“Jika malam ini kau menerima tawaran pernikahanku, secepatnya aku akan mengumumkan pada semua orang kalau aku akan menikahimu.” Alex masih berjongkok, dengan tangan masih menunjukan sepasang cicin indah berkilauan dihadapan Renata.
“Aku bahkan sudah memberitahu semua orang rumah, bahwa aku akan segera menikah dan membawa calon nyonya di sana dan respon mereka…” melihat Alex menghentikan ucapannya, Renata langsung memandangnya dengan harap-harap cemas. “Kenapa kau berhenti, bagaimana respon mereka?” melihat tatapan cemas dari mata Renata, Alex tersenyum dan meremas tangannya lembut. “Mereka senang mendengarnya, bahkan sudah antusias sekali menunggu nyonya mereka segera tiba di rumah.”
“Alex, sungguh?” mata Renata berkaca-kaca mendengarnya karna merasa emosinya meledak, Renata langsung memeluk Alex yang masih berjongkok di depannya. Aksi Renata yang mendadak itu, sedikit membuat tubuh Alex yang masih berjongkok dengan menunjukkan cincinnya itu hampir terjengkang kebelakang. Beruntung dengan sigap Alex mempertahankan keseimbangan tubuhnya hingga tidak membuatnya jatuh.
Mereka berdua saling berpelukan, yang satu menangis terharu dan yang satu berusaha menenangkannya. “Sudah, jangan menangis semua akan baik baik saja.”
Di tengah isakannya, Renata berusaha berbicara dengan sesenggukan. “Aku menangis karna aku.. aku.” Renata tak sanggup melanjutkan ucapannya karna emosi yang masih menguasai hatinya. Dan dengan bijaksana Alex tidak mengatakan apa- apa, terus memeluknya memberikan waktu bagi Renata untuk meluapkan segala emosi di hatinya.
“Dulu aku sangat tidak menyukaimu, jangankan memikirkan untuk menikah denganmu melihatmu saja pada saat itu aku sangat membencimu. Tapi setelah aku berusaha membuka hatiku, kau tidak seburuk itu, dulu aku berasumsi kau bukan dari kalangan keluarga yang baik. Aku selalu berpikir seperti itu, tapi setelah mendengar kau mengatakan pada orang di rumahmu bahwa kau akan menikahiku, teryata respon mereka sebaik itu, Itu yang membuat aku terharu Alex, maafkan aku karna di saat aku masih membencimu aku sudah berpikir yang tidak-tidak.”
Di tengah perkataannya yang panjang lebar dan penuh air mata, Alex kemudian mendorong sedikit pelukannya dan menatap wajah Renata yang merah dan basah. “Sudah jangan menangis lagi, itu hanya masa lalu, kau tidak perlu minta maaf padaku, aku yang salah.” ucapnya menenangkan.
Saat di lihatnya Renata masih sesenggukan, Alex kemudian berdiri dan membatu Renata untuk duduk kembali di kursinya, setelahnya Alex menatap kembali ke arah Renata yang masih menunduk. “Lihat, kau menangis seperti itu, wajahmu terlihat kacau, rambutmu berangkatkan bahkan bando yang kau kenakan hampir terlepas seperti itu.” mendengar ucapan Alex yang perhatian itu seketika tangan Renata terangkat dan menyentuh bando yang dia kenakan sebagai aksesoris di rambutnya.
“Renata” Alex memanggilnya pelan, karna dilihatnya sosok yang didepannya masih menundukkan kepalanya, Renata pun akhirnya mengangkat pandanganya. “Ya?” melihat wajah yang berantakan, Alex menghembuskan nafasnya kasar kemudian dia berdiri dan menyeret kursinya agar mendekat di samping Renata.
Setelahnya dia mengambil beberapa lembar tisu yang ada di atas meja makan dan mulai mengelap di wajah Renata dengan lembut. “Kau ini teryata mudah menangis, jika kau keluar dalam keadaan berantakan seperti ini, orang-orang akan mengira bahwa aku sudah melakukan kekerasan padamu.” ucapnya dengan kekehan geli, sengaja untuk menghibur Renata dan aksinya itu berhasil membuat Renata kembali tersenyum.
“Renata, semua orang yang ada di rumahku adalah pelayanku, aku hanya tinggal bersama meraka dan saat aku memberi kabar aku akan menikah, mereka sangat bahagia, karna pada akhirnya majikannya tidak melajang seumur hidupnya.” diakhir setelah mengucapkan perkataannya, Alex tak tahan untuk tak terkekeh kembali.
Di sisi lain Renata yang sudah tidak menangis lagi dan setelah mengetahui informasi itu, dia langsung mengajukan pertanyaannya dengan penasaran. “Orang tuamu tidak…tidak tinggal bersamamu?”
“Ibuku sudah meninggal saat aku masih kuliah dan ayahku…. ” Alex sengaja tidak melanjutkan perkataannya, karna baginya menceritakan sosok ayahnya itu hal yang sangat menjengkelkan, tapi karna ini Renata yang bertanya, dengan baik hati Alex pun tak keberatan menceritakan kebobrokan ayahnya itu. “Ayahku setelah kepergian Ibuku, tak lama kemudian dia menikah lagi dan menetap di luar negeri bersama istri barunya, setelah menikah dia seperti melupakanku tidak pernah pulang ke rumah atau sekedar berbasa basi untuk menanyakan kabarku.”
Menceritakan kisah ayahnya, tiba-tiba ekspresi Alex berubah keras. “Tapi aku tidak ada waktu bersedih hanya untuk memikirkan dia, karna bagiku dia sudah tiada.”
“Aku mengerti Alex.” Renata berucap menenangkan, untuk meredam emosi Alex yang keluar saat membahas tentang ayahnya itu. Renata kemudian tersenyum kearahnya dan berucap riang bertujuan untuk mengalihkan kemarahan Alex. “Hmm kalau dipikir-pikir jika aku menikah denganmu aku akan menjadi nyonya besar tunggal di rumahmu? Ah rasanya pasti sangat menyenangkan, aku bisa membuat kue sesukaku dan berbagi resep makanan dengan pelayananmu di sana.”
Dan benar saja, begitu mendengar perkataan Renata, Alex yang sebelumnya berekpresi keras kini berubah cerah dan meresponnya dengan sensual. “Kata siapa kau kan melakukan itu semua, jika kau sudah menjadi istriku nanti, aku akan membuatmu selalu ada di tempat tidur. Itu tugas utamamu, makan, tidur, menyambut suami pulang kerja dan melakukan hal-hal yang menyenangkan hingga tercipta duplikat kita berdua.”
Wajah Renata memerah mendengar arti kalimat Alex yang penuh makna itu. “Ah lupakan membuat kue, sepertinya aku salah bicara.” Alex terbahak mendengarnya, kemudian secara mengejutkan dia bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya kearah Renata.
“Ayo kita pulang, membicarakan hal-hal yang menyenangkan aku sudah tidak sabar melakukannya.”
“Alex, kau!” Renata memelototinya.
“Tidak melawati batas hanya sekedar berpelukan, anggap saja ini perayaan karna kau sudah menerima tawaran pernikahan ini sayang.”
“Kau, aku tidak mau!” Alex hanya tersenyum manis melihat ekspresi Renata yang galak itu dan tetap menggandeng tangannya mengajaknya keluar dari restoran itu dan menuju hotel terdekat.
Sepanjang Alex menarik tangan Renata berjalan meninggalkan restoran itu, Renata terus menolak, tidak setuju dengan usul Alex yang penuh rencana mesumnya itu, tapi sosok yang sedang menarik tangannya hanya tersenyum sambil lalu, membuat Renata semakin kesal.
****
Dua hari berlalu setelah Renata menerima lamaran pernikahan Alex. Semua rekan yang ada di tempat kerjanya mengucapkan selamat pada Renata, merasa bangga karna pada akhirnya Renata mampu menaklukan Alex.
Alex yang dulu terkenal Playboy, suka membuat anak buahnya menangis karna patah hati. Julukan-julukan aneh pernah disematkan pada Alex, saat mereka marah dan sakit hati karna perbuatannya.
Alex yang awalnya mengejar Renata karena iseng, tanpa diduga Alex malah jatuh terperosok ke dalam pesona Renata dan tak mampu berpaling darinya.
karna hal itu image playboy yang dulu melekat erat, kini memudar musnah berganti menjadi sosok lelaki yang setia hanya mencintai satu wanita.
“Kau hebat Renata, kau mampu menaklukkan Bos Alex sang buaya kantor itu, semoga pernikahanmu selalu bahagia.” ucap salah satu teman kantornya saat Renata baru saja memasuki ruang kerjanya.
Mendapatkan ucapan selamat, Renata membalasnya dengan senyuman ramah.
*****
Jam makan siang sudah tiba, saat ini Renata, Adelle , Maya Anna dan juga Zarah tengah menikmati makan siangnya. Sepanjang mereka melakukan sesi makanya semua tak ada yang berbicara, fokus dengan makanan yang sedang disantapnya.
Sampai di mana, saat mereka semua menyelesaikan makannya, barulah mereka berempat mulai mengobrol satu sama lain. Mereka mengobrol kesana kesana, hingga tanpa sengaja mereka mengobrol tentang anak. Membicarakan tentang anak, Adelle menatap sekilas ke arah Renata yang masih makan, dan muncul ide iseng untuk mengganggunya.
“Hmm membicarakan tentang anak sepertinya sangat menyenangkan, betul tidak Maya, Anna, Zarah?” ucapnya dengan semangat. “Pastinya. Kita tahu sendiri bukan kalau sahabat kita ini akan segera menikah dalam waktu dekat.” Maya berucap memprovokasi.
Adelle tertawa. “Ahahaha…Kau benar maya. Kau bisa tebak, Renata akan punya anak berapa?”
“Satu? ” Anna memberikan Jawaban tak yakin.
“Dua atau kembar tiga? Ah tidak- tidak, tiga terlalu banyak. Dua cukup.” Kali ini gantian Zarah yang berpikir keras.
“Hmm jika dari keluarga Bos Alex ada keturunan kembar dan gen Renata juga ada yang kembar, kemungkinan saat mereka menikah nanti akan mempunyai bayi kembar empat!” Maya berucap berapi-api hingga Adelle tertawa terbahak-bahak.
“Ahaha, Astaga kembar empat. Kau gila maya.”
“Kalian bisa diam tidak.” Renata menegur teman-temanya yang berbicara tanpa henti. “Ah… baiklah Nyonya swan aku berhenti.” Adelle menjawab sambil cekikikan dan Menyenggol sikutnya ke arah Maya.
“Kalian dari tadi selalu bicara anak dan anak. Memangnya kalian pikir mengurus anak hal yang mudah?”
“Memang mudah bukan, kau hanya mengurusnya, jika nanti kau punya anak dan anakmu menangis kau tinggal memberinya susu dan anak itu pada akhirnya diam, beres bukan?
Mendengar jawaban Adelle yang polos dan terkesan menyepelekan itu, Renata menjadi kesal. “Jawabanmu sungguh bodoh Adelle.”
“Hei Renata kenapa kau marah, apa kau sedang menstruasi makanya marah marah seperti ini?”
Mendengar Pertanyaannya, Renata memutar bola matanya, tak habis pikir dengan sahabatnya ini yang jika berbicara suka seenak jidat dan serampangan. “Aku tidak sedang PMS jadi jangan sok tahu.”
Adelle hanya terkekeh mendengarnya, melihat Renata marah-marah seperti ini sudah hal yang bisanya baginya.
“Aku marah padamu, karna jika kau mengatakan hal yang kau ucapkan tadi pada seorang ibu yang punya banyak anak, aku jamin kau akan didorong sangat keras atau bahkan ditampar.” ucapnya berlebihan dengan sengaja, bahkan di saat Renata menyelesaikan kalimatnya itu, dari sudut bibirnya tak tahan untuk tertawa.
Kemudian Renata melanjutkan kembali ucapannya. “Asal kau tahu Adelle. Mengurus anak itu hal yang sangat melelahkan untuk seorang ibu, mereka harus rela mengasuh anak seharian dari pagi hingga malam, bahkan jika anak sakit, si ibu pasti akan merasa panik luar biasa bahkan jika anak sedang demam karna tumbuh gigi, susu yang ada di dalam dot pun tidak akan mau diminumnya, anak akan terus menangis dan menangis. Belum lagi gejala baby blues di mana saat ibu baru melahirkan akan merasa cemas luar biasa hingga untuk melihat anaknya sendiri pun tidak berani dan selalu ketakutan, sedih dan marah bahkan jika si ibu sudah depresi berat, dia akan nekat untuk melakukan bunuh diri. Dan mendengar ucapanmu yang seenak jidat tadi, yang mengatakan mengurus anak adalah hal yang mudah pasti akan membuat ibu di luaran sana ingin sekali membungkam mulutmu itu.”
“Baik-baiklah aku mengerti penjelasanmu Renata dan hentikan itu, itu terlihat mengerikan.” Adelle menimpali perkataannya dengan putus asa.
Hening
“Lantas, jika mempunyai anak semengerikan itu, apa kau tidak mau mempunyai anak setelah menikah?” Maya yang dari tadi diam, kali ini berucap sambil menatap Renata dengan penasaran.
“Aku tetap ingin mempunyai anak, dan aku berencana mengikuti program perintah. Dua anak cukup, laki- laki dan perempuan.” ucapnya sambil tersenyum dan menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya berbentuk V.
“Itu bagus. Saat dirimu sudah menjadi istri Bos Alex, sepertinya kau tidak akan mengalami kesulitan dalam mengurus anak. Karna aku mendengar Bos Alex tinggal di rumah yang besar dan punya banyak pelayanan, sepertinya kau akan menjadi ratu tunggal di rumah itu.” Renata yang mendengar perkataan Maya hanya tersenyum. “Entahlah, aku tidak memikirkan hal itu. Aku hanya ingin hidup bahagia dengan Alex.”
Anna yang sejak tadi menyimak dan jadi pendengar diantara mereka semuanya tampak mengerutkan kening, berusaha mencerna perkataan Renata yang sebelumnya saat menjelaskan mengasuh anak pada Adelle.
Aksi Anna yang aneh itu membuat Adelle mengangkat alisnya. “Kau kenapa? Apa yang kau pikirkan, kau terlihat sedang berpikir keras?” ucapnya dengan nada penuh curiga. Mendengar Adelle berbicara, Anna pun menatapnya kemudian pandangannya beralih ke arah Renata. “Aku hanya berpikir,saat kau menjelaskan soal anak pada Adelle terlihat fasih sekali, padahal kita semua tahu kalau kau masih lajang bukan? Belum punya pengalaman mengasuh anak?”
Renata kembali memutar bola matanya dengan konyol. Sungguh mempunyai sahabat yang kadang pintar kadang bodoh memang sangat menjengkelkan.
Memangnya memahami hal itu harus punya anak terlebih dulu? Di era sekarang, di mana informasi pengetahuan bisa didapatkan dengan mudah untuk bisa diakses dimanapun kapanpun bukan?
Renata menipiskan bibirnya, berusaha menjelaskan dengan cara yang lebih realistis. Renata tidak mungkin menjawab pertanyaan Anna dengan mengatakan jika dia mendapatkan pengetahuannya itu dari Internet bukan?
“Aku tahu hal itu, karna dari lingkungan tempat tinggalku. Asal kalian tahu, aku tinggal di komplek perumahan yang sebagian besar tetangganya adalah seorang Ibu rumah tangga yang kesehariannya mengasuh anak. Dan setiap aku melihatnya dengan segala kompleksitasnya itu, aku sadar bahwa mengurus anak itu tidaklah mudah.”
Semua terdiam saat Renata menyelesaikan penjelasannya. Saat semua masih dalam keheningan tiba-tiba ponselnya berbunyi. Renata menatap ponselnya dan membaca pesan masuk, pesan itu dari Alex. ‘Cepat keruanganku, ada yang ingin aku bicarakan padamu’
Setelah membaca pesan dari Alex, Renata akhirnya memandang keempat sahabatnya itu dengan tatapan meminta maaf.
“Aku harus pergi, Alex memanggilku ada hal penting yang musti dibicarakan.”
“Ah baiklah-baiklah cepat kau pergi dari sini dan datangi kekasih hatimu itu, sepertinya dia sudah rindu sekali ingin bertemu denganmu.” Adella berucap bersungut-sungut hingga membuat semua teman-temanya tertawa.
“Oke, aku pergi dulu.”
“Bye Renata semoga sukses!” Maya, Anna dan Zara berucap bersamaan yang terdengar konyol.
****
“Kau sudah makan siang?” saat Renata baru memasuki ruang kerjanya, Alex langsung bertanya penuh perhatian. “Sudah, aku makan di kantin bersama Adelle dan yang lainnya.” ucapnya sambil mendudukkan diri di sofa. Saat Renata sudah duduk di sana, Alex langsung berdiri dari kursi kerjanya dan bergegas menghampiri Renata. Saat sudah duduk di sebelahnya tangannya langsung merangkul tubuh Renata erat.
“Aku sudah menemukan hari dan tanggal yang cocok untuk pernikahan kita Renata.” Alex berucap memberitahu dengan tatapan penuh cinta. “Sungguh? Secepat itu?”
“Hmm sungguh, aku bahkan sudah menyewa satu resort untuk acara pernikahan kita. Besok lusa kita akan menikah, menikah dengan pemandangan pantai yang indah. Pantai yang akan menjadi saksi untuk cinta kita berdua.”
Alex dengan semangat memberitahu rencananya indahnya itu, hingga membuat Renata akhirnya melepaskan rangkulannya dan mengubah posisi duduknya menghadap ke arah Alex. Matanya berbinar cerah saat berucap. “Pantai? Kita akan menikah di pantai?”
“Iya, apa kau suka?” Alex bertanya, dan tersenyum manis saat melihat Renata menganggukkan kepalanya. Karna gemas Alex tak tahan untuk mencubit pipi Renata sedikit kencang hingga membuat Renata mengaduh. Mereka akhirnya saling berpelukan, Renata terkekeh-kekeh geli karna pelukan Alex yang nakal, melihat Renata tertawa seperti itu, dirinya kembali memeluk erat tubuh Renata gemas.
“Jadilah istri yang baik saat kau sudah menjadi milikku, kurangi marahmu itu, karna jika kau sering marah-marah tak jelas saat kita sudah jadi suami istri, aku akan memberikan hukuman yang berat untukmu.”
“Hukuman? Hukuman apa?” Renata berucap polos.
“Nanti, kau akan tahu sendiri.” Jawabnya penuh makna.
*****
Pagi ini resorts yang sudah disewa Alex untuk acara pernikahannya sudah siap.
Semua kursi cantik, berpita putih sudah dijejerkan dengan rapi, dan lampion lampion indah sudah digantung dengan sempurna. Semua dekorasi warna putih dan pink muda mendominasi tempat ini.
Di depannya terdapat altar yang berlatar belakang pantai yang luar biasa indah. Dengan deburan ombak di bawah langit biru cerah yang memperlihatkan burung camar terbang kesana kemari di tengah lautan.
Altar untuk sang pengantin, saat kedua mempelai mengucapkan janji sucinya. Altar itu terlihat cantik, beralaskan karpet beludru berwarna putih dan di tengahnya terdapat tiang kokoh yang diselubungi bunga-bunga cantik di kanan dan kirinya. Dan di belakangnya terdapat tanaman rambat warna hijau cerah yang melengkung mengikuti pola tiang yang membentuk simbol ‘hati’. Semua pemandangan itu begitu indah, hingga siapapun yang melihat tempat ini, secara spontan ingin berfoto selfie dan membagikannya disosial medianya.
****
“Aku sangat gugup.” Renata menatap cemas kearah depan meja riasnya yang memantulkan bayangan Adelle yang berdiri di belakangnya. Melihat sahabatnya gugup, Adelle kemudian meremas pundak Renata lembut bertujuan untuk menenangkan.
“Semua akan baik-baik saja, jangan pikirkan sesuatu yang membuatmu gugup Renata, semuanya pasti berjalan lancar.” Adelle tersenyum, menatap Renata dari cermin. “Lihat, kau sangat cantik, dengan gaun putih yang kau kenakan ini sangat indah, kau seperti putri dari negeri dongeng dengan rambut hitam panjang berbando bunga dan matamu yang berwarna biru cerah, benar-benar seperti imajinasiku setiap aku membaca buku fantasi favoritku.”
Mendengar pujian dari Adelle yang terdengar berlebihan itu, Renata ingin sekali menyanggahnya, tapi dia sadar di saat sekarang bukan waktunya untuk bercanda, dia terlalu gugup hingga saat mendengar pujian dari sahabatnya itu, Renata hanya tersenyum pasrah ke arah Adelle dan menggenggaingm tangan sahabatnya itu. “Terimakasih Adelle kau memang sahabatku.”
****
Alex dan Renata kini sudah berdiri di atas altar pernikahan saling berhadapan satu sama lain, tangan mereka saling menggenggam. Mereka berdua sudah bertukar cincin pernikahan, pun Alex sudah mengucapkan janji sucinya pada Renata, hingga membuat perempuan itu menangis karena terharu.
Di depannya, tamu undangan yang duduk dengan khidmat tampak menyaksikan semuanya dengan tenang. Di sana Bos besarnya, Adam dan keluarganya telihat hadir. Adam tersenyum penuh arti dan mengacungkan jempolnya ke arah Alex.
Di belakangnya nampak semua anak buahnya ikut hadir dengan ekspresi cerah. Bahkan keempat sahabat Renata sudah berdiri di sana, mengharapkan agar Renata segara melempar bunga pernikahannya.
Alex kemudian menatap kembali pada Renata dengan penuh cinta.
“Kau sangat cantik, kau terlihat seperti bidadari laut sayang.” wajah Renata bersemu merah, kemudian dengan malu-malu dia menatap wajah Alex lekat.
“Kau juga sangat tampan, Kau terlihat sangat tampan hari ini, hingga aku mensyukuri telah bertemu denganmu dan menikah denganmu.” ucapan tulus Renata itu, membuat Alex langsung meraih pinggang Renata memeluknya dan menciumnya dalam.
Ciuman itu berlangsung lama saling beradu bibir dan lidah dengan semangat, seakan-akan mereka berdua lupa, bahwa mereka tengah disaksikan banyak orang.
Suara berdehem Adelle yang kencang berhasil menginterupsi ciuman sang pengantin dan berhasil menyadarkan mereka berdua.
“Astaga Renata, aku baru menciumi seperti ini dan aku sudah tidak bisa menguasai diri. Aku sudah tidak sabar, aku…aku ingin acara sialan ini cepat berakhir. Dan melanjutkan hal yang lebih dari ini.” ekspresi Alex yang frustasi dan nafas hangatnya menerpa wajah Renata, saat dia mengutarakan perasaannya.
sekarang mereka beradu hidung menetralkan nafas yang berkejaran imbas ciumannya tadi, setelah nafas mereka sudah tenang Alex kembali menarik tubuh Renata dan memeluknya erat.