kita akan menikah di pantai?”
“Iya, apa kau suka?” Alex bertanya, dan tersenyum manis saat melihat Renata menganggukkan kepalanya. Karna gemas Alex tak tahan untuk mencubit pipi Renata sedikit kencang hingga membuat Renata mengaduh. Mereka akhirnya saling berpelukan, Renata terkekeh-kekeh geli karna pelukan Alex yang nakal, melihat Renata tertawa seperti itu, dirinya kembali memeluk erat tubuh Renata gemas.
“Jadilah istri yang baik saat kau sudah menjadi milikku, kurangi marahmu itu, karna jika kau sering marah-marah tak jelas saat kita sudah jadi suami istri, aku akan memberikan hukuman yang berat untukmu.”
“Hukuman? Hukuman apa?” Renata berucap polos.
“Nanti, kau akan tahu sendiri.” Jawabnya penuh makna.
*****
Pagi ini resorts yang sudah disewa Alex untuk acara pernikahannya sudah siap.
Semua kursi cantik, berpita putih sudah dijejerkan dengan rapi, dan lampion lampion indah sudah digantung dengan sempurna. Semua dekorasi warna putih dan pink muda mendominasi tempat ini.
Di depannya terdapat altar yang berlatar belakang pantai yang luar biasa indah. Dengan deburan ombak di bawah langit biru cerah yang memperlihatkan burung camar terbang kesana kemari di tengah lautan.
Altar untuk sang pengantin, saat kedua mempelai mengucapkan janji sucinya. Altar itu terlihat cantik, beralaskan karpet beludru berwarna putih dan di tengahnya terdapat tiang kokoh yang diselubungi bunga-bunga cantik di kanan dan kirinya. Dan di belakangnya terdapat tanaman rambat warna hijau cerah yang melengkung mengikuti pola tiang yang membentuk simbol ‘hati’. Semua pemandangan itu begitu indah, hingga siapapun yang melihat tempat ini, secara spontan ingin berfoto selfie dan membagikannya disosial medianya.
****
“Aku sangat gugup.” Renata menatap cemas kearah depan meja riasnya yang memantulkan bayangan Adelle yang berdiri di belakangnya. Melihat sahabatnya gugup, Adelle kemudian meremas pundak Renata lembut bertujuan untuk menenangkan.
“Semua akan baik-baik saja, jangan pikirkan sesuatu yang membuatmu gugup Renata, semuanya pasti berjalan lancar.” Adelle tersenyum, menatap Renata dari cermin. “Lihat, kau sangat cantik, dengan gaun putih yang kau kenakan ini sangat indah, kau seperti putri dari negeri dongeng dengan rambut hitam panjang berbando bunga dan matamu yang berwarna biru cerah, benar-benar seperti imajinasiku setiap aku membaca buku fantasi favoritku.”
Mendengar pujian dari Adelle yang terdengar berlebihan itu, Renata ingin sekali menyanggahnya, tapi dia sadar di saat sekarang bukan waktunya untuk bercanda, dia terlalu gugup hingga saat mendengar pujian dari sahabatnya itu, Renata hanya tersenyum pasrah ke arah Adelle dan menggenggaingm tangan sahabatnya itu. “Terimakasih Adelle kau memang sahabatku.”
****
Alex dan Renata kini sudah berdiri di atas altar pernikahan saling berhadapan satu sama lain, tangan mereka saling menggenggam. Mereka berdua sudah bertukar cincin pernikahan, pun Alex sudah mengucapkan janji sucinya pada Renata, hingga membuat perempuan itu menangis karena terharu.
Di depannya, tamu undangan yang duduk dengan khidmat tampak menyaksikan semuanya dengan tenang. Di sana Bos besarnya, Adam dan keluarganya telihat hadir. Adam tersenyum penuh arti dan mengacungkan jempolnya ke arah Alex.
Di belakangnya nampak semua anak buahnya ikut hadir dengan ekspresi cerah. Bahkan keempat sahabat Renata sudah berdiri di sana, mengharapkan agar Renata segara melempar bunga pernikahannya.
Alex kemudian menatap kembali pada Renata dengan penuh cinta.
“Kau sangat cantik, kau terlihat seperti bidadari laut sayang.” wajah Renata bersemu merah, kemudian dengan malu-malu dia menatap wajah Alex lekat.
“Kau juga sangat tampan, Kau terlihat sangat tampan hari ini, hingga aku mensyukuri telah bertemu denganmu dan menikah denganmu.” ucapan tulus Renata itu, membuat Alex langsung meraih pinggang Renata memeluknya dan menciumnya dalam.
Ciuman itu berlangsung lama saling beradu bibir dan lidah dengan semangat, seakan-akan mereka berdua lupa, bahwa mereka tengah disaksikan banyak orang.
Suara berdehem Adelle yang kencang berhasil menginterupsi ciuman sang pengantin dan berhasil menyadarkan mereka berdua.
“Astaga Renata, aku baru menciumi seperti ini dan aku sudah tidak bisa menguasai diri. Aku sudah tidak sabar, aku…aku ingin acara sialan ini cepat berakhir. Dan melanjutkan hal yang lebih dari ini.” ekspresi Alex yang frustasi dan nafas hangatnya menerpa wajah Renata, saat dia mengutarakan perasaannya.
sekarang mereka beradu hidung menetralkan nafas yang berkejaran imbas ciumannya tadi, setelah nafas mereka sudah tenang Alex kembali menarik tubuh Renata dan memeluknya erat.
Love In The Boardroom Bab: 14 Menikahlah Denganku
12 Maret 2025 in Vitamins Blog
Setibanya di apartemen, Ketty langsung melemparkan tasnya di sofa. Berjalan cepat ke arah lemari dan mengambil pakaiannya dengan brutal dan memasukan ke dalam koper. Sepanjang aktivitasnya itu, Ketty selalu mengumpat pada mereka yang telah mempermalukan di kantor itu. Semua gara-gara kau!
Saat dirasa sudah memasukan semua pakaiannya ke dalam koper. Tanpa membuang waktu di tekannya nomor Zidane, orang yang sudah membuatnya kesal sesiangan ini. Semakin Zidane tak mengangkat panggilannya semakin geramlah Ketty. Beruntung di panggilan ke lima belas, Zidane akhirnya mengangkat panggilannya. Tanpa membuang waktu, didetik Zidane mengangkat ponselnya, saat itu juga Ketty langsung menyemburkan unek-uneknya “Gara-gara kau. Aku dipermalukan oleh orang-orang sialan itu! Kau pengecut Zidane kau brengsek. Kalau kau berani mengadapi Alex sialan itu harusnya kau menghadapinya sendiri, bukannya meyuruhuku! Kau tahu karna perbuatanmu, aku dirundung oleh orang-orang itu. Hal yang tak pernah aku alami selama ini!” karna terbawa suasana penuh kemarahan yang meluap-luap. Ketty tidak memberi kesempatan bagi Zidane untuk berbicara dan kesempatan itu dia gunakan untuk kembali meluapkan kekesalannya hingga tuntas.
“Harusnya dari awal aku tidak menerima tawaran dirimu yang bodoh itu! Setelah ini aku akan pergi dari apartemenmu, dan tak akan bersinggungan hidup lagi denganmu. Aku akan meninggalkan tempat ini, tempat sialan ini dan menetap di Paris.” Setelah meluapkan semua kekesalannya, seketika itu juga Ketty langsung mematikan sambungan teleponnya dan pergi dari apartemennya sambil membawa koper besarnya.
Disisi lain, setelah mendapat semburan kemarahan Ketty. Yang dilakukan Zidane adalah meremas ponselnya kuat-kuat ekspresinya tampak geram. Perempuan cerewet, pergi saja kau ke negara asalmu.
Bukan hanya dia, dirinya pun sama. Setelah Alex mengetahui ini semua. Dengan cepat lelaki sialan itu melapor pada Tuan Adam. Hingga dirinya mendapatkan peringatan keras darinya.
Pada saat Ketty menelponnya tadi tanpa kenal lelah, pada saat itu Zidane sedang mengalami kekalutan setelah mendapatkan telepon dari Bos besar Adam. Adam telah mengancamnya, mengatakan akan memutasinya di negara antah berantah, jika dia tak intropeksi diri, dan kekeuh bermusuhan dengan Alex. Adam mengatakan dengan bijak, baik Zidane maupun Alex mereka berdua adalah karyawannya. Jadi sudah seharusnya mereka saling support, bukannya saling membenci. Karena hal itu, pada akhirnya Zidane menuruti perkataan Bos besarnya itu dan memilih berdamai.
Sekarang setelah mendapatkan rentetan makian dari Ketty, Zidane tak memperdulikan itu semua, yang ada dia merasa senang jika dia pergi dari negara ini. Dirinya sudah menyesal imbas iri hatinya pada Alex yang hampir merugikan dirinya sendiri, beruntung Bos besarnya itu memberinya kesempatan yang akan Zidane gunakan sebaik-baiknya untuk memperbaiki kesalahannya.
******
Siang ini Adelle dan ketiga temannya sudah menyelesaikan makan siangnya di kantin. Dan setelahnya mereka gunakan waktu luangnya itu untuk saling mengobrol. “Aku senang dia ditolak kerja di sini, itu akan lebih baik. Aku tak bisa membayangkan jika dia berhasil menjadi sekretaris Bos Alex, entah apa yang akan dia lakukan di kantor ini.” Anna memulai pembicaraannya dengan nada puas.
“Iya, kau benar. Mungkin diantara kita yang melihat pemandangan itu hanya Renata yang merasakan ‘sakit’.” ucap Maya menambahkan. “Bahkan aku tak menyangka, Tuan Chris terlibat hingga akhirnya dia dimutasi dari tempat ini.”
“Chris itu penghianat, sudah pantas dia di tendang dari kantor ini karena sudah bersekongkol dengan manager yang ada di kantor cabang untuk menyingkirkan Bos Alex.” sambung Adelle dengan kesal. “Bahkan jika perempuan itu terima di kantor ini, sepertinya Chris akan menjadi sekutunya dan malahan kita yang akan ditendang secara perlahan-lahan.” saat Adelle menyelesaikan kalimatnya, ketiga temannya langsung tertawa, mendengar gaya bicara Adelle yang dramatis itu.
Saat tawa teman-temanya berhenti, Adelle tiba-tiba tampak murung, dan ekspresi itu langsung dilihat oleh mereka semuanya, Maya yang melihat itu, tak tahan untuk langsung bertanya.
“Kau kenapa Adelle?”
“Aku bingung.”
“Kau bingung kenapa, tadi saat kau membicarakan mereka berdua sangat bersemangat sekali, kenapa tiba-tiba bingung.” kali ini Anna yang berbicara.
Adelle menghela nafas, kemudian sejenak dia menyedot es kopi yang hampir tandas. Setelah menghabiskan es kopinya, barulah Adelle menjawab pertanyaan Anna. “Asal kalian tahu, saat aku menyalin foto itu darinya, aku melakukannya secara impulsif. Sekarang di saat aku sadar, aku malahan kebingungan hendak melakukan apa dengan foto ini. Kalian tentu tidak berpikir aku akan menunjukkan foto itu pada Renata bukan?
Mereka bertiga saling berpandangan satu sama lain untuk menanggapi pertanyaan Adelle yang jelas tak memerlukan jawabannya. “Lantas kau akan melakukan apa dengan foto itu? ucap Maya penasaran. “Entahlah, akupun bingung. Mungkin untuk sementara aku akan menyimpan foto ini atau menghapusnya agar Renata tidak melihatnya.”
“Itu lebih baik, mengingat hubungan mereka dalam fase yang serius kita tidak boleh merusaknya dengan menunjukkan foto itu.” ucap Maya menyetujui perkataan Adelle, yang langsung mendapatkan anggukan dari Anna dan juga Zarah.
******
Renata benar-benar menghabiskan waktu libur spesialnya hanya untuk tidur. Saat jam sudah menunjukkan pukul dua siang, Renata baru bangkit dari tempat tidurnya dan mendudukkan dirinya di samping ranjang kemudian meraih ponselnya. Dia terkejut luar biasa saat melihat jam yang terpampang di ponselnya . Astaga dia tidur seperti orang mati.
Merasa sudah terlalu siang, dengan buru- buru Renata menaruh kembali ponselnya itu di nakas samping ranjang dan segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat Renata sudah berdiri dan hendak berbalik menuju kamar mandi, tanpa diduga Ponselnya berbunyi. Karna penasaran, Renata pun membalikan tubuhnya kembali dan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas.
Itu pesan dari Alex. Karena penasaran dengan cepat Renata membuka pesan tersebut. ‘Nanti malam aku akan mengajakmu makan malam. Berdandanlah yang cantik. Aku sudah menyuruh seseorang untuk membawakan hadiah untukmu. Kemungkinan barang itu sekarang sudah ada di depan pintu rumahmu.’
Setalah membaca pesannya, seketika itu juga Renata langsung berlari kearah pintu, dan benar saja begitu membuka pintu, dia melihat ada kotak besar berwarna merah maroon. Kotak hadiah itu cantik, terbungkus rapi dengan pita warna putih yang terikat indah sempurna, hingga rasanya Renata merasa sayang jika harus merobeknya.
Sejenak Renata melihat sekeliling area rumahnya yang sepi. Setelah tak melihat tak ada seorang pun, dengan cepat diambilnya kotak hadiah itu untuk dibawa masuk kemudian menutup pintunya kembali. Kotak hadiah itu cukup besar saat dibawa olehnya. Karena penasaran, Renata yang awalnya ingin segara mandi, jadi sedikit tersendat dan lebih memilih membuka kotak hadiah pemberian Alex terlebih dulu. Hmm isinya apa ya…?
Renata kemudian mendudukkan dirinya di sofa dan buru-buru membuka kotak tersebut. Dengan gerakan cepat kotak itupun terbuka, memperlihatkan satu gaun malam berwarna hitam blink-blink yang indah, saat Renata mengangkat gaun itu untuk dibentangkan dihadapannya, tanpa diduga ada benda yang sangat lucu di bawah lipatan gaunnya. Ya, itu adalah bando mutiara warna putih yang sangat cantik dan sepatu heels warna hitam. Wow cantik sekali, apa Alex yang memilih ini semua?
Renata terpesona dengan pemberian Alex. Baginya ini adalah kali pertamanya dia mendapatkan sesuatu seperti ini dari seorang lelaki dan kenyataan bahwa Alex lelaki pertamanya yang memberikan ini semua, membuatnya bahagia. Saat Renata tengah menatap benda-benda di depannya dengan penuh keterpesonaan, tanpa diduga Alex menelponnya. Saat telepon itu diangkat olehnya, Alex tanpa basa basi langsung menanyakan hadiah pemberiannya.
“Kau suka dengan hadiahnya?”
“Suka sekali, terimakasih Alex.” ucapnya dengan wajah berseri-seri.
“Hmm sama-sama.” ucapnya singkat sambil menyunggingkan senyuman. Alex tampak berdiam untuk beberapa lama, dan setelahnya dia pun menyambungkan pembicaraannya lagi. “Renata, nanti malam banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu. Kau tahu, seharian ini di kantor banyak sekali masalah, tapi pada ahkirnya semua kembali baik-baik saja.”
“Masalah?” ucapnya penasaran.
“Iya, nanti aku jelaskan semuanya padamu malam nanti, saat kita makan malam.”
“Ah baiklah. Janji, kau akan menceritakan semuanya tanpa ada yang kau tutupi.” Alex tersenyum di seberang teleponnya saat mendengar perkataan Renata yang posesif itu. “Aku berjanji tak akan ada yang aku tutupi.” ucapnya penuh penekanan.
Hening
Setelah mereka saling diam beberapa menit. Renata kemudian mulai berbicara. “Alex apa ada yang ingin kau bicarakan lagi? Jika tidak, aku… aku ingin menutup telepon ini. Kau tahu, aku baru bangun tidur dan aku ingin sekali mandi.” ucapnya memberi tahu dengan wajah memerah menahan malu. Alex yang di seberang telepon seketika tersenyum jahil, dan tiba-tiba muncul ide untuk mengganggu Renata. “Jadi kau belum mandi sesiangan ini? Astaga pantas saja dari tadi aku mengendus bau asam yang sangkat pekat. Tak tahunya itu berasal dari kekasihku.” ucapnya setengah mengejek dan merayu. Renata bisa mendengar bagaimana Alex tengah menertawakannya di seberang telepon.
Renata merajuk dan segara menimpali ucapan Alex, bersungut-sungut. “Kau sendiri yang menyuruhku untuk tidur seharian. Jadi jika aku bau asam, itu karna dirimu Tuan direktur!” setelahnya dengan cepat Renata mematikan sambungan teleponnya, tidak memberi kesempatan Alex untuk kembali berbicara.
Setelah mematikan ponselnya, tanpa sadar Renata mengendus ketiaknya sendiri, mencoba mencari aroma asam yang dibilang oleh Alex. Saat indra penciumannya tak menemukan aroma yang dicarinya, dengan kesal Renata kembali menggerutu. Alex selalu seperti itu, jika ada kesempatan untuk mengejeknya dia akan melakukan dengan sepenuh hati, hingga membuat lawannya kalah.
Renata pun akhirnya menaruh ponselnya di meja dan berganti kegiatan melipat kembali gaun itu untuk dimasukan kembali kedalam kotak hadiah besar itu. Setelah gaun hadiah tersebut sudah tersimpan kembali dengan rapi, Renata akhirnya berdiri dan memutuskan untuk mandi!
******
Di dalam rumah yang besar itu, Alex tengah bersiap-siap untuk malam kencangnya bersama Renata.
Sepanjang aktifitasnya memasuki rumahnya setelah pulang kantor, Alex tak henti-hentinya bernyanyi dan bernyanyi lagu favoritnya. Hingga beberapa pelayan yang ada di rumahnya saling berbisik, membicarakan suasana hati majikannya yang sepertinya sedang bahagia.
Jam sudah menunjukan pukul delapan malam. Sekarang Alex sudah siap, rapi dan tentunya wangi, Alex menatap sekilas dirinya di cermin. Entah kenapa, dia yang biasanya tidak suka bercermin, tiba-tiba malam ini bercermin lama, ingin meyakinkan penampilannya takut kalau-kalau penampilannya terlihat aneh di mata Renata.
Saat sang pelayan mengetuk pintu meminta izin untuk masuk. Alex yang masih sibuk bercermin, berucap untuk memberinya izin, tak lama pelayanannya masuk dengan membawa mantel untuknya. “Bibi, menurutmu aku sudah tampan, apakah pakaian ini cocok dikenakan untukku? Alex tiba-tiba berucap konyol saat sang pelayanan baru saja memasuki kamarnya hingga membuat bibi Sam terkekeh.
“Tuan, Anda tampan seperti biasanya. Tapi untuk malam ini Anda terlihat sangat tampan, dan jas yang Anda pakai sangat cocok.”
Setelah mendapatkan pujian tulus dari Bibi Sam, Alex kemudian tersenyum simpul. Dia kembali membalikan tubuhnya dan menghadap di cermin. “Asal bibi tahu, malam ini adalah malam spesial. Aku ingin malam ini tampil sempurna hingga membuat kekasihku terpesona. Aku akan membujuk dia untuk tinggal di sini dan menjadi nyonya di rumah ini.”
Alex mengutarakan isi hatinya pada pelayannya itu. Karna baginya, bibi Sam sudah seperti ibu asuhnya dia sudah mengabdi di rumah ini sekitar dua puluh tahun lamanya, bekerja saat ibunya masih hidup hingga ibunya meninggal. Bahkan saat ayahnya menikah lagi dengan perempuan lain dan menetap di luar negeri dan melupakan dirinya, bibi Sam masih setia di rumahnya, bertahan di sini. Jadi karna alasan itu Alex tak keberatan membagikan isi hatinya pada bibi Sam.
“Tuan akan menikah?” bibi Sam menutup mulutnya tak percaya. Melihat responnya Alex terkekeh. “Iya. Itu rencanaku bibi, saat malam kencan nanti aku akan mengajak dia untuk menikah. Jika dia setuju, aku akan melakukan pernikahan itu dengan cepat dan mengadakan pesta yang meriah.” jawabnya dengan semangat.
Bibi Sam tersenyum lembut kemudian berkata dengan tulus. “Semoga berhasil Tuan, semoga menjadi pernikahan yang bahagia.” bibi Sam mendekat dan memberikan mantel hitam yang langsung diambil oleh Alex. “Terimakasih bibi” ucapnya tulus. Sang pelayanan menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Merasa sudah tak ada yang perlu di bicarakan lagi dengan majikannya, bibi Sam akhirnya keluar dari kamar tersebut.
Saat sudah mengenakan mantel dan bersiap untuk pergi meninggalkan kamarnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Alex mengangkat alisnya saat membaca nama orang yang mengirimnya pesan di sana. Adelle?
Karna penasaran, dengan gerakan cepat dibukanya pesan tersebut. Ekspresi Alex mengelap saat melihat foto yang dikirim oleh Adelle, tapi itu hanya ekspresi sementara karna selanjutnya saat Adelle kembali mengirim pesan, wajah Alex berubah cerah. Ya. pesan itu berbau nasihat, mengingatkan Alex harus jujur mengenai foto dirinya dan Ketty saat klub. Mencegah agar tidak ada kesalahpahaman pada hubungan mereka di masa depan, jika foto itu tersebar oleh orang yang tidak suka dengan hubungan dirinya dengan Renata.
Itu lebih baik, bukankah hubungan asrama yang baik adalah keterbukaan dan kejujuran? Alex mencatat dalam hatinya akan menjelaskan masalah ini di depan Renata, bahkan jika mau, Alex akan menunjukan foto tersebut di hadapannya.
*****
Mereka berdua telah melakukan sesi makan malam dengan lancar, Alex memesan sebuah restoran bintang lima di lantai paling atas dekat jendela, sengaja untuk memperlihatkan pemandangan indah di bawahnya. Saat ini dari ketinggian puluhan meter, Renata bisa melihat bagimana aktivitas di bawah sana yang sangat komplek, terlihat dari nuansa warna lampu kendaraan yang berlalu lalang, serta lampu gedung yang menghampar di bawahnya menciptakan suasana kerlap kerlip yang indah.
Renata yang tengah melihat pemandangan itu, sedikit mendekat ke arah jendela dan merendahkan pandangannya sambil tersenyum. Alex yang melihatnya langsung berucap menawarkan. “Kau suka ketinggian? Apa kau suka tempat ini. Jika kau menyukai makan malam diketinggian aku akan membawamu di salah satu gedung tertinggi di dunia dan kita bisa makan malam berdua di sana.”
Mendengar perkataan Alex, Renata yang sebelumnya fokus menatap pemandangan dari kaca jendela, beralih menatap Alex dengan ekspresi tertarik.
“Kau akan mengajakku di gedung laktha Center? ” Renata berucap polos. Mendengar ucapannya, Alex tersenyum lembut kemudian mengelus pipi Renata dengan ekspresi sayang.
“Bukan. Tempat itu ada dibelahan dunia sana. Laktha Center masih cukup dekat dengan negara kita dan lagi, gedung itu bukan gedung tertinggi di dunia melainkan hanya dinobatkan sebagai gedung tertinggi di Eropa. ketinggian laktha Center hanya empat ratus enam puluh dua meter. Sedangkan aku ingin membawamu jauh lebih tinggi dari tempat itu. Gedung dengan ketinggian delapan ratus dua puluh delapan meter. Jika kau ke sana, kau akan merasakan hidup di atas awan.”
“Setinggi itu?” ucapnya tak percaya.
“Ya. Memang sangat tinggi. Bahkan dunia pun mengakuinya jika gedung itu adalah gedung tertinggi yang pernah ada, tempat itu bernama Burj Khalifah. Aku akan mengajakmu ke sana dalam waktu dekat. Kau mungkin harus menyesuaikan dengan iklim di sana, kau tahu menara itu ada di negara yang dekat gurun pasir jadi cuacanya sangat jauh berbeda dengan di sini.” Alex menjelaskan dengan gamblang.
“Hmm aku mengerti.”
“Mengerti apa? ” ucapnya setengah menggoda. Renata menatap Alex dengan bersungut-sungut. “Iya, aku mengerti penjelasanmu itu Tuan Alex.”
Mendengar perkataan Renata yang seperti itu, Alex terkekeh kemudian mencubit pipinya dengan gemas. “Pintar.”
Mereka berdua kemudian saling bertatapan lama, hingga pandangan Alex merendah saat matanya memaku bibir Renata yang merekah. Alex mencondongkan tubuhnya ke depan dan mendekat ke arah Renata. Saat bibir mereka sudah berdekatan Alex tanpa membuang waktu langsung mencium bibir Renata dalam, menyesapnya dan melumatnya. Mereka berciuman cukup lama. Hingga akhirnya Alex melepaskan pertautan bibirnya dan kembali mundur dan mendudukkan dirinya di kursi. Alex mengambil gelas berisi anggur yang ada di depannya dan menenggaknya hingga tandas. Saat sudah melakukan aksinya kembali Alex menatap Renata lekat.
“Kau sangat cantik malam ini. Bisa dibilang malam ini kau sangat cantik.”
“Kau sudah berapa kali mengatakan itu padaku malam ini Alex? ”
“Tak terhingga.” ucapnya sambil terkekeh, dengan tangan masih mengenggam jemari Renata mengelus cicin lamarannya yang terpasang dijari manisnya.
“Alex sepertinya kau lupa. Kapan kau kan menceritakan masalah tadi siang saat di Kantor?” kalimat Renata yang mengingat janjinya itu membuat ekspresi Alex kecut.
“Ah… Itu. Aku pikir kau sudah melupakannya.” ucapnya menggoda.
“Cepat katakan. Aku sudah tidak sabar ingin tahu.” ucapnya bersungut-sungut.
Karena Renata memintanya untuk menceritakan semuanya, saat itu juga Alex mulai berbicara panjang lebar tanpa ada yang terlewat dan sepanjang Alex berbicara, Renata menjadi pendengar yang baik. “Oh jadi calon sekretaris itu bernama Ketty? Yang tak lain suruhan tuan zidane?” Renata memberikan kesimpulannya dengan tepat. “Benar”
“Hmm aku mengerti.” gumamnya
“Renata” Alex memanggilnya. “Iya?”
“Ada satu hal yang ingin aku bicarakan padamu. Ketty sebelumnya sudah bertemu denganku di klub. Perempuan itu memanfaatkan situasi saat aku sedang mabuk. Saat itu aku tidak sadar saat Ketty tiba-tiba saja datang mendekat dan langsung menciumku dengan brutal. Beruntung kesadaranku kembali sadar sehingga tidak terjadi hal yang lebih parah dari itu.” Alex berusaha menjelaskan sejujurnya.
“Aku sudah tahu. Adelle yang memberi tahuku.” ucapnya terus terang.
“Adelle!” astaga dia memang susah di tebak.
“kau.. kau tidak marah padaku?” ucapnya memastikan.
“Aku pada awalnya merasa marah padamu, tapi setelah aku memaksa Adelle untuk menunjukkan foto itu, aku baru percaya kalau kau memang dijebak.” Terimakasih Adelle kau sudah membantuku. Alex berucap dalam hatinya. Merasa bahagia karna Renata tidak marah padanya, tiba-tiba Alex berdiri dan menghampiri ke arah Renata yang masih terduduk dan secara mengejutkan ditariknya tubuh Renata berdiri dan dipeluknya tubuh Renata erat-erat. “Terimakasih Renata, terimakasih. Aku berjanji akan membahagiakanmu setelah ini.”
“Membahagiakanku?” ucapnya tak mengerti. Alex seketika melepaskan pelukan dan mendorong tubuh Renata sedikit menjauh dan menatapnya dengan senyum bahagia saat memberikan kejutan bahagianya. “Iya membahagiakanmu, karna setelah ini aku akan menikahimu Renata, secepatnya.”
“Apa?” Renata yang semula berdiri, kini jatuh terduduk di kursinya dengan menutup mulutnya seolah-olah tak percaya dengan perkataan Alex. Renata mendongak menatap sosok yang menjulang di depannya dengan ekspresi penuh senyum. “Alex… kau.. kau mau menikahiku?” ucapnya masih dipenuhi ketidakpercayaan.
Kembali Alex meraih tangan Renata dan menciumnya lembut kemudian dia duduk berlutut di depan Renata. Alex tiba-tiba mengeluarkan kotak mungil berwarna biru tua yang sangat indah, di bukanya kota tersebut dan memperlihatkan benda yang sangat indah berkilauan yang sangat cantik. Sepasang cicin pernikahan yang akan disematkan di jari mereka berdua. “Renata menikahlah denganku, aku berjanji akan membahagiakanmu.”

Love In The Boardroom Bab:13 Hari Apes
23 Februari 2025 in Vitamins Blog
Di saat yang sama pintu ruang kerjanya terbuka, menampakkan pemandangan yang tentunya sangat mengejutkan baginya. Bahkan sangking terkejutnya Alex sampai bangkit dari duduknya!
“Kau” ucapnya tak percaya.
Alex berjalan mendekat ke arah Ketty dengan penuh perhitungan. Setelah sampai tepat di depannya, dia menatapnya dengan sinis.
“Apa yang kau lakukan di sini.” ucapnya dengan nada tidak bersahabat. Bahkan dirinya pun tak mau repot-repot menyuruh Ketty untuk duduk terlebih dulu saat dia baru saja masuk di ruangan ini. Ketty memasang wajah polos yang palsu dengan sengaja “Aku…aku di sini untuk bekerja.”
Apa dia bilang, bekerja? Bukankah sebelumnya Alex sudah mencegah perempuan ini agar tidak bisa masuk di perusahaan ini?
Alex berpikir keras. Dalam hatinya mencoba mengingat hal yang dulu pernah disampaikan pada Zidane saat dirinya bertugas di kantor cabang bersama Renata beberapa hari yang lalu.
Di mana, pada saat itu Alex sudah mengingatkan Zidane, agar mencegah Ketty supaya tidak diterima di kantor cabang saat dia hendak melamar pekerjaannya di sana. Karna pada saat itu, Alex berpikir Ketty sepertinya memiliki niat terselubung setelah insiden di klub malam itu.
Tapi kenapa sekarang tiba-tiba perempuan ini ada di sini, bahkan secara kebetulan dia melamar menjadi sekretarisnya. Di saat Alex baru saja mendapatkan jabatan baru? Aneh sangat aneh, ini tidak bisa disebut sebuah kebetulan!
Saat dirinya mengerutkan kening semakin dalam dan berpikir keras. Tiba-tiba Alex teringat perkataan anak buah Zidane yang ada di kantor cabang. Di mana pada saat Alex hendak pulang bersama Renata saat tugas meraka berakhir, salah satu dari mereka berpesan padanya.
“Tuan Alex sepertinya untuk sekarang Anda harus berhati-hati dengan Tuan Zidane, dia sepertinya tidak punya naik baik untuk Anda.”
Mengingat hal itu pandangan mata Alex langsung memaku mata Ketty dengan kecurigaan yang pekat.
“Kau bilang bekerja? Apakah ada sosok lain yang menyuruhmu untuk datang kesini?” tatapan Alex saat ini berubah gelap, hingga Ketty benar-benar merasa takut, bahkan sangking takutnya dirinya mundur selangkah kebelakang.
Karna ketty tak kunjung menjawab pertanyaannya, Alex mulai emosi dan meninggikan suaranya saat berucap.
“Katakan, apa tujuanmu kemari dan siapa orang yang menyuruhmu!”
“Alex a…aku sungguh aku..aku hanya ingin bekerja da..dan tak ada yang menyuruhku.” Ketty berucap terbata, berusaha menutupi kebohongannya. Tapi sayang, semakin Ketty berucap seperti itu, semakin curigalah Alex.
“Oh, benarkah?” tiba-tiba Alex mengeluarkan seringaian lebarnya, saat dia memandang Ketty yang mulai panik, dan tanpa diduga Alex mengeluarkan ponselnya dan memencet nomor yang pastinya akan membuat Ketty, terkejut luar biasa.
“Aku akan menelpon Zidane, untuk memastikan.” dan benar saja semakin memucatlah wajah Ketty.
Astaga kenapa… Kenapa secepat ini terbongkar. Bahkan dirinya baru saja menjejakkan kakinya di kantor ini, belum mencicipi kursi sekretaris itu. Bahkan masih berdiri melelahkan seperti ini.
“Kau yang membawa perempuan ini?” ucapnya tanpa basa basi, tepat saat Zidane mengangkat teleponnya.
“Apa maksudmu? Perempuan apa?” Ucapnya berpura-pura bodoh.
Alex tersenyum mengejek saat melirik wajah ketty.
“Apa kau ingat, pesanku padamu pada waktu itu. Bukankah aku sudah mengingatkan kau agar dia tidak boleh diterima masuk kerja di sana. Tapi kenapa tiba-tiba dia……” Alex memaku mata ketty yang semakin panik.
“Ada di sini, melamar pekerjaan di sini dan menjadi sekertarisku.”
“Dia siapa?” ucapnya masih dengan pura-pura bodoh.
“Wanita dengan rambut curly bermata hijau, yang menghampiri kita saat di klub, kau tentu mengenalinya bukan?”
Ah sial bagaimana ini, bodoh kau Zidane bodoh, Kenapa kau lupakan hal itu!
Zidane di sebrang teleponnya mengusap wajahnya frustasi, mengutukki kebodohannya, karna terlalu terburu-buru dalam menjalankan rencananya hingga berantakan dan sekarang dia malah kebingungan sendiri.
“Kau tidak bisa bisa menjawabnya bukan? Berarti perkataanku benar.” Alex menyeringai, masih dengan menatap ke arah Ketty.
Karna sudah kepalang basah, pada akhirnya Zidane berucap jujur. Bahkan kali ini saat Zidane berucap kata di seberang teleponnya, rasa bencinya terhadap Alex sudah menguar.
“Ya, aku yang menyuruh Ketty untuk masuk di sana. Aku ingin menghancurkan karirmu Alex. Selama kau bertugas di sini, aku sangat membencimu. Hingga rasanya aku ingin menyingkirkanmu dari perusahaan.”
“Apa kau iri padaku, Zidane?” Alex berucap tenang di seberang teleponnya.
Dengan menggebu-gebu Zidane menjawabnya dengan suara sarkas.
“Jelas. Aku iri padamu, kau hanya karyawan kemaren sore yang hobby bermain wanita. Bahkan jabatan baru yang kau emban itu tidak pantas disematkan untukmu. Aku yang pantas, aku yang lebih pengalaman darimu, dan sudah berpengalaman sepuluh tahun di perusahaan ini, jadi jabatan direktur hanya pantas disandang olehku!” suara kakehan mengejek langsung terdengar di seberang telepon saat Zidane menyelesaikan ucapannya yang penuh kebencian itu.
“Kau harusnya intropeksi diri Zidane, bukannya membenciku seperti ini. Kau masih bertahan menjabat manager hingga sekarang, karna kau tidak kompeten dalam menjalankan tugasmu. Bahkan saat ada masalah di areamu, kau bahkan tidak bisa mengatasinya. Apa kau lupa, berkat strategiku kondisi di areamu sekarang kembali normal. Dari situ saja sudah terlihat bahwa kau tidak becus dalam bekerja, hingga tidak bisa menanganinya sendiri.”
“Kau!” Zidane menyahuti dengan galak.
“Aku tak akan membuang waktuku dengan meneleponmu terlalu lama. Aku akan menghadap Tuan besar Adam mengajukan keberatanku atas calon sekertaris yang kau kirim itu.”
Setelah menyudahi percakapannya, tanpa melirik ke arah Ketty yang masih berdiri di depannya, diapun langsung bergegas keluar dari ruangannya. Saat Alex sudah sampai di ambang pintu, tanpa diduga Ketty memanggilnya.
“Alex, tunggu.” Alex mengangkat alisnya mendengar panggilan yang tak terduga itu. Bahkan saat dia menanggapi panggilannya, Alex tak sudi untuk membalikan tubuhnya.
“Aku tidak begitu kenal denganmu, jadi kau tak pantas memanggil namaku.”
“Ah maafkan aku Tuan Alex, aku…. aku hanya bingung. Bolehkah aku duduk di sofa itu sebentar, aku sangat lelah.” ucapnya dengan polos. Tapi sayangnya Alex kembali menimpalinya dengan sinis “Jika kau mengerti posisimu yang sekarang, kau belum layak duduk di sofa itu. Jadi tempat duduk ruang tamu adalah tempat yang tepat untukmu.”
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Alex pun membanting pintunya dengan keras.
Ketty yang melihat itu semua, tanpa bisa ditahan seketika mengertakan giginya dengan tangan mengepal menahan marah.
Sialan kau Zidane, gara-gara kau melemparkanku di sini, aku berasa seonggok sampah di mata Alex!
Setelahnya dengan terpaksa akhirnya ketty menjejakkan kakinya keluar dari ruangan kerja Alex.
Liat saja kau, kau pikir kau lelaki tertampan di dunia ini, Alex? Tidak! Aku bahkan bisa mendapatkan yang lebih darimu!
Ketty berjalan di Koridor dengan langkah cepat menebarkan aura menahan marah, menggerutu dalam hatinya.
*****
Pagi ini beberapa karyawan yang ada di ruangan tim pemasaran sedang membicarakan sosok Ketty. Perempuan yang digadang-gadang akan menjadi sekertaris Bos mereka, Alex. Bahkan Adelle dan Maya dua teman akrab Renata tak luput ikut bergosip pagi ini, yang kebetulan pekerjaan mereka sedang senggang.
“Aku tadi pagi melihat perempuan itu di Koridor bersama Tuan Chris saat hendak menuju ruangan Bos Alex. Kau tahu? Penampilan perempuan itu terlihat seksi dan juga dia sangat cantik.” Anna, salah satu dari mereka mulai bergosip dengan semangat.
“Apa ini tidak bahaya, kita tahu bukan jika Bos Alex sedang dekat dengan Renata? Jika Bos kita terpesona dengan calon sekretarisnya, bagaimana dengan Renata? Dan lagi___”
“Bos kita mantan buaya kantor? Kau hendak mengatakan itu bukan?” Maya tiba-tiba menyela ucapan Zarah, menebak tepat sasaran.
“Ya, kau benar Maya. Kita semua tahu sendiri bukan, dulu reputasi Bos Alex seperti apa jika menyangkut perempuan?” Zarah kembali membenarkan perkataannya.
“Hmm aku penasaran dengan sosok perempuan itu.” Adelle bertanya spontan dan tak lama dia membelalakkan matanya seolah teringat sesuatu dan sekarang matanya menatap ke arah temannya. “Hei. Anna, apa perempuan itu berambut curly?”
“Kau melihatnya Adelle?” Maya menyahuti. “Tidak, aku hanya sedang menebak, tadi pagi saat aku hendak masuk kantor, aku melihat ada sosok perempuan berambut curly tengah membentak security di halaman lobby.”
“Kau benar Adelle, perempuan itu berambut curly” Anna menjawab pertanyaannya dengan yakin.
“Aku sangat ingin bertemu perempuan itu, kemungkinan dia wanita yang sombong. Bisa dilihat saat dia memarahi security itu.”
“Kau hendak melakukan apa Adelle?” kembali Maya berucap dengan penasaran.
Kekehan keluar dari mulutnya saat dia berucap kata ke arah Maya, Anna dan juga Zarah. “Aku akan membuat dia tidak akan betah kerja di sini, jika dia berani menggoda Bos Alex.” Adelle tiba-tiba menyeringai lebar ke arah teman-temannya yang sudah menanti akan rencananya.
“Jika perempuan itu berani tebar pesona di kantor ini, berarti kita tahu bukan, musti melakukan apa?” ucapnya penuh teka teki yang langsung mendapatkan tatapan tahu sama tahu dari teman-temannya itu.
******
Saat Ini Ketty tengah duduk di ruang tamu dekat meja Resepsionis. Dia sudah duduk terlalu lama hingga rasanya sudah jengah. Sampai kapan dia akan menunggu. Ini hampir jam sepuluh siang, tapi belum kunjung juga ada tanda-tanda orang kantor akan memanggilnya. Suasana ini benar-benar membosankan!
Ketty, kembali menggerutu dalam hatinya. Karna merasa sudah jengah dan bosan. Pada Akhirnya dia berdiri dan mendekat ke arah meja resepsionis.
“Aku ingin ke toilet, kau bisa bantu tujukan jalan?”
“Anda tinggal mengikuti tanda itu Nona.”
sang resepsionis menjawab sopan dengan tangan menunjuk lorong yang bertanda menuju toilet.
“Nona hanya perlu memasuki koridor itu dan tanda petunjuk ke arah toilet sudah terpampang di sana, jadi Anda tak perlu kuatir.”
“Baiklah, terimakasih”
sang resepsionis itupun menganggukkan Kepala sebagai jawabannya dan tersenyum ramah.
*******
Saat Ketty sudah membereskan panggilan alamnya di bilik kamar toilet. Kini dia tengah mencuci tangannya di wastafel dan memandang wajahnya di cermin.
Sangat cantik, kenapa dia tidak terpesona padaku. Dasar bodoh.
Kembali, Ketty menatap bayangannya dengan ekspresi sombong dan angkuh. Setelah lama menatap dirinya di cermin, pada akhirnya ketty keluar dari ruang toilet.
Saat sudah sampai di Koridor yang menghubungkan di ruang resepsionis. Tanpa diduga ada suara asing yang menyapa dengan kurang ajar.
“Hei keribo”
Apa! Mulut kurang ajar siapa itu. Dengan marah Ketty membalikkan tubuhnya dan melihat ada empat sosok wanita yang tengah berdiri di sana.
“Apa mulutmu tidak bersekolah, memanggil orang dengan sembarangan.” Ketty berucap marah.
Adelle terkekeh mengejek hingga menutup mulutnya.
“Ah, apa kau tersinggung? Maafkan aku, aku hanya terpukau dengan rambutmu yang unik itu.” Adelle berjalan mendekat ke arah Ketty dengan diikuti oleh yang lainnya yang ada di belakangnya.
Saat posisinya sudah tepat di depannya, dia kembali berucap.
“Apa kau calon sekertaris Bos Alex?”
“Benar.” jawabnya angkuh dengan mengangkat dagunya.
Melihat penampilan Ketty yang terlihat sangat berlebihan itu, jelas niatan untuk menggoda Alex terlihat sangat ketara. Tanpa bisa ditahan Adelle menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan cara berpakaian sosok yang ada di depannya ini.
Merasakan tatapan aneh dari Adelle, ketty mengangkat alis dan langsung menkonfrontasinya.
“Kenapa kau menatapku seperti itu. Jangan bilang kau menyukai penampilanku dan kau terinspirasi ingin mengikuti gaya berpakaianku.”
Cih…. Percaya diri sekali dia. Siapa yang sudi ingin mengikuti gaya berpakaian kurang bahan seperti itu? Gerutunya.
Saat di liatnya Ketty hendak berbalik badan dan pergi. Adelle berseru. “Tunggu, aku ingin bicara padamu.”
“Kau mau bicara apa” ucapnya sedikit menatang.
“Aku hanya ingin memperingatkanmu, kau jangan berpikir bisa mendapatkan Bos Alex dan menggodanya.”
“Hei. Alex masih lajang jadi terserah aku mau mengoda atau tidak, itu urusanku. Lagipula apa masalah jika aku mendekati Alex.” ucapnya dengen sinis sambil melipat kedua tangannya di dada.
“Jelas itu masalah. Asal kau tahu, Bos Alex sudah bertunangan. Dan juga hubungan mereka sudah didukung oleh semua orang kantor yang ada di sini. Jadi kau jangan macam-macam.” kali ini Maya giliran berbicara.
“Omong kosong! Ah…bagaimana jika aku menunjukan ini.” dengan gerakan cepat Ketty membuka tasnya kemudian mengambil ponselnya, mencari foto yang hendak ditunjukan pada mereka. Setelah mencari foto yang dicarinya, senyuman puas langsung tersungging di bibirnya saat dirinya menunjukkan foto yang tentunya membuat Adelle dan yang lainnya shock luar biasa.
Dan benar saja. Merasa kaget, hingga tanpa bisa ditahan mereka menutup mulutnya secara bersamaan.
Astaga, itu….itu foto Alex sedang berciuman!
“kaget, bukan? Asal kalian tahu, foto ini diambil saat Alex tengah bertugas di kantor cabang dan kita bersenang- senang di sana. Kau tentu bisa melihat bagaimana aku mencium Alex tanpa dia menolaknya.” Ketty berucap bohong sengaja untuk memprovokasi mereka. Berpikir dengan menunjukkan foto itu, mereka berasumsi dirinya dan Alex memang benar mempunyai hubungan spesial.
Saat ini baik Adelle dan yang lainnya seolah menjadi bisu, imbas melihat foto yang tak terduga itu. Ketty mengunakan kesempatannya itu untuk kembali memprovokasi mereka.
“Kalian pasti tahu, saat Alex bertugas di sana dia membawa seorang wanita bukan?”
Seolah teringat sesuatu, tiba-tiba ketty melebarkan matanya.
“Tunggu! Jangan bilang wanita yang di bawa Alex adalah tunangannya, teman kalian?” Ketty tiba-tiba tertawa mengejek.
“Menyedihkan. Di saat Alex sudah mendekati temanmu itu, tapi dia masih berkeliaran di klub dan mengizinkan aku menciumnya seperti ini. Temanmu itu bodoh, sudah terperdaya oleh Alex. Karna sosok seperti Alex itu, tidak akan pernah setia sampai kapan pun!”
Adelle yang semula terpaku melihat foto di depannya. Kembali tersadar saat Ketty menertawakannya. Dengan cepat direbutnya ponsel ketty secara kasar. “Hei apa yang akan kau lakukan pada ponselku!” ucapnya membentak. Tapi Adelle tak menghiraukan bentakan tersebut. Yang ada, dengan cepat Adelle langsung menyalin foto tersebut di ponselnya sendiri, setelahnya dia dengan buru-buru menghapus foto itu di ponsel Ketty.
“Hei, kenapa kau menghapus foto itu! lancang sekali kau” Ketty berseru dengan marah melihat kelakuan Adelle yang kurang ajar itu. Sial! Benar- benar sial… Kenapa dia tidak menyimpan foto itu di laptopnya. Hissh bagaimana ini. Foto itu sekarang sudah terhapus dan dia sekarang benar-benar tidak punya foto itu lagi!
Adella tersenyum mengejek melihat kepanikan Ketty.
“Kau mungkin bisa berbicara sesukamu seperti tadi mengenai Bos Alex, nona keribo” kembali Ketty melototkan mata marah ke arah Adelle, yang hanya direspon oleh kekehan mengejek dari teman-temanya.
“Tapi aku percaya, Bos Alex sepertinya akan berpikir seribu kali untuk terpesona padamu. Dan foto ini___ hmm sepertinya hanya akal-akalanmu saja.”
Setelah mengucapkan kata-kata sarkasme. Adelle mendekat kearah Ketty dan mengembalikan ponselnya dengan gerakan sedikit melempar yang langsung ditangkap sigap oleh Ketty.
“Ayo, kita pergi dari sini.” Adelle berjalan terlebih dulu yang langsung diikuti oleh yang lainnya. Maya yang ada diurutan paling belakang, dengan sengaja, saat tubuhnya sudah berpapasan dengan Ketty, dia menyenggolkan pundaknya sendiri ke arah Ketty, hingga membuat tubuh Ketty sedikit terhuyung.
Setelah mereka berempat sudah menghilang dari pandangannya. Dengan murka Ketty kembali mengetatkan gerahamnya.
Berani-beraninya kalian merundungku seperti ini. Sialan kalian!
******
Setelah keluar dari kantor, Ketty benar-benar merasa sangat muak dengan orang-orang di dalam sana. Hari pertama masuk kerja, dirinya sudah mendapatkan serangan bertubi-tubi di kantor itu.
Sekarang, setelah sebelumnya dia dirundung oleh empat perempuan sialan. Tak butuh waktu lama Ketty mendapatkan panggilan dari HRD hanya untuk menerima kabar bahwa dia tidak diterima untuk bekerja di sini. Sialan. Bahkan Chris pun tidak bisa berbuat apa-apa!
Dia sempat mendengar suara orang-orang dari dalam sana yang mengatakan, bahwa Chris akan di mutasi, dipindahkan di area terpencil yang jauh dari ibu kota. Karna keterlibatan Chris yang terbukti telah memuluskan jalan curang untuknya masuk di kantor ini, hingga membuatnya dia terkena hukuman.
Sialan semua gara-gara Zidane! Karna mengikuti sarannya, sekarang Ketty berada diposisi yang sangat memalukan dan terhina! Brengsek kau gendut! Ketty berjalan dengan hentakan kasar saat meninggalkan kantor tesebut.
Cuaca siang ini sangat panas hingga Ketty terpaksa berlari-lari kecil untuk mencapai halte yang teduh di seberang jalan. Saat Ketty tengah berlari menuju gerbang. Dari sudut matanya dia melihat sang security yang telah dia hina pagi tadi, kini tengah menertawakannya dengan puas.
Orang-orang kantor sialan! Kembali, Ketty mengumpat dengan murka.

Love In The Boardroom Bab:12 Berhasil Masuk
13 Februari 2025 in Vitamins Blog
Alex tiba-tiba berjongkok dengan mengunakan satu lututnya, kemudian tangannya masuk kedalam saku mantelnya mencari barang yang sudah disiapkan untuk diberikan pada sosok yang tengah berdiri di depannya.
Saat jemarinya sudah menemukan sesuatu yang dicarinya, Alex pun menengadahkan kepalanya menatap Renata yang berdiri menunduk menatapnya. Dengan gerakan pelan Alex menunjukkan sesuatu yang membuat ekspresi Renata Shock hingga menutup mulutnya karna tak menyangka jika Alex akan melamarnya.
“Renata terimalah lamaranku ini.”
Renata terperangah tak percaya dengan pemandangan di depannya, dirinya terlalu kaget hingga tidak bisa menjawab pertanyaan Alex dengan segera.
“Renata, kumohon terimalah lamaran ini. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu.” Alex kembali meyakinkan akan perasaannya itu.
“Aku…… aku”
Lelaki itu menipiskan bibirnya melihat kebingungan Renata. Alex masih berjongkok masih menunjukkan barang yang sangat indah berkilauan itu yang tertata rapi dengan elegan di dalam kotak mungil berwarna merah cerah.
Ekspresi Alex masih sama, tetap memasang wajah tenang berbalut senyum manis dan tetap berusaha meyakinkan Renata akan perasaannya agar mau menerima lamarannya.
“Renata, apa kau tidak percaya pada perasaanku?” kembali Renata menelan ludahnya saat mendengar pertanyaan Alex.
Apakah dia mencintai Alex? Jika dia tidak mencintai Alex, kenapa dia menerima semua perhatiannya dan bahkan menerima ciuman akhir-akhir ini. Kau pasti mencintainya bukan?
“Alex aku….” cepat Renata, terima lamaran itu apa kau tidak ingat nasehat Adelle? Beri dia kesempatan!
Karna merasa dipaksa oleh isi hatinya sendiri yang dengan keras kepala terus membujuknya untuk menerima lamarannya. Renata akhirnya mengambil cicin yang masih terselip cantik di dalam tempatnya itu dari tangan Alex. Begitu cincin sudah berpindah tangan, Alex seketika menghembuskan nafas lega dan kemudian bangkit berdiri.
“Biarkan aku yang memakaikan di jari manismu” Alex berucap saat Renata hendak mengambil cincin itu dari tempatnya.
“Sangat cantik, jarimu terlihat berseri-seri saat memakai cincin ini.” ucap Alex setelah berhasil menyematkan cincinnya di jemari Renata.
Alex memandang tangan Renata dengan ekspresi puas. Kemudian kembali dia menggenggam kedua tangan Renata erat dan pandangannya kembali fokus memaku wajah Renata.
“Karna cincin ini sudah terpasang di jemarimu, berarti kau sudah menerima lamaranku bukan?”
Renata menganggukkan kepala sebagai jawabannya. Melihat responnya hanya seperti itu, Alex merasa tak puas hati.
“Aku butuh jawaban yang lugas dari bibirmu, bukan anggukkanmu itu.”
Renata seketika melebarkan matanya mendengar perkataan protes Alex yang arogan itu.
Dasar Tuan direktur arogan.
“Iya, aku Renata moon menerima lamaranmu Alexander swan.” puas?
Alex puas dengan jawaban itu, tetapi entah kenapa lelaki itu tiba-tiba saja mengajukan pertanyaannya kembali.
“Renata apa kau pernah mencintaiku?”
Ini waktunya Renata, ayo cepat katakan iya aku mencintaimu Alex!
Di saat Renata masih sibuk dengan isi pikirannya sendiri, tiba-tiba Alex meraih dagu Renata memaksa perempuan itu untuk kembali menatap matanya.
“Katakan saja Renata kau hendak mengucapkan apa. Bahkan jika kau masih membenciku, akan aku terima.”
Renata tergeragap saat mendengar perkataan Alex yang salah paham itu, dengan cepat Renata pun akhirnya menjawabnya.
“Aku….aku tidak membencimu Alex, aku hanya kebingungan, kau tahu ini adalah kali pertama aku dilamar oleh seorang laki-laki, yaitu kau. Sesungguhnya di hatiku rasa benci itu sudah hilang.” Renata tiba-tiba tersenyum cerah. “Ya Alex aku mencintaimu, aku tak tau kapan rasa ini mulai tumbuh. Mungkin rasa ini tumbuh saat di ruang rapat pada waktu itu, di mana saat itu aku untuk pertama kalinya mengagumimu, mungkin di titik itulah rasa cintaku mulai timbul padamu tanpa bisa dicegah.”
Setelah Renata menyelesaikan ungkapan isi hatinya pada Alex. Lelaki itu tiba-tiba menarik tumbuh Renata rapat kearahnya dan memeluk tubuh Renata erat.
“Aku mencintaimu Renata” Alex berucap dengan wajah masih terbenam dikelembutan rambut Renata yang tergerai panjang. Renata yang mendengar ungkapan hati Alex, hanya tersenyum sambil menepuk-nepuk punggung kokoh Alex yang masih membungkuk memeluk dirinya. Pelukan itu erat hingga hawa dingin di luar rumah Renata, sepertinya tidak memberikan imbas berarti pada dua sejoli yang masih sibuk saling berpelukan itu. Setelah lama berpelukan, hingga tubuh Renata nyaris terangkat oleh Alex pada akhirnya pelukan itupun terlepas.
Alex sangat bahagia malam ini hingga rasanya pelukan tadi tidak memuaskan dirinya. Kembali Alex menatap Renata lekat, sayangnya di saat yang sama tiba-tiba Renata menguap.
Alex mengangkat alisnya kemudian dia melihat jam tangannya.
Astaga sudah hampir jam sepuluh malam. Pantas Renata menguap dia sudah mengantuk.
Dengan perhatian sebelah tangan Alex menangkup pipi kanan Renata yang terasa sejuk dan berucap dengan perhatiannya yang pekat.
“Kau mengantuk? Cepat masuk ke dalam, sekarang sudah cukup malam dan udara di luar sangat dingin bahkan pipimu saja sekarang terasa dingin.”
Renata tersenyum manis melihat perhatian Alex yang tulus itu. Secara mengejutkan Renata melakukan hal yang sama yakni mengangkat tangannya kemudian membelai pipi Alex lembut, mengucapkan kata-kata yang sama perhatiannya membuat Alex semakin membuncah bahagia.
“Kau juga hati-hati saat pulang, sepertinya malam ini akan ada badai salju. Aku masuk dulu.” begitu mengakhiri ucapannya Renata pun akhirnya melepaskan belaian di pipi Alex kemudian membalikan tubuhnya dan masuk ke dalam rumahnya. Saat Renata hendak menutup pintu dan memutuskan kontak mata mereka berdua, Renata tersenyum kearah Alex yang membalasnya dengan senyum penuh kegetiran, saat Renata sudah melihat senyuman itu, dirinya langsung menutup pintunya rapat.
Setelah Renata sudah benar-benar menghilang dari pandangan matanya, Alex masih berdiri di depan pintu rumah Renata. Merasa enggan untuk meninggalkan tempat ini begitu saja. Alex tampak frustasi, berdiri seperti orang bodoh di depan rumah Renata bahkan beberapa kali dia mengusap wajahnya, menggosok- gosok kedua telapak tangannya bahkan mengusap rambutnya dengan kesal.
Kenapa….. kenapa, penerimaan lamarannya hanya berakhir seperti ini? Tidak. Sebenarnya kau menginginkan apa Alex? Ah tidak..tidak hilangkan pikiran mesummu itu!
Di sisi lain saat Renata sudah memasuki rumahnya. Perempuan itu tidak langsung menuju kamarnya, melainkan masih berdiri bersandar dibalik pintunya. Renata memejamkan matanya dengan tangan mendekap tubuhnya sendiri. Saat matanya kembali terbuka, Renata mengangkat tangannya dan melihat cincin indah yang tersemat di jari manisnya.
Renata tersenyum melihat cincin pemberian Alex dan tanpa diduga cincin itu dibawanya ke bibirnya dan Renata menciumnya.
Aku mencintaimu Alex
Entah karna dorongan apa, tiba-tiba saja secara impulsif Renata membuka pintunya kembali dan saat Alex melihat Renata keluar dan muncul dihadapannya, ekspresi Alex berubah cerah penuh harap saat melihat Renata tersenyum kearahnya. Renata dengan cepat menghambur kearah Alex yang dengan sigap langsung memeluk kembali tubuh Renata. “Aku…. aku mencintaimu Alex” kembali Renata mengungkapkan isi hatinya disela pelukannya.
“Akupun sangat mencintaimu Renata.” saat Alex mengakhiri ucapannya, dengan cepat diraihnya dagu Renata dan menarik bibir bawah Renata agar terbuka, dirinya tidak menolak saat Alex hendak menjajah bibirnya. Renata pasrah dan pada akhirnya memejamkan matanya memberi izin untuk Alex berbuat sesuka hatinya terhadap bibirnya.
Ciuman itu berlangsung lama, Alex mengerahkan semua keahliannya dalam berciuman, hingga yang bisa dilakukan Renata hanya mencengkram dada Alex yang berjaket itu sebagai pegangannya, bahkan tanpa sadar ciuman yang awalnya dilakukan di luar rumah tepatnya di depan pintu, kini berakhir di sofa yang ada di tengah ruangan rumah Renata.
Sepertinya, imbas dari lamaran Alex yang sudah diterimanya dan juga pengakuan isi hati Renata membuatnya lepas kendali dalam berciuman hingga lupa daratan.
Setelah pertautan bibir mereka terlepas, Alex mengangkat kepalanya. Lelaki itu tersenyum puas saat melihat wajah Renata yang dipenuhi semburat merah di bagian pipi hingga telinga sampai lehernya. Bahkan Alex dengan arogannya telah menanamkan tanda kepemilikannya itu di pundak Renata. Seberkas ciuman yang akan meninggalkan jejak biru di kemudian hari. Bibir Renata terlihat bengkak karna sudah dicium habis-habisan olehnya. Tatapan Alex melembut saat melihat bibir Renata yang seperti itu, dengan sayang di kecupnya pelan bibir itu kemudian mengangkat pandangan ke arah mata Renata yang masih tertindih di bawahnya.
“Melihat bibirmu yang seperti ini karna ulahku, aku tidak akan mengizinkan kau untuk masuk kerja besok.”
Setelah berucap Alex kemudian mengangkat tubuhnya. Merasa tubuhnya sudah bebas dari lingkupan Alex, Renata akhirnya melentingkan tubuhnya kemudian mendudukkan dirinya di sofa, memenangkan diri dengan nafas yang masih berkejaran. Penampilan Renata cukup berantakan saat ini, mulai dari rambut panjangnya yang tak karuan bahkan kemeja yang dikenakan di bagian pundaknya, kini sudah agak longgar karna ditarik paksa oleh Alex saat melakukan ciumannya tadi.
Saat ini Alex sudah berdiri dan tengah menunduk menatap Renata yang duduk di sofa dengan nafas terengah-engah.
“Terimakasih sayang, maafkan aku telah membuatmu seperti ini.” Alex membungkuk, kembali mengelus lembut bibir Renata yang bengkak. Kemudian tanpa diduga Alex kembali mencium singkat bibir Renata. “Ciuman selamat malam. Tidur yang nyenyak semoga kau mimpi indah.” setelah mengucapkan kata-kata perpisahannya Alex kemudian pergi meninggalkan Renata sendirian di dalam rumahnya yang hening itu.
“Alex…. ” Renata memanggilnya saat dilihatnya Alex sudah sampai di ambang pintu. Lelaki itu kemudian membalikan tubuhnya. “Ya…. ”
Renata menatap Alex dan saat dia berucap, wajahnya tampak tersenyum lemah.
“Hati-hati di jalan.” Alex tersenyum penuh arti mendengar perhatiannya. Tanpa membalas ucapannya, Alex hanya melambaikan tangannya, menutup pintunya kemudian pergi meninggalkan Renata seorang diri.
*******
“Kau sudah sampai di kota?” Zidane bertanya di seberang teleponnya.
“Sudah, aku tiba satu jam yang lalu.” jawabnya singkat, merasa bosan saat Zidane bertanya seperti seorang Bos.
“Bagus, apa kau sudah sampai di apartemen?”
Apartemen yang disebut Zidane bukalah milik Ketty, melainkan milik adik perempuan Zidane yang kebetulan saat ini sedang ada di luar negeri karna sedang menemui ibunya dalam waktu lama. Zidane berpikir daripada Ketty menyewa hotel dan mengelontorkan dana lebih, akan lebih baik jika dia menggunakan apartemen milik adiknya yang tak terpenuhi itu bukan? Di satu sisi adiknya pun sepertinya tidak keberatan saat Zidane mengatakan akan meminjam apartemennya untuk dihuni semetara oleh temannya.
“Sudah. Zidane aku lelah aku ingin tidur.”
“Ah, baiklah kau cepat tidur untuk mengisi energimu ,karna besok kau akan melakukan inter____” Zidane seolah teringat akan sesuatu dan dengan cepat memberikan informasinya pada Ketty.
“Ah…. Ya, Ketty. Aku baru ingat, aku mendapatkan informasi dari orang kepercayaanku yang di kantor pusat. Dia mengatakan kau tak perlu melakukan interview, aku tak tau alasannya, tapi aku pikir dia memuluskan jalanmu untuk segara masuk di kantor itu. Kau tentu tidak lupa bahwa orang kepercayaanku di sana adalah orang yang ada di bawah kendaliku. Kau tentu tidak keberatan bukan jika jadwal masuk kerjamu dipercepat?
“Tentunya saja, interview hanya membuang-buang waktu saja. Tanpa melakukan interview pun mereka pasti akan langsung menerimaku begitu melihat bukti pengalamanku yang hebat itu. Kau tentu tak lupa untuk menunjukkan berkas-berkas kehebatanku.” Ketty menjawab pertanyaan Zidane dengan nada sombong dan angkuh.
Zidane tertawa puas mendengar kalimat Ketty yang sombong itu. “Kau bisa tenang, semuanya sudah ku atur dan jika kau berhasil masuk lakukan tugasmu dengan sempurna.”
Setelah mengucapkan pesan persengkongkolannya, Zidane kemudian mematikan sambungan teleponnya.
Saat Zidane sudah menutup teleponnya. Ketty dengan cepat langsung melempar ponselnya itu di ranjang. Jika bukan karna Alex, sebenarnya ketty malas melakukan ini semua, disuruh ini itu seperti kacung oleh Zidane!
Ketty pun membanting tubuhnya di kasur yang empuk itu kemudian merebahkan tubuhnya tengkurap.
Akan lebih baik jika Ketty melakukan hal yang menyenangkan!
Ketty melirik kearah ponselnya yang terbengkalai menyedihkan di ujung ranjang. Dengan malas, Ketty berusaha menggapai ponselnya itu dengan susah payah karna malas bergerak. Setelah ponselnya berhasil diraihnya, ketty pun membuka sosial medianya dan iseng membuka akun sosial media milik Alex untuk melihat foto-foto lelaki itu. Semakin lama ketty mengecek fotonya satu persatu, semakin terpesonalah dia. Di saat itulah timbul rasa obsesi di hati Ketty untuk bisa memiliki Alex.
Memang pantas dia sebut playboy dia sangat tampan. Ketty harus bisa mendapatkan perhatiannya!
Ketty merubah posisi tidurnya dari yang semula tengkurap menjadi terlentang. Malam ini Ketty sudah tidak sabar menunggu hari esok, di mana besok adalah hari pertamanya dia masuk kerja dan tak sabar melihat reaksi Alex saat tahu bahwa dirinyalah yang menjadi sekertaris pribadinya. Membayangkan itu semua pada akhirnya ketty memejamkan matanya dengan senyum licik tersungging di bibirnya.
******
Pagi ini saat Alex baru memasuki ruangan tempat kerjanya yang baru. Alex mengangkat alisnya saat melihat meja dan kursi yang di peruntungan untuk sekretarisnya teryata sudah disiapkan. Tapi bukan itu yang membuat Alex mengangkat alisnya, melainkan karena melihat posisi tempat duduk untuk calon sekretarisnya teryata ada di dalam ruangannya.
Apakah ini pengaturan baru?
Entah kenapa melihat itu semua Alex merasa tak nyaman dan ingin rasanya mengajukan keberatannya.
Ah…itu bisa dibereskan nanti, untuk sekarang Alex lebih antusias dan penasaran dengan sosok calon sekretarisnya yang akan masuk pagi ini.
Alex membanting tubuhnya di kursi kerjanya yang besar dan empuk. Mulai melakukan kegiatannya seperti biasa menjadi laki-laki karir yang mulai fokus bekerja. Saat tengah melakukan pekerjaannya, Alex melirik kearah meja calon sekretarisnya yang masih tak berpenghuni itu. Dalam hatinya, Alex menggerutu untuk calon sekretarisnya yang tidak disiplin itu.
Hari pertama masuk kantor tapi malah tidak datang tepat waktu, calon sekretaris macam apa itu. Lihat saja nanti akan ada peringatan keras untuknya.
*******
Ketty sudah siap berangkat pagi ini. penampilan perempuan itu pagi ini benar-benar cantik. Dengan rambutnya yang curly berwarna pirang dijepit menggunakan jepitan rambut berwarna silver yang indah dipandang mata. Ketty memiliki bola mata yang berwarna hijau cerah menambah kesempurnaan di wajahnya. Ketty hari ini sepertinya sudah niat sekali untuk menggoda Alex, diliat dari pakainya yang serba mencolok dengan mengenakan kemeja warna hitam yang berkerah rendah, rok warna khaki yang pendek dan sepatu heels tinggi, serta kuku runcingnya yang sudah dicat merah. Ketty pun tak lupa menggunakan lipstik warna merah glam yang semakin membuat tampilan Ketty semakin menggoda.
Ketty menatap dirinya dari pantulan cermin dengan ekspresi puas.
Sempurna!
Setelah cukup lama menatap dirinya sendiri, akhirnya Ketty menyambar tas yang ada di atas meja riasnya dan bergegas keluar dari apartemennya.
*****
Wow gedung yang besar dan megah
Itulah kesan pertama saat Ketty turun dari taksi dan menjejakkan kakinya di depan lobby kantor yang terpampang di depannya. Saat Ketty sedang memandang kantor itu dengan tatapan kagum. Seorang petugas keamanan yang berjaga di pos akhirnya datang menghampirinya dan berucap.
“Nona apa yang Anda lakukan di sini? Ada yang bisa saya bantu?”
Ketty memandang sang security dengan pandangan sinis dan meremehkan.
Dasar jelek. Apa dia bodoh? Sudah tentu aku akan bekerja di sini kenapa dia bertanya?
“Aku calon sekertaris di kantor ini.”
Ketty menjawab singkat Pertanyaan sang security, dengan tatapan sinis dari wajahnya yang angkuh.
“Kau sudah datang Ketty, cepat masuk.”
Chris memanggilnya dari pintu lobby.
Chris yang tak lain adalah antek-anteknya Zidane tentunya sudah menunggu kedatangan Ketty.
Begitu mendengar panggilannya, dengan cepat Ketty langsung menghampirinya. Dan saat Ketty hendak berjalan, dia berucap dengan tak sopan berkata kasar ke arah sang Security yang menurut dirinya sangat menganggu itu.
“Minggir! Kau menghalangi jalanku!”
*******
Setelah berkutat lama dengan layar laptopnya pada akhirnya Alex menyelesaikan pekerjaannya. Dia sejenak melirik sekilas ke arah Kursi yang masih kosong. Tanpa bisa ditahan Alex benar-benar tersenyum sinis melihat ketidakdisiplinan calon sekretarisnya itu.
Alex mengalihkan pandangannya, daripada dia terus menatap kursi kosong yang selalu membuat dirinya tiba-tiba merasa kesal. Akan lebih baik Alex menelepon Renata. Sosok yang sekarang telah menjadi kekasih hatinya. Sepagian ini tak melihat Renata, Alex merasa sangat rindu dengan perempuan itu.
Dengan cepat Alex membuka ponselnya dan menekan nomor kesayangannya di sana.
“Kau belum bangun?” Alex bertanya dengan penasaran saat di dengarnya suara gumaman tak jelas dari Renata di seberang teleponnya.
“Hmm iya… aku… aku… hmm huamm”
Alex terkekeh mendengar jawaban Renata yang ngelantur itu.
“Ah baiklah. Aku tak akan menganggu sesi tidurmu Tuan putri. Karna ini adalah libur spesial dari diriku, maka aku izinkan kau untuk tidur sepuasnya.” Alex pun akhirnya mematikan sambungan teleponnya.
Di saat yang sama pintu ruang kerjanya terbuka, menampakkan pemadaman yang tentunya sangat mengejutkan bagi Alex. Bahkan sangking terkejutnya Alex sampai bangkit dari duduknya!
“Kau” ucapnya tak percaya

Love In The Boardroom Bab: 11 Melamar Renata
5 Februari 2025 in Vitamins Blog
“Karna itu, aku ingin merayakan kebahagiaan ini denganmu dengan mengajakmu makan malam. Akan Ada sesuatu yang ingin aku tunjukan nanti padamu.”
“Sesuatu?” Renata membeo.
“Iya, sesuatu yang rahasia, hanya untuk di tunjukan saat kita berkencan nanti.”
Saat dilihatnya Renata hanya diam seolah memikirkan sesuatu yang ditakutinya dan tak merespon ucapannya, Alex dengan cepat memenangkan Renata.
“Jika kau memikirkan aku akan membuatmu kecewa di malam kencan nanti, seperti yang sering aku lakukan dulu pada mantan kekasihku, maka itu salah.”
Renata yang semula menunduk tak mau menatap wajah Alex, kini berubah, menatap lekat wajahnya seolah mencari kebohongan di mata lelaki itu, tapi sayangnya disaat Renata menatapnya hanya kejujuranlah yang terlihat.
“Disaat aku mulai tertarik padamu, disitulah aku tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita lain. Kau percaya padaku bukan?”
Alex masih merengkuh kedua pipi Renata, sengaja untuk mengunci pandangannya, memaksa Renata agar mengetahui ketulusan hatinya.
“Apa kau percaya padaku?” Alex sekali lagi menyakinkan ketulusannya.
Renata menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban.
Melihat Renata telah mempercayainya. Alex kemudian memeluk tubuh Renata erat, dengan mengucapkan janjinya di dalam hatinya.
Percayalah Renata, sesungguhnya aku sudah jatuh cinta padamu, aku akan setia untuk mencintaimu. Berilah aku kesempatan untuk bisa meraih hatimu.
Setelah lama berpelukan Alex akhirnya melepaskan pelukannya, kemudian kembali menatap Renata yang kembali menunduk. Perempuan ini setelah kepulangannya dari tugas bersama Alex, berubah menjadi sosok yang pendiam.
Apa itu karna teman- temannya yang sudah meledeknya tadi pagi?
Sepertinya Alex harus memberi peringatan untuk semua karyawannya agar tidak terlalu ingin tahu urusan orang lain!
“Renata, kependiamanmu itu apa karena ucapannya mereka tadi pagi? Kalau benar kau bisa tenang, aku akan memperingatkan mereka semua!” ucapnya bersungguh sungguh sedikit menahan geram.
“Alex, sebelumnya kau bilang, tidak….tidak masalah jika mereka membicarakan kita. Tapi kenapa sekarang kau ingin memperingatkan mereka semua.”
“Itu karna kau selama di sini menjadi pendiam dan murung dan aku sangat tidak suka itu. Jika kemurunganmu itu karena ucapannya mereka, aku tidak akan senggan untuk memecat mereka semuanya.” ucapnya dengan bersungut-sungut.
Memecat semuanya? wow Tuan direktur! Baru menjabat satengah hari saja sudah arogan seperti ini.
Renata tersenyum geli saat membatin. Dan ekspresi itu tak lepas dari Alex yang masih memperhatikannya.
“Kenapa kau tersenyum, apa kau setuju jika aku memecat semua orang di sini? Jika benar aku akan memecatnya hari ini juga.”
“Alex cukup!” Renata memukul lengannya kencang, hingga Alex mengaduh.
“Aku tersenyum bukan karna setuju dengan perkataanmmu, tapi karna ucapan konyolmu itu.” ucapnya bersungut-sungut, setelahnya Renata kembali berucap.
“Kau bilang kau akan memecat semua orang di kantor, apa kau pikir karyawan di sini berjumlah belasan Tuan direktur?” Renata berucap mengejek. “Jika Tuan direktur melakukan sapu bersih pada semua karyawan di kantor ini yang jumlahnya ratusan, maka Anda akan membuat kantor ini bangkrut dan gedung ini menjadi tak berpenghuni.” Setelah meyelesaikan perkataannya yang bernada mengejek, Renata tertawa lepas.
Alex yang melihat Renata kembali ceria pun ikut senang melihatnya. Kemudian Alex meraih kedua tangan Renata dan kembali berucap hingga membuat Renata yang sedang tertawa menjadi terhenti.
“Aku senang kau tertawa seperti itu, teruslah tertawa dan tersenyum seperti itu Renata.”
Kembali mereka saling berpandangan matanya memaku satu sama lain. Sampai akhirnya Alex merendahkan pandangannya, menatap bibir Renata yang menggoda dengan Refleks, tangan yang sebelumnya memegang Renata, kini beralih meraih dagunya, Renata memejamkan mata saat dilihatnya Alex sudah hampir mendekat kearah bibirnya.
Disaat bibir mereka hampir bersentuhan, tanpa diduga ponsel Renata berdering sangat kencang hingga membuyarkan sesi romantis mereka. Karna kaget, Rencana pun seketika memiringkan tubuhnya untuk meraih ponsel yang ada di meja, karna gerakannya itulah pegangan tangan Alex di dagu Renata terlepas begitu saja.
“Renata kau tidak makan siang? Apa kau sakit?” Adelle bertanya di seberang teleponnya dengan perhatian.
Renata menggaruk tengkuknya pelan, bingung hendak memberi alasan apa untuk menjawab pertanyaan Adelle.
“Halo Renata, kenapa kau diam saja, kau benar-benar sakit?”
“Ah tidak-tidak aku tidak sakit, aku hanya sedang mengerjakan tugas tambahan bersama Bos Alex.”
Astaga apa yang kau ucapkan barusan Renata. Hissh dasar bodoh!
“Tugas tambahan! Astaga Renata berarti sekarang kau sedang berduaan dengan Bos Alex, berarti rumor di kantor memang benar jika kalian sudah jadian!”
“Adelle tolong pelankan suaramu, Bisa tidak.” Renata menghardik Adelle yang terlalu berapi-api saat mengungkapkan keterkejutannya, khawatir jika ada yang menguping di sana.
Merasa keceplosan hingga membuatnya malu, Renata akhirnya mengucapkan kembali janjinya agar sahabatnya itu tenang.
“Nanti setelah pulang kerja aku akan menceritakan semuanya padamu oke.” Setelahnya Renata langsung mematikan sambungan teleponnya, memasukkan ponselnya itu ke dompetnya kemudian kembali menatap Alex berniat meminta izin.
“Alex sepertinya aku harus kembali ke ruanganku.” Kemudian Renata melihat jam tangannya. “Sekarang sudah hampir jam satu siang, waktu makan siang pun sudah mulai habis, jadi aku izin keluar ya?” ucapnya dengan nada memohon.
Disaat Renata sudah berdiri bersiap untuk pergi, dilihatnya Alex hanya bergumam untuk mengizinkannya. Entah kenapa Renata merasa ada sesuatu yang aneh.
Ah tidak. Mungkin ini hanya perasaanmu saja Renata. Ayok cepat pergi dari ruangan ini!
Merasa Alex sudah memberinya izin, Renata akhirnya berhasil melewati Alex yang masih duduk dengan santai di sofa. Lelaki itu entah kenapa menatapnya seperti memperhitungkan situasi. Dengan buru- buru Renata akhirnya berjalan cepat ingin segera keluar dari tempat ini. Merasa Alex sepertinya tidak ada niat untuk mencegahnya, Renata pun menghembuskan nafasnya lega. Disaat langkah Renata sudah hampir mencapai pintu, dan saat Renata hendak memegang gagang pintu, tanpa diduga Alex sudah menyerbunya dari belakang dan mencengkram sikut Renata kemudian membalikkan tubuhnya hingga punggung Renata membentur pintu dengan keras.
“Alex, kau ….kau mau apa.” Renata mendongak menatap Alex dengan ekspresi shock imbas mendapatkan serangan tak terduga. Lelaki itu kini berdiri dekat sekali dengannya menunduk dengan tatapan tajam membuat Renata ciut nyali. Alex benar-benar mendominasinya saat ini, hingga Renata menelan ludah untuk menenangkan diri.
“Aku hanya ingin melanjutkan yang tadi, momen indah yang sempat terganggu oleh temanmu itu.”
Setelah meyelesaikan ucapannya, tanpa permisi Alex Langsung meraih dagu Renata agar mendongak kerahnya. Kemudian menciumnya dengan sedikit kasar. Alex menggigit bibir bawah Renata, hingga membuat tubuh Renata tersentak. Ciuman kasar itu hanya sebentar dan kali ini berubah menjadi ciuman lembut yang mengingatkan saat Alex mencium untuk pertama kalinya di hotel pada saat itu. Renata suka kelembutan, jadi disaat Alex menciumnya seperti ini dengan ritme pelan menghanyutkan, Renata Pun terbawa suasana hingga memejamkan matanya.
********
Selepas pulang dari kantor, Renata akhirnya menempati janjinya pada Adelle untuk menceritakan semua yang sudah dijanjikan.
Sebelumnya Alex hendak mengajaknya pulang bersama, tapi Renata menolaknya karna beralasan ada janji yang sudah dibuat dengan Adelle. Dengan baik hati pun Alex akhirnya memakluminya.
Saat ini mereka berdua sudah ada di kafe yang tempatnya cukup ramai karna disini oleh beberapa orang yang mampir di tempat ini setelah pulang dari kantor.
Renata dan Adele tengah menikmati minuman kesukaannya yaitu es kopi capucino latte, dengan kentang goreng yang gurih dan renyah sebagai teman minum kopi. Disepanjang mereka menikmati itu semua, Renata sudah bercerita panjang lebar mengenai hubungannya dengan Alex.
Renata mempercayai Adelle sahabatnya itu, walaupun agak menyebalkan, tapi dia adalah teman yang baik. Selama Renata sering mencurahkan isi hatinya, Adelle selalu menjadi pendengar yang baik dan tak pernah sekalipun dia membeberkan curhatannya pada orang lain.
“Jadi Alex mengajakmu makan malam dalam waktu dekat untuk merayakan jabatan barunya?” Adelle bertanya untuk memastikan.
“Benar, aku sebelumnya merasa keberatan saat dia mengajakku. Aku sempat takut, membayangkan makan malam itu akan berakhir dengan membuatku sakit dan kecewa. Tapi dia berusaha keras untuk meyakinkan diriku dan berniat tulus dengan hubungan ini.”
“Apa kau mencintainya Renata?”
Renata tak langsung menjawab pertanyaannya. Melihat Renata yang sepertinya bingung dengan isi hatinya, Adelle pun berucap dengan bijaksana.
“Jika di dalam hatimu sebenarnya sudah mencintai Alex, maka kau harus membuktikan bahwa perasaan hatimu itu benar.”
“Dengan menerima ajakan Alex itu, Adelle?”
“Iya, kau harus membuktikan bahwa hatimu tidak salah untuk mencintai Alex. Melihat saat kau mengatakan bahwa Alex telah berubah dan tak pernah menjalin hubungan dengan perempuan lain semenjak dia tertarik padamu, membuktikan bahwa dia benar-benar berubah Renata, kau harus memberi dia kesempatan.”
Setelah mendengar nasehat dari Adelle, Renata termenung lama, hingga kemudian dia menghela nafasnya dalam-dalam.
“Aku akan mengikuti saranmu Adelle.”
“Bagus, aku mendukungmu” ucapnya tulus dengan menghadiahkan senyumannya.
******
“Kau sudah pulang?” Alex bertanya di seberang teleponnya saat Renata dan Adelle baru keluar dari Kafe.
“Belum, aku baru saja keluar dari Kafe bersama Adelle dan baru mau pulang.”
“Aku akan menjemputmu, kebetulan aku sedang ada di luar. Cepat kau bagi lokasimu sekarang.”
“Tapi…” Renata hendak membatah tetapi dia ragu.
“Kenapa, apa kau memikirkan Adelle?”
Alex tertawa di sana.
“Kau bisa tenang, dia akan ikut bersama kita, kau pasti juga tidak akan setuju bukan jika aku hanya membawamu saja, sedangkan sahabatmu ditinggal.”
Renata hanya membalasnya dengan gumaman, dan hal itu semakin membuat Alex ingin segera menemuinya.
“Cepat, bagi lokasimu sekarang aku akan kesana.”
“Apa itu Alex yang menelepon?” Adelle bertanya kearah Renata yang sepertinya sudah selesai berbicara dan mulai sibuk mengetik sesuatu di layar ponselnya
“Benar” ucapannya masih dengan menatap layar ponselnya.
“Alex akan kesini untuk menjemput kita.”
Kali ini Renata sepenuhnya berbicara dengan menatap wajah sahabatnya itu.
“Menjemput kita? Ah…. sepertinya aku tidak akan ikut dengan kalian, aku tak mau menjadi obat nyamuk.”
“Pokoknya kau harus ikut, aku tak mungkin meninggalkan kau disini sendirian, lagi pula arah rumah kitakan searah, jadi gak ada alasan untuk kau menolaknya”
Sebelum Adelle menimpali ucapannya Renata, pandangannya sudah mengarah kesesuatu yang sudah mendekati kearah mereka.
“Astaga dia datang, Adelle menyenggol bahu Renata saat dilihatnya mobil hitam itu sudah berhenti tepat di depan mereka.
Alex keluar dan turun dari mobilnya dan menghampiri mereka berdua.
Alex memakai kaca mata hitamnya dan mengenakan baju turtle neck warna hitam dipadu dengan celana panjang berwarna senada.
Lelaki itu melepaskan kacamatanya saat sudah ada di depan Renata.
berdiri disamping Renata dan melihat Alex tengah menatap sahabatnya, perasaan Adelle mulai tidak enak, karena bagaimanapun dirinya dan Alex pernah menjalin hubungan walaupun hubungan singkat.
Sekilas Alex melihat Adelle yang berdiri serba salah, kemudian saat melihat Renata, perempuan itu teryata sudah menatapnya dengan tatapan menilai. Melihat arti tatapan Renata, Alex hanya tersenyum penuh arti. Dan pada saat Alex hendak berbicara dengan Renata, tanpa diduga Adelle sudah berucap terlebih dulu.
“Renata sepertinya aku tidak bisa ikut dengan kalian. Kau lihat itu, bus sudah tiba, jadi aku akan pulang naik bus saja.”
Saat dilihatnya Adelle hendak berpelukan dengan Renata. Tanpa diduga Alex mengucapkan kata-kata yang membuat baik Renata maupun Adelle kaget.
“Aku minta maaf Adelle, atas perlakuanku padamu waktu itu.” Alex mengingatkan saat acara makan yang berujung Adelle sedih karna sudah diputus sepihak olehnya.
“Kau harus percaya, untuk kali aku tak akan membuat sahabatmu kecawa. Aku sungguh tidak akan membuat Renata sedih.”
“Aku sudah memaafkanmu Bos, buatlah Renata bahagia dan akupun percaya Anda akan serius dengan hubungan ini. Bukan hanya aku, kita semua yang ada di kantor mendukung hubungan kalian. Jadi jangan bikin Renata sakit hati, karna kalau itu terjadi Anda akan menghadapi kita semua.”
Renata terharu saat melihat Adelle berbicara seperti itu, hingga akhirnya diapun memeluk erat tubuh Adelle.
“Terimakasih Adelle, kau memang sahabatku”
“Sama-sama Renata.”
Setelah pelukan mereka terlepas, Adelle menatap wajah Renata dengan ekspresi cerah, dan berucap pelan.
“Melihat kesungguhannya, semoga Alex bisa melamarmu dalam waktu dekat.” setelahnya berucap Adelle pergi menjauh berlari kearah bus yang sudah berhenti di depan halte. Saat di lihatnya Adelle sudah menaiki bus, sahabatnya itu sempat menoleh kearahnya dengan melambaikan tangannya kemudian Adelle masuk kedalamnya dan bus itupun akhirnya berjalan menjauh membawa Adelle hilang dalam pandangannya.
Melihat Adelle sudah menghilang dari jangkauan matanya. Alex meraih tangan Renata.
“Ayo Renata kita pulang, udara disini sudah cukup dingin.” Renata menurut saat Alex mengajaknya untuk memasuki mobilnya.
*******
Di dalam mobil itu, Alex menyetel lagu bernuansa romantis. Mereka berdua saling diam untuk beberapa lama seolah sedang menikmati lagu yang sedang di dengarnya. Hingga akhirnya Alex lah yang memulai lebih dulu untuk mengajak Renata mengobrol.
“Sepertinya aku harus menjaga tuan putri mereka agar tidak sedih. Karna aku tahu resikonya pasti sangat mengerikan.”
Renata menoleh kearah Alex yang masih fokus menyetir. Dia tak mengerti arti dari perkataan Alex.
“Maksudmu? ”
“Iya, aku teringat pesan Adelle untuk hubungan kita, secara tidak langsung dia sudah mengucapkan ancaman terselubung. Sepertinya jabatan direktur yang diemban olehku ini tidak membuat mereka merasa takut.” ucapnya dengan nada bercanda bersamaan dengan kekehanya.
Renata tak membantahnya dia hanya tersenyum tipis, merasa tidak enak hati pada Alex karna tingkah teman-temanya.
“Sebentar lagi sampai.” Renata berucap memberi tahu saat dilihatnya mobil Alex sudah berjalan melewati tugu patung Raksasa, dimana tugu patung tersebut adalah patokan menuju rumah Renata.
Alex sudah pernah mengantarkan Renata pulang pada saat mereka bertugas dari kantor cabang, dan ini adalah kali kedua Alex mengantarnya pulang.
“Apa kau tidak takut tinggal sendirian di rumah Renata. Aku perhatikan komplek rumah ini sangat sepi, seperti tidak ada eksistensi manusia di sekelilingnya”
Alex mulai berbelok menuju jalan yang ukurannya jauh lebih sempit dengan jalan yang sedikit rusak, membuat mobil itu berguncang.
“Tidak, bagiku sepi adalah teman disaat aku sudah pulang dari rutinitas yang melelahkan, rumah adalah tempat berpulang yang sangat menyenangkan.”
“Kau tidak kesepian?”
“Tidak, hidupku sudah sepi sejak lama, aku dibesarkan tanpa kasih sayang dari kedua orang tuaku yang telah berpisah. Hanya kakek dan nenekku lah yang mengasuhku, nenek pernah mengatakan kalau orang tuaku sudah mempunyai keluarga baru di negara anta berantah, karna itulah mereka sepertinya sudah melupakanku hingga sekarang.”
Alex merasa prihatin dengan kisah hidup Renata, yang ternyata mempunyai sedikit kemiripan dengan kehidupan Alex.
“Apakah nenek dan kakekmu masih hidup?” Alex berucap hati-hati, takut Renata tersinggung.
Renata menggelengkan kepalanya kemudian menyeka airnya matanya yang tiba-tiba keluar tanpa bisa ditahan.
“Mereka sudah tiada, walaupun mereka mengasuhku dengan ekonomi yang serba pas pasan mereka adalah orang yang sangat berjasa bagiku, menyekolahkanku sampai ditingkat atas hingga aku bisa kuliah. Semua berkat mereka dan kepergian mereka benar-benar membuatku sepenuhnya hidup sendirian di dunia ini.”
Setelah menyelesaikan ucapannya yang penuh ironi itu, Renata menatap Alex dengan mata basah. Melihat Renata dalam keadaan lemah seperti itu, Alex dengan impulsif mematikan mesin mobilnya kemudian merengkuh tubuh Renata, memeluknya dan menenangkannya. Alex mengucapkan janji di dalam hatinya.
Aku berjanji akan membahagiakanmu Renata
mereka akhirnya berpelukan dalam keheningan yang melingkupinya, hingga akhirnya Alex melepaskan pelukannya,dan melanjutkan perjalanannya.
******
“Aku minta maaf karna ucapanku, kau sedih Renata.” Alex berucap tepat saat mobilnya sudah sampai di depan rumah Renata, Alex menoleh kearah Renata dan berucap lembut.
“Aku akan mengantarkanmu sampai depan pintu.”
“Alex tidak per____” ucapan Renata terhenti saat di lihatnya Alex sudah turun dari mobilnya dan sekarang sudah mengitari hendak membuka pintu mobil arah Renata duduk.
Begitu pintu mobil terbuka dan saat Renata turun, hawa dingin menusuk tulang langsung menerpa wajah Renata. Beruntung saat ini Renata mengenakan mantel panjang jadi dirinya tidak merasakan hawa dingin yang sekarang menerjang tubuhnya.
“Ayo Renata” Alex menggandeng tangannya dan membawanya untuk cepat sampai di teras rumah Renata.
Sesampainya di depan pintu rumah Renata, Alex masih menggenggam erat tangannya, dirinya merasa gugup saat ingin menunjukkan sesuatu yang sudah di belinya saat pulang dari kantor sore tadi. Sesuatu yang akan diberikannya malam ini pada Renata.
Sebelumnya Alex berencana akan memberikan barang ini disaat makan malam mereka, tapi melihat Renata menangis setelah bercerita tentang kehidupannya yang menyedihkan, Alex terdorong untuk menjadi orang yang akan membahagiakan kehidupan Renata dimasa depan.
Alex tiba-tiba berjongkok dengan mengunakan satu lututnya, kemudian tangannya masuk kedalam saku mantelnya mencari barang yang sudah disiapkan untuk diberikan pada sosok yang tengah berdiri di depannya.
Saat jemarinya sudah menemukan sesuatu yang dicarinya, Alex pun menengadahkan kepalanya menatap Renata yang berdiri menunduk menatapnya. Dengan gerakan pelan Alex menunjukkan sesuatu yang membuat ekspresi Renata shock hingga menutup mulutnya karna tak menyangka jika Alex akan melamarnya.
“Renata terimalah lamaranku ini.”

Love In The Boardroom Bab: 10 Alex naik Jabatan
1 Februari 2025 in Vitamins Blog
Suasana kantor pagi ini sedikit berbeda, dimana ada nuansa yang membuat Renata tak nyaman, karna begitu dirinya memasuki kantornya, beberapa dari mereka saling berbisik seperti sedang membicarakan dirinya.
Astaga pemandangan yang tidak mengenakkan!
“Hai Renata selamat datang kembali, aku senang kau bisa hadir kembali disini. Kau tahu kepergianmu dengan Bos Alex, membuat kantor ini sepi.” salah satu dari mereka menyapa Renata untuk berbasa- basi.
Kemudian salah satu dari mereka berucap kembali. “Renata kau tahu, semenjak kepergian dirimu bersama Bos Alex, kami di sini telah melakukan taruhan.” ucapanya sambil terkekeh geli.
Apa, taruhan! Astaga…..
Renata terperangah mendengarnya.
“Memangnya kalian tahuran tentang apa?”
Saat Renata mengajukan pertanyaannya dengan heran. Dan seketika mereka menjawab dengan suara kompak yang bersemangat.
“Kau dan Bos Alex!”
Astaga……
Renata yang mendengarnya melebarkan matanya dengan wajah merona merah.
“Kau tahu, seandainya kau sudah jadian dengan Bos Alex, kalian akan menjadi pasangan yang serasi. Jadi kita mendukung hubungan kalian. Makanya kita bertaruh untuk hal itu.”
“Iya bertaruh, seorang Renata telah jatuh cinta pada bos Alex. Ah tidak-tidak mungkin lebih tepatnya, seorang Bos yang Playboy telah jatuh cinta pada pawangnya.”
Maya yang baru datang, langsung mengucapkan kata-kata dramatis berlebihan itu pada mereka semua.
Kembali, Renata melebarkan matanya, tidak bisa berkata-kata.
“Maya kau!” Renata memelototi kearah Maya, yang hanya direpost kekehan geli saat melihat Renata memelototinya seperti itu.
“Kau tahu Renata, jika kau mejalin hubungan dengan Bos Alex. Semua orang di kantor ini seperti menyetujuinya. Benar begitu teman-teman?” Maya bertanya kearah temannya. Saat mereka semua mengagukan kepalanya sebagai jawaban, senyum di wajah Maya semakin puas.
“Kau liat Renata.”
Ya ampun kenapa ….Kenapa mereka semua seperti ini. Kabur Renata lebih kau kabur!
“Ah sepertinya aku….aku harus pergi dari sini.”
Merasa seperti dipojokan Renata akhirnya memilih melarikan diri.
******
Saat sudah sampai di koridor tempat yang menghubungkan ke ruang kerjanya itu terlihat sepi. Renata menghembuskan nafasnya dengan kasar, aksi mereka tadi benar-benar membuatnya tak berdaya tidak bisa untuk mengelaknya, pipi Renata bersemu merah saat mengingat ucapan teman-temannya itu. Karena terlalu fokus dengan isi pikirnya sendiri, saat hendak berbelok tanpa diduga dia berpapasan dengan Adelle. Adelle yang melihatnya langsung menyapanya dengan histeris hingga membuat Renata kaget.
“Astaga, Renata Kau…kau sudah pulang!” Adella berjalan cepat kearah Renata kemudian saat mereka sudah dekat, Adelle langsung memeluknya. Dua sahabat itupun saling berpelukan beberapa saat untuk mengobati rasa rindunya. Setelahnya Adelle melepaskan pelukannya kemudian menatap Renata lekat-Lekat.
“Kenapa kau memandangku seperti itu, itu membuatku tak nyaman paham!” Renata mengangkat alisnya dan berucap galak merasa risih dengan tatapan itu.
“Ada yang berubah.”
“Hah! Berubah ,apanya yang berubah?” ucapnya tak mengerti.
“wajahmu berubah, setelah pergi bertugas bersama si Bos wajahmu berubah jadi berseri-seri.” Adelle berucap renyah, sengaja menggoda Renata yang langsung pipinya memerah karna godaannya.
“Astaga apa ini.” Adelle terkejut saat matanya melihat ada bekas hitam kecil di ujung bibir Renata yang mulai pudar.
“Bukan apa-apa ini hanya bekas luka sariawan.” Renata berucap cepat demi menutupi rasa malunya.
Semua gara-gara Alex! Issh bagaimana caraku mengelaknya.
“Orang bodoh mana yang mempercayai jika itu luka sariawan. kalau aku perhatikan sepertinya itu luka ciuman, astaga ciuman! Kalau benar, siapa yang telah menciummu Renata.” Seolah itu belum mengejutkan untuk Adelle. Kembali sahabatnya itu mengeluarkan ekspresi terperangah dan dan hal itu tentunya membuat Renata semakin malu.
“Astaga Renata! Apakah Bos Alex yang telah menciummu?”
Renata mati kutu mendengar pertayaan Adelle.
Astaga bagaimana ini…..
“Nanti aku akan ceritakan padamu oke. Aku…. aku pergi dulu dah.” Setelah melambaikan tangan, Renata segera kabur meninggalkan Adelle.
Huhh!! Benar-benar pagi yang buruk.
Tenang Renata tenang, semua pasti akan kembali normal. Yah, ya itu pasti.
********
Di dalam ruang kerjanya, Alex tengah fokus menatap layar laptopnya memindai hasil laporannya seperti biasa. Tiba-tiba ada pesan masuk, saat Alex melihat pesan tersebut teryata pesan itu dari Bos besar Adam yang menyuruhnya untuk masuk ke ruang kerjanya.
Dengan patuh Alex pun mengiyakannya, kemudian bangkit dari kursinya untuk menemui Bos besarnya itu.
Di dalam perjalanannya, Alex berjalan cepat hingga menciptakan gema di sepanjang koridor saat suara sepatu Alex bersentuhan dengan lantai marmer yang diinjaknya. Koridor itu sepi karna pagi ini semua pegawainya tengah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Saat Alex berjalan melewati ruangan tempat Renata berkerja, dirinya menyempatkan untuk melihat sebentar keadaan di dalamnya.
Dia ingin melihat Renata.
Saat Alex sudah sampai di depan pintu, dirinya menyempatkan diri untuk melongok yang pintunya sudah terbuka separuh.
senyuman itu muncul saat dilihatnya seluruh anak buahnya tengah fokus menatap layar laptopnya masing-masing, tidak menyadari kehadirannya, bahkan Renata yang ada diposisi pojok paling belakang pun tak menyadarinya, tapi itu hanya sebentar. Disaat Alex tengah menatapnya lekat, tiba-tiba Renata mengangkat pandangannya hingga mata mereka saling bertemu.
Astaga Alex, apa yang kau lakukan di situ.
Seolah mengerti arti tatapan Renata,
Alex pun tersenyum manis dengan melambaikan tangan kemudian menutup pintunya kembali.
******
“Kau tentu tahu bukan alasannya aku memanggilmu?” Adam bertanya kearah Alex yang saat ini sudah sampai di ruang kerjanya tengah duduk dengan tenang menghadap Bos besarnya itu.
“Tahu Tuan, anda hendak menanyakan data hasil penjualan di kantor cabang bukan?”
“Yah, kurang lebihnya seperti itu. Tapi aku memanggilmu kesini bukan fokus untuk menanyakan hal itu, karna kau dan aku pun sudah tahu hasilnya bukan? Jadi alasan aku memanggilmu untuk memberikan janjiku padamu.”
Alex mengangkat kepalanya dan menatap matanya Bos besarnya itu. Saat dilihatnya Adam tersenyum, Alex merasakan rasa antusias yang menggebu- gebu di dalam hatinya.
“Yah, Alex melihat kemampuanmu yang hebat itu, sepertinya jabatan manager yang selama ini melekat pada dirimu harus digugurkan hari ini. Karna itulah mulai hari ini kau, aku angkat menjadi Direktur di perusahaan ini. Bagaimana apakah kau puas dengan jabatan baru ini?”
Rasa bahagia tak bisa disembunyikan dari wajah Alex yang mempesona, dirinya bahagia. Disaat hubungannya dengan Renata semakin dekat , sekarang dia mendapatkan jabatan baru. Hal ini tentunya membuat Alex merasa senang luar biasa.
Bahagia Alex merasa sangat bahagia!
Adam yang memperhatikan ekspresi Alex memakluminya. Karna baginya, siapa pun orang yang telah mendapatkan jabatan baru itu pasti akan merasa senang bukan?
Adam berdehem, sengaja guna menyadarkannya yang langsung disadari oleh Alex, dengan cepat Alex kemudian menjawab pertanyaan Bosnya itu.
“Saya sangat berterima kasih dengan jabatan baru ini Tuan, dan saya puas. Saya akan mengemban tugas baru ini dengan baik.”
“Bagus aku percaya pada kinerjamu, mulai besok kau sudah memulai mengemban tugas barumu. Mengenai sekertaris, pihak HRD sudah menemukan calon untukmu, selama menunggu itu kau bisa menghandle sementara pekerjaanmu sendiri.”
Adam kemudian bangkit berdiri dengan diikuti oleh Alex yang ikut berdiri. Kemudian Bosnya itu mengulurkan tangan, mengajaknya untuk bersalaman yang langsung disambut oleh Alex.
“Selamat atas jabatan barumu ini Alex dan selamat bertugas.” ucapnya dengan nada bangga.
******
Di tempat yang berbeda aurah Zidane berubah murka saat mendengar bahwa Alex telah menjabat menjadi direktur baru di kantornya. kabar itu dia dapatkan dari salah satu teman akrabnya yang berkerja di kantor pusat di bagian HRD.
Sialan kenapa nasib Alex selalu mujur! Dirinya sudah menjabat menjadi manager dikantor ini selama sepuluh tahun lamanya tapi tidak pernah sekalipun dirinya mendapatkan promosi jabatan, ini benar-benar tidak adil!
Zidane menggebrak meja kerjanya dengan keras hingga membuat meja tersebut bergeser.
Dia harus punya cara untuk menghancurkan karir lelaki itu. Yah, Ketty perempuan itu adalah kandidat yang pantas untuk menghancurkan karir Alex!
Dengan cepat Alex meraih ponselnya yang ada disaku celananya, kemudian dia mencari nomor Ketty. Didering ketiga saat dia meneleponnya, Ketty baru mengangkat panggilannya.
“Lamaran kerjamu yang kukirim kemarin susah terbaca oleh Pihak HRD. Aku meminta waktu pada mereka untuk mempersingkat jadwal pemanggilanmu. Jadi, dalam waktu dekat kau bisa melakukan interview. Mengerti?”
Zidane berucap cepat.
Ketty mengerutkan keningnya saat melihat gaya bicara Zidane yang penuh dengan kepercayaan diri, karena tak tahan Ketty pun mengkonfrontasinya
“Apa kau mengunakan kuasamu di sana sehingga bisa melakukannya dengan mudah?”
Zidane tersenyum licik.
“Bisa dibilang seperti itu. Aku mempunyai seseorang yang bisa aku setir di sana, jadi kau bisa tenang ok. Segara setelah ini, kau harus bersiap-siap karna dua hari lagi kau akan masuk ke dalam kantor itu.
Seolah teringat sesuatu Ketty langsung mengajukan pertanyaannya.
“Zidane jika aku sudah berhasil masuk, lantas aku akan menjabat sebagai apa? Kau tahu bukan selama ini aku hanya bisa bekerja di bidang sekertaris. Aku tidak mau jika harus menjadi karyawan rendahan.”
Zidane yang mendengarnya tak tahan untuk tak terbahak-bahak di seberang teleponnya.
“Kenapa kau tertawa, itu tidak lucu!”
“Kau bisa tenang Ketty, karna sebentar lagi kau akan menjadi sekertaris untuk calon Bos barumu disana.”
“Bos baru, apa maksudmu?”
Kembali Zidane tertawa mendengar perkataan Ketty. Kali ini disaat dirinya berucap, matanya berkilat dengan rencana jahat yang sudah disusunnya.
“Kau tahu, hari ini Alex baru saja mendapatkan jabatan baru di sana. Mr Adam sudah memberikan jabatan direktur untuknya. Untuk posisi sebagai sekretaris, Alex masih kosong, maka dari itu aku telah mengajukan namamu untuk mengisi kekosongan itu____ jika sudah seperti itu, langkahmu untuk mendekati Alex dan misi kita untuk menghancurkan Alex akan berjalan mulus bukan?” ucapnya memberikan bom kejutannya pada Ketty.
********
Jam makan siang telah tiba, dimana seluruh karyawan sudah mulai meninggalkan tempat kerjanya masing-masing hendak menuju kantin guna mengisi perutnya.
“Renata kau tidak makan?” Maya yang hendak keluar menuju kantin menyapa ke arah Renata yang sepertinya enggan untuk keluar.
“Aku malas ke kantin Maya, aku belum lapar.”
ucapannya memberi alasan.
“Kau mau aku bawakan makanan?”
“Tidak, aku…… masih ada stok makanan ringan di laci.”
“Ok kalau kau tak memesan apapun, aku pergi dulu.” setelah mendapatkan anggukan dari Renata, Maya kemudian pergi meninggalkan Renata seorang diri yang masih duduk sendirian di ruangan tersebut.
Entah Kenapa siang ini Renata malas keluar, mungkin karna kejadian tadi pagi saat teman-temannya itu membicarakan tentang hubungannya dengan Alex, membuatnya enggan untuk berbaur dengan mereka.
Saat tengah sibuk dengan pikirannya sendiri. ponselnya tiba-tiba berdering menandakan ada panggilan masuk, Renata Pun meraih ponselnya dan membaca nama yang tertera di sana.
Alex?
“Renata kau bisa keruangku ada yang ingin aku bicarakan padamu, sekalian kita makan siang bersama. Aku ingin merayakan kebahagian ini denganmu.”
“Merayakan apa?” ucapnya tak mengerti.
“Merayakan sesuatu yang pastinya akan membuatmu ikut senang. Maka dari itu cepatlah kemari, agar mengetahuinya maksud dari ucapanku, bagaimana?
Hening
Karna Renata tak langsung menjawab pertanyaannya, Alex pun berucap dengan sengaja.
“Atau kau ingin aku yang kesana untuk menjemputmu?” ucapnya menawarkan diri.
” Ti….tidak perlu, aku yang akan ke sana.” ucapnya buru-buru.
Alex terkekeh di sebrang teleponnya.
” Baiklah, cepat kesini.”
********
“Kau kenapa, kau terlihat kurang berselera, apa menu makan siang ini kurang enak?”
Renata menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Alex yang perhatian itu.
Renata saat ini tengah menikmati menu makan siangnya di sofa diruangan kerja Alex.
“Tidak, aku hanya kepikiran tentang ucapkan mereka. kau tau, saat tadi pagi aku baru masuk kantor, semua orang membicarakan kita selama ada di kantor cabang, bahkan mereka mengatakan telah melakukan taruhan untuk hubungan kita, apa itu tidak gila?”
Alex yang mendengarnya langsung tertawa.
Kemudian tanpa diduga Alex menyumpalkan sebutir buah anggur ke mulut Renata, hingga membuat ekspresi Renata tampak lucu.
“Mereka tidak gila, mereka hanya senang karna aku sudah menaklukan perempuan paling Jutek di kantor ini.”
“Hentikan Alex itu tidak lucu.”ucapnya dengan bersungut-sungut.
Alex kembali tertawa, sungguh mendengar Renata memanggil namanya seperti tadi, dirinya merasakan suasana hatinya menjadi luar biasa baik.
“Asal kau tahu Renata, aku sangat bahagia saat semua orang membicarakan tentang kita, selagi itu dirimu aku tidak mempermasalahkannya, lagi pula bukankah semua orang disini juga mendukung hubungan kita? Jadi kau tak usah terlalu memikirkan hal yang tidak terlalu penting.”
Alex meraih bahu Renata dan menghadapkan Renata ke arahnya, sehingga mata mereka saling menatap satu sama lain.
“Kau, selama memasuki ruangan ini bersikap pendiam, sedikit pemarah dan sedikit jutex. Sikapmu yang seperti itu mengingatkanku saat kau masih membenciku”
Alex kemudian merapikan rambut panjang Renata yang sedikit berantakan di pelipisnya dan menyelipkan di belakang telinganya.
“Tapi dari awal aku selalu tertarik jika itu menyangkut dirimu. Saat waktu kau masih membenciku atau disaat hubungan kita lebih dekat seperti sekarang, aku sangat menyukainya, bahkan saat kau merajuk seperti tadi, itu membuatku gemas hingga rasanya ingin sekali mencium bibirmu yang mengerucut mengemaskan itu.”
“Cukup Alex, jangan membahas ciuman aku tidak mau! Sebenarnya kau memanggilku kesini untuk membicarakan apa? dan perayaan apa yang akan kau rayakan.” Renata merasa kesal saat Alex dari tadi berbicara dengan bertele-tele hingga tak tahan untuk langsung mengkonfrontasinya.
“Ah baiklah nona pemarah aku akan bicara singkat.”
Alex tiba-tiba menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Renata kemudian menatap lekat-lekat kearah Renata. “Sekarang aku mempunyai jabatan baru, kau tahu, Bos besar Adam melimpahkan jabatan direktur untukku.”
Begitu mendengarnya Renata melebarkan mata dan menatap Alex seolah tak percaya.
“Direktur”
“Iya” Alex tersenyum kemudian tangannya tanpa bisa ditahan menyentuh pipi Renata lembut.
“Karna itu aku ingin merayakan kebahagiaan ini denganmu, dengan mengajakmu makan malam, akan Ada sesuatu yang ingin aku tunjukan padamu nanti.”

Love In The Boardroom Bab: 9 Musuh Dalam Selimut
28 Januari 2025 in Vitamins Blog
Setelah kepergian Alex dari ruangannya, tanpa diduga Zidane mengeluarkan seringaian liciknya. Ya, semenjak kedatangan Alex di tempat ini selama dua hari terakhir, semua orang di kantor selalu memujinya dari semua sisi, membanding- bandingkan kinerja antara dirinya dengan Alex. Apalagi saat data penjualan hari ini melesat naik, membuat mereka semakin memuji Alex setinggi langit. Bukan hanya itu, mereka bahkan tak luput membandingkan fisik dirinya dengan Alex.
“Tuan Alex paket komplit. Murah senyum, aktif berkerja, cerdas lagi, tak seperti Tuan Zidane yang hanya duduk manis tidak pernah mengunjungi anak buahnya disaat penjualan ada masalah.”
“Dan satu lagi Tuan Alex sangat tampan tidak seperti Tuan Zidane yang tampangnya biasa-biasa saja.”
Zidane yang saat itu tengah berjalan memasuki ruang kerjanya, tak sengaja mencuri dengar saat mereka, anak buahnya sedang membicarakan dirinya dengan kekehan mengejek.
Hal itu tentunya membuat Zidane merasa geram dan terbakar rasa cemburu sosial yang melingkupinya. Karena merasa iri terhadap Alex, Zidane pun akhirnya membuat rencana untuk menghancurkan reputasinya dengan membawa Alex di klub malam itu setelah rapat dadakan selesai. Tapi sayang perempuan itu, Ketty membuat hal yang membuat rencananya berantakan. Ketty yang bodoh itu terlalu terpesona dengan Alex hingga disaat dia melihat Alex, dia langsung menciumnya hingga membuat Alex sadar dan semua rencana yang sudah disusun oleh Zidane hancur berantakan.
Sebelumnya Zidane berencana akan membuat Alex mabuk berat di klub itu dan ketty perempuan suruhannya akan berkerja untuk menghabiskan malam itu bersama Alex, memfoto Alex dalam keadaan memalukan bersama Ketty dan tugas Zidane adalah menyebarkan foto itu menjadi aib bagi Alex di kantornya.
Rencana itu pasti saat memuaskan bagi Zidane jika berhasil, tapi sayang semua rencana menjadi hancur berantakan karna ulah Ketty. tapi Zidane tidak kehabisan akal untuk membuat persengkokolan baru dengan Ketty. Setelah dirinya dan Alex meninggalkan klub pada waktu itu, Zidane dengan cepat memberikan akun sosial media Alex, bahkan nomor ponselnya pada Ketty. Zidane berpesan pada Ketty, setelah dirinya mengantarkan Alex pulang. Dia mengatakan untuk membuat alasan agar Ketty mempunyai bahan untuk membenci Alex. Dan pada saat Alex melontarkan kata ‘menjijikan’. Saat itulah Ketty mengunakan alasannya itu untuk membenci Alex.
Dirinya jugalah yang menyuruh Ketty agar melamar pekerjaan di kantor ini. Jika sudah seperti itu mana mungkin Zidane akan berkoordinasi dengan pihak HRD untuk mencegah Ketty agar tidak lulus interview?
*********
“Kau sepertinya sibuk sekali” saat Alex memasuki ruangannya langsung menyapa Renata yang tengah menatap layar laptopnya. Renata tersenyum begitu mendengar suara Alex, kemudian dia berdiri, hendak mengambilkan air minum untuk Alex.
“Kau mau kemana?”
“Mengambil air untukmu Bos___ upss maksudku kau Alex.” Renata segera mengoreksi ucapannya sendiri. Alex yang melihatnya hanya terkekeh tanpa menanggapinya.
“Terimakasih” Alex berucap saat Renata sudah di depannya dan memberikan segelas air putih di tangannya.
“Kau tadi membahas tentang apa dengan Tuan Zidane?”
“Hmm hanya masalah kecil, tak terlalu penting juga untuk dibahas.” Alex engan untuk bercerita pada Renata, karena dia berpikir, disaat ini dirinya sedang mendekati Renata seperti sekarang, Alex tidak mungkin membahas perempuan yang sudah menciumnya bukan? Disisi lain Renata pun tak memaksa agar Alex bercerita. Oleh karena itu Renata pun akhirnya menanyakan hal yang lainnya.
“Alex, untuk masalah tugas kita bagaimana? Aku sudah rindu dengan para sahabatku disana. Aku disini terlalu kikuk, area ini benar-benar asing.” Renata mengungkapkan ketidaknyamanannya itu dengan gamblang.
Seperti sebuah keberuntungan, disaat Renata mengakhiri ucapannya. Ponsel Alex berdering dan saat Alex menatap layar ponselnya, tertera nama Bos besar Adam yang memanggilnya. Dengan semangat Alex langsung mengangkat panggilan tersebut. Saat Bos besarnya itu berbicara, pandangan Alex fokus kearah Renata yang sama-sama menatap dengan rasa antusias.
“Alex, kau memang tidak pernah mengecewakan, aku puas dengan kinerjamu selama disana, sekarang penjualan produk kita di kantor cabang sudah stabil tidak ada lagi di angka penurunan seperti sebelumnya.”
“Akupun ikut senang Tuan, jika perusahaan kita sudah kembali normal.”
Alex menyahuti dari ponselnya.
“Berhubung keadaan dikantor cabang sudah kembali normal, kau bisa kembali pulang sore ini dan kembali bertugas di kantor pusat. Kau ingatkan pada Zidane dan timnya itu untuk mengingat strategi yang sudah kau gunakan selama disana.” pungkasnya.
“Baik tuan.” Alex menjawab pasti.
“Bagus, aku tunggu kedatanganmu di Kantor.” ucapnya kemudian dan menutup panggilan teleponnya.
Renata yang sejak tadi mendengar Alex berbicara, tak sabar untuk langsung mendengar kabar berita tesebut dengan semangat.
“Bagaimana?”
“Hmm sepertinya kita tidak jadi pulang hari ini.” Alex sengaja berbohong untuk mengoda Renata.
“Kenapa bisa seperti itu tadi saat kau berbicara, sepertinya sangat bahagia sekali.” Renata menyuarakan ketidakpercayaan dengan bersungut-sungut. Alex terkekeh melihat Renata marah. Karena gemas, tanpa bisa ditahan Alex merengkuh pinggang Renata dan menariknya kedepan hingga posisi mereka saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Panggul Alex bersandar di meja dengan tangan merengkuh pinggang Renata yang sedang menunduk menatapnya.
“Aku hanya bercanda.” Alex tersenyum saat Renata yang sedang menunduk menatapnya terlihat binar bahagia di matanya.
“Puas?” ucapnya menambahkan. Seperti terhipnotis Renata pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Melihat Renata yang seolah terpaku dengan dirinya. Tangan yang sebelumnya merengkuh pinggang Renata kini beralih memegang kepalanya kemudian menariknya mendekat kearah bibirnya. Alex ingin menciumnya.
Saat dilihatnya Renata tidak menolak akan dicium olehnya, Alex dengan cepat langsung menyambar bibir Renata, menciumnya dengan penuh kasih sayang. Renata memejamkan matanya saat dirasa tangan Alex membelai pipinya lembut, mengelusnya memainkan semua keahliannya dalam berciuman bersama Renata. Ciuman itu berlangsung lama, menegelamkan Renata dalam buaian ciuman Alex yang menghanyutkan.
Semakin lama mereka berciuman intensitas ciuman Alex semakin dalam dan sedikit kasar.
Merasa nafasnya mulai tersengal, dengan putus asa Renata memukul punggung Alex yang masih terus menciumnya seperti ini.
“A__alex” ucapnya tersengal. Menyadari suaranya dan tubuh Renata yang sepertinya sudah lemas, terlihat dari beban tubuhnya sekarang sepenuhnya condong di dadanya, Alex pun langsung melepaskan pertautan bibir mereka dan benar saja disaat ciuman itu terlepas, tubuh Renata langsung oleng kedepan dengan sigap Alex langsung meraihnya kemudian memeluknya, Renata tak menolak karna merasa pelukannya itu adalah sandarannya. Nafas Renata terengah dengan mata terpejam.
Dirinya tidak menyangka Alex akan menciumnya seperti ini. Sungguh sangat berkebalikan dimalam sebelumnya dimana saat Alex menciumnya penuh dengan kelembutan walaupun dalam keadaan mabuk.
Disisi lain Alex memeluk tubuh Renata dan menepuk punggungnya pelan, menetralkan nafasnya yang menderu akibatnya ciuman brutalnya pada Renata. Alex lepas kendali….
Setelah lama berpelukan dalam keheningan yang mendamaikan. Alex pun melepaskan pelukannya kemudian mendorong pelan tubuh Renata ke depan, kemudian Alex menyentuh dagu Renata mengangkat wajahnya agar pandangan mata mereka saling bertemu, Alex tersenyum meminta maaf.
“Maafkan aku, aku lepas kendali.” tangan Alex kini beralih menyentuh bibir bawah Renata yang sedikit bengkak yang meninggalkan memar kecil di ujung bibirnya. Renata meringis karna sentuhan Alex.
“Apa rasanya sakit?” Alex berucap lembut penuh perhatian.
“Se__sedikit.” ucapy terbata, imbas ciuman yang sebelumnya membuatnya tersengal seperti ini.
“Aku akan mengobati memar di bibirmu.” Dengan perhatian Alex membawa Renata di sofa yang ada di ruangan kerjanya kemudian mendudukkan disana. Setelahnya dengan cepat, Alex berjalan kearah meja kerjanya, membuka lacinya saat sudah menemukan sesuatu yang di carinya, Alex dengan cepat langsung kembali menghampiri dan mendudukan dirinya di samping Renata.
“Kita akan pulang Sore ini, jadi aku akan mengobati memarmu oke, kau tidak mau bukan jika hari permata kerjamu di sana menjadi bahan candaan oleh sahabatmu itu.” Alex berucap lembut kearah Renata sambil mengoleskan krim bening yang terasa sejuk itu di bibirnya.
Renata tersenyum lembut melihat perlakuan lembut Alex. Lelaki itu sangat telaten dalam mengoleskan krim di kulitnya , berusaha berhati-hati takut akan menyakiti Renata.
“Alex” Renata memanggil Alex yang tengah fokus mengoleskan krim di bibirnya.
Alex tersenyum saat pandangan mata mereka bertemu.
“Kenapa, apa rasanya sakit?”
“Tidak, aku, aku hanya ingin mengucapkan terimakasih padamu.”
Alex mengulas senyum kemudian berucap dengan lembut.
“Maafkan aku juga, karna perbuatanku kau terluka.” ucapnya sambil mengelus pipi Renata lembut.
*******
Di ruangan berbeda Zidane tengah menjalankan rencana barunya. Sebelumnya Zidane menyuruh Ketty untuk melamar pekerjaan di kantor ini, tapi begitu mendengar bahwa Alex akan kembali ke kantor pusat hari ini, Zidane mengubah strateginya.
Dengan Cepat dia mengambil ponselnya dan menelepon Ketty.
“Ketty, sepertinya kau tidak bisa melamar pekerjaan di sini.” ucapnya tanpa basa basi.
“Kenapa bisa begitu, memangnya ada masalah apa Zidane.”
“Alex akan pulang sore ini dan akan kembali bertugas di kantor pusat, apa yang akan kau lakukan jika kau melamar pekerjaan disini, sedangkan tujuanmu adalah Alex bukan?”
“Tapi bagaimana caranya agar aku bisa menjangkau Alex di sana?”
“Tenang, aku akan membantumu agar bisa masuk ke sana. Dan saat kau berhasil masuk lakukan tujuanmu yakni, mendekati Alex. Kau tahu Alex adalah lelaki playboy jika kau terus mendekatinya, lelaki itu pasti akan tertarik padamu.”
“Apa dia sudah punya kekasih?” Ketty bertanya penasaran di seberang telefonnya.
“Aku tidak tahu, bahkan saat Alex membawa perempuannya itu di kantor ini, aku tak bisa menebak apakah dia kekasihnya atau selingkuhannya.” Zidane menjawab singkat sambil lalu.
“Segera setelah Alex pergi meninggalkan kantor ini, aku akan mengurusmu dengan cepat.”
*******
Sore ini Alex dan Renata sudah ada di dalam mobilnya dalam perjalanan pulang menuju rumahnya. Tugas mereka di kantor cabang sudah selesai. Alex merasa tugasnya kali ini bersama Renata benar-benar membuatnya bahagia. karna tugas ini, hubungannya dengan Renata sudah berjalan cukup menyenangkan. Alex berniat akan mengungkapkan perasaannya pada Renata dalam waktu dekat.
Alex melirik kearah Renata dan tersenyum simpul saat di liatnya perempuan itu sudah jatuh tertidur.
Alex kemudian menatap kedepan dan kembali fokus menyetir. Disaat keheningan yang melingkupinya, Alex mengerutkan keningnya saat teringat pesan dari rekan satu kantornya yang mengatakan bahwa dirinya harus berhati-hati dengan Zidane.
“Tuan Alex sepertinya untuk sekarang Anda harus berhati-hati dengan Tuan Zidane, dia sepertinya tidak punya naik baik untuk Anda.”

Love In The Boardroom Bab: 8 Calon Penganggu
26 Januari 2025 in Vitamins Blog
Alex mengangkat alis saat hendak membuka sosial medianya itu tiba_tiba saja ada pesan masuk yang terpampang disana.
Karna penasaran, Alex pun membuka pesan itu dengan cepat, dan setelah melihat foto tersebut ekspresi Alex berubah gelap.
Ya, itu adalah pesan berisi foto tentang dirinya saat dicium oleh Ketty saat di Klub semalam. Dimasa lalu mungkin saat Alex mendapatkan foto semacam itu, dirinya tak mau ambil pusing. Tapi untuk saat ini begitu melihat foto dirinya dicium oleh wanita asing, Alex merasa jijik dan marah. Alex mengalihkan pandangannya menatap sosok yang sekarang sedang tidur membelakanginya.
Semua karna Renata, semenjak dirinya berniat mendekati perempuan itu, rasa tertarik dia untuk melirik perempuan lain berlahan hilang musnah.
Alex tersenyum saat sedang memandang Renata tertidur membelakanginya seperti itu. Dirinya berniat akan mengutarakan isi hatinya pada perempuan itu. Tapi nanti, Alex menunggu momen yang tepat untuk semua itu. Alex kembali menatap ponselnya itu dengan ekspresi dingin dan tak lama kemudian pesan baru muncul disana.
Aku senang bisa bertemu denganmu di klub. Maafkan aku sudah menciummu tanpa izin. Semoga kita bertemu di lain waktu.
Alex mengetatkan geraham membaca pesan Ketty. Walaupun difoto profil itu Ketty menggunakan foto sexy yang menggoda, dan terlihat masih online.
Alex tidak sudi untuk membalas chat tersebut atau bahkan berbuat lebih jauh seperti mengecek fotonya satu persatu.
Alex mengabaikan pesan Ketty, kemudian dia mencari kontak Zidane, berniat untuk mengirim pesan kepadanya.
******
“Selamat pagi” Alex menyapa Renata di detik perempuan itu membuka matanya. Alex saatnya ini sudah berpakaian rapi dan juga wangi. Aroma maskulin dari parfum musk bercampur citrus menguar dari tubuh Alex saat lelaki itu duduk di sampingnya menatap Renata yang baru bangun tidur dengan senyuman manis.
Astaga…..
Renata langsung terbangun mendudukkan diri saat melihat Alex sudah ada di sampingnya.
“Bos Anda, sudah mau berangkat kerja? astaga jam berapa ini, apa aku terlambat? dan astaga kenapa aku, aku tidur di ranjang?” Renata bertanya ke arah Alex dengan panik bercampur bingung.
Alex terkekeh melihat kebingungan Renata, karena tak tahan, dirinya pun melabuhkan tangannya untuk menyentuh pipi Renata lembut. Renata terpaku saat Alex menyentuh pipinya seperti ini.
“Kau belum terlambat, ini masih jam tujuh pagi dan aku yang membawamu ke ranjang ini.”
“Ti_ tidur di sini dengan Anda?” Renata berucap terbata. Alex tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Tidak, kau tidur seorang diri di ranjang ini, dan aku yang tidur di sofa.”
Renata membelalakkan mata tak percaya. Astaga……
Kembali Alex mengelus pipi Renata,
“Ya, semalam tidak terjadi apa- apa jadi kau bisa tenang.”
Renata menatap lekat ke arah Alex.
dia bilang semalem tidak terjadi apa-apa. Lantas ciuman semalam apa Alex tidak mengingatnya?
Alex tersenyum melihat pemikiran hati Renata dan dia mengerti apa arti dari tatapan Renata itu.
“Aku tidak melupakan ciuman kita semalam Renata, dan semua yang aku ucapkan semalam ada kejujuran.”
Setelahnya, tanpa permisi Alex mencium bibir Renata singkat.
kemudian dia bangkit berdiri dan menatap Renata yang masih duduk di atas ranjang dengan keadaan kusut masai.
“Segera, kau bersihkan diri kemudian kita sarapan, lalu kita berangkat ke kantor bersama. Aku akan keluar sejenak.”
Setelahnya Alex bergegas pergi meninggalkan Renata seorang diri.
Renata masih terpaku saat kepergian Alex, ciuman selamat pagi ini benar-benar membuat Renata bodoh, hingga membuatnya susah mencerna ucapan Alex. Setelah lama termenung, akhirnya Renata tersadar dan kemudian dia turun dari ranjang dan bersiap- siap untuk berangkat ke kantornya.
*******
Saat ini Renata sudah mandi sudah rapi dan cantik, sekarang Renata tengah menunggu pelayan hotel datang ke kamarnya guna mengantarkan sarapannya. Selama menunggu, dirinya menghabiskan waktu untuk melihat pemandangan dari kaca hotel yang hordengnya sudah dibuka keseluruhan.
Renata sudah mengenakan pakaian kerjanya seperti biasa dengan memakai Kemeja putih panjang, berkerah tali yang dikaitkan di lehernya dan juga rok span hitam selutut yang dibagian belakangnya terdapat belahan, juga sepatu heels hitam yang sudah dikenakan.
Setelah lama tenggelam dalam melihat pemandangan dari jendela hotel, tak lama kemudian pelayan tiba dengan membawa kereta dorong berisi menu sarapan pagi dan disusul Kedatangan Alex di belakangnya.
Saat pelayanan sudah keluar dari kamar hotel, menu sarapan sudah tertata rapi di atas meja. Ada berbagai jenis sarapan pagi ini mulai dari scarambled eggs, roti panggang isi selai kacang, hash brown, pancake dan juga sereal, ditambah satu cangkir kopi dan segelas Jus buah.
Alex yang sudah duduk dan menatap sajian yang terpampang di depannya, menolehkan pandangan ke arah Renata yang masih berdiri di depan jendela kamar hotel yang lebar itu.
“Renata, ayo kita sarapan bersama.” ucapnya ringan, setelah mendengar ajakannya, Renata menurut kemudian berjalan mendekat ke arah tempat Alex duduk dan setelahnya mereka sarapan bersama makan dengan tenang.
“Selama kita hanya berdua, aku ingin kau meninggalkan sikap formal padaku. Aku ingin kau memanggilku dengan namaku tanpa ada embel-embel Bos di belakangnya.” Alex memulai percakapannya dengan Renata yang tengah fokus menyantap makanan terakhirnya.
Renata yang sudah menandaskan makanannya kemudian meraih gelas berisi jus buah yang terlihat sangat menyegarkan dan meminumnya. Setelahnya dirinya menatap Alex.
“Sepertinya akan sedikit canggung jika aku memanggilnya dengan sebutan nama saja.” Renata berusaha tak setuju dengan permintaan Alex.
“Kenapa bisa begitu, aku orang yang menyuruhmu, jadi bukan masalah bagiku. Jadi hilangkan sifat canggungmu padaku. Apa kau lupa kejadian semalam tentang kita?” Alex sengaja mengingatkan kejadian saat mereka berciuman semalam. Renata yang mengingatnya seketika wajahnya merah padam saat mengingat ciuman itu. Karna merasa gugup Renata akhirnya bersungut-sungut saat menjawabnya.
“Baiklah- baiklah, Alex.”
“Coba sekali lagi” Alex sengaja mengoda Renata dengan nada menjengkelkan.
Renata yang melihatnya tak tahan untuk memutar bola matanya dengan konyol.
“Iya, Alex.” Begitu mendengar Renata memanggil namanya tuk kedua kalinya, hati Alex membuncah bahagia.
“Aku suka, suaramu saat memanggilku terdengar sangat sexy.” ucapnya merayu,
saat dilihatnya Renata sudah selesai dengan sarapannya Alex, bertanya basa-basi.
“Apa kau sudah selesai sarapan Renata?” “Sudah” Jawabnya singkat. Setelah mendengar Jawaban Renata, Kemudian Alex meraih tangannya berniat mengandenganya.
“Ayo kita berangkat, saat aku di luar. Bos besar Adam meneleponku, beliau mengatakan jika tugas kita disini berhasil sebelum tiga hari, kita bisa pulang hari ini.” Setelah memberikan informasinya mereka berdua akhirnya keluar dari kamar hotel dan berangkat menuju kantornya.
********
Hari kedua Alex bertugas di kantor cabang. Omset penjualan produk parfume di tempat ini mengalami perubahan signifikan. Arahan Alex di rapat sebelumnya teryata benar-benar didengarkan mereka, terbukti dengan hasil yang sekarang terlihat membuktikan bahwa mereka telah berkerja dengan serius. Saat ini Alex tengah melihat data itu dan tersenyum kagum melihat kinerja tim pemasaran yang ada di sini. Renata yang ada di sampingnya berucap dengan nada berbisik.
“Selamat Bos, Anda sepertinya sudah
berhasil.”
“Hmmm” Alex bergumam.
“Jika sudah seperti ini kemungkinan kita tidak menunggu pulang sampai tiga hari bukan?”
Renata mengajukan pertanyaan. Disaat Alex hendak menjawab pertanyaan Renata,
Zidane memasuki ruangannya dan memanggilnya
“Alex, kita harus berbicara kau bisa keruanganku? “
Zidane berucap cepat kearah Alex yang saat ini duduk menatap layar laptopnya dengan di temani Renata yang berdiri disampingnya.
Zidane terpaku menatap kearah Renata.
Perempuan yang cantik
Alex yang melihat Zidane menatap Renata dengan tatapan terpesona pun akhirnya berdehem keras secara sengaja.
Zidane yang mengartikan maksud dari deheman Alex itupun memahaminya.
“Cepat kau susul aku” ucapnya dengan cepat dan langsung menutup ruangan tersebut.
Alex yang melihat Zidane sudah pergi hanya tersenyum penuh arti. Setelahnya dia melirik ke arah Renata.
“Apa kau mau ikut?” tanyanya menggoda,
Renata mengelengkan kepalanya sebagai jawabannya.
Alex menunduk sambil tersenyum, kemudian mencuri ciumannya disaat Renata lengah.
“Sampai jumpa, kau bekerja dengan baik di sini ok.”
ucapnya sambil pergi meninggalkan Renata seorang diri. Seperti kebiasaan, disaat Alex pergi setelah menciumnya seperti tadi, Renata mendadak bodoh, seakan ciuman Alex telah menghipnotisnya.
*******
“Ada apa, apakah ini tentang perempuan itu?” begitu Alex sudah sampai di ruangan Zidane,dia langsung mengajukan pertanyaannya.
Zidane menjabat sebagai manager sama seperti Alex.bedanya hanya Alex ditugaskan di kantor pusat sedangkan Zidane ada di kantor cabang.
“Benar, kau harus liat, perempuan itu teryata dia sudah melamar pekerjaan di kantor hari ini, kau harus lihat CV ini Alex.”
Begitu mendengarnya Alex langsung menghampiri meja kerja Zidane dan saat melihatnya, wajahnya berubah geram.
“Kau usahakan berkoordinasi dengan pihak HRD agar perempuan itu disaat melakukan interview tidak bisa lolos untuk masuk ke dalam kantor ini. Aku menduga perempuan itu sepertinya memiliki tujuan lain dalam mancari pekerjaannya.”

Love In The Boardroom Bab: 7 Pengakuan Alex
23 Januari 2025 in Vitamins Blog
Malam ini Alex pulang terlambat karena terhalang ajakan rekan kerjanya. Sebelumnya, begitu rapat dadakan itu selesai, Alex berencana langsung pulang ke hotelnya. Tapi tidak sangkanya Zidane mengajaknya untuk mendatangi klub langganannya. Karena merasa tidak enak hati untuk menolak ajakan rekan kerjanya itu. Alex akhirnya menerima ajakan tersebut.
Saat ini mereka berdua tengah duduk di kursi tinggi di depan meja bar yang mewah dan menikmati minuman berbuih berwarna gold. Mereka berdua berbincang- bincang cukup lama, membicarakan hal-hal random dari mulai pekerjaan, karir, hobby, bahkan urusan wanita. Walaupun Alex sudah menghabiskan beberapa gelas minuman beralkohol yang telah masuk kedalam kerongkongannya dan sedikit mabuk, lelaki itu tetap mengajak Zidane berbicara.
“Klub ini cukup bagus, apa kau sering datang kesini?” Alex bertanya ke arah Zidane yang tengah menyesap minumannya.
“Sering, aku bahkan seminggu tiga kali mendatangi tempat ini.”
“Bersama wanita?” ucapnya ingin tahu.
Zidane yang mendengarnya langsung tertawa.
“Tentunya, kau pikir aku lajang kesepian.”
Alex terkekeh mendengarnya.
“Kau tentu sama denganku bukan, sering mendatangi tempat seperti ini bersama pasanganmu.?” Kali ini Zidane yang bertanya ke arah Alex. Sebagai jawabnya Alex hanya bergumam, enggan untuk mengatakan ‘iya’.
“Berbicara mengenai pasangan, apakah wanita yang kau ajak dari kantor pusat itu adalah kekasihmu?” Zidane menatap kearah Alex yang sepertinya sudah sedikit mabuk.
“Hmm, bisa dibilang seperti itu.” Jawabannya sambil lalu. Disaat Zidane hendak melanjutkan percakapannya, tiba-tiba seorang wanita cantik datang menghampiri mereka berdua.
“Hai, aku boleh bergabung?” ucap sang wanita. Wanita itu cantik, dengan rambut curly berwarna pirang, mata yang berwarna hijau cerah serta tubuhnya yang tinggi semampai.
Alex yang mendengar sosok yang menginterupsi pembicaraan mereka, akhirnya menatap wanita tersebut.
Disaat dia memandang wajah perempuan itu, tak disangkanya terpampang wajah Renata disana.
Astaga, kenapa disini….?
Ketty, sang wanita berambut curly itu salah memahaminya. Dia berpikir jika sosok yang di depannya ini sudah terpesona. Dengan tanpa tahu malu, Ketty langsung merangkulkan lengannya itu dipundak Alex. Dan tanpa diduga Ketty memanggil salah satu temannya untuk memfoto dirinya bersama Alex. Dengan kurang ajarnya, bahkan Ketty mencium bibir Alex. Pas di adegan itu, terjepretlah foto yang sempurna. Hingga saat mata Alex terkena sinar flash dari ponsel orang yang telah memfotonya. Kesadarannya terbangun, kemudian dengan muak dia mendorong tubuh Ketty menjauh.
“Menjauh dariku, kau sangat menjijikkan.”
Setelah meluapkan kemarahannya Alex langsung melirik tajam kearah Zidane.
“Sepertinya kita harus pergi dari tempat ini, aku tidak sudi jika tubuhku di dikerubuti perempuan macam dia.”
Alex sedikit terhuyung saat hendak turun dari kursi tinggi yang berada di dalam bar, dengan sigap Zidane menghampiri Alex.
“Kau sepertinya sudah mabuk.”
Zidane kemudian memapah Alex untuk pergi meninggalkan dari bar tersebut.
Sepanjang mereka berdua pergi meninggalkan bar dan keluar dari klub. Ketty memandangnya dengan sinis ke arah mereka, terutama Alex. Dirinya sakit hati saat Alex menyebutnya ‘menjijikkan’.
Senyuman puas keluar saat Sean mendekatinya dan menunjukkan hasil fotonya.
“Foto yang sangat bagus.”
“Apa yang akan kau lakukan dengan foto itu?” Sean, teman Ketty orang yang telah memfotonya bertanya penasaran.
Sebagai jawabannya, Ketty hanya tersenyum licik.
********
Kosong, apa dia tidak pulang malam ini?
Setelah Renata membatin, tak lama kemudian pintu kamar terbuka dan memperlihatkan sosok Alex yang muncul diambang pintu, Renata menelan ludahnya saat melihat Alex berjalan mendekat ke arahnya. Sungguh diposisi seperti ini, Renata bingung harus melakukan apa.
Saat Alex sudah berdiri dekat dengannya, lelaki itu menundukkan kepalanya menatap wajah Renata yang mendongak kearahnya. Sungguh pandangan Alex malam ini terasa berbeda, hingga membuat bulu kuduknya bergidik.
Alex menatap wajahnya dengan intens, matanya memindai semua yang terpampang di wajah Renata. Perempuan yang cantik, mempunyai garis wajah sedikit tegas, bola mata yang jernih, bulu mata yang lentik dan bibir yang indah.
Mata Alex terpaku saat pandangannya terhenti tepat di bibir Renata yang sedikit terbuka. Tanpa bisa ditahan, Alex akhirnya membungkukkan tubuhnya dan menyentuh dagu Renata, menariknya ke atas agar bisa dijangkau oleh bibirnya. Renata mulai panik saat bibir mereka hampir bersentuhan. Sebelum Alex memulai ciumannya, lelaki itu berucap mendesis.
“Kau tahu, seharian ini aku selalu kepikiran tentang dirimu hingga membuatku hampir gila.”
Renata yang mendengarnya seketika tubuhnya bergetar panik, bahkan tak sadar kukunya kini mencengkram di kain selimut.
Setelah mengutarakan rasa frustasinya, Alex tanpa permisi membuka mulutnya dan mulai mencium bibir Renata dengan lembut. Lelaki itu sepertinya sedang mabuk, karna dirasakannya saat bibir Alex menyentuh bibi Renata, tercium aroma alkohol manis yang sangat kuat.
Alex mencium dengan penuh kelembutan, menangkup sebelah pipinya dan membelainya lembut. Beruntung disaat Alex mabuk seperti ini, dirinya tidak menciumnya secara brutal. Karna perlakuan lembut Alex yang seperti itu, Renata terbawa suasana, hingga memejamkan matanya dan secara tidak sadar tangan yang sebelumnya mencengkram kain selimut, kini beralih mencengkram kuat kemeja Alex hingga membuat keseimbangan Alex goyah. Tubuh Alex roboh kedepan dan menimpa tubuh Renata yang ada di bawahnya, beruntung disaat tubuhnya hampir menabrak dada Renata, Alex dengan sigap langsung menggunakan kedua lengannya untuk menjaga beban tubuhnya agar tidak menimpa Renata sepenuhnya.
Alex membuka matanya dan melepaskan pertautan bibir mereka, Alex tersenyum saat melihat kondisi Renata yang tertindih di bawahnya, wajah perempuan itu bersemu merah dan rambutnya sedikit berantakan, nafas mereka saling berkejaran imbas ciuman yang baru saja mereka lakukan.
“Kau, disaat dalam kondisi acak-acakan seperti ini terlihat sangat cantik.” Alex mendaratkan jemarinya di pelipis Renata yang berkeringat dan menyelipkan rambutnya di belakang telinganya.
“Kau tahu Renata, semenjak aku mulai tertarik padamu, sejak saat itulah aku mulai berhenti berkencan dengan wanita lain. Kau wanita pertama yang mampu mengganggu pikiranku, disaat aku memandang gadis lain, hanya bayangan wajahmu yang selalu terngiang-ngiang di kepalaku ini.”
Alex terus meracau mengutarakan isi hatinya tanpa sadar semenjak memasuki kamar. Mendengar semua itu dan melihat bagimana Alex mengucapakannya dengan jujur walaupun dalam keadaan mabuk, membuatnya sedikit terharu. Ekspresi Renata melembut saat menatap wajah Alex yang penuh rasa frustasi.
Lelaki ini walaupun dalam keadaan mabuk, tetap tidak meninggalkan gurat ketampanan yang kharismatik. Dengan reflek, tangan Renata terulur untuk menyentuh rahang Alex yang tegas dan membelainya lembut.
Setelah meluapkan semua isi hatinya, mata Alex terasa berat, dan tiba-tiba saja memeluk tubuh Renata dan kepalanya rebah di dadanya.
Dia…. Pingsan?
Renata mengangkat kepalanya dengan susah payah untuk memastikannya, dan saat di liatnya Alex sudah tak sadarkan diri, Renata panik. Karna kondisi Alex yang pingsan dalam posisi menindihnya seperti ini, otomatis beban tubuh Alex sepenuhnya menimpa Renata yang terjebak di bawahnya.
Berat sekali bagaimana ini….
Karna posisi Renata masih rebah di samping ranjang dengan kaki menjuntai. Renata mengalami kesulitan saat hendak memindahkan tubuh Alex yang menimpanya. Dengan terpaksa, Renata akhirnya menggunakan kekuatan penuh untuk menggulingkan tubuh Alex kesamping, dan usahanya berhasil. Setelah tubuhnya bebas, Renata seketika melentingkan tubuhnya kemudian berdiri. Melihat Alex yang pingsang dengan posisi tidur tidak karuan, Renata akhirnya berniat membetulkan posisi tidur Alex. Pertama, Renata menarik tubuh Alex dengan susah payah supaya tidur lurus dengan kepala mengarah di kepala ranjang. Setelah berhasil, dia kemudian merapikan kaki Alex agar sejajar kemudian melepaskan sepatunya.
Renata menatap wajah Alex yang pingsan, kemudian dia mengerutkan kening saat melihat kancing kemeja yang dikenakan Alex saat ini tampak sesak di dada lelaki itu jika diliat dari kondisinya sekarang. Dengan impulsif, Renata mendaratkan jemarinya untuk membuka beberapa kancing kemeja yang dikenakan oleh Alex. Dia berpikir akan sangat nyaman jika Alex tidur dengan kondisi kemeja terbuka seperti itu. Setelah melepaskan kancing kemejanya, kemudian Renata menarik selimut untuk menutupi tubuh Alex sampai ke dada.
Huhh sangat melelahkan!
Setelah membereskan Alex, Renata menyeka keringat yang muncul di pelipisnya menggunakan tangannya. Dia tidak menduga, aksi ciumannya tadi akan berakhir seperti ini.
Bekerja keras
Mengingat ciuman, otomatis tangan Renata menyentuh bibirnya sendiri yang masih tertinggal jejak aroma manis dari Alex.
Renata melirik dan menatap kearah Alex yang tertidur pulas. Dirinya tidak marah saat Alex menciumnya seperti tadi. Apakah dirinya sudah mulai jatuh cinta?
Renata mengerjapkan matanya, kemudian mengalihkan pandangannya dari Alex. kemudian dia melirik ke arah kamar mandi dan tergoda untuk mandi air hangat. Mata Renata kemudian beralih menatap sekilas kearah Alex yang tertidur dengan pulas, kemudian beralih lagi ke arah sofa yang ada di sudut ruangan.
Hmmm tidur di sofa sepertinya tidak terlalu buruk. Tanpa pikir panjang, Renata kemudian mengambil bantal di ranjang tempatnya tidur dan membawanya di Sofa. Yah, dia malam ini akan tidur di sofa!
Setelah dirasa semua sudah beres, Renata akhirnya menuju ke dalam kamar mandinya untuk membersihkan diri. Setelah mandi dan mengunakan piyama yang dibawanya dari rumah. Renata akhirnya merebahkan diri di sofa yang sangat empuk itu. Tanpa menunggu lama Renata akhirnya jatuh tertidur dengan lelap.
*******
Sentuhan itu lembut seperti bulu yang menari- nari di atas pipinya. Renata ingin membuka matanya dan mencekal sesuatu yang mengganggunya itu, tapi, rasa ngantuk masih menguasainya. Sehingga dengan kesal Renata menutupi wajahnya dengan bantal.
Alex yang sengaja menggoda pipi Renata saat dia tidur, tersenyum jahil saat melihat Renata menutupi wajahnya dengan bantal. Karna gemas, Alex tanpa peringatan langsung membungkukkan tubuhnya, kemudian meraup tubuh Renata yang meringkuk di atas Sofa.
Suara erangan langsung terlontar dari mulut Renata saat tubuhnya sudah ada dalam gendongan Alex. Sebelum Renata terbangun sepenuhnya, tubuhnya sudah dibaringkan di atas ranjang. Kemudian Alex menatap lekat kearah Renata yang matanya masih berkabut.
“Maafkan aku, semalam aku mabuk, kau terpaksa tidur di sofa itu.” Alex mengucapkan permintaan maafnya dengan tulus. Renata yang masih mengantuk, tidak menanggapinya. Perempuan itu malahan menguap kemudian memiringkan tubuhnya mencari posisi ternyaman, setelahnya Renata memejamkan matanya. Alex hanya tersenyum melihatnya, kemudian dirinya menarik selimut untuk menutupi tubuh Renata.
Alex kemudian bangkit berdiri, lelaki itu sudah mandi dan kini masih mengenakan jubah mandinya yang berwarna putih. Dia melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul lima pagi. Masih ada waktu tiga jam lagi untuk Alex bisa berangkat ke kantornya. Alex kemudian berjalan ke arah nakas ranjang dan meraih ponselnya. Setelahnya dia berjalan kearah sofa dan membanting tubuhnya disana. Dia hendak membuka sosial medianya. Tetapi, disaat Alex hendak membuka pola ponselnya. Tiba-tiba ada pesan masuk. Alex mengangkat alisnya saat melihat pesan yang tiba-tiba muncul dan terpampang disana.
Menulis adegan romance itu memang tidak gampang bagi pemula sepertiku,
Selama ini selalu disajikan bacaan romance yang selalu bikin baper. Didorong karna aku suka genre romance,
akhirnya secara impulsif membuat cerita sendiri, dan bisa menuangkan ide romantisku versi ku sendiri kedalam tulisanku. Teryata menulis adegan romance itu gambang- gampang susah, belum lagi disaat fokus nulis ada momen yang bikin ketawa merasa geli dengan tulisan sendiri. Menulis di part ini benar-benar memakan waktu berhari-hari untuk menuntaskannya.
#CurhatDepanLaptopCukekCukekMata

Love In The Boardroom Bab 6: Memutuskan Untuk Tidak Membenci
20 Januari 2025 in Vitamins Blog
“Aku minta maaf, semalam aku tidak bermaksud mengatakan itu pada Anda.” Renata berucap dengan canggung ke arah Alex yang sedang fokus menyetir. Saat ini mereka tengah berada di dalam mobil hendak menuju kantor cabang yang akan mereka datangi. Begitu mendengar ucapannya, Alex menoleh ke arah Renata dan saat pandangan mereka bertemu, dengan cepat Renata langsung mengalihkan pandangan matanya karena tak tahan dengan tatapan mata Alex yang tajam. Alex tersenyum melihat reaksi Renata yang seperti itu. Kemudian menjawab pertanyaannya dengan santai.
“Aku sudah memaafkanmu, jauh sebelum kau meminta maaf.”
Renata mebelalakan mata, heran dan kembali menolehkan kepalanya ke arah Alex yang sedang fokus menyetir.
“Bos tidak tersinggung ataupun marah?”
“Tidak. Kau tahu Renata, apapun yang berhubungan denganmu aku menyukainya dan tak keberatan untuk memaafkannya. Kau membawa warna baru bagiku, hingga rasanya sangat menyenangkan.” Alex berucap terus terang dengan ekspresi cerah.
Renata yang mendengarnya kemudian menundukkan kepala dan memainkan tangannya yang saling berjalinan dipangkuannya. Sungguh,
berinteraksi dengn Alex sedekat ini benar-benar membuatnya tidak nyaman. Apalagi saat memujinya seperti itu Renata benar-benar tidak kuat!
Melihat Renata bersikap canggung terhadapnya, serta sibuk dengan pemikirannya sendiri. Alex ahkirnya memutuskan untuk mencairkan suasana dengan mengajaknya mengobrol.
“Apa sudah kau obati luka memarmu?”
Renata melebarkan matanya.
Astaga kenapa dia lupa.
“Be….belum.” Renata terbata karena terkejut bahwa Alex akan mengingat salep itu, yang Renata sendiri tidak tahu keberadaannya.
Alex tersenyum melihat jawaban Renata yang sedikit kaget itu.
“Tidak masalah kau bisa gunakan salep itu di lain waktu.”
“Terimakasih” ucapnya malu-malu.
Alex melirik sekilas kearah Renata, melihat perempuan di sampingnya bersikap pemalu serta mendadak menjadi pendiam seperti ini, entah kenapa Alex merasa gemas, hingga rasanya ingin sekali menangkup pipinya dan mencium bibirnya.
Astaga…. apa yang dia pikirkan.
Alex langsung berdehem guna menenangkan imajinasinya yang liar. Kemudian dirinya kembali fokus menyetir. Saat diliatnya tempat yang akan mereka datangi sudah terlihat, Alex menoleh ke arah Renata.
“Sebentar lagi kita akan segera sampai, apa kau sudah siap?” sebagai jawabannya, Renata pun menganggukkan kepalanya.
******
Begitu sampai di Kantor cabang, Alex di sambut oleh beberapa staff yang sudah menunggu di area lobby kantor. Setelah mereka bertatap muka, berjabat tangan dan bercakap-cakap sejenak disana, salah satu dari mereka akhirnya mempersilahkan Alex dan Renata untuk masuk kedalam dan memulai meeting.
Mereka semua akhirnya masuk kedalam dengan diikuti oleh beberapa staff divisi pemasaran yang ada di kantor cabang, guna mengikuti meeting pagi yang akan dipimpin oleh Alex.
Selama meeting itu berlangsung, Alex sangat kompeten dalam memberi arahannya. Melaksanakan strateginya, melakukan analisis pelaporan dampak dari semua aktivitas pemasaran, dan lain sebagai. Pembawaan Alex saat ini benar-benar sangat memukau dan kharismatik. Dengan penampilan sempurna dan berdiri di depan banyak orang seperti ini, Alex benar-benar seperti sosok CEO muda yang sering muncul di layar televisi. Hingga disaat meeting itu selesai, seluruh anggota yang ada di ruangan itu langsung berjabat tangan dengan aura sumringah kearah Alex. Mereka merasa kedatangan Alex disini akan membawa dampak yang positif.
Renata yang melihat itu semua tak tahan untuk tersenyum kagum melihat kemampuan Alex. Untuk pertama kalinya, dia terpesona dengan Bosnya itu dan mengakui kehebatannya. Disaat dia sedang menatapnya dengan penuh kekaguman. Alex, tiba-tiba mengalihkan pandangannya dan pandangan mereka bertemu hingga membuat Renata salah tingkah.
Alex tersenyum melihat ekspresi Renata yang wajahnya bersemu merah. Sekilas Alex mengedarkan pandangannya di ruang meeting yang mulai sepi itu karna sebagian dari mereka yang mengikuti sudah keluar terlebih dulu sejak meeting selesai. Didorong karena ekspresi Renata yang seperti itu, Alex merasa gemas, hingga akhirnya menghampiri kearah Renata untuk menggodanya.
“Kau sangat manis jika tersenyum seperti itu.” Alex berucap sambil berjalan mendekat ke arah Renata yang menunduk dan berdiri serba salah disana.
Begitu sampai tepat dihadapan Renata, Alex langsung berucap yang membuat Renata semakin salah tingkah. “Sering-seringlah kau tersenyum seperti itu, kau terlihat sangat cantik.” Alex melontarkan pujiannya hingga membuat seluruh tubuh Renata meremang.
Astaga bagaimana ini…..
Kemudian Alex melanjutkan ucapannya
“Kalau boleh jujur, semenjak insiden aku menabrak kau di kantor kemaren, kau berubah Renata. Kau sekarang menjadi perempuan yang pemalu dan selalu gugup saat aku mendekatimu.”
Astaga. Benar! Kenapa dia berubah menjadi seperti ini. Mana Renata yang dulu, yang selalu jutek, dan suka marah- marah pada saat menatap orang ini?
Renata mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri, tetapi malahan kebingungan karna tak menemukan jawabannya. Setelah lama berpikir, dia akhirnya menemukan ide yang cukup logis untuk bisa dipahami oleh Alex sebagai jawabanya. Renata menengadahkan kepalanya menatap mata coklat gelap Alex yang indah.
“Aku berubah karna aku berpikir sepertinya kurang etis jika seorang anak buah berbuat kurang sopan terhadap atasannya.”
“Walaupun aku Bos yang playboy?” Alex menekankan kata playboy untuk mengingatkan ingatan Renata.
“Ya, walaupun anda seorang Bos yang playboy, aku tidak berhak untuk membenci serta menghakimi sifat anda yang seperti itu, mungkin pada waktu itu aku terlalu konyol karna membenci anda, dan lagi……..”
Renata sengaja menjeda ucapannya.
“Kenapa berhenti, ayo lanjutkan.” Alex berucap tak sabar.
Renata tersenyum penuh arti, kemudian dia menatap Bosnya itu dengan wajah cerah. “Bisa dibilang rasa benciku sudah hilang.”
“Kenapa bisa begitu?” Alex bertanya kembali dengan penasaran. Renata kembali terkekeh.
“Saat Anda menelponku kemaren malam dan aku tak sengaja berkata kasar, entah kenapa aku malah merasa puas, dan sedikit lega.”
Begitu mendengarnya, Alex langsung teringat saat Renata mengumpatnya di seberang teleponnya.
“diam bodoh, hentikan ucapan konyolmu itu. Aku sudah muak!”
Alex tersenyum simpul sambil memandang wajah Renata.
“Oh… Jadi karna alasan itu? Tidak masalah, akupun senang jika makianmu itu membuat kau tidak membenciku lagi.”
ucapannya sambil terkekeh.
Tiba-tiba Alex mengulurkan Tangannya kearah Renata berniat untuk bersalaman.
“Karna kau sudah tidak membenciku lagi, berjabat tangan sepertinya sangat bagus untuk hubungan pertemanan kita.”
Renata tak lansung bersalaman, melainkan sibuk berpikir. Merasa tangannya diabaikan, Alex memanggilnya kembali.
“Hei… Kau mau tidak bersalaman.”
Renata terperanjat, kemudian tak lama dirinya menyambut tangan Alex dan mereka akhirnya bersalaman.
“Karna kau sudah tak membenciku lagi dan aku suka jawaban kau yang jujur itu. Sebagai hadiahnya, ayo aku akan mentraktirmu makan siang.”
Tanpa diduga, tangan Renata yang sudah terlepas setelah bersalaman, kini diraih lagi oleh Alex dan menggandengnya kemudian mengajaknya keluar dari ruang meeting.
*******
“Enak?” Alex bertanya pada Renata yang makan dengan lahap di depannya.
Saat ini mereka tengah menyantap makan siangnya di restoran yang berada tak jauh dari kantor cabang tempat Alex bertugas.
“Hmm enak sekali, baru kali ini aku makan steak sapi seenak ini.” Renata berucap jujur. Dan lucunya Renata berbicara dengan pipi mengembung karna mulutnya penuh makanan, hingga Alex yang melihatnya tak tahan untuk tertawa.
“Jika kau mau, aku ingin memesannya kembali saat kau pulang kerja nanti, kau bisa makan sepuasnya nanti di hotel, bagimana?”
“Tidak perlu Bos, saya cukup puas makan disini.” Renata menjawab pasti, sambil mengunyah makanannya.
Seolah teringat sesuatu, Alex melanjutkan pembicaraannya.
“Mengenai hotel. Teryata tuan Adam cukup pelit untuk memesan dua hotel.”
Renata yang mendengarnya langsung melebarkan matanya.
“Jadi maksud Bos kita akan tinggal bersama dalam satu hotel?”
Alex meringis melihat keterkejutan Renata.
“Benar, akupun tak tahu kenapa Bos besar kita memesan satu hotel, aku berpikir beliau akan memesan dua. Berhubung aku sudah memberitahunya bahwa rekan yang aku ajak adalah seorang wanita.Tapi tidak disangkanya akan seperti ini.”
Mendengar penjelasan Alex. Membuat selera makan Renata yang sebelumnya Lahap kini berubah hambar. Alex yang melihat ekspresi Renata yang dilanda kebingungan akhirnya memberikan solusinya.
“Kau boleh tenang. Walaupun kita nanti tinggal dalam satu hotel. Aku berjanji tidak akan tidur satu ranjang denganmu.”
Renata yang mendengarnya, langsung mengangkat alisnya menatap curiga ke arah Alex.
“Lantas Bos akan tidur dimana?” Mendapatkan tatapan seperti itu, membuat Alex kembali terkekeh. Sungguh, berinteraksi dengan Renata teryata sangat menyenangkan.
Perempuan lain mungkin akan bahagia saat mendapat kesempatan bisa tinggal satu hotel dengannya. Tapi, perempuan ini malah meresponnya dengan tatapan seperti sedang menatap seorang pencuri jemuran.
“Kau boleh tenang, aku bisa tidur di sofa”
“Sofa?” Renata mengulangi ucapan Alex karna terkejut. Kemudian menatap intens ke arah Alex dan mengerutkan keningnya.
Mempunyai tubuh tinggi dengan kaki yang panjang apa muat kalau Bosnya ini tidur di sofa? Pasti sangat tidak mengenakan bukan? Kalau dirinya yang meringkuk di sofa, pasti sangat pas karna mempunyai postur tubuh yang mungil.
“Apa tidak masalah jika Bos tidur di sofa kar___” ucapan Renata terhenti, saat Alex secara mengejutkan mengulurkan tangannya dan menangkup pipinya hingga membuat jantung Renata hampir lepas karna kaget.
Astaga!…..
Saat Alex sedang menyentuh pipinya seperti ini. Renata tidak bisa berbuat apa-apa, hanya diam karna terlalu shock dengan gerakan Alex yang tiba-tiba.
“Aku tidak masalah jika harus tidur di sofa, jadi kau boleh tenang dan__” Tangan Alex kemudian beralih ke arah dahi Renata, memainkan telunjuknya di sana.
“Hilangkan kerutan di dahimu ini, kau terlihat jelek jika sedang mengerutkan kening seperti tadi.” ucapnya sambil tersenyum.
Mendengar Alex berkata seperti itu dan ditatap sedekat ini bahkan membelai pipinya, bagaimana Renata tidak salah tingkah?
Astaga apa ini yang dulu pernah dirasakan Adelle, saat Alex menjadi sosok yang romantis, seketika sahabatnya itu menjadi bodoh? Apa sekarang dirinya sudah bodoh seperti Adelle. Astaga!
Melihat Renata sibuk dengan pemikirannya sendiri, Alex tak tahan untuk tak mencubit pipinya pelan.
“Hei kau kenapa, kau terlihat gelisah?”
Renata seketika dilanda kepanikan saat Alex kembali menyentuh pipinya. Mendengar pertanyaan Alex, Renata bingung hendak menjawab apa, hingga akhirnya dirinya bangkit dari duduknya, berniat melarikan diri dari suasana yang sangat mencekik itu.
“Maaf Bos, saya harus ke toilet.” Setelah mengucapkan alasannya, Renata lansung lari terbirit-birit meninggalkan Alex seorang diri.
*******
Begitu sampai di ruang toilet, Renata langsung masuk di bilik kamar toilet dan membanting pintu dengan kasar, kemudian dirinya bersandar di pintu, memejamkan matanya dan menarik nafas dalam- dalam. Renata ingin memenangkan diri
Perlakuan Alex tadi benar-benar mengejutkan hingga rasanya jantung Renata hampir lepas. Setelah lama memejamkan mata, Renata akhirnya membuka matanya kembali, kemudian keluar dari bilik toilet dan melangkah menuju ke arah wastafel. Renata ingin mencuci muka, mungkin dengan melakukan itu, bisa menghilangkan kegugupan yang menjajahnya saat ini.
*******
Malam ini Renata sudah sampai di hotel lebih dulu. Alex belum pulang dari kantornya karna ada meeting mendadak yang perlu dibereskan disana. Semula Renata ingin bergabung dalam meeting itu, tetapi Alex melarangnya, dia beralasan kalau meeting kali ini tidak terlalu wajib untuk diikuti olehnya, karna alasannya itu, Renata akhirnya pulang seorang sendiri.
Setibanya di hotel, Renata mengedarkan pandangannya, dirinya takjub dengan nuansa kamar hotel yang di tempatinya ini. Nuansa kamar hotel itu indah, didominasi warna coklat lembut yang menyenangkan, dari lampu tidur, Hordeng, sofa dan semua furniture dalam hotel itu semua berwarna coklat lembut. Yang menjadi pembeda, hanya warna karpet yang membentang di seluruh kamar dengan warna cream. Dan ranjang dengan warna Putih cerah yang tertutup selimut berwarna senada.
Begitu melihat ranjang yang terlihat begitu empuk, Renata tergoda untuk mendekatinya, saat posisinya sudah dekat, dirinya mendudukkan di samping ranjang, Meraba kain bedcover tebal yang lembut di sentuhannya. Setelahnya Renata merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya dengan kaki masih terjuntai di samping ranjang.
Dirinya lelah, bekerja bersama Alex benar-benar melelahkan. Tapi ini bukan lelah karna seharian bekerja, tapi lebih tepatnya lelah hati. Ya, sifat Alex yang sangat baik dan penuh perhatian sesiangan ini benar-benar membuat dirinya tak nyaman.
Renata berpikir akan jauh lebih baik jika Alex bersikap cuek, jadi Renata tidak didera dilema seperti ini. Apakah perasaan Renata yang sekarang, juga pernah dirasakan oleh para mantan kekasih Alex terdahulu saat mereka didera dilema? Dengan sifat Alex yang baik, penuh perhatian dan juga lembut terhadap perempuan, membuat mereka akhirnya luluh dan menerima cinta Alex walaupun hanya untuk dipermainkan saja?
Apakah dirinya Luluh? Apakah dia siap jika dirinya hanya untuk dipermainkan saja?
Lagi- lagi pertanyaan itu kembali muncul dipikirannya, membuat Renata merasa lelah untuk menelahnya.
******
Aku mencintaimu, aku berjanji aku akan setia padamu. Terimalah cintaku ini Renata.
Seketika Renata membuka matanya lebar dan bangkit dari tidurnya. Semula, Renata hanya memejamkan mata sejenak untuk merilekskan diri, tapi tidak disangkanya dirinya malah jatuh tertidur hingga bermimpi tentang Alex. Mengingat Alex, Renata mengedarkan pandangannya di dalam kamar hotel, saat matanya bertemu jam dingin, dia terlonjak kaget saat melihat jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Astaga sudah semalam ini, teryata dia sudah tidur terlalu lama. Dan astaga…apakah Alex sudah pulang?
Karna bingung, Renata akhirnya mengalihkan pandangannya dari jam dinding kearah sofa, dimana sofa itu adalah tempat yang akan ditiduri oleh Alex.
Kosong, apa dia tidak pulang malam ini?

Love In The Boardroom Bab: 5 Aksi Konyol Renata
19 Januari 2025 in Vitamins Blog
“Aww! apa kau tidak punya mata saat berjalan!”
Ucapnya bersungut-sungut, menunduk dan mengusap bahunya yang sakit karena sudah ditabrak tubuh kokoh yang sepertinya terbuat dari beton itu.
Alex yang melihat Renata jatuh menyedihkan di bawahnya langsung berucap meminta maaf dengan nada mengejek.
“Maafkan aku, apa rasanya sakit? Kau juga seharusnya berjalan menggunakan matamu, jangan fokus dengan ponselmu.”
Mendengar orang yang telah menabrak dirinya berkata seperti itu, Renata langsung mendongakkan Kepalanya dengan marah. Dan setelah melihat bahwa Alex yang menabraknya, Renata membelalakkan matanya kaget.
Astaga teryata dia…..
Tiba-tiba saja Alex membukukan tubuhnya kemudian membantu Renata berdiri.
Renata merasa mati kutu saat tahu Alex yang menabraknya. Berhadapan dengan Alex sedekat ini, bahkan saat dia memegang lengannya dengan niat ingin membantunya seperti ini, Renata tidak menepisnya sama sekali atau memarahinya. Apakah dia terlalu pengecut? Sungguh, berkebalikan dengan yang sering Renata lakukan selama ini. Dimana saat dia melihat Alex dari kejauhan, selalu muncul rasa sebal hingga tak sungkan untuk mengumpatnya. Tapi, disaat posisinya yang sekarang ini, kenapa tiba-tiba dirinya menjadi bodoh seperti Adelle?
Renata merasa gugup saat Alex menatapnya, dengan cepat, dia mengedarkan pandangannya dan buru-buru menjawab pertanyaan Bosnya dengan ketus. “Jelas sakit, Anda juga harusnya lebih hati- hati saat berbelok.”
“Maafkan aku” Tanpa diduga Alex mengucapakan permintaan maafnya untuk keduanya kalinya, dan hal itu membuat Renata mendongakkan kepala menatap Bosnya yang sedang menatapnya lekat- lekat.
Renata tidak munafik, dibalik sikap menjengkelkan Alex dia mengakui sosok di depannya ini memang sangat rupawan.
Astaga apa yang dia pikirkan!
Renata menggeleng-gelengkan kepala, kemudian dengan buru-buru segera menimpali ucapan Alex yang sebelumnya.
“Aku juga minta maaf karena sudah berkata kasar.” Renata berucap singkat sambil berusaha melepaskan lengannya dari pegangan Alex.
Tapi tidak disangkanya, Alex enggan untuk melepaskannya, hingga membuat Renata mengerutkan keningnya.
“Bos Alex, tolong lepasan tanganku.”
ucapnya dengan penuh penekanan.
“Tidak Renata, bahumu pasti memar. Ayok akan aku obati di ruanganku, dan ada sesuatu yang ingin aku bicara denganmu.”
Seketika Renata membelalakkan matanya. Apa mengobatinya, Ingin berbicara. Memangnya apa yang akan dia bicarakan?
Sebelum Renata menolaknya mentah-mentah, tangannya sudah ditarik oleh Alex hingga membuat tubuh Renata terhuyung kedepan mengikuti arah Alex yang berjalan cepat di depannya.
“Bos, aku tidak apa-apa, aku tidak perlu diobati” protesnya.
“Diam, aku tahu kau kesakitan.” Alex menjawab dengan keras kepala membuat Renata semakin kesal.
*******
Begitu sampai di ruang kerjanya. Alex mendudukkan Renata di sofa yang ada di pinggir ruangan. “Kau tunggu disini aku akan mengambilkan obat untukmu.” kemudian Alex bergerak menuju tempat kerjanya dan mengambil sejenis salep penghilang lebam di laci mejanya. Sejenak, Alex menolehkan pandangannya ke arah Renata yang duduk dengan canggung disana, membuat senyuman muncul dibibirnya, Alex kemudian kembali mendekat ke arah Renata dan berucap.
“Kau bisa menggunakan salep ini untuk kau oleskan di bahumu yang lebam.” Alex memberikan salep itu dimeja dekat Renata duduk.
Sejenak, Alex memperhatikan penampilan Renata yang mengenakan kemeja dengan model tali yang dikaitkan di lehernya. Dengan model kemeja yang seperti itu, Renata akan melepaskan kaitannya bukan? Memikirkan itu membuat ide jahil untuk menggoda Renata bertumbuh subur.
“Kalau kau kesulitan dalam mengobati memar yang ada di bahumu, aku tidak keberatan membantumu mengoleskan salep itu atau membantu melepaskan tali yanga ada di leher kemejamu itu.”
Dan benar saja, begitu mendengar ucapan Alex yang mesum itu, Renata mendongakkan kepala menatap Bosnya itu dengan ekspresi marah.
Apa dia sudah gila, kenapa dia bilang seperti itu, apa dia tidak sadar dengan berkata seperti itu sama saja dia sudah melecehkannya bukan?
“Maaf Bos aku harus pergi dari sini.”
Setelahnya dia bangkit dari duduknya dan mengabaikan salep pemberian Alex. Kemudian disaat Renata hendak melewati Alex yang berdiri di depannya. Tanpa bisa ditahan, Alex kembali mencekal tangan Renata. Dan berucap kemudian.
“Aku hanya bercanda, maafkan aku.”
Ucapnya dengan sungguh-sungguh. Kemudian Alex menarik Renata mendekat dan melanjutkan ucapannya, kali ini berkaitan dengan pekerjaannya.
“Kau bisa membawa salep itu dan kau bisa mengobatinya nanti saat di rumah.
Alex membungkuk, mengambil salep yang ada di meja dan menangkupkannya ke telapak tangan Renata.
“Asal kau tahu, alasan sebenarnya aku membawamu kemari karna ada tugas untukmu.”
“Tugas untukku?” Renata berucap tak mengerti.
“Ya, tugas baru. Kau tahu, mulai besok aku ditugaskan oleh tuan Adam untuk meninjau keadaan di kantor cabang selama tiga hari. Dan selama tiga hari itu aku diusulkan untuk membawa bawahanku. Karna itulah aku memilih kau untuk menemaniku selama disana.
“Tapi, aku tidak bisa. Lebih baik Anda membawa Maya, dia kandidat yang paling tepat.” Renata berusaha menolak tawaran Alex.
“Tidak, aku butuh kau Renata bukan maya.”
“Tapi__” Renata berusaha membantah.
“Mulai besok kau persiapan semuanya. Untuk masalah tempat tinggal kita selama di sana, Tuan Adam sudah mengatur semuanya.” Alex berucap memberi tahu, sengaja mengabaikan penolakan Renata.
“Kita harus tunjukkan kekompakan kita selama disana Renata. Karna aku memilihmu, maka jadilah tim yang solid, mengerti.” Renata terpaku melihat Alex yang baru kali ini berucap dengan serius tanpa dibumbui senyum yang selama ini sangat tidak disukainya.
“Kau mengerti?” Alex kembali bertanya sengaja untuk membuyarkan Renata dari keterpakuannya. Renata seketika mengerjapkann matanya dan buru-buru menjawab.
“Mengerti bos”
“Bagus” dan barulah, Alex mengeluarkan senyum manisnya yang membuat Renata kembali memasang ekspresi jengah.
********
Di dalam rumah kontrakannya, Renata tidak bisa tidur nyenyak seperti biasanya. Entah apa yang membuatnya malam ini terasa gelisah. Dirinya sudah berguling-guling di kasurnya mencari posisi nyaman untuk tidur. Tapi sialnya, Renata belum kunjung juga menemukan rasa ngantuknya. Dengan kesal, akhirnya Renata bangkit dan mendudukkan dirinya di tengah ranjang.
Apa ini karna tugas besok yang akan dijalaninya bersama Alex, hingga membuatnya susah tidur?
Astaga apa yang dia pikirkan
Renata seketika Menggeleng-gelengkan kepalanya dengan konyol. Mengingat Alex yang playboy, mau tidak mau Renata teringat ucapan Adelle beberapa hari yang lalu.
“Aku berdoa, semoga di masa depan nanti kau akan menjadi korban selanjutnya.”
“Hmmm kalau aku perhatikan, sepertinya kau ini cocok jika dipasangkan dengan buaya kantor kita.”
Dua perkataan Adelle yang dilontarkan untuknya pada waktu itu, saat Renata mengejek kebodohan sahabatnya itu entah kenapa begitu mengingatnya, membuatnya bergidik ngeri .
Astaga tidak! Dirinya tidak sebodoh Adelle
Yang mudah terpesona.
Kembali Renata Menggeleng-gelengkan Kepalanya karna pikirannya sendiri. Seakan itu belum cukup membuat Renata pusing. Ponselnya kini berbunyi dan saat Renata menatap nama yang terpampang,
Keterkejutan kembali menghampirinya.
Astaga kenapa bosnya menelponnya diwaktu semalam ini. Renata menghembuskan nafas pelan, berusaha menenangkan diri. Kemudian mengangkat panggilannya.
“Kau sudah tidur Renata? Maafkan aku sudah mengganggumu” Alex berucap basa-basi diseberang telponnya dengan sengaja.
Hening
“Halo, ada orang disana?”
Begitu mendengar suara Alex yang kedua kalinya, Renata pun buru-buru menjawabnya.
“Ah. Masih Bos, maaf aku baru bangun tidur, jadi kurang fokus.” ucapnya buru-buru memberikan alasan bohong untuk menutupi Keterkejutannya.
“Maafkan aku, karna sudah menganggu tidurmu.”
Alex terdengar menghembuskan nafas dengan kasar diseberang telfon dan ada nuansa antusias saat Alex memulai percakapannya.
“Renata aku sudah tidak sabar untuk besok, bahkan karna hal itu aku mengalami susah tidur. Aku sangat bersemangat sekali, hingga tak sabar menunggu besok datang.”
Astaga pertanda apa ini, kenapa, kenapa dirinya dan Bosnya ini memiliki permasalahan yang sama dalam tidurnya?
Tiba-tiba disaat Renata sedang membatin. Perkataan Adelle yang sebelumnya, kini menerornya kembali bagaikan bisikan yang diucapkan langsung di telinganya.
“Hmm aku perhatikan sepertinya kau ini cocok jika dipasangkan dengan buaya kantor kita.” Bisikan itu terngiang-ngiang kembali berulang-ulang, hingga membuat Renata akhirnya kehabisan kesabarannya. “Diam bodoh! Hentikan ucapan konyolmu itu. Aku sudah muak mendengarnya.”
Alex yang mendengarnya langsung menjauhkan ponselnya itu dari telinganya, menatap ponselnya dan mengangkat alisnya.
Kenapa dengan perempuan ini?
Disaat Alex hendak melanjutkan pembicaraannya itu, tanpa diduga Renata sudah mematikan panggilan telefonnya. Membuat Alex membelalakkan mata karna terkejut.
Perempuan aneh
Walaupun mengucapkan Renata dengan sebutan ‘aneh’ Alex tak bisa menahan senyumnya, seolah terhibur dengan aksi konyol Renata dan tak keberatan memaafkannya karena sudah bersikap tidak sopan.
*******
Setelah mengucapakan kata- kata serampangan yang tidak sengaja di lontarkan pada Alex, Bosnya. Renata langsung membanting tubuhnya terlentang di ranjang. Dia malu bukan kepalang, sampai-sampai selimut yang ada di bawahnya, Renata tarik dengan brutal hingga tubuhnya kini tertutup rapat. Dari ujung kaki sama ujung kepala hanya selimut yang terlihat dari atas terbentang mengubur Renata yang ada dibawahnya.
Seolah dengan melakukan itu, Renata bisa bersembunyi dari rasa malunya.
Memalukan sangat memalukan ishh bagaimana ini, apakah bos Alex akan marah? Tenang Renata tenang, anggap saja kau sudah meluapkan kebencianmu selama ini. Dengan kau meluapkan kebencianmu itu. Kau merasakan kelegaan hati bukan? Dengan begitu, disaat kau bertemu Alex kembali, rasa untuk mengumpatnya sudah musnah bukan? Ya, ya, Itu benar!
Setelah lama bergelut dengan isi pikirannya di bawah selimut yang menutupi seluruh tubuhnya, Renata akhirnya menguap, dan tak lama kemudian rasa mengantuk mulai menguasainya, di titik itu. Akhirnya Renata jatuh tertidur dengan lelap.
****
Di tempat yang berbeda, Alex masih terjaga, walaupun waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dirinya masih semangat melihat pemandangan langit malam yang cerah bertabur bintang di balkon kamarnya, dengan ditemani segelas sampanye yang tergenggam ditangannya.
Pikiran Alex malam ini entah kenapa tidak seperti biasanya, bahkan setelah dia menelpon Renata, sumber kekalutannya, tidak memberikan imbas yang berarti.
Bagaimana Alex bisa tidur nyenyak, disaat dia menelpon Renata. Perempuan itu malah mengeluarkan umpatan yang membuat Alex semakin terjaga seperti ini.
Mengingat itu senyuman muncul di bibir Alex. Renata, sosok anak buahnya itu benar-benar memiliki sifat yang berbeda. Alex selama ini selalu mendapatkan tatapan berbinar penuh cinta dari kaum hawa yang terpesona dengan penampilan fisiknya, ucapan manis menggoda dari para mantan kekasihnya.
Tapi selama Alex mendapatkan itu semua dari mereka, dirinya tidak merasakan sesuatu yang istimewa.
Renata jelas berbeda, perempuan itu selalu menatapnya dengan wajah masam dan sedikit pemarah. Tapi dia polos. Ya, polos. Saat dia mengekspresikan ketidaksukaan padanya, pandangannya benar-benar sangat ketara, hingga orang bodoh sekalipun pasti akan langsung bisa memahaminya. Semula Alex mengabaikan sifat Renata yang tak bersahabat itu. Tapi untuk saat ini, dia memutuskan mulai tertarik dan akan membidik perempuan itu.
Mungkin karna sifat Renata yang sangat berbeda itu yang membuatnya tertarik, Atau Alex hanya sedang mencari sensasi baru dalam mencari korban berikutnya?
Alex tidak tahu jawabannya. Tapi dibenaknya, jika dia sudah berhasil menaklukan Renata, dirinya sudah berjanji untuk menjadi laki-laki sejati dengan cukup setia pada satu wanita, yaitu Renata.

Love In The Boardroom Bab: 4 Kesempatan
16 Januari 2025 in Vitamins Blog
Seminggu setelah kejadian video dirinya viral. Keadaan kantor pagi ini kembali normal, tidak ada lagi suasana bisik- bisik antara karyawan untuk membicarakannya dirinya. Semula Alex merasa terganggu dengan aktivitas orang kantor yang terus menggosipkan tentang dirinya, hingga rasanya Alex ingin memarahi mereka dan memecatnya. Tapi Alex tidak melakukannya, dia berpikir dengan penuh percaya diri di dalam hatinya mengatakan, sudah resiko menjadi bintang di tempat ini, jadi apapun kejadian yang berhubungan dengannya pasti akan menjadi topik pembicaraan nomor satu di kantornya ini.
Alex saat ini tengah berjalan di Koridor yang menghubungkan ke ruangan bagian pemasaran karna hendak melakukan kunjungannya. Sepanjang perjalanannya, Alex memasang senyum manisnya saat berpapasan dengan bawahannya yang kebetulan menyapanya. Penampilan Alex pagi ini sama seperti biasanya, tampan mempesona. Dengan mengenakan kemeja putih dipadu dasi warna hitam, rambutnya yang rapi dan klimis, kakinya yang panjang, mengenakan celana hitam dipadu sepatu pantofel yang dipakainya menambah kesan elegan. Alex mempunyai postur tubuh tinggi yang proposional, sehingga orang yang tidak mengetahui tentang Alex akan mengira dia adalah seorang model.
********
Sesampainya di ruangan pemasaran, dan saat dirinya muncul di ambang pintu. Serentak anak buahnya yang ada di dalamnya lansung mengucapkan selamat pagi dengan suara kompak dan bersemangat. Hingga mau tidak mau senyuman manis yang menjadi ciri khasnya itu muncul kembali dan meluluhkan hati pemujanya meronta bahagia saat melihat Alex tersenyum seperti itu.
Dari semua anggota yang bersemangat menyapanya, Alex bisa melihat dari sudut matanya, hanya ada satu sosok yang tidak menyapanya dan malahan sibuk dengan layar laptopnya. Hingga mau tidak mau mengundang rasa tertarik Alex untuk menghampirinya dan berniat untuk menggangunya.
Saat Alex hendak menghampiri kearah Renata, pandangannya terganggu saat Maya yang tiba-tiba saja menjatuhkan semua berkas pekerjaannya hingga membuat berkas itu berhamburan di lantai. Ya, Maya yang kebetulan satu ruangan dengan Renata dibidang marketing, membuat mereka bekerja di satu tim.
“Ah, sial” Maya mengumpat dengan jengkel, kemudian buru-buru memungut berkas yang berserakan di lantai.
“Perlu bantuan?” Alex yang tiba-tiba sudah ada di depannya dan menawarkan diri. Begitu mendengar tawaran dari Alex, Maya mendongakkan kepala ke atas, melihat Bosnya yang sudah berdiri menjulang di depannya, ditatap sebegitu intensnya bagaimana Maya tidak salah tingkah?
“Ah tidak perlu Bos, ini akan segera cepat beres.” ucapnya buru- buru dan dengan cekatan mengambil berkas yang berserakan itu. Tapi tidak diduganya Alex malah mendudukkan dirinya di samping maya dengan menggunakan satu lututnya kemudian membantunya.
Jika diliat posisi mereka saat ini, benar-benar mengingatkan adegan film romantis yang menceritakan seorang Bos yang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan bawahannya.
“Kau ini, kalau bos mu menawarkan bantuan sebaiknya jangan kau tolak.”
Alex sengaja berucap menggoda untuk membuat Maya semakin salah tingkah.
“Kau liat, berkas ini sangat banyak yang terjatuh jadi akan kurang pantas jika aku hanya melihatnya tanpa membantumu.”
Setelah selesai, Alex kemudian menyerahkan berkas yang sudah dirapihkan itu ketangan Maya yang lansung direspon dengan sigap olehnya.
“Cepat bukan? Sangat jarang ada Bos yang mau membatu lansung anak buahnya seperti ini.”
Dan benar saja begitu mendengarnya wajah Maya seketika bersemu merah seperti buah tomat, hingga Alex yang melihatnya tak bisa menahan seringaian bangganya.
“Te_terimakasih banyak bos.” ucapnya malu malu dan buru- buru kembali ke tempat kerjanya.
Dasar menyebalkan, wajah tampan yang menyebalkan. Dia menyalahgunakan ketampanannya untuk menggoda Maya.
Renata yang sejak tadi memperhatikan aksi Bosnya dari kejauhan, memandang sinis dan tak tahan untuk tidak mengumpat dalam hatinya.
Merasa seperti ada yang memperhatikan dari jauh, Alex tiba-tiba menolehkan pandangannya dan matanya seketika berserobok dengan Renata hingga membuatnya tergeragap.
“Ah sial, kenapa dia tahu aku sedang memperhatikannya, cih, aku benci senyuman itu!”
Alex tersenyum penuh arti melihat sikap Renata yang tak bersahabat itu. Semula Alex ingin menghampirinya tapi ahkirnya mengurungkan niatnya. Ya, sosok seperti Renata akan lebih baik jika ditangani nanti saat ada di ruangannya. Alex, lebih baik fokus pagi ini untuk mengutamakan tugasnya sebagai manajer pemasaran dan menjelaskan alasannya datang ke tempat ini. Alex akhirnya melakukan briefing pagi dengan diikuti oleh semua bawahannya. Tak kecuali Renata, perempuan itu yang awalnya fokus dengan laptopnya mau tidak mau akhirnya ikut menyimak dengan tenang.
Alex berkerja di perusahaan flower Cosmetics perfumery yang memproduksi dibidang kosmetik jenis parfum, dengan brand yang cukup terkenal di negaranya. Dengan jabatan Alex sebagai manager pemasaran, membuatnya bertanggung jawab untuk memberi arahan serta strategi bagusnya kepada mereka, bawahannya, yang saat ini tengah menyimak. Alex membahas tentang visi misinya mempromosikan produknya, menjaga agar produk yang mereka jalani ini tidak tersaingi dengan produk luar.
Pabrik pembuatan parfume tempat Alex berkerja ada dua. Yang pertama ada di belakang area kantor pusat, tempat yang saat ini Alex tempati, dan yang kedua ada di kantor cabang tepatnya di kota sebelah.
*******
Setelah melakukan briefing pagi, Alex kemudian kembali keruangan sendiri. Begitu sampai di tempat kerjanya, telepon yang ada di meja berbunyi, menandakan ada telefon masuk. Dengan cepat Alex menghampiri dan mengangkat telpon tersebut.
“Selamat pagi tuan Alex, saya Erick sekertaris tuan Adam. Beliau mengatakan agar Anda segera ke ruangannya.”
Tuan Adam? tidak seperti biasanya Bos besarnya itu memanggilnya, apa ada masalah besar?
“Halo tuan, Anda masih disana?”
Alex terbangun dari lamunannya, kemudian dia buru-buru menjawab pertanyaan Erick diseberang telfonnya.
“Ah maaf, baik. Saya akan segera ke sana.” Alex menjawab lugas, kemudian menutup teleponnya kembali. Setelahnya Alex keluar dari ruangan kerjanya dan langsung menemui Bos besarnya itu.
Sepanjang perjalanannya itu Alex terus berpikir mengenai alasan kenapa Bos besarnya itu mendadak memanggilnya. Hingga tanpa terasa, karna terlalu tengelam dengan pikirannya sendiri, Alex tanpa sadar sudah sampai di depan pintu ruangan bos besarnya itu. Alex berdehem sejenak untuk menenangkan diri, kemudian dirinya mengetuk pintu meminta izin untuk masuk.
“Masuk” suara Adam yang serak dan berat menyahuti dari dalam, kemudian Alex muncul dari ambang pintu dengan wajah penuh senyum khasnya yang membuat bos besarnya itu mau tidak mau ikut tersenyum.
“Silakan duduk Alex. Kau pasti terkejut bukan kenapa aku memanggilmu kesini?” Begitu Bos besarnya menyuruhnya duduk dengan ekspresi santai seperti itu, Alex bisa berharap jika ini pertanda baik bukan?
“Sedikit tuan”
“Hmm kau boleh tenang, aku memanggilmu kesini bukan masalah videomu yang sempat menghebohkan itu.” ucapnya dengan senyuman mengejek hingga Alex salah tingkah.
“Tuan, Anda juga melihatnya?” Ekspresi Alex langsung memerah menahan malu.
“Sudah” Jawabnya singkat.
“Kau tau, saya juga pernah muda sepertimu, jadi berpetualang mencari cinta itu memang hal yang wajar.” Adam memberikan komentarnya sedikit sambil lalu. Kemudian dia menatap Alex dengan ekspresi serius dan mulai membicarakan alasannya kenapa dia memanggilnya kesini.
“Aku memanggilmu kesini karna di kantor cabang membutuhkan manager sepertimu untuk mengatasi masalah disana, kau tahu manager disana kurang kompeten. Tidak bisa menghandle dengan baik, sehingga membuat produk penjualan kita disana tidak mencapai target dan kita mengalami kerugian.”
Begitu mendengar penjelasan Bos besarnya itu. Alex seketika menghembuskan nafas lega.
“Karna itulah mulai besok, kau saya tugaskan untuk ke kantor cabang selama tiga hari untuk memberikan arahan terbaikmu pada mereka, kau boleh membawa salah satu anak buahmu dari divisi pemasaran untuk membantumu selama kau ditugaskan disana.”
Pada saat Bos besarnya mengatakan hal itu. Seringaian muncul dibibir Alex tanpa bisa ditahan.
“Baik Tuan, selama tiga hari kedepan saya akan berusaha melakukan yang terbaik.”
Alex menjawab dengan penuh keyakinan, membuat Bos besarnya itu tersenyum puas.
“Bagus, aku percaya pada kinerjamu. Satu lagi, kau ada nama yang akan di rekomendasikan untuk menjadi partnermu selama di kantor cabang dari divisi pemasaran?” Adam bertanya ke arah Alex yang berwajah cerah.
“Ada Tuan, saya akan membawa Renata, dia bawahan saya yang pintar.” Alex mengucapkan alasan yang terselubung.
“Bagus kalian harus jadi tim yang solid, buktikan pada mereka bahwa sumber daya manusia dari kantor pusat memang berkualitas.” Adam memberikan motivasinya dengan nada arogan. Alex yang melihatnya mau tidak mau ingin sekali tertawa. Ya, karna alasan sebenarnya Alex membawa Renata hanya karna ingin mendekatinya, bukan murni karena Renata pintar.
Disaat Alex tengah sibuk dengan isi pikirannya sendiri, Adam melanjutkan ucapannya dengan serius. “Jika kau berhasil mengatasi masalah di kantor cabang itu, aku berjanji akan menaikan jabatanmu setelah ini.”
*******
Setelah pertemuannya dengan Bos besar Adam selesai, Alex akhirnya keluar dari ruangan tersebut. Dan sekarang hendak kembali di ruang kerjanya sendiri. Sepanjang perjalanannya itu, Alex berjalan cepat dan fokus dengan pemikirannya sendiri, hingga saat dirinya hendak berbelok dari koridor, tanpa sengaja Alex menyenggol bahu rapuh yang mengaduh kesakitan saat ditabrak olehnya hingga terjatuh. Sebelum tabrakan terjadi, perempuan itu tengah fokus dengan ponselnya karna sedang membalas pesan dari seseorang. Hingga saat tabrakan itu terjadi, secara serampangan Renata langsung memarahinya tanpa melihat sosok yang sudah menabraknya.
“Aww! apa kau tidak punya mata saat berjalan!”
Ucapnya bersungut-sungut, menunduk dan mengusap pundaknya yang sakit karena sudah tabrak tubuh kokoh yang tampaknya terbuat dari beton.

Love In The Boardroom Bab: 3 Berita Menghebohkan
16 Januari 2025 in Vitamins Blog
Malem ini Alex tengah makan malam bersama Bella di restoran yang sebelumnya sudah di pesan lebih dulu oleh Alex.
Mereka makan dengan santai, bahkan beberapa kali Alex dengan romantisnya Menyuapi Bella yang malu- malu saat membuka mulutnya. Seperti sudah menjadi kebiasaan Alex, disaat makan malam itu diawali dengan suasana romantis, akhirnya berujung berantakan.
seperti sekarang, saat makan malam itu sudah hampir selesai. Alex menatap lekat- lekat kearah Bella, dan menimbang-nimbang kejutan yang akan dilontarkannya. Ditatap seperti itu, ekspresi Bella salah mengartikan hingga membuatnya salah tingkah.
“Aku harap setelah kencan ini berakhir. kau jangan hubungi aku lagi.” ucapnya tanpa basa basi. Bella Yang semula memasang senyum manis, begitu mendengarnya lansung melebarkan matanya, kemudian mengkonfrontasinya. “Kenapa bisa seperti itu, apa alasannya.”
“Aku bosan, kau wanita yang membosankan” ucapnya tanpa rasa bersalah dengan senyuman yang menjengkelkan.
“Apa katamu!” Bella mulai tersulut emosi. “Jadi selama ini kau hanya main-main dengan hubungan ini? Perhatianmu yang selama kau ucapkan selama ini hanya pura-pura.” Bella bangkit dari duduknya kemudian tanpa diduga mengambil gelas berisi anggur, kemudian tanpa menunggu lama disiramnya anggur itu tepat di wajah Alex.
Seolah belum cukup puas meredakan sakit hatinya, Bella berdiri kemudian mendekat kearah Alex dan tanpa peringatan, diambilnya piring berisi spaghetti itu kemudian secara mengejutkan ditumpahkannya tepat di kepala Alex!
“Dasar Brengsek!”
Setelah meluapkan kekesalannya, Bella merasa puas, kemudian pergi meninggalkan Alex dalam kondisi yang menyedihkan.
*******
Pagi ini Renata baru memasuki kantornya hanya untuk disambut dengan berita gosip pagi yang menggemparkan. Bagaimana tidak menggemparkan, disaat dirinya baru memasuki ruangannya, tiba-tiba tangan Renata ditarik oleh Maya teman satu ruangannya.
“Kau harus lihat ini Renata, ini berita yang sangat menggemparkan di kantor!”
Maya berucap semangat kearah Renata dengan berapi-api.
Renata mengangkat alisnya, melihat gaya bicara Maya yang terlalu dramatis itu.
“Apa ini tentang bos Alex dan korban barunya?”
“Benar”
“Lantas apa yang menggemparkan?” Renata bertanya tak mengerti.
“Liat ini” Maya tiba-tiba menyodorkan ponselnya ke tangannya, Renata menunduk dan menatap ponsel Maya yang tergenggam ditangannya.
Dan seketika dirinya langsung menutup mulutnya karna kaget.
“Astaga” ucapnya tak percaya. Walaupun dirinya merasa kaget karna melihat foto yang di depannya, Renata tak bisa untuk tak menahan senyum puasnya.
Bagaimana tidak terkejut dan tersenyum puas, jika yang di lihatnya adalah foto wajah Alex yang disiram anggur oleh seorang wanita?
“Terkejut bukan” Maya tiba-tiba bersuara di sampingnya. Kemudian mengambil ponselnya kembali dari Renata dan mulai mencari video yang akan ditujukan padanya, setelah menemukan video yang di carinya, Maya dengan cekatan memberikan kembali ponsel itu ke tangan Renata.
“Liat itu, kau pasti lebih terkejut luar biasa.”
Seperti orang bodoh yang penurut, Renata yang terbiasa tidak mau tahu tentang Alex. Akhirnya tergoda untuk menonton video tersebut.
Video yang diliatnya memperlihatkan Alex dan teman kencannya tengah duduk dengan makan malam romantis. Awalnya makan malam itu berjalan biasa saja, tapi beberapa saat kemudian, keromantisan itu sudah tidak terlihat. Tergantikan dengan adegan dimana si perempuan tampak menahan marah saat Alex melontarkan kata-kata yang membuatnya kesal. Perempuan cantik itu tiba-tiba berdiri dan mengambil gelas berisi anggur. Anggur itu tidak untuk di minumnya, melainkan hanya untuk disiramkan di wajah Alex. Seolah itu belum cukup, perempuan cantik itu mulai mendekat kearah Alex dan tiba-tiba mengambil sepiring spaghetti yang ada di sampingnya dan tanpa peringatan ditumpahkan spaghetti tersebut tepat di kepala Alex dengan menyedihkan!
Sebelum perempuan cantik itu pergi, terlihat dia mengumpat ke arah Alex.
Setelah meluapkan kekesalannya, perempuan itu akhirnya pergi meninggalkan Alex dalam kondisi yang menyedihkan.
“Astaga siapa wanita itu?” Adelle yang entah sejak kapan sudah ada di belakang Renata dan menonton video yang sama menyuarakan Keterkejutannya.
Renata melirik kearah Adelle dan mengangkat alisnya.
“Apa yang kau lakukan disini?”
Bukanya menjawab pertanyaan Adelle yang sebelumnya, Renata malahan balik bertanya dan itu membuat Adelle tanpa bisa ditahan lansung mengerucutkan bibirnya.
“Sebelumnya aku hendak masuk ke dalam ruangku sendiri, tapi melihat kalian disini menonton sesuatu dengan begitu intens, aku tergoda untuk ikut bergabung dan melihatnya.” Adelle tiba-tiba mengambil ponsel yang ada ditangan Renata, kemudian dia menimbang- nimbang dan berpikir keras.
“Ini ponselmu bukan?” Adelle bertanya pada maya. Setelah mendapatkan anggukan darinya. Dia berucap kembali dengan penasaran.
“Kau dapat video itu dari mana? kalau diperhatikan, wanita yang ada di dalam video bukan karyawan yang bekerja di sini. Kau tahu wanita ini?”
“Aku tidak kenal wanita itu, dan aku mendapatkan video itu dari sosial media.”
Maya menjelaskan dengan pasti.
“Hmmm, aku berpikir mungkin yang merekamnya salah satu mantan bos kita yang kebetulan ada di dalam restoran yang sama.” Adelle mengutarakan pendapatnya.
Tiba-tiba Renata menatap Adelle dan berucap mengejek untuk menggoda sahabatnya itu.
“Harusnya saat kau di patahkan hatinya oleh bos Alex, kau melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh perempuan itu.”
“Apa kau sudah gila Renata, aku lebih baik diputus olehnya daripada harus kehilangan pekerjaanku.” ucapnya bersungut-sungut. Bahkan Maya yang sejak tadi diam, begitu mendengarnya tanpa bisa ditahan langsung tertawa lepas.
*******
Pagi ini Alex masih bermalas-malasan di tengah ranjang yang empuk di dalam kamarnya yang luas itu. Alex tinggal tanpa orang tua di rumahnya yang besar ini. Di rumahnya, Alex tinggal bersama tiga pelayanan, dua orang tukang kebun dan dua orang petugas keamanan yang menjaga rumahnya selama dua puluh empat jam.
Alex tidak mempunyai ibu. Karna ibunya sudah meninggal sejak lama, hanya ayahnya saja yang masih hidup. Ayahnya semenjak menikah lagi dengan janda kaya yang berasal dari luar negeri, sifatnya berubah, dan mulai lupa dengan dirinya karna terlalu terlena dengan keluarga barunya disana.
Tapi Alex tidak meratapi nasib karna merasa sudah ditinggalkan. Alex merasa terlalu sibuk untuk memikirkan itu, jadi hal yang di prioritaskan saat ini adalah bekerja, berkumpul bersama rekan kantornya dan mempermainkan hati banyak wanita.
Seperti yang dilakukannya sekarang ini saat dirinya membuka ponselnya dan bermain sosial medianya. Alex, tidak terkejut sama sekali saat teman satu kantornya mengirim link video yang memuat dirinya. Yang ada hanya kekehan saat Alex melihat video dimana dirinya sudah dibuat malu di restoran malam itu. Alex tidak marah pada Bella, perempuan yang sudah membuatnya malu pada malam kencangnya dengan menyiram anggur di wajahnya. Alex merasa perbuatan Bella belum seberapa jika dibandingkan dengan mantan kekasihnya dulu yang lebih frontal. Sebelumnya, Alex hampir pernah disiram kopi panas oleh mantan kekasihnya tepat di wajahnya. Imbas tidak terima saat Alex mengucapkan kata ‘putus’. Beruntung pada saat itu Alex dengan sigap langsung menghindar dari serangan kopi panas itu hanya untuk mengenai tembok cafe yang malang.
Melihat Alex lolos dari serangannya, mantan kekasihnya itu semakin frustasi. Bukanya menghindar dan pergi. Yang ada, sang mantan melakukan hal yang tak terduga dengan merangsek maju dan mulai menyerang Alex dengan memukul dadanya keras- keras bahkan menamparnya.
“Brengsek kau! Sialan kau!” melihat kekasihnya murka di tempat umum dan mengumpatnya dengan ucapan kasar. Yang dilakukan Alex pada saat itu bukanlah marah atau melakukan kekerasan balik, melainkan memanggil petugas keamanan cafe untuk mengamankan kekasihnya itu. Bahkan disaat Alex memanggil petugas itu mendekat dan berbicara padanya, senyuman ramah itu masih terpasang di wajahnya. Membuat kejengkelan sang mantan kekasih semakin melesat naik, hingga rasa- rasanya ingin sekali mendaratkan kuku runcingnya di wajah yang menjengkelkan itu.
Alex tersenyum setelah mengingat kejadian yang cukup menyenangkan baginya itu. Dirinya merasakan sensasi kepuasan saat melihat respon mantannya yang menggelora karna murka. Ya, kalau dipikir- pikir barisan mantan kekasih Alex yang pemarah dan suka membuat keributan di tempat umum, adalah wanita yang berasal dari luar kantornya. Alex masih ingat betul bagaimana mereka, anak buahnya yang pernah diajak kencan olehnya, saat Alex mengucapkan kata putus, respon mereka hanya ekspresi sedih dan pasrah. Jelas Alex tidak menyukai ekspresi itu karna baginya terasa membosankan dan kurang menantang. karna alasan itulah Alex mulai membatasi mengajak kencan bawahannya itu. Cukup Adelle orang terakhir yang pernah diajaknya berkencan.
Mengingat Adelle, tiba-tiba ingatan Alex langsung tertuju pada sosok yang selama ini terlihat menyimpan rasa tidak suka yang pekat padanya. Ya, sosok itu, sosok yang selalu memasang wajah masam, jutek dan ketus. Rasanya pasti sangat menyenangkan jika dirinya mulai membidik sosok itu dan menjadikan kekasih barunya.

Love In The Boardroom Bab: 2 Alexander Swan
14 Januari 2025 in Vitamins Blog
Di dalam ruangan kerja yang luas itu. Sosok Alexander Swan sedang duduk santai di kursi besarnya. Lelaki itu tengah menelfon seorang perempuan yang sudah pasti itu kekasih barunya. Alexander swan, sosok lelaki flamboyan berdarah timur tengah yang tampan mempesona dan juga murah senyum.
Dengan penampilan fisik sempurna. memiliki tubuh tinggi, hidung mancung, alis tebal, rambut hitam pekat. Dan warna bola mata cokelat gelap mengintimidasi yang dikelilingi bulu matanya yang indah.
Dengan penampilan fisik yang seperti itu, hati perempuan mana yang tidak tergoda saat seorang Alexander swan mengajaknya berkencan. Tentu saja tidak ada yang menolaknya bukan?
Diusia yang ketiga puluh tahun. Dirinya sudah memiliki kedudukan yang cukup tinggi di kantornya ini. Ya, manager. Kedudukan Alex di kantor ini adalah seorang manager. Walaupun kedudukannya hanya sebatas ‘itu’ tetapi bawahannya terbiasa memanggilnya dengan sebutan Bos. Panggilan akrab yang disematkan untuknya. Alex beruntung memiliki anak buah yang sebagian adalah perempuan. Karna keberuntungan itulah, sikap Alex yang awal mulanya hanya untuk iseng menggoda bawahannya, berubah menjadi hobby yang menyenangkan.
Bagaimana tidak menyenangkan? Disaat dirinya iseng mengatakan
‘Mau kah kau berkencan denganku’ mereka kaum perempuan lansung meronta bahagia dan langsung menerimanya. Awalnya Alex merasa kaget karna respon mereka yang terkesan murahan, tapi dirinya tak mau ambil pusing. Karna alasannya itulah, Alex mulai suka mempermainkan banyak hati wanita.
Seperti sekarang ini, dimana saat dirinya menelpon kekasihnya yang kebetulan calon korbannya kali ini bukanlah anak buahnya, melainkan perempuan yang terobsesi dengan Alex yang suka mengirim pesan menggoda disosial medianya untuk menarik perhatiannya. Dengan sifat Alex yang playboy dan sifat tak tahu malunya Bella, bukankah itu kombinasi yang sangat sempurna?
“Bella maafkan aku, karna kemarin aku tidak mengangkat telfon darimu. Kau tahu, kemarin adalah hari paling sibuk karna ada kunjungan rekan Bos besar di kantor.”
Alex berucap menjelaskan dengan nuansa kebohongan yang pekat. Karna yang sebenarnya, bukalah kesibukan seperti yang diucapkannya melainkan menutupi agenda kencannya dengan Adelle malam itu.
“Sungguh?” Bella menjawab dengan curiga.
“Sungguh sayang. Aku rela meluangkan waktuku nanti malam untuk mengajakmu makan malam di restoran langgananku, sebagai tanda permintaan maaf-ku. Bagaimana? Atau kau perlu bukti?”
“Bukti apa?” Bella bertanya tak mengerti di seberang telfonnya. Alex pun terkekeh dan berucap kemudian.
“Bukti tentang kesibukanku hingga mengabaikanmu.”
Hening.
“Hmm aku rasa itu tidak perlu, dengan kau mengajakku makan malam sebagai permintaan maaf, aku berpikir kau sudah berkata jujur.” Didetik Bella menyelesaikan ucapannya. Seringaian kemenangan langsung muncul di wajahnya. “Baiklah. Sampai ketemu malam nanti, akan ada kejutan untukmu.”
Setelahnya Alex langsung menutup sambungan teleponnya, masih dengan senyuman puas sambil menatap layar ponselnya yang mulai menggelap.
Kemudian Alex bangkit dari kursi kerjanya yang besar, berniat untuk pulang dan bersiap- siap. Tak lama kemudian ponselnya bergetar kembali, menandakan ada pesan masuk. Alex membaca pesan itu dan seketika senyuman itu muncul kembali di wajahnya.
Alex aku ingin es kopi, bawakan satu cup untuku. Itu adalah pesan dari Bella yang entah karna apa tiba-tiba ingin Alex membawakannya, dengan berbaik hati. Alex mengiyakannya dan berniat akan membawa es kopi itu nanti saat dia menjemput Bella.
******
“Maafkan aku” begitu memasuki ruangan kerja Renata, Adelle langsung mengucapakan permintaan maafnya. Renata mengangkat alis mendengarnya.
“Permintaan maaf apa?” ucapnya tak mengerti.
Adelle seketika memutar bola matanya dengan konyol. “Bodoh, saat kejadian di kantin siang tadi.”
Kali ini gantian Adelle yang menyebut Renata bodoh.
“Oh…. ok. Tidak masalah, aku juga sudah melupakannya.” Renata menjawab sambil lalu. Kemudian fokus kembali menatap layar laptopnya.
“Ok, baikan” Adella tiba-tiba berucap dan menunjukkan jeri kelingkingnya dihadapan Renata. Renata tersenyum melihatnya, kemudian tak butuh lama akhirnya dirinya mengaitkan kelingkingnya di kelingking Adelle.
“Baikan” ucapnya sambil tersenyum kearah Adelle.
“Pekerjaanmu belum beres?” Adelle kembali berucap kearah Renata yang kembali fokus menatap layar laptopnya.
“Sudah” jawabnya singkat.
“Lantas apa yang lakukan itu? kau tak tahu ini hampir jam lima sore, sudah waktunya kita pulang.” Adelle berucap menjelaskan dengan menatap jam tangannya.
“Aku sedang membaca”
“Hah! Membaca memangnya apa yang kau baca?”
Renata terkekeh melihat keterkejutan sahabatnya itu.
“Novel”
“Sejak kapan kau mulai suka membaca novel Renata?” Adelle terus mencecar ke arah Renata. Melihat respon Adelle yang sepertinya sangat tidak mempercayai jika dirinya seorang pembaca novel, Renata tertawa.
“Sudah sejak lama, kau tahu, membaca novel itu sangat menyenangkan. Jika aku sedang malas menonton televisi atau bermain sosial mediaku. Aku biasanya menghabiskannya dengan membaca novel.” Adelle yang mendengarkan merasa tertarik dengan obrolan Renata. Dan tiba-tiba aja Adelle menyeret kursi putar yang ada di sebelah tempat kerja Renata, yang kebetulan pemiliknya sudah pulang lebih awal.
Melihat Adelle melakukan itu, Renata berucap tak mengerti. “Kau mau apa?” sebagai jawabannya, Adelle berucap dengan sumringah. “Mendengar kau bercerita, sepertinya seru.”
Renata terkekeh mendengarnya.
“Memangnya kau akan tertarik jika aku bercerita? Aku berpikir akan sia-sia jika aku menceritakan sampai berbusa tapi kau malahan tak memahaminya.”
Begitu mendengar perkataan Renata, Adelle tak tahan untuk tertawa terbahak, bahkan sangking kencangnya dia tertawa, Renata sampai membekap mulut sahabatnya itu.
“Diam! Kau sangat berisik jika sedang tertawa.”
Bahkan Renata yang sedang membekap mulut Adelle seperti itu, tak tahan untuk tak tertawa geli. Sungguh melihat dua sahabat yang saling tertawa dan salah satu dari mereka membekap mulut temannya, benar-benar terlihat sangat menggelikan. Begitu bekapan dari Renata terlepas, Adelle buru-buru menyuarakan kebenarannya.
“Kau benar. Jika kau menjelaskan, aku sudah pasti tak akan memahaminya.” Kembali Adelle tertawa, kemudian melanjutkan kembali ucapannya.
“Karna bagiku hal yang paling menyenangkan adalah makan dan tidur.”
“Hidupmu terlalu monoton ” Renata menimpali dengan senyum mengejek. Pandangan Renata, kini fokus kembali didepan layar Laptopnya hendak melanjutkan novel yang sedang dibacanya. Dan mengabaikan sosok yang ada di sampingnya.
Tiba-tiba, disaat Renata sedang fokus membaca, Adelle menarik tangannya dengan tujuan mengajaknya pulang.
“Kau bisa lanjutkan membaca itu nanti kalau sudah sampai rumah, ini sudah hampir petang, ayok pulang.”
“Dasar pengganggu, sepertinya kau memang diciptakan sebagai biang rusuh.” ucapnya bersungut-sungut. Tak urung Renata akhirnya menurutinya, dengan membereskan semua yang perlu dibereskan di meja kerjanya. Adelle yang mendengarnya hanya tertawa sambil memperhatikan Renata. Kemudian setelah dirasanya Renata sudah siap untuk pulang, Adelle kembali menggandeng tangannya dan mengajaknya pulang bersamanya.
Sepanjang perjalanan mereka di lorong kantor yang mulai sepi, hanya suara tawa dan obrolan dari dua sahabat yang menggema disepanjang jalan yang mereka lalui.
*******
Mereka berdua yang semula ingin segera cepat sampai rumah, tiba-tiba berubah pikiran saat melihat kedai kopi yang lokasinya tak jauh jadi kantornya. Karna alasannya ingin minum kopi sebelum pulang, mereka akhirnya memasuki kedai tersebut.
Setelah mereka berdua sudah masuk di kedai kopi, mereka memesan es kopi favoritnya masing-masing. Dan tak lama kemudian pelayanan datang dengan membawa dua gelas es kopi dan dua piring berisi croissant hangat yang menguarkan aroma harum.
Begitu sajian sudah tertata rapi di meja, meraka pun akhirnya menikmati es kopi yang memiliki cita rasa gurih, manis dan juga lembut. Rasa yang cocok untuk lidah kaum perempuan yang suka kemanisan.
Sepanjang mereka menikmati es kopinya, mereka mengisinya dengan mengobrol hal- hal yang menyenangkan. Sampai dimana, pandangan Renata akhirnya menangkap sosok yang baru saja memasuki kedai, dan seketika ekspresinya berubah masam.
“Kau lihat itu” Renata bertanya pada Adelle, dengan pandangan masih fokus menatap sosok yang barusan dilihatnya.
“Siapa?” Adelle berucap tak mengerti
“Kau liat sendiri di belakangmu.”
Dengan patuh Adelle kemudian menengok ke arah belakang untuk melihat sosok yang disebut Renata. Dan benar saja, begitu melihatnya, Adelle langsung melebarkan matanya karna tidak menduga jika sosok itu yang akan diliatnya.
“Apa yang dia lakukan disini?”
“Bodoh, ya jelas beli kopi lah, memangnya apa lagi.” Renata menjawab dengan kesal.
“Ishh maksudku____”
“Kau liat itu, sepertinya dia membeli kopi untuk calon korbannya, bisa dilihat dari yang dia bawa dan liat ekspresi itu saat menelponnya.” Renata tanpa sadar memperhatikan Alex begitu intensnya, dari mulai memasuki kedai hingga keluar kedai terus memberikan kesimpulannya.
Melihat Renata menilai sebegitu detailnya tentang Alex .
Adelle pun mengangkat alisnya dan berucap mengejek kemudian.
“Kau tidak seperti biasanya, ada apa denganmu Renata?” mendengar Pertanyaan Adelle yang tak dipahaminya itu, seketika dirinya bertanya balik dengan penasaran. “Apa maksudmu?”
“Hissh kau ini, kenapa otakmu mejadi bebal sepertiku.”
“Aku tak sudi disamakan denganmu, Katakan cepat jangan berbelit- belit” Renata berucap penuh penekanan.
Adelle memutar bola matanya jengah, saat melihat gaya bicara Renata yang tanpa disaring itu bila menyangkut dirinya.
“Kau tahu apa yang kau katakan mengenai Alex barusan? Apa kau tidak sadar, secara tidak lansung kau diam- diam sudah memperhatikan aktivitas dia selama disini?”
Begitu mendengarnya, seketika wajahnya berubah merah menahan malu. “Oh….anggap saja aku telah melakukan kesalahan.” Renata menjawab sambil lalu. Kemudian dirinya melihat petunjuk waktu ditangannya, sengaja untuk mengalihkan pembicaraan.
“Kau mau pulang atau mau menginap disini?”
“Jam berapa sekarang?”
“Jam delapan. Ayo cepat kau habisan kopi itu lalu kita pergi dari sini. Aku sudah lelah, ingin cepat sampai rumah dan tidur.”
Renata mulai bebenah memasukkan ponsel serta dompetnya ke dalam tasnya.
“Renata menurutmu kali ini yang akan jadi korban berikutnya siapa?” Adelle mengerutkan kening dan bertanya kearah Renata yang sudah siap untuk pulang. “Kau pantau saja besok di kantor akan ada drama apa, jika ada teman kita disana yang menangis karna diputus cintanya, kemungkinan dialah korbannya.”
Renata menjawab pasti. Karna diliat dari pengalaman yang sebelumnya dimana terkadang ada teman satu kantornya dibuat sedih karna telah diputus cintanya oleh Bos mereka, Alex.
“Aku sependapat denganmu Renata”
Ekspresi Adelle berubah cerah setelah mendengarnya, berharap besok akan ada berita baru yang menghebohkan di kantornya.
“Sudah? Kalau tak ada lagi yang kau tanyakan. Kita bisa pergi dari sini.”
Renata akhirnya beranjak berdiri dari tempat duduknya dan meninggalkan tempat tersebut dengan diikuti oleh Adelle di belakangnya. Mereka berdua akhirnya pergi meninggalkan kedai kopi yang mulai sepi pengunjung itu.
******
Setelah keluar dari kedai, mereka akhirnya sampai di halte Bus yang tempatnya tidak jauh dari kedai kopi.
Halte itu sangat ramai, dimana banyak orang yang menunggu Bus yang sama dengan tujuan Bus yang akan dinaiki oleh Renata. Kemudian setelah menunggu selama lima belas menit, Bus yang mereka tunggu akhirnya muncul dan menghampiri mereka. Hingga akhirnya Renata maupun Adelle dan semua orang yang ada di halte, seketika berbondong-bondong mendekat ke arah pintu Bus yang terbuka lebar. Mempersilahkan penumpang untuk segera masuk menaiki bus yang sebelumnya sepi penumpang, kini berubah menjadi sesak karna penuh diisi oleh banyak orang. Setelah dilihatnya tidak ada orang yang tertinggal di halte, Bus itu akhirnya berjalan dan meninggalkan Halte yang mulai sepi dan hening di makan oleh kesunyian.
Hi ….novel love in the Boardroom ini murni dari aku sendiri ya. Terimakasih untuk kak bintang Timur yang sudah memberikan yang sudah memberikan ilmu penulisannya, hihihi berkat KaBin tulisan aku jadi rapi. Cerita ini hanya cerita ringan bergenre romance, genre kesukaanku. Cerita ini aku tulis sebenarnya sudah lama, hampir sebulan terkubur di draft, hingga ahkirnya dengan kepercayaan diri, ahkirnya aku posting disini. Maafkan ya kalau narasinya masih kaku, penempatan tanda baca masih kurang tepat. Namanya juga masih tahap belajar hihihih. Happy Reading~~~

Love In The Boardroom Bab: 1 Anti Buaya Kantor
12 Januari 2025 in Vitamins Blog
Sinopsis
Mempunyai Atasan tampan, murah senyum dan humble. Tentunya menjadikan keberuntungan tersendiri bagi mereka yang menjadi bawahannya.
Tapi sayang, dibalik sikap ramahnya itu Alexander Swan, mempunyai pribadi yang kurang baik. Hal itu juga yang membuat salah satu Karyawannya, Renata. Tidak menyukai Bosnya itu.
Renata sangat tidak menyukai laki-laki playboy. Hingga terkadang, di saat dirinya dijadikan bahan candaan oleh teman satu kantornya, Renata menjadi sosok yang sedikit pemarah. Ya, bagaimana tidak marah? Jika candaan mereka membawa nama Alex, sosok yang memuat mood Renata jelek.
Hingga disatu titik. Renata mulai takut dirinya akan jatuh cinta pada sosok yang dulu sangat tidak disukainya itu.
Ya, karna tugas baru yang mengharuskan mereka bertemu setiap saat. Membuat benih-benih cinta di antara mereka mulai tumbuh.
Akankah Renata mencintai Alex? Dan mampukah Alex merubah sifatnya yang semula seorang pemain wanita, berubah menjadi sosok lelaki sejati yang mampu setia pada satu wanita yang di cintainya?
Bab: 1 Anti Buaya Kantor
Suasana kantor pagi ini entah kenapa berubah menjadi ladang gosip saat Renata baru sampai di ruang kerjanya. Ya, begitu sampai di tempat kerjanya, Renata sudah disuguhkan pemandangan oleh rekan satu kantornya yang bergosip pagi ini. Mereka bergosip bukan membicarakan tentang dirinya, melainkan membicarakan tentang Adelle yang merupakan sahabat Renata.
Mendengar nama Adelle yang di bahas oleh mereka, Renata Akhirnya menghampirinya, berniat mencari tahu.
“Kenapa dengan Adelle?”
Renata bertanya kearah Maya yang sedang asyik bergosip.
Maya mengangkat alisnya mendengar Pertanyaan Renata.
“Kau sahabat Adelle bukan? tapi di saat dia patah hati, kau tidak mengetahuinya sahabat macam apa kau.”
Patah hati? Astaga jangan- jangan……
Renata menatap Maya dan mengabaikan perkataan Maya yang provokatif itu.
“Dimana Adelle aku ingin bertemu.”
“Dia ada di ruangan pantri” Setelah mendapat jawaban dari Maya, Renata akhirnya bergegas menuju ruang pantry yang ada di kantornya ini.
*******
Sesampainya di ruang Pantri, Renata melihat Adelle tengah menangis sesenggukan. Di atas mejanya, terdapat tisu satu kotak sebagai peyeka air matanya yang menderas. Melihat Adelle seperti dilanda kesedihan yang tak terkira, Renata akhirnya menghampirinya dan mendekati Adelle.
“Kau kenapa?” begitu mendengar suara Renata dari belakang, Adelle membalikan badannya dan kemudian langsung memeluk Renata.
“Aku sedih Renata, aku sedih, aku sudah menjadi korbannya.” mendengar ucapan Adelle yang seperti itu, otomatis Renata mengangkat alisnya, kemudian melepaskan pelukannya, memegang pundak Adelle dan mendorongnya pelan.
“Kau dan buaya kantor itu?” ucapnya menebak tepat sasaran. Adelle menganggukkan kepalanya dengan muka bersemu merah menahan malu.
Melihat Reaksi Adelle, Renata tak bisa untuk menggelengkan kepalanya, heran dan tak habis pikir dengan sahabatnya yang ada di depannya ini.
Alexander swan sosok playboy kantor yang sudah terkenal reputasinya dalam mempermainkan banyak hati perempuan. Bahkan beberapa anak buahnya yang pernah menjadi korban keisengan Alex, menjulukinya dengan sebutan
‘Buaya Kantor’. Ya, sebutan itu kerap dilontarkan mereka dikala hatinya sudah dipatahan sepihak oleh Bosnya itu. Terkadang Renata tak habis pikir dengan kelakuan teman-temannya yang ada kantor, mereka sudah mengetahui sifat Alex yang seperti ‘itu’, tetapi dengan bodohnya mereka masih saja menerima ucapan cinta Alex yang penuh bualan palsu. Termasuk sosok yang di depannya ini, Adelle. Melihat sahabatnya itu menangis dan sedih, Renata tidak tersentuh sama sekali, malahan yang ada, timbul rasa ingin memarahinya. Dirinya melipat tangannya dan menatap sinis ke arah Adelle.
“Kau sudah tahu reputasi buaya kantor itu seperti apa, tapi dengan bodohnya kau malahan menerima cinta itu. Kau mungkin perempuan keseratus yang sudah menjadi korbannya.”
Renata berucap sarkas, sengaja untuk menyadarkan otak Adelle yang bebal.
“Kau ini sahabatku, bukannya menyemangatiku malah memarahiku, sahabat macam apa kau.” ucapnya bersungut-sungut, dibarengi dengan Adelle mengeluarkan ingusnya keras- keras dari lubang hidung yang ditutup dengan tisu.
Melihat Adelle yang seperti itu, Renata tak tahan untuk berekspresi jijik.
“Hentikan, itu sangat menjijikkan.” Serunya dengan ketus. Setelah dilihatnya Adelle sudah menuntaskan dengan isi hidungnya. Renata kembali menatap lekat-lekat ke arah Adelle
“Rasanya enak bukan dipermainkan?”
Mendengar kalimat Renata itu Adelle tak membantah sama sekali, dia kemudian menundukkan kepalanya.
“Rasanya memang sakit, tapi aku tidak menyesal telah menjadi barisan para mantan dari bos Alex. Kau tahu walaupun dia playboy, tapi dia sangat perhatian dan romantis.” Mendengar ucapan Adelle yang seperti itu, Renata tak tahan untuk mengumpatnya lagi.
“Dasar bodoh, sepertinya aku telah membuang waktuku dengan datang kesini.”
Renata kemudian membalikan tubuhnya hendak pergi dari ruang pantry, sebelum Renata sampai di ambang pintu. Adelle menimpalinya.
“Hei aku tidak seperti itu. Aku berdoa semoga dimasa depan nanti kau akan menjadi korban berikutnya dan mendadak bodoh sepertiku.”
Begitu mendengar kalimat Adelle. Renata lansung membalikan tubuhnya dan menatap Adelle dengan jengah.
“Dalam mimpimu, aku tidak sebodoh dirimu yang gampang jatuh cinta!”
Mendengar jawaban Renata, Adelle langsung tertawa mengejeknya.
“Kita lihat saja nanti sejauh mana kau akan menghindar saat Bos Alex sudah berniat mengejarmu, kau pasti akan jatuh cinta.”
“Dalam mimpimu!” Lagi-lagi Renata menimpalinya dengan kesal, kemudian menutup pintunya dengan marah.
Adelle yang sebelumnya sedih kini terkekeh geli melihat Renata marah-marah seperti itu. Rasanya sangat menyenangkan jika Adelle bisa menganggu Renata seperti tadi.
Renata mungkin pengecualian di kantor ini. Disaat perempuan lain akan bahagia kegirangan saat mendapatkan perhatian dari Alex. Renata malah meresponnya dengan ekspresi aneh. Adelle masih ingat kejadian beberapa hari yang lalu saat mereka berdua makan siang di kantin dan Alex. Tiba-tiba menghampirinya kemudian dengan sengaja mengajak Renata untuk berkencan, sayangnya bukan respon baik yang didapatnya yang ada, Renata menatapnya seperti sedang menatap orang gila.
“Kau ada waktu nanti malam Renata? Aku ingin mengajakmu makan malam bersamaku”
Adelle yang mengingat itu tiba-tiba tertawa terbahak. Menggelikan sangat menggelikan.
Saat tawaran itu ditolak mentah-mentah oleh Renata, Bosnya tidak marah ataupun tersinggung, dia hanya tersenyum kecut saat menerima penolakan. Dengan mengejutkan, setelah Alex pergi dari kantin, tidak lama kemudian Bosnya itu menelponnya untuk menyuruhnya masuk ke dalam ruang kerjanya. Semula Adelle sangat kaget dan penasaran saat tahu Bosnya itu memanggilnya, tapi karna rasa penasaran yang mendominasi, Adelle akhirnya menemuinya juga dan pada akhirnya mereka pergi berkencan. Adelle mungkin perempuan bodoh dan naif. Bodoh karna mudah terpesona dengan fisik Alex yang mempesona, hingga saat Alex mengajaknya berkencan, Adelle dengan cepat lansung menerima ajakan tersebut.
Dan naif, disaat reputasi Alex sudah terkenal sebagai buaya kantor, dia masih berharap bahwa Alex akan mencintainya dan hubungan mereka akan berjalan cukup lama. Tapi harapan tinggal harapan. Disaat mereka berkencan, semula berjalan dengan baik dengan mengucapkan kata-kata romantis, bahkan saat Alex mencium Adelle dirinya tidak menolaknya. Sampai dimana saat makan malam itu hampir selesai, Alex mengucapakan kata-kata yang membuat hatinya sakit.
“Aku berharap setelah kencan ini berakhir, aku ingin kau melupakan semua yang pernah kulakukan padamu malam ini. Dan satu lagi, aku ingin kau bersikap biasa saja saat kau melihatku di kantor, mengerti. Cukup bukan menjalin hubungan satu malam dengan Bosmu ini?”
Bahkan disaat Alex melontarkan kata yang menyakiti hatinya, lelaki itu masih sempat mengelus pipinya dengan lembut dan memasang senyuman manis tanpa rasa bersalah.
Mengikat kejadian itu, membuat keadaan hati Adelle kembali galau dan kesedihan yang sebelumnya telah hilang kini muncul kembali.
Menyedihkan sangat menyedihkan, memang pantas Renata menyebutnya bodoh.
Cukup, Adelle tak akan mengikat hal itu lagi! Akan lebih baik jika dia fokus berkerja, toh buaya kantor itu juga tidak akan repot- repot untuk mengingatnya kembali bukan? Dia playboy ulung, sudah pasti dia akan mendapatkan pengantinya dengan cepat!
********
Siang ini Renata tengah menyantap makan siang di kantin yang ada di dalam area kantornya. Renata makan dengan tenang, hingga ketenangannya terenggut saat ada suara yang menyapa dari belakang. “Kau disini rupanya, aku cari kau di tempat biasa tapi tidak ada.” Adelle berucap, kemudian mendudukkan dirinya di depan meja tempat Renata makan. Melihat Renata yang tak segera menjawab pertanyaannya, Adelle berucap kembali.
“Kau masih marah?”
“Tidak, kau tahu? Saat kita makan sebaiknya jangan sambil berbicara, itu tidak baik.” Renata kemudian melanjutkan makannya mengabaikan tatapan Adelle yang terasa menjengkelkan itu. Merasa terus di perhatikan dari depan seperti ini, Renata akhirnya tak tahan untuk segara mengkonfrontasinya. “Kau sebenarnya mau makan atau mau memandang wajahku?” mendengar ucapan Renata yang ketus itu Adelle kembali terkekeh.
“Hmm bisa di bilang aku sedang mengamati wajahmu.” ucapnya dengan nada menggoda.
“Cih hentikan, itu sangat menggelikan!”
Renata mengelak dan mulai kembali fokus menyantap makanannya. kali ini, Renata sepenuhnya mengabaikan Keberadaan Adelle sahabatnya yang selalu jadi pengganggu.
Disaat Renata tengah fokus makan, Adella masih memperhatikannya dengan bertopang dagu sambil memainkan garpu yang ada di piring berisi spaghetti.
Hingga muncul ide iseng, untuk menganggu Renata kembali merasuki pikirannya.
“Hmmm aku perhatian seperti kau ini cocok jika dipasangankan dengan buaya kantor kita.” ucapnya dengan kekehan geli.
Dan benar saja, didetik Adelle menyelesaikan ucapannya. Suara batuk keras langsung keluar dari mulut Renata. makanan yang sedang dalam kunyahannya yang hampir masuk kedalam kerongkongannya, kini menerjang keluar dari mulutnya dan menciptakan nuansa terbakar dari dalam kerongkongannya, hingga membuat mata Renata memerah. Dengan cepat, diraihnya gelas berisi air putih yang ada di atas meja makannya dan kemudian meminumnya dengan tegukan besar hingga tandas. Setelah dirasa dirinya sudah cukup tenang, Renata akhirnya memaku pandangannya ke arah Adelle. Ada nuansa kesal saat dia melontarkan kejengkelannya.
“Kau pikir itu lucu? Bagaimana kalau aku tersedak parah dan harus dilarikan ke rumah sakit karna ucapan bodohmu itu.”
Mendengar ucapan Renata, bukannya meminta maaf, yang ada Adelle mengangkat alisnya dan hal itu tentunya membuat Renata semakin kesal.
“Kenapa kau menatapku seperti itu?” ucapnya dengan galak.
“Ayolah Renata kau ini terlalu berlebihan, aku hanya ingin menggodamu saja, tapi tidak di sangkanya kau memang sangat anti dengan buaya kantor itu.”
“Bodoh”
“Hei, kau” Adelle berucap tak terima. Mereka kemudian saling bertatapan lama satu sama lain, seolah sedang mengukur kekuatan masing-masing, hingga akhirnya Renata kembali menimpalinya.
“Ya, kau bodoh, sudah jelas aku sangat anti dengan buaya kantor itu dan kau tahu itu, tapi dengan bodohnya kau tetap saja merundungku seperti itu, kau dan Alex sama-sama menyebalkan!”
Setelah meluapkan kekesalannya, Renata akhirnya bangkit berdiri dan pergi meninggalkan Adelle sendirian di kantin.
Kali ini terbesit rasa menyesal pada Adelle saat melihat kepergian Renata yang marah besar karna ulahnya.
Hi ….novel love in the Boardroom ini murni cerita dari aku sendiri ya. Terimakasih untuk kak bintang Timur yang sudah memberikan ilmu penulisannya, hihihi berkat kaBin tulisan aku jadi rapi. Cerita ini hanya cerita ringan bergenre romance, genre kesukaanku. Cerita ini aku tulis sebenarnya sudah lama, hampir sebulan terkubur di draf, hingga ahkirnya dengan kepercayaan diri, akhirnya aku posting disini. Maafkan ya kalau narasinya masih kaku, penempatan tanda baca masih kurang tepat. Namanya juga masih tahap belajar hihihih. Happy Reading~~~
Menulis Teryata Syulit
14 November 2024 in Vitamins Blog
Hai semuanya ketemu lagi dengan ku disini di bloggers kesayangan kita PSA.
Entah angin apa yang membuatku malam ini ingin mencurahkan isi pikiranku yang selalu mengayutiku selama beberapa hari ini. Mungkin karna kegabutan yang melanda, membuatku secara impulsif menuangkannya disini.
Menulis teryata sulit, kenapa?
Ya, dalam tiga bulan terakhir ini. Diriku dalam fase belajar menulis novel di platform sebelah. Jumlah Bab yang sudah mencapai empat belas chapter dengan total jumlah tiga belas ribu word. Sebagai pemula kelas amatiran sepertiku ini, menulis dengan jumlah yang lumayan banyak itu tentunya membuatku bahagia. Tetapi bukan itu tujuanku, bukan untuk memamerkan karya amatiran ku yang levelnya masih level zero.
Kesulitan yang sedang aku hadapi sekarang iyalah, melanjutkan part pertemuan dua tokoh yang sudah lama berpisah, bertujuan untuk menyelesaikan konflik, dan menuju happy ending. tapi sialnya disaat ide sudah tersusun rapi di otak, aku mengalami kesulitan dalam menuangkannya ke dalam tulisan. kadang disaat sudah di fase itu, semangat lansung down. Dan dengan pengecutnya tidak melanjutkannya sama sekali. hingga beberapa hari belakang ini, editor lapak sebelah selalu menotif diriku, selalu menanyakan update, update dan update, kadang suka kesel. Tapi balik lagi, aku menulis disana bukan untuk mencapai target, dan lagi, belum terikat apapun, aku menulis karna gabut dan iseng. bertujuan untuk mengasah kemampuan menulisku yang masih kelas remahan atom. karna alesan itulah, akupun mengabaikan notif tersebut. Membuat tokoh ciptakan ku terbengkalai menyedikan di draft.
(Maafkan diriku, Safira & David)
Dengan nakalnya bukannya stor naskah, yang ada lebih nyaman berselancar di PSA, masuk kedalam dunia fantasi yang indah. Membuat mood ku lansung naik saat berjumpa tokoh tokoh fiksi~ku yang tampan mempesona.~~~~~
Noted: kenapa nama female Lead ~nya Safira?
Ada yang tau jawabannya? Hihihi….
See you.

Dompetku Hilang Part 2
14 September 2024 in Vitamins Blog
Hah hilang! Perasaan dompet aku taroh disini atau jangan jangan…..
Asep pun melamun dan berpikir keras memikirkan nasib dompetnya yang telah raib itu. Terus berpikir dan berpikir hingga ingatannya jatuh ke sosok tinggi besar, berkepala botak dan berkumis tebal.
Ya dia pasti orangnya selama didalam Bus itu, orang botak itu selalu memantauku selama didalam Bus. Ya… Ya pasti dia orangnya.
” Asep ” Ujang memanggilnya dan membuyarkan lamunan Asep.
“Ujang kau ingat Laki laki tinggi, botak itu? Aku curiga kalau dia yang sudah mengambil Dompetku”
Ujang termenung dan seketika dia baru menyadarinya.
“Ya Asep aku ingat, orang botak itu selalu memantau kita selama di Bus itu, aku sampai risih dibuatnya, kalau yang memantau kita para gadis cantik aku gak bakal keberatan. ” Imbuhnya dengan kekehan pelan.
” Hei kau ini , aku dalam masalah besar kau malah bercanda. Bagaimana ini kau tidak liat pemilik rumah makan itu masih menunggu di sana berharap kita bayar dan segera cepat pergi dari tempat ini.”
Ucap Asep bersungut-sungut.
Ujang berpikir mencari cara untuk bisa lepas dari masalah yang membelit mereka. Setelahnya Ujang pun menebarkan aurah sumringah.
” Asep aku ada Ide, bagaimana kalau kita bayar pakai KTP ? ”
“Apa KTP? Kau berpikir kita ada di sebuah adegan Sinetron.” Tolaknya mentah- mentah.
” Terus bagaimana? Kau tahu kan aku hanya di bekali uang lima ratus ribu oleh ibuku, dan uang segitu aku di tuntut harus hemat. Sedangkan kita makan tadi hampir menghabiskan uang sembilan puluh ribu. Itu semua karna kau yang sok sok an mau traktir aku tapi malah tertimpa sial. ” Ucap Ujang dengan nada Kesal.
“Dasar kau pelit” Sindir Asep.
Sang pemilik rumah makan yang sejak tadi memperhatikan pemandangan dua anak malang tersebut, ahkirnya berucap kemudian.
“Kalian mengalami kesulitan? ”
“Iya Bu, dompetku sudah hilang, aku bingung untuk membayarnya” Jawab Asep.
” Ah tapi kalau ibu mau kami bisa menggunakan KTP kami untuk jaminan, bagaimana? ” Timpal Ujang dengan nada penuh harap.
“Nanti kalau kami sudah dapat pekerjaan dan dapat gajihan, akan kami tebus KTP kami” Imbuhnya.
” Tidak perlu ” Ucap sang Ibu warung singkat.
” Oh jadi kalian berniat mencari pekerjaan? Kebetulan suami saya sedang membutuhkan dua karyawan untuk cabang di rumah makan kami kota sebelah. ”
” Dan ya kebetulan suami saya sedang menuju kemari, Kalian bisa bertemu langsung nanti dengannya. Dan satu lagi kalian jangan takut dengan suami saya, walaupun penampilan suamiku dari luar sangat sangar dan galak. Ditambah penampilan yang mendukungnya, jadi banyak orang yang mengira kalau suamiku ini seorang preman. Tapi kalian jangan khawatir, dia sangat baik”
Pungkasnya.
“Bu kenapa dibilang sangar dan menakutkan Boleh kami tau ciri-ciri nya? ” Tanya Ujang dengan penasaran.
Sang ibu warung tertawa.
” Ya penampilan suamiku mungkin cukup bikin kalian takut, bagi yang baru mengenalnya. Dia Tinggi, botak dan berkumis tebal, dan tiap dia berbicara suaranya menggelegar. Pemilik warung itu terkekeh saat menjelaskan rupa suaminya itu kemereka.
Asep dan Ujang langsung pun berpandangan wajah setelah mendengar penjelasan pemilik warung tersebut. keduanya memikirkan hal yang sama menebak dengan bersamaan.
Berb
Berbadan Tinggi , kepala Botak, kumis tebal. Jangan-jangan dia……

Dompetku Hilang! ( Cerita Komedi ku)
5 September 2024 in Vitamins Blog
Asep dan Ujang dua sahabat karib
Yang terpaksa merantau di kota besar. Ibu mereka selalu berkata jadilah anak yang berguna , jangan jadi beban keluarga. Kemudian Seakan para orang tua itu mengusir anak mereka secara halus.Asep dan Ujang pun di bekali uang ala kadarnya.
Kemudian mereka pun pergi dan menaiki Bus. Bus yang mereka tumpangi penuh sesak dengan orang- orang didalamnya. Asep dan Ujang pun mulai mengobrol, mengabaikan hiruk pikuk di dalam Bus itu, Hingga Asep maupun Ujang. Mereka tidak menyadari bahwa ada sosok lain yang sudah lama mengintai Tas milik Asep.
“Ibumu membekali mu berapa uang” tanya Asep dengan nada penasaran.
” ibuku hanya membekaliku lima ratus ribu, itupun ibuku selalu mengomel untuk hidup hemat,hemat dan hemat.” Ucap Ujang bersungut-sungut.
Asep pun terkekeh ” Ibumu sangat pelit sekali ya, uang segitu mana cukup untuk hidup di kota besar”
Sebelum Ujang membalas ucapan Asep. Asep pun melanjutkan perkataannya lagi. ” Ah….tp bisa, cukup. asalkan kau rela seharian perutmu di isi nasi dan garam”
Setelah berucap, Asep tidak bisa menahan tawanya,dia tertawa lepas terbahak-bahak.sampai seisi didalam Bus itu menatap Asep dengan tatapan seperti menatap orang aneh.
Kemudian merekap turun dari Bus tersebut. setelahnya, Merekapun mampir kerumah makan mengisi perut yang sudah keroncongan.
Merekapun menghabiskan makanan tersebut dengan cepat. Kemudian Asep pun memanggil sang pelayan.
” Bu, semuanya berapa? ” Tanya Asep. ” Semuanya delapan puluh sembilan ribu mang” jawab sang pelayan.
ehh….apa tadi, mang..?
Dan seketika Asep pun protes.
” Bu saya masih muda, belum nikah juga,saya gak mau dipanggil begitu.” gerutunya . ” Lebih enak kalau ibu panggil saya dengan sebutan Mas, bang, atau kaka’ ucap Akrep kemudian.
Ujang yang sejak tadi diam, tidak bisa menahan kekehannya.melihat kelakuan sahabatnya itu.
” Asep, kamu jadi bayar ini semuanya?” Tanya Ujang.
” Pastinya, kau tak perlu cemas. kali ini aku yang bayar, uangku banyak” bales Asep dengan nada pongah.
Setelahnya Asep pun meraih tasnya, Dan tak lama kemudian diapun tertegun. hah…. Hilang! Perasaan dompet aku simpan di sini. atau jangan- jangan…….

Perjalanan bertemu PSA
15 Agustus 2024 in Vitamins Blog
Di mulai dalam satu Flatfrom baca Komik online, di mana dulu aku hobby sekali baca komik on going ataupun yang sudah tamat.
Komik tamat aku kebut sampai tuntas, bahkan begadangpun aku jalani dulu.
Begitulah seterusnya, sampe disuatu momen, iseng aku scrolling Mangatoon smpe mentok, karna gabut nunguin komik favoritku belum kunjung update. Disitu ada rekomendasi ‘novel paling populer’.
Nah aku klik donk karena penasaran. Dan setelahnya apa yang terjadi? Hehehe.
Kesan pertama saat baca karya beliau. Wow, keren banget, penulisan nya bagus bnget!. pokoknya beda lah sama gaya nulis cerita novel di lapak itu ,di mana cerita lain sebagian pake kata tak baku yang aneh saja saat di baca.
( menurut aku) dan begitulah seterusnya, di sajikan bacaan cerita yang sangat keren sekali. Mengisi hari-hariku di saat waktu luang. Ya walaupun di awal cerita di bikin terperangah karna watak pemain utama pria yang sangat barbar, tapi itu
tidak menyurutkan rasa penasaranku dengan cerita satu ini. Dan singkat cerita di suatu momen, lapak tersebut mempunyai fitur baru, fitur yang kusus di buat untuk pembaca dan penulis jadi satu wadah untuk saling berinteraksi yang postif. Atau lebih di kenal Grup Chat AY. Nah disitulah pembaca yg jumlahnya ribuan lansung masuk di grup chat ini. Setiap pemilik gc muncul, disitulah kecepatan chatnya berjalan sangat cepat! smpe2 si pemilik gc bingung mau bales yang mana ahaha. Seru lah kalau momen itu, sang pemilik GC sering memberikan ilmu, pengetahuan baru yang di bumbui dengan aksi lucunya. Bahkan aku yang gk tau apa itu kopi robusta dan arabika berkat beliau jadi tau. Yang aku tau kopi itu rasanya manis gak asem. Dan seketika lansung di ejek sang master kopi, kalau selama ini aku mengkonsumsi kopi palsu ahahaha.
Sampai dimana sang pemilik GC memberikan informasi yang cukup bikin semua pembacanya sedih. Karna cerita kesayangan kita akan pindah lapak kerena alesan sudah terikat sama PSA. Aku juga dulu sedih cerita dri Enncese series ketiga gak lanjut di sana. Dan saat sang pemilik GC pamit pergi, disitulah aku lansung masuk di website PSA. Dan pertama daftar member disini, dulu kalau tidak salah nunggu 15 hari baru bisa buka, hick sedih ya.
Dan disinilah aku, sudah jadi vitamins dan gabung sama PSA 5 tahun 4 bulan. Mengejar karya autor kesayangan, dan bisa baca karya author lainnya yang pastinya ceritanya sama bagusnya dengan karya beliu. Seneng jadi bagian dari PSA.Tim Author yang super baik ,ramah dan juga kocak dengan gayanya masing-masing, tak lupa juga mimin yang super baik yg 24 jam siap melayani keluhan para vitamins hehehe. I love you PSA