Vitamins Blog

Gita Cinta Pertama (Part. Cinta Pertama Masa SMA)

Bookmark
ClosePlease loginn

No account yet? Register

3 votes, average: 1.00 out of 1 (3 votes, average: 1.00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

Women-are-Fierce-Made-with-PosterMyWall-211x300

Bab 1.

“Luruskan saf!” ujar ketua OSIS yang hari ini menjadi imam shalat berjamaah di mushala sekolah salah satu SMA Negeri di Jakarta.

“Allaaahu Akbar!”

Keadaan langsung tenang usai sang imam mengucapkan takbir tanda shalat dzuhur berjamaah dimulai. Tak hanya memulai shalat tapi juga mulai menertibkan siswa kelas 3 yang hari ini kena giliran menegakkan shalat berjamaah sewaktu jam istirahat terakhir.

Hanya butuh kurang lebih hampir 7 menit untuk menyelesaikan shalat dan memberi salam. Rahmat, sang wakil ketua OSIS berdiri paling akhir setelah teman-temannya bubaran dari saf. Ia bangun setelah berdoa dan meminta kelancaran pada masa-masa akhir sekolahnya. Kurang dari satu bulan ia akan menempuh ujian akhir untuk bisa lulus.

“Mat, lo mau pulang sekarang?” tanya Ketua OSIS, Alex Darmawan yang yang tadi memimpin Shalat.

“Gak, gue masih ada tugas dari Pak Tono. Katanya buat ujian minggu depan,” jawab Rahmat sambil membereskan sajadah panjang yang digunakan sebagai alas Shalat tadinya. Alex pun mengangguk dan ikut membantu Rahmat membereskan sajadah-sajadah meski tak diminta.

Di luar, seorang gadis celingukan mencoba mencari-cari seseorang yang ia kenal masih berada di dalam Mushala. Ia bahkan berjinjit dan terus melihat-lihat apakah yang ditungguinya keluar. Tapi sedari tadi yang keluar hanyalah siswa lain selain yang ia tuju. Tak lama, yang ia tunggu akhirnya datang juga. Bibirnya langsung mengembangkan senyuman manis.

Ia menunggu dengan sabar sampai kekasih pujaan hatinya selesai memasang sepatu sambil duduk di tangga mushala. Terlihat si ketua OSIS yang keluar berbarengan dengan Rahmat, wakilnya menyenggol temannya.

“Tuh, cewek lo!” Rahmat menaikkan wajahnya dan tersenyum pada kekasihnya, Gladysa Sarah Angelica Hoen. Rahmat mempercepat mengikat tali sepatunya dan pamit pada temannya.

“Duluan ya, Lex!” Alex mengangguk saat Rahmat setengah berlari pada kekasihnya Gladys.

“Udah lama?” tanya Rahmat sambil tersenyum.

“Gak kok, baru sepuluh menit. Kamu baru selesai shalat ya?” tanya Gladys dengan senyuman manisnya yang selalu bisa membuat hati Rahmat meleleh bagai es krim terkena sinar matahari di siang bolong.

“Iya,” jawab Rahmat singkat. Padahal Gladys sudah tau Rahmat pasti habis shalat dzuhur kalau tidak untuk apa dia di Mushala tapi ya namanya juga basa basi pacaran SMA.

“Yuk!” ajak Rahmat berjalan di sebelah Gladys dengan sambil tersenyum. Gladys jadi makin tersipu dan ikut berjalan masuk kembali ke lingkungan sekolah usai Shalat Dzuhur.

“Oh iya, aku ada bawa makanan jadi aku mau makan siang sama kamu,” ujar Gladys sewaktu mereka sedang berjalan masuk ke dalam kelas.

“Oh. Aku masih ada tugas dari Pak Tono, Dys,” jawab Rahmat membuat Gladys sedikit merengut. Rahmat jadi tak tega menolak perhatian gadis itu padanya.

“Ngg… gini aja. Kamu tinggalin bekal itu nanti aku akan makan. Jadi kamu pulang aja duluan, bukannya kamu ada les hari ini?” ujar Rahmat memberikan usulan pada Gladys. Gladys jadi sedikit manyun karena ia ingin bisa menemani Rahmat makan siang.

“Ya udah deh kalo kamu gak mau aku temenin,” ujar Gladys lalu berbalik. Tangan Rahmat dengan cepat menarik lengan Gladys menghalanginya pergi.

“Jangan marah. Aku bukannya gak mau, tapi kalo kamu nemenin aku makan nanti kamu bisa telat mau pergi ke tempat les. Sebentar lagi kan kita ujian, sayangkan kalo gak lulus!”

“Emangnya kalo gak ikut les sehari, bisa gak lulus ujian!”  Rahmat tersenyum dan menggeleng pelan.

“Aku tau kamu pinter tapi gak ada salahnya kan mempersiapkan ujian dengan lebih matang. Supaya kamu bisa maksimal.” Gladys terdiam lagi dengan nasehat Rahmat. Pacarnya itu memang siswa teladan di sekolah. Jadi ia memang selalu mengarahkan Gladys agar menjadi pelajar yang lebih baik serta berprestasi. Akhirnya Gladys mengangguk dan tersenyum pada Rahmat.

Ia setuju tak menemani Rahmat makan siang agar tak terlambat pergi les. Usai meletakkan bekal makan siang di atas meja Rahmat, Gladys pun keluar dan pulang untuk belajar kembali di tempat les. Ia bahkan tidak mengganti pakaian jika ada pelajaran tambahan di salah satu bimbel paling bonafid di Jakarta.

Gladysa Sarah Angelica Hoen adalah salah satu siswi tercantik dan terpintar di sekolahnya. Ia anak dari pengusaha properti dan pertambangan terkenal keturunan Belanda, Ferdinand Hoen. Tapi Gladys tidak seperti anak-anak pengusaha yang biasanya manja dan suka bermalas-malasan. Ia bahkan selalu mendapat peringkat pertama di kelasnya. Tak hanya itu, Gladys juga merupakan salah satu dari anggota dari tim debat Bahasa Inggris yang sudah menyabet banyak penghargaan dari berbagai lomba debat Bahasa Inggris yang diikuti sekolahnya.

Dibalik kepintaran dan kecantikannya, Gladys malah berpacaran dengan Rahmat, siswa yang sama tingkatan dengannya yaitu di kelas 3. Rahmat adalah siswa sederhana yang juga merupakan pemilik peringkat pertama di sekolahnya. Rahmat adalah wakil ketua OSIS selain ia adalah penerima beasiswa berprestasi selama bersekolah.

Perbedaan mereka sangat mencolok jika dibandingkan dari segi ekonomi. Orang tua Rahmat hanyalah supir angkot sementara Gladys adalah pengusaha terkenal. Fisik mereka pun cukup jauh berbeda. Rahmat yang berkulit sawo matang layaknya orang Indonesia pada umumnya berpasangan dengan Gladys yang memiliki kulit bersih dan putih layaknya orang Eropa karena ia memang keturunan Belanda.

Akan tetapi, Gladys sangat menyukai Rahmat. Belakangan Rahmat juga pernah mengunjungi rumah Gladys tapi tak mendapat sambutan yang baik dari orang tua pacarnya. Terutama sang Ayah, Ferdinand yang langsung tidak menyukai Rahmat.

Keesokan harinya, Gladys memanfaatkan hari minggunya dengan datang ke rumah Rahmat. Gladys paling senang berkunjung ke rumah pacarnya itu. Rumah sederhana di pinggiran Jakarta Selatan yang masih terdapat sisa-sa kampung di tengah megahnya pembangunan Ibukota.

Dengan langkah riang, Gladys diantar supirnya ke rumah Rahmat. Ia keluar dari mobil dengan senyuman lebar menghampiri warung kecil di depan rumah Rahmat.

“Pagi, Bu!” sapa Gladys pada Ibu kandung Rahmat, Bu Fatimah. Fatimah langsung tersenyum dan keluar dari warungnya menyapa Gladys. Gladys menjulurkan tangan dan mencium punggung tangan Fatimah.

“Eh, Non Gladys. Apa kabarnye ni?” tanya Bu Fatimah dengan logat betawinya yang kental.

“Baik, Bu. Rahmatnya ada?”

“Ade… bentar ye Ibu panggilin dulu!” Gladys tersenyum dan mengangguk.

“Nah… Nah… panggilin abang lo, dicariin Non Gladys ni!” teriak Bu Fatimah pada salah satu anak perempuannya yang tengah menyapu halaman. Enah, adik kedua Rahmat lalu menegakkan tubuhnya dan tersenyum pada Gladys yang datang.

“Eh, ada Kak Gladys. Masuk Kak… bentar ya, aye panggilin Bang Rahmat dulu!”

“Makasih ya, Nah!” Enah mengangguk dan buru-buru masuk ke dalam. Dari luar terdengar lagi teriakan Enah memanggil Kakak laki-lakinya. Rumah Rahmat selalu ramai karena celotehan seluruh anggota keluarganya. Itulah yang sangat disukai Gladys. Keluarga Rahmat begitu hangat tak seperti rumahnya yang selalu sepi karena orangtuanya yang hampir tak pernah ada di rumah.

Tiba-tiba, Ayah Rahmat, Marzuki keluar sambil memakai peci dan mengeratkan lilitan sarung di pinggangnya.

“Eh, ada Non Gladys… hehehe… udah lame, Non!” Gladys mengangguk dan tersenyum. Ia bangun seperti biasa ia mencium tangan orang tua Rahmat.

“Baru, Pak. Baru aja nyampek. Bapak mau kemana?” tanya Gladys berbasa-basi.

“Ah, gak kemana-mana. Baru selesai sholat, hehehe… nyari si Mamat yak!” Gladys mengangguk. Pak Marzuki mengangguk dan tersenyum lalu ikut berteriak memanggil anaknya di depan pintu rumah.

“Mat… sini lo! Non Gladys datang ni!” Rahmat baru muncul di depan pintu dengan baju setengah basah oleh keringat dan diberi gelengan kepala oleh Ayahnya.

“Lama banget sih lo! Orang jadi lumutan nunggunya!” hardik Pak Marzuki pada putranya.

“Pan tadi Babe nyang nyuruh aye gerekin nangka!” jawab Rahmat cepat.

“Ngejawab aja lo, tuh demenan lo dateng, hehehe!” sahut Pak Marzuki menaikkan alis menggoda Rahmat.

“Ah, Babe…” Pak Rahmat masih saja terkekeh melirik Rahmat sebelum ia kemudian masuk dan meninggalkan Rahmat yang sedikit salah tingkah melihat Gladys.

“Udah lama ya?” tanya Rahmat menyeka peluh di keningnya.

“Gak kok, baru aja. Kamu lagi ngapain?” Gladys memperhatikan Rahmat yang keringatan dengan kaos yang cukup lusuh. Tapi bagi Gladys, Rahmat jadi terlihat sangat tampan.

6 Komentar

  1. Tks ya kak udh update.

  2. Woh 😳

  3. Masa penuh cinta

  4. Another nation :ohyeaaaaaaaaah! :ohyeaaaaaaaaah! :pedas