Vitamins Blog

Land Under Heaven : Permohonan

Bookmark

No account yet? Register

“Wake Me Up”

Wish that I could stay forever this young
Not afraid to close my eyes
Life’s a game made for everyone
And love is the prize

So wake me up when it’s all over
When I’m wiser and I’m older
All this time I was finding myself
And I didn’t know I was lost

40 votes, average: 1,00 out of 1 (40 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

 

*

Hari ini perayaan hari keberkahan negeri inka, setiap orang diseluruh penjuru negeri inka akan berbondong-bondong memasuki kuil Alindra untuk berdoa bersama ditempat itu. Kuil Alindra merupakan kuil terbesar dan terletak dipusat kota, masyarakat dari berbagai penjuru inka akan datang ke kuil Alindra minimalnya satu kali setahun.  Rakyat yang hidup di pinggiran kota harus menempuh perjalanan beberapa hari untuk sampai di pusat kota.

Eila dan keluarganya tinggal di salah satu kampung yang jauh dari kota. Kampung ini terletak hampir berdekatan dengan Benteng pemisah negeri inka dengan negeri syanth. Benteng berupa perairan luas yang membentang jauh dan menyambung mengelilingi tiap-tiap negeri. Bumi kecil negeri inka berdekatan dengan negeri syanth yang satu-satunya negeri beraliran netral, tidak memihak kepada negeri manapun.

Bahkan sejak peperangan besar dahulu ketika bumi ini masih berupa daratan, hanya negeri syanth yang senantiasa memberikan bantuan kepada negeri inka yang dahulu pernah mengalami masa-masa suram. Ya, negeri inka yang kini memegang kokoh sebagai negeri paling kuat di jagad raya ini pernah mengalami masa suram dan kekejaman manusia tamak. Ketika Yang Maha Esa belum memecah belah daratan di dunya, negeri inka pernah dikepung habis-habisan oleh kerajaan dari berbagai belahan dunya.

Keadaan ini membuat seisi dunya bergolak akibat peperangan yang dahsyat, alam pun perlahan mengalami perusakan yang parah. Bahkan kerusakannya itu hampir membuat daratan yang dahulu hijau mulai mati dan berubah menjadi tanah hitam. Binatang pun ikut menjadi korban peperangan dahsyat itu, sekitar ribuan jenis binatang sebagian nya mulai punah karena terlalap habis oleh si jago merah, bangkainya bahkan sempat menimbulkan penyakit yang tertular mengenai udara dan kontak fisik.

Akibatnya hampir setengah dari penghuni alam dunya terjangkit wabah, anak-anak yang paling rentan terjangkit wabah dan menimbulkan kematian massal yang begitu banyak.  Begitu ulah kerajaan tamak yang melancarkan aksinya dengan membakar hutan dan menebang banyak pohon untuk digunakan sebagai senjata.

Yang Maha Esa bahkan langsung turun tangan demi menyelamatkan alam dunya yang hampir tidak dapat diselamatkan oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Tentu saja Ia murka dengan perbuatan merusak dan kejinya kaum-kaum manusia. Bahkan Yang Maha Esa sampai memusnahkan hampir seluruh manusia yang memiliki campur tangan dalam peperangan yang menghancurkan tempat tinggal mereka.

Eila bertekad di dalam hati akan melakukan permohonan di kuil, tubuh mungilnya dalam balutan kain merah yang melilit pinggang dan menutupi dadanya sampai ke tulang iga, membiarkan bebas perutnya terlihat. Lalu ditambahkan dengan selendang tipis merah yang tersampir dari ujung bahu kirinya. Ia memakai kalung, gelang serta hiasan kepala, rambutnya dibiarkan terurai panjang tanpa di ikat.

Di hari perayaan kemerdekaan ini, umumnya orang-orang menggunakan pakaian berwarna merah sebagai pertanda bahwa negeri inka yang kecil ini bisa bangkit dari keterpurukan dan kini menjadi satu-satunya negeri yang kuat pertahanannya. Orang-orang akan memakai gaun terbaik yang dia punya demi perayaan ini, karena konon katanya raja-raja terdahulu memakai pakaian merah ketika berjuang melawan pasukan penjajah sampai titik darah penghabisan. Untuk membalas jasa, rakyat diwajibkan memiliki minimal satu pakaian terbaik berwarna merah untuk perayaan kemerdekaan negeri inka.

Rubhya mengenakan pakaian yang sama dengan Eila, namun rambutnya yang panjang di kepang rapi, sedangkan Parvati tidak dapat mengantar kedua anaknya untuk mengikuti perayaan kemerdekaan negeri inka. Sebelum pergi Parvati menatap kedua anaknya dengan lembut, merasa bahagia ketika melihat raut kelelahan karena terlalu sering membantunya bekerja berganti dengan binar bahagia.

Rubhya mungkin telah menginjak usia yang menunjukkan kedewasaannya, berbeda dengan Eila yang masih anak-anak. Rubhya telah mengerti dengan segala permasalahan pun dengan masa lalu kehidupan keluarga mereka, gadis itu meskipun suka mengusili adiknya tapi selama ini Rubhya berperan baik membantunya menjaga Eila. Parvati merasa sedih sekaligus bahagia ketika menyadari usia mereka yang masih muda harus berjuang keras, banting tulang hanya untuk bertahan hidup dari kesengsaraan.

Orang-orang mulai memasuki kuil Alindra yang sangat besar, namun tetap saja tidak dapat menampung seluruh rakyat negeri inka yang berdatangan dari penjuru negeri. Bahkan ada imigran yang turut ikut melaksanakan doa bersama demi merayakan kemerdekaan negeri inka.

Eila dan Rubhya harus menempati teras luar dengan beralaskan tikar jerami yang telah mereka persiapkan, tanpa ada pelindung kepala mereka melawan sengatan matahari bersama ratusan orang lainnya. Pelaksanaan doa bersama di pimpin oleh seorang pria berpakaian merah menyala dari yang lain, semua orang termasuk Eila memanjatkan doa dengan bersungguh-sungguh. Setelah perayaan doa bersama selesai, setiap orang akan mengantre panjang demi mendapatkan berkat berupa makanan khas inka.

Masing-masing akan mendapatkan sekantung kecil buah inka, namun buah ini berbeda dari jenis buah inka yang didapatkan Eila ketika dihutan. Buah inka ini adalah buah inka yang di budidayakan di dalam istana, langsung di panen oleh petani handal dan tabib yang mampu meracik ramuan agar khasiat buah inka ini terjaga. Buah inka yang di budidayakan di istana ini mempunyai perbedaan warna dan ukuran dibandingkan buah inka yang tumbuh di alam liar, buah inka yang satu ini berwarna lebih terang sedikit keemasan, khasiat buah inka ini tidak diukur dengan seberapa kecil buahnya namun seberapa matang warna kulit buah inka.

Buah inka ini juga tidak memiliki batang berduri, buah inka di jadikan sebagai salah satu berkat yang akan diterima oleh semua rakyat negeri inka yang mengikuti perayaan hari kemerdekaan negeri inka. Khasiatnya hampir dapat mengobati berbagai macam penyakit, bahkan batang dan daun inka yang satu ini dapat mengobati penyakit luar.

Semua orang mengantri dengan sikap tidak sabar, para pasukan prajurit mengatur setiap orang untuk berbaris dengan rapih. Pembagian buah inka ini tidak akan selesai jika semua rakyat berebutan dengan rakus dan sikap tak sabaran, namun untungnya rakyat negeri inka sudah terbiasa dengan budaya mengantre. Eila dan Rubhya berada di shaf terakhir, menunggu beberapa jam sampai halaman kuil Alindra mulai lengang dengan beberapa puluh orang yang masih mengantre.

Dengan perut keroncongan seperti ini, Eila tentu saja tidak sabar menunggu beberapa orang lagi di depan mereka untuk menerima buah inka. Para penjaga kuil yang bertugas memberikan buah inka bahkan terlihat menampakkan gurat wajah yang lelah.

Eila menjerit senang ketika menerima sekantung kecil buah inka favoritnya, wajahnya yang tertekuk lama tadi berubah dengan binar bahagia. Penjaga kuil itu ikut tersenyum melihat anak kecil yang berada diantrean terakhirnya itu kegirangan. Gurat wajah lelahnya bahkan terlihat memudar seiring dengan senyumnya yang makin melebar.

“Kau pasti lelah seharian menunggu dibawah sengatan matahari, seharusnya tadi kau ikut mengantre dibarisan pertama.” Ucap sang penjaga kuil memakai jubah merah dengan penutup kepala yang dibiarkan terlepas tak menutupi kepalanya. Eila mendongak dan menatap penjaga kuil itu dengan senyum lebar kekanakan.

“Tuan, bolehkah aku memasuki teras terdepan kuil? Aku berjanji tidak akan nakal dan memasuki kuil Alindra tanpa seijin tuan.” Penjaga kuil itu tampak terdiam sesaat mendengar permintaan Eila. Namun beberapa menit kemudian laki-laki itu tersenyum tipis sambil mengangguk, lantas Eila pun bergerak cepat ke arah teras depan, mengabaikan langkah kaki mungilnya yang sedikit terbatas karena gaun yang ia pakai saat ini.

Eila menyimpan buah inka miliknya ke dalam keranjang yang ia simpan di samping kakinya. Tangannya yang mungil menyatu, matanya terpejam dengan mulut terkatup rapat.

Gadis kecil itu memohonkan permintaannya dalam hati

Gadis kecil itu memohonkan permintaannya dalam hati. Mengabaikan angin yang mengibarkan selendangnya, dan suara bising lainnya yang sebenarnya mengganggu. Eila terhanyut dalam buaian kedamaian ketika permohonannya itu terucap dalam hati.

Seorang laki-laki mengamati dari kejauhan kuil Alindra, menatap lapar namun tak kentara sama sekali dari balik jubah hitamnya yang benar-benar mencolok dari pakaian yang lain. Laki-laki itu berdiri dalam bayang-bayang bangunan tinggi yang saling berhimpitan, menjauhi keramaian karena penampilannya yang mencolok. Ia berdiri cukup lama sebelum acara doa bersama di kuil alindra dilaksanakan, sudah cukup waktu sebelum aksinya dilancarkan saat itu juga.

Tiba-tiba cuaca yang semula begitu bagus mendadak kelam ketika sebuah suara cukup keras memekakkan telinga terdengar tak kejauhan dari kuil alindra. Manusia-manusia yang berlalu lalang mulai panik ketika hujaman dari benda kecil tak kasat mata menghujam tubuh orang-orang di antara mereka satu-persatu, lalu tumbang di tempat dengan tubuh terbujur kaku tak sadarkan diri. Semua berteriak histeris dan ketakutan ketika benda-benda kecil tadi semakin membuat banyak orang tumbang.

Rubhya tadinya ingin menyelamatkan Eila ketika sepasukan manusia berpakaian serba hitam dengan jubah mulai bermunculan mengitari kuil alindra, jumlahnya mungkin sekitar dua puluh orang namun berhasil menumbangkan penduduk inka dengan jumlah yang banyak. Rubhya berlari mendekati Eila sebelum sengatan benda kecil tak kasat mata itu mengenai pinggangnya, gadis itu tersentak menatap adiknya sedetik sebelum kesadaran merenggut dirinya.

Para penjaga kuil langsung dipukuli dengan kejam, orang-orang berjubah hitam itu menghancurkan benda-benda disekitar kuil alindra tanpa rasa segan. Pasukan istana tidak mengawal acara hari kemerdekaan seperti biasanya, bahkan sang Raja tak turut mengikuti upacara kemerdekaan, dan tujuan para pasukan berjubah hitam itu harus melesat karena dugaan mereka ternyata salah.

Eila masih setia berdiri ditempatnya tanpa merasa terganggu dengan keributan disekitar kuil alindra. Gadis itu bahkan tidak sadar dengan apa yang terjadi, matanya masih terpejam dengan kedua tangan yang masih menyatu. Setelah itu ia merasakan keheningan disekitarnya, gadis itu memutuskan untuk membuka matanya dan menatap ke dalam kuil alindra yang tampak sepi.

Eila meraih keranjang di dekat kakinya, lalu berbalik badan dan menemukan banyak tubuh manusia terbujur kaku diatas tanah. Gadis itu terperangah, keranjangnya jatuh dengan buah inka yang ikut keluar dari keranjangnya.

Lalu tiba-tiba ia merasakan sesak nafas, dan sebelum kesadarannya terenggut samar-samar ia melihat seorang laki-laki berjubah hitam berdiri diatas tubuhnya dengan wajah yang begitu bengis dan mengerikan.

*

“Apa kau bilang?”

Laki-laki berpakaian militer kelas atas itu tertunduk dalam, tidak berani menatap mata sang Raja secara langsung. Kemarahan terasa menguar kuat sesaat setelah ia memberikan berita yang terjadi di kuil alindra. Berita bahwa hampir seluruh rakyatnya yang berada disekitar kuil alindra tak sadarkan diri karena obat bius yang ditembakkan melalui pipa kecil.

Akibatnya tabib yang ada di istana harus dikerahkan hampir semuanya untuk menangani seluruh rakyat yang terkena obat bius, belum lagi para penjaga kuil yang mengalami luka parah akibat pukulan-pukulan yang cukup keras. Dan kabar buruknya, ternyata para penyerang mencuri berbagai benda penting dari kuil alindra.

Raja Bhoopat mengepalkan tangannya, tubuhnya bergetar karena marah. Lalu setelah itu wajahnya menampakkan raut berbeda dan berjalan menuju singgasananya dengan santai. Laki-laki berpakaian militer itu mengerutkan alisnya ketika melihat perubahan sang Raja.

“Bagus, kembalilah kepada pasukanmu. Dan sebarkan berita ini ke seluruh penjuru negeri, hembuskan desas-desus pemberontakan pada negeri tetangga. Dan laporkan kembali padaku jika tugasmu selesai.” Sang Raja berucap dengan tenang dan emosi yang terdengar sedikit kejam. Meskipun bingung dengan titah sang Raja namun laki-laki itu segera melaksanakan perintah sang Raja.

“Baik, yang mulia. Hamba akan melakukannya dengan baik.”

Raja Bhoopat mengisyaratkan tangannya, dan laki-laki itu segera meninggalkan ruangan. Raja Bhoopat terdiam cukup lama dalam keheningan aula istana yang sepi karena hanya ada dirinya ditempat itu.

“Yang mulia, ada lagi yang harus saya laksanakan?”

Dari balik bayang-bayang sudut ruangan, seorang pria menunggu titah sang Raja yang masih bergeming ditempatnya.

“Kau awasi saja mereka, dan habisi jika ada pihak yang berani melawan dibelakangku.” titah sang Raja.

Pria itu mengangguk patuh lalu membungkuk hormat dan meninggalkan sang Raja dari balik kegelapan. Kali ini sang Raja benar-benar sendiri diruangan besar itu, Raja Bhoopat terlalu senang hingga suara tawanya membahana mengisi aula istananya. Membiarkan emosinya membuncah tanpa ditahan-tahan.

*

Mohon maap jika imajinasi yang saya gambarkan kurang menggambarkan, atau kurang asik. Dan lagu di mulmed yang gak nyambung sama ceritanya wkwkk. Cerita pertama emang suka jadi kelinci percobaan ya, saya berharap kritik dan sarannya agar saya bisa belajar dengan baik insyaallah. ah hope u like this guys, thx for all supported, and keep writing bagi kita kaum amatired. *muach*

syniaraikai

Dunia kedua yang menjadi pelipur lara adalah ketika pikiran melayang meninggal raga sekejap rasa.

12 Komentar

  1. Yess pertama hihi

  2. Eila cuantik bngt itu, pipi ny masya Allah hehe
    Emmm gmn yak, part ini kerasa pendek bngt Hahaha ‘alesan minta part berikutny ini mah aq ny’
    Jdi lgi deg2an trs tbc tuh rasany beuhhh nanggung gtu hihi
    Jdi peristiwa di kuil itu atas perintah raja yak trs tujuan dia apaan dah bersikap bgtu
    Aduhhhh gmn perasaan Elia tuh pas dia nengok ke belakang ehhhh dah pda terbujur kaku gtu semua orang2 disana, trs trs dia gmn nasib ny iniiii, aihhh penasaran dah penasaran
    Suka sma deskripsiny seakan2 ikutan hadir di kuil itu jdiny hehe
    Jdi part ini lbh nyeritain ttng asal usur daerah itu yak, oke oke jdi paham skrng hihi
    Ditunggu kelanjutanny
    Semangat trs ya

  3. :inlovebabe :YUHUIII

  4. :inlovebabe

  5. Eilaaa :dragonmintacium cantik amat nak ..
    Eila diculik apa gimana yaa???

  6. Sadis beuhhhh :TERHARUBIRU

  7. KhairaAlfia menulis:

    Eila imut banget sih,,
    Siapa tuh yang bawa Eila??

  8. Rika imut banget ya

  9. Kawaiyeoja menulis:

    Update lg dong ceritanya ?

  10. :inlovebabe

  11. fitriartemisia menulis:

    ku salah fokus sama foto anak perempuanya, cantik banget :inlovebabe

  12. Ditunggu kelanjutannyaa

Tinggalkan Balasan