Vitamins Blog

The Black Swan : Bab 2

Bookmark

No account yet? Register


348 votes, average: 1,00 out of 1 (348 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

“waktu terus berjalan…membawa semua orang untuk selalu mengingat….bahwa masa depan adalah bagian dari masa lalu”

THE BLACK SWAN

“kawan dari masa lalu”

****

 

”apa kau akan terus seperti ini?”

Sarah datang, menghampiri Amelia yang masih terduduk di atas ranjang.

Amelia tidak menyahut, ia hanya kembali bergelung dalam selimut.

Sarah memekik, lalu menarik selimut yang menutupi tubuh Amelia.

“tidak ada waktu untuk bermalas-malasan! Kau harus bersiap-siap..”

Amelia tersentak bangun saat Sarah menarik tangannya dan membawanya menuju tempat pemandian.

Amelia menghentakkan tangannya dengan kasar.

“aku tidak akan pergi kemana-mana!” tandasnya dengan suara meninggi.

Sarah tak mengindahkan Amelia, dia kembali meraih tangan gadis kecil itu…lalu memerintahkan kepada dua pelayan wanita untuk membantu Amelia mandi.

“tak ada waktu?”

Amelia bahkan tidak mengerti kenapa Sarah sudah ada dikamarnya  sepagi ini. Biasanya Amelia memulai hari  dengan sendirian,  dan setelah itu dia akan mengurung diri dalam kamar, hingga berjam-jam lamanya.

Penyiksaan itu terus berlanjut, setelah Amelia menyelesaikan mandinya…Sarah kembali melakukan hal yang tidak biasa…

Perempuan itu membawa gaun cantik berwarna pastel dan meminta Amelia untuk segera memakainya.

“ini tidak masuk akal Sarah…kenapa kau melakukan ini semua?”

Amelia bertanya, saat rasa penasarannya sudah memuncak.

Sarah terkekeh, tangannya bergerak untuk menyisir rambut Amelia

“hari ini keluarga kerajaan Alcazar akan datang….”

Katanya dengan nada bahagia.

Amelia dapat melihat wajah Sarah yang tampak berbinar-binar, dari pantulan cermin.

Amelia masih belum mengerti dengan semua ini.

“lalu…apa hubungannya denganku Sarah?”

“oh..tentu saja ada Amelia…mereka akan datang kemari untuk menemuimu dan Alicia”

“aku dan Alicia?”

Sarah mengangguk sambil terus menyisir rambut Amelia “ya, untuk itulah kau harus tampil secantik mungkin”

Sarah mengambil rambut yang menutupi sebagian wajah Amelia.

Amelia menepis tangan Sarah “tidak! Aku tidak akan membiarkan kau mengubah gaya rambutku sarah!!”

Sarah menggeleng dengan wajah tak senang

“tapi aku harus melakukan itu, kau…-“

Perkataan Sarah tercekat begitu saja karena Amelia memilih untuk bersikap keras kepala jika menyangkut rambutnya. Gadis itu turun dari kursi, lalu duduk dengan kasar didepan kanvas melukisnya.

Tampil cantik huh?

Amelia mungkin akan segera tertawa. Hal itu tidak akan pernah terjadi, karena tidak akan adan yang mau bersama dengannya. Tidak akan ada yang mau berteman dengannya. Dia akan terus sendiri dengan kebencian orang-orang disekitarnya.

Kebahagiaan, cinta, dan kasih sayang? Semua itu adalah hal yang tidak mungkin ia dapatkan. Amelia meggerakkan kuas melukisnya dengan kasar diatas kanvas putih itu. Matanya hampir menangis, tapi sekuat tenaga gadis kecil itu menahannya.

Amelia dapat merasakan seseorang menyentuh bahunya.

“pergi Sarah! Aku tidak akan menemui mereka!”

Amelia berujar dengan suara getir, tiba-tiba tangannya yang memegang kuas terasa bergetar.

“aku mengerti, aku tidak akan memaksamu…tapi, maukah kau melakukan semua ini untukku Amelia?”

Sarah berlutut disampingnya, Sarah sudah seperti ibu baginya. Disaat semua orang tidak peduli padanya, disaat ia sedang rapuh dan membutuhkan tumpuan, perempuan itu selalu bersamanya, menghiasi hari-hari Amelia yang kelam dengan omelan dan nasehatnya. Dan sekarang perempuan itu memohon padanya, sanggupkah ia menolak?

****

 Alicia memekik saat melihat Amelia, gadis cantik berumur 10 tahun itu melangkahkan kakinya dengan riang menuju Amelia yang baru keluar dari kamar. Rupa-rupanya gadis itu sudah menuggu Amelia.

“aku sangat senang melihatmu! Aku pikir kau tidak akan setuju dan lebih memilih untuk mengurung diri dikamar” gadis itu berujar dengan mata berbinar-binar, bibir mungilnya terus menyunggingkan senyuman.

Amelia memilih untuk diam, tidak menaggapi perkataan kakak tirinya itu.

Alicia adalah gadis yang sangat cantik, wajahnya lembut penuh dengan binar kebahagiaan. Saat gadis itu tersenyum…semua orang akan luluh karenanya.

“aku sangat bahagia, aku akan mengatakan ini pada ayah…”

Amelia terkesiap, lalu seketika menarik tangan Alicia.

“tidak perlu..” katanya dingin.

Alicia memandang heran, tapi sedetik kemudian gadis itu kembali tersenyum.

“baiklah, aku tidak akan melakukan hal itu, melihatmu setuju saja…aku sudah senang”

****

ALCAZAR

“apa kau akan pergi?”

Adrian remaja berumur 12 tahun itu mengendikkan bahunya mendengar pertanyaan Christopher.

“tidak tau! Raja dan Ratu sudah memaksaku, mau bagaimana lagi!” ujarnya sambil merebahkan tubuh keatas ranjang.

Christopher terkekeh, lalu disusulnya temannya itu.

“kenapa kau tampak begitu murung? Ayolah Adrian….”

Ia ikut merebahkan tubuhnya, memandang lurus keatas.

Adrian menendang-nendang selimut dibawah tubuhnya, tampak sekali bahwa kawannya itu tidak menyukai rencana hari ini.

Christopher Alcander Cesar….

Dia merupakan putra dari panglima besar kerajaan Alcazar..

Panglima Cander….

Adrian dan dirinya sudah berteman sejak kecil…

Sejak kecil ia sudah dilatih tentang teknik berperang, dan sekolah militer.

Ia memang selalu memiliki tekat…baginya anggota kerajaan ini, sudah ia anggap sebagai keluarga.

Ia bersumpah pada dirinya sendiri, bahwa ia akan mengabdikan jiwa dan raganya untuk kerajaan ini, seperti ayahnya.

Lamunan Christopher buyar saat Rene masuk dengan wajah tak senang.

“kalian berdua! Demi tuhan, kereta akan segera berangkat dan kalian masih disini!”

Christopher menutup kupingnya, Adrian mendengus. Rene benar-benar cerewet…

“sudahlah Rene, jangan memaksaku!” Adrian menatap Rene, pelayan pribadinya dengan kesal. Tidak ada yang lebih menyebalkan selain mendengar suara omelan Rene.

Mata Rene memicing

“ho…jangan bilang kalian berniat untuk tidak pergi?”

Ia berujar dengan nada penuh kecurigaan.

Christopher berdecak “jangan khawatir Rene, hal itu tidak akan terjadi..”

Rene berkacak pinggang “kalau begitu tuan-tuan, cepatlah turun, karena kereta akan berangkan lima menit lagi…”

Dan setelah itu Rene keluar dari kamar, meninggalkan dua sahabat itu.

Christopher menoleh pada Adrian, dan kawannya itu hanya cemberut ditempat.

“aku heran, apa ini begitu penting huh!!”

Christopher tertawa saat mendengar ocehan Adrian.

“tentu saja, ini tentang masa depanmu!”

Adrian mendengus dan dengan malas ia turun dari ranjang.

“perjodohan yang konyol!!” decaknya.

Dalam hati Christopher membenarkan perkataan Adrian, tapi memang seperti itu takdir mereka, akan selalu begitu, dan tidak akan pernah berubah.

Sebenarnya ia juga merasa malas untuk pergi, tapi karena obsesinya pada seni, membuatnya bersemangat untuk ikut.

Hari ini mereka akan pergi menuju kawasan barat, setengan hari akan mereka habiskan untuk pergi kesana. Mereka akan mengunjungi kerajaan Vladimir.

Kerajaan Vladimir terkenal dengan tambang emasnya, tapi sekali lagi Christopher hanya akan kesana karena ia begitu menyukai seni, dan kebetulan kerajaan Vladimir selalu mempunyai tempat untuk para ahli kesenian. Ia akan bertemu dengan pelukis yang ia kagumi disana.

Tapi sayangnya, rencana hari ini benar-benar merusak kesenangan Adrian, kawannya itu begitu gusar saat mendengar bahwa dia akan dijodohkan dengan salah satu putri dari Vladimir. Christopher masih ingat apa yang Adrian katakan saat itu

“mereka punya dua orang putri, dan salah satunya bernama Amelia, Amelia si putri buangan…”

****

AMELIA

Alicia menarik tanganku, hal yang terlalu sering ia lakukan padaku.

Aku benar-benar akan menghempaskan tanganku, saat ia mambawaku menuju tempat Raja, yang mulia Argon, aku berhenti melangkah.

“tidak Alicia, aku tidak akan kesana”

Dia menjengit memandangku dengan heran “kenapa?”

Tiba-tiba matanya memicing, itu Alicia…

Itu adalah Alicia yang sama…..yang memaksaku untuk melakukan hal-hal kubenci.

“apa kau menghindar Amelia?”

Aku menggeleng dengan wajah datar, kulepaskan pegangan tangannya.

“tidak, tidak sama sekali Alicia, tapi disana bukan tempatku, dan aku cukup tau diri untuk itu” sahutku.

Alicia tampak semakin muram, senyumannya hilang entah kemana. Ia meraih tanganku, sekali lagi, tapi dengan gerakkan kasar.

Aku meronta, mencoba untuk melepaskan pegangan tangannya, dan apa yang terjadi, aku bahkan tak mampu untuk membebaskan tanganku. Aku menahan diri, meskipun aku bisa melakukan apa saja untuk lari dari paksaan Alicia.

Aku si gadis buruk rupa…ingat? Aku tidak takut hal-hal yang melebihi batasanku, seperti menyakiti Alicia?

Tidak, tidak untuk Alicia, dia terlalu baik, terlalu murni.

Akhirnya aku mengikuti langkah Alicia yang menuntunku memasuki ruangan itu, tempat peristirahatan ayahku, yang mulia Argon.

Aku tau mungkin ayahku itu akan memandangku dengan marah. Tapi sekali lagi, itu adalah hal-hal yang biasa. Aku sudah biasa mengalami hal ini.

Alicia memekik senang, dan aku terkelu dalam hati, saat kami memasuki ruangan.

Disana perdana menteri Joo dan ayahku sedang berbincang.

Yang mulia Argon, menoleh saat melihat kedatangan kami. Ia tersenyum dan memberi isyarat pada Joo untuk pergi, tidak…senyuman itu bukan untukku, aku tau…itu untuk putrinya, Alicia…

Alicia berlari untuk menghampirinya. Ayahku itu tertawa kecil, hal yang sering kulihat saat ia bersama Alicia, bukan bersamaku.

Dia memeluk Alicia, lalu membawanya keatas pangkuan.

Aku melihat adegan itu, hanya terdiam. Aku ingin keluar dari ruangan itu, sesegera mungkin.

“oh putriku sangat cantik…” pujinya pada Alicia. Aku semakin terkelu, hatiku yang nista mulai berpikir. Akankah ada saatnya aku bisa berada diposisi Alicia? Akankah?

Tapi kenyataan seolah menamparku.

Kesepian ini….kesendirian ini, dan kebencian ini, adalah hidupku, dan akan selalu begitu.

Tanganku mengepal erat, aku ingin menangis, tapi tak ada air mata yang keluar, mungkin karena air mataku sudah habis….atau karena aku sudah terlalu lelah, terlalu lelah untuk berharap.

Alicia tertawa kecil, ia melirikku.

“ayah, bukankah Amelia juga cantik, aku sangat senang dia akan ikut hadir” kata Alicia turun dari pangkuan ayahku dan mengambil langkah menghampiriku. Ia menarikku…aku terdiam. Tubuhku bahkan mengkhianatiku…

Aku memandang kebawah, mematri penglihatanku pada marmer dibawah kakiku.

Aku tak sanggup melihat wajahnya yang mungkin saat ini menatapku sinis.

“terimakasih karena kau sudah bersedia mengabulkan permintaanku Amelia..”

Aku tersentak, apa aku sedang bermimpi? Ayahku, Yang Mulia Argon, berujar padaku dengan lembut dan dia bahkan menyebut namaku? Untuk pertama kalinya ia menyebut namaku…entah kenapa hatiku terasa mencelos, air mataku hampir menggenang..,.tapi tunggu! Mengabulkan permintaannya, jadi dia yang memintaku untuk hadir, apa itu benar?

Aku mengangkat wajahku, berusaha untuk menyembunyikan kebahagian tak wajarku, kudapati ia memandangiku, meskipun tanpa senyuman…tanpa pelukkan, tapi aku tau…ia tidak marah padaku,tidak seperti hari-hari sebelumnya.

Tiba-tiba lidahku terasa kelu, tak mampu untuk menjawab. Ada apa denganku?

Aku benar-benar senang, hal yang sangat jarang kurasakan, kebahagiaan.

“oh Amelia…rupanya kau juga akan hadir?” itu suara Ariana, ibu tiriku.

Wajahku kembali berubah dingin. Wanita ular itu!

“iya, Yang Mulia…” sahutku memberi sedikit penekanan pada kata ‘Yang Mulia’.

Ia tersenyum, dan aku tau apa arti senyuman itu, dia sedang meledekku.

“ah jangan panggil aku seperti itu, aku juga ibumu…ingat?”

Aku berdecak dalam hati, ibu huh?  Dasar nenek sihir.

“ibu…”

Alicia berjalan menghampiri Ariana.

“oh gadis kecilku…apakau sudah siap untuk hari ini?”

Alicia mengangguk dengan semangat “ya tentu saja, dan aku sangat senang ibu, apa kau tau kenapa?”

“kenapa?”

“karena saudaraku yang paling kusayang akan  ada bersamaku” Alicia berkata dengan penuh semangat.

Ariana melirikku, aku kembali membeku.

****

“Yang Mulia….”

Seorang prajurit membungkukkan tubuhnya hormat.

“saya mendapatkan informasi, bahwa keluarga kerajaan sudah melewati perbatasan”

Argon bangkit dari snggasananya, lalu menjenguk dan memerintahkan kepada prajurit itu untuk segera pergi.

Ariana datang menghampirinya “Yang Mulia…apakah ini semua akan berjalan lancar?” tanyanya pada suaminya itu, wajahnya tampak khawatir

Argon menarik napas panjang “tidak akan ada yang bisa merusak acara hari ini Ariana, aku yakin Sarah sudah mengurus semuanya” ujar Argon menenangkan istrinya.

Ariana berdecak saat mendengar nama Sarah, entah kenapa…tiba-tiba ia menjadi kesal saat suaminya lebih percaya pada perempuan itu, Sarah selalu Sarah!

“Alcazar, adalah kerajaan yang sangat penting, kita harus berhati-hati” Argon melanjutkan perkataannya.

Ariana memamerkan senyuman palsunya.

“benar Yang Mulia…tentu saja kita harus memperlakukan mereka dengan baik, dan aku yakin kau pasti akan bisa meyakinkan mereka” sahut Ariana, lalu memeluk suaminya. Direbahkannya kepalanya diatas dada bidang Argon yang berbalut jubah mewah khas kerajaan.

Argon membalas pelukkan Ariana, entah kenapa ia menjadi begitu gusar

“ya…aku berharap begitu, aku berharap putriku akan segera terbebas dari kutukan itu, semoga”

Bisiknya dalam hati.

****

AMELIA

Pertama kali….ini pertama kali aku merasakan hal ini, semarak bunyi terompet, para prajurit berbaris rapi didepan gerbang pintu utama.

Seorang prajurit datang, lalu memberi hormat pada Yang Mulia Raja.

“keluarga Alcazar sudah tiba Yang Mulia”

“buka gerbangnya..”

Pintu gerbang utama telah dibuka. Detakkan langkah prajurit terasa menggema, aku menatap itu semua, kualihkan pandanganku pada Yang Mulia…

Dia tersenyum lebar…..dia tampak bahagia.

Tapi…aku tidak mengerti, kenapa aku melihat secercah kekhawatiran dari wajahnya.

Keluarga kerajaan telah tiba, sorak sorai dari rakyat terdengar berderai. Sesaat setelah itu, keluarga kerajaan Alcazar sudah memasuki halaman utama.

Dari dalam kereta kuda itu, keluar seorang laki-laki yang penuh wibawa. Laki-laki itu mengangkat wajahnya, rahangnya tampak begitu tegas, sorot matanya tajam, dibalik kekerasan wajahnya itu, aku dapat melihat binar kebahagiaan dari matanya…

Dia…

Benyamin Aiken Of Alcazar

Pemimpin dari Alcazar….

Aku melirik Alicia, kakak tiriku itu tampak begitu bahagia…

Mereka semua bahagia

Dan jika aku terus berada disini….

Mungkin aku akan menghancurkan kebahagiaan mereka.

Kubawa langkahku untuk menjauh…

Tetapi sesaat kemudian, aku merasakan dorongan untuk mengalihkan pandangan.

Sekejap saja…

Aku kembali menoleh pada kerajaan itu, dibalik ramainya penyambutan ini…

Aku melihat seorang anak laki-laki…dia bermata biru.

Harus kuakui dia tampan, tapi sungguh disayangkan, dibalik ketampanannya itu…aku dapat melihat ketidaksenangan.

Aku tau anak laki-laki itu…

Dia Adrian Of Alcazar, putra tunggal Yang Mulia Benyamin.

Lagi-lagi aku mencela, dia adalah anak laki-laki yang akan dijodohkan dengan Alicia, kemudian aku kembali berpaling untuk melanjutkan langkahku…

Sudah kubilang, aku akan merusak kebahagiaan mereka jika terus disini, jadi aku memutuskan untuk bertingkah tahu diri dengan pergi dari sini.

Aku cukup baik hati bukan?

Kubawa langkahku menuju danau belakang istana, disini tempat favorite ku…

Sepi

Sendiri

Itulah yang kusukai…

Aku mengeratkan peganganku pada buku yang kubawa. Inilah yang mampu kulakukan untuk mengisi rasa kesepianku..

Melukis dan membaca buku, ya…hanya dua hal itu.

Aku mengambil tempat dibawah pohon besar yang berada tepat didepan danau. Semilir angina menerbangkan rambutku…

Menyapu lembut wajahku…

Kupejamkan mataku…

Pikiranku melayang….

Seandainya ibu masih ada disini, mungkin aku tidak akan kesepian

Seandainya ibu masih ada disini, mungkin akan ada yang membelai lembut rambutku saat akan tidur dan akan menyanyikan lagu pengantar tidur untukku…

Seandainya ibu masih ada disini…mungkin ayah tidak akan membenciku…

Seandainya….seandainya…hanya seandainya

Berhenti berandai-andai Amelia!

Tanpa mampu kusadari….

Aku sudah duduk disini hampir 2 jam lamanya. Aku terlalu larut dalam buku yang kubaca…

Setidaknya aku mampu melupakan dunia nyata dan tenggelam dalam dunia khayalan….dalam buku yang kubaca.

Mataku memicing saat mendengar suara berisik dari kejauhan…

“benar-benar konyol huh…tidak ada yang menarik disni! Hari yang benar-benar membosankan!”

Seseorang menggerutu.

Aku buru-buru berlari kebalik pohon, tidak ada yang boleh melihatku disini…aku tidak suka itu.

Aku mengintip dibalik batang pohon, dan mataku terbuka dengan sempurna saat melihat siapa orang itu. Dia Adrian, berjalan mendekat, kearahku…sontak aku bersembunyi, lagi. Dari yang mampu kulihat, anak itu tampak begitu kesal. Sepertinya ada sesuatu yang benar-benar menganggunya.

Adrian menjatuhkan tubuhnya, dibawah pohon, tepat ditempat dimana tadi aku duduk. Jantungku mendadak berdegup tak karuan…jangan sampai ia mengetahui keberadaanku.

“yah…setidaknya ada tempat yang bisa membuatku nyaman” dia kembali berujar.

Aku terus menatapnya, mengintip dari balik pohon, seperti seorang penguntit. Jarakku dengannya hanya beberapa langkah.

Adrian menutup matanya…

Dia manis…pikirku

Apakah dia berkenan untuk berteman denganku?

Jangan bermimpi!!

Suara itu menamparku. Tanganku mengepal, ya benar..jangan pernah bermimpi! Karena aku tidak memiliki hak apapun disini, hak untuk berteman, dan bahkan hak untuk Bahagia.

Dadaku terasa sesak…

Sial!

Aku berniat untuk pergi dari tempat itu, dia tidak boleh melihatku…

Karena jika dia melihatku….

Mungkin aku akan merusak semuanya, Adrian adalah orang yang penting..

Ayahku bahagia…karena kehadirannya.

Aku mengambil langkah dengan pelan, berniat untuk melangkah sepelan mungkin. Tapi hanya dua langkah…saat tiba-tiba kakiku menginjak sebuah ranting.

Suara berisik tercipta karenanya

Sialan!

Aku mengumpat sekali lagi

“siapa itu?”

Aku memejamkan mata dan menggigit bibirku.

Terlambat dia sudah melihatku

“hey kau! Nona yang memakai gaun pastel..aku bertanya padamu” dia kembali berujar.

Tubuhku bergetar seketika, lalu perlahan-lahan kupalingkan tubuhku. Aku membuka mataku

Dan kudapati Adrian menatapku…

Ini kali pertama, mata biru itu tertuju padaku… hanya padaku

Wajahnya tampak heran, mungkin dia akan segera berlari saat melihatku

Tapi tidak, dia justru mendekat kearahku, aku hampir lupa untuk bernafas.

“apa kau Amelia?” dia bertanya, wajahnya tampak datar.

Meskipun begitu, aku tau…ia tidak memandangku dengan jijik, dia tidak mengejekku, tidak seperti orang lain.

Aku tau itu saat menatap matanya…

Mata tidak akan pernah bisa berbohong…

Aku tak mampu menjawab pertanyaannya. Lidahku terasa kelu

“kenapa kau ada disini? Bukankah seharusnya kau ada didalam?”

Dia kembali bertanya, aku meremas jariku.

“kau sendiri? Apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau juga seharusnya berada didalam?”

Aku membuka suara, dan untungnya tidak terdengar bergetar.

Dia mendengus “aku kemari karena didalam benar-benar membosankan!”

Dia kembali menggerutu, wajahnya yang cemberut justru tampak menggemaskan dimataku.

“dan kau? Kau belum menjawab pertanyaanku”

“aku kemari karena ini tempat favorite ku” bagus! Kau bahkan mengatakan hal yang tidak penting Amelia.

Dia mengeryit “aneh…”

Katanya. Aku memang aneh!

“tapi setidaknya aku menemukan orang yang bisa kuajak bicara, di dalam sana, mereka sibuk dengan urusan masing-masing..” dia berceloteh lagi.

Aku menatapnya dengan takjub, ini pertama kalinya ada orang yang mau berbicara panjang lebar denganku.

Dia berdecak “kau tidak suka bicara ya? Kenapa kau hanya diam?”

Satu hal yang mampu kusimpulkan, Adrian begitu cerewet dan pemaksa.

Aku menggeleng

“dan kau sendiri, kenapa kau terus bertanya?” tanyaku.

Dia tergelak

“hebat, kau orang kedua yang mampu memutar perkataanku”

Aku terheran, tidak mengerti kemana arah pembicaraannya.

“kedua?” tanyaku.

Dia mengangguk “orang pertama adalah Christop..dia bahkan lebih menyebalkan” Adrian mencebik lalu melangkah menuju pinggir danau.

“tempat favorite mu sangat bagus…Amelia?”

“namamu Amelia bukan?”

Aku mengangguk, dia sedikit konyol

Adrian duduk dipinggir danau.

“kalau begitu duduklah…apa kakimu tidak pegal?”

Dia benar-benar cerewet dan manis. Kenapa aku selalu memujinya?

Aku tersenyum, hal yang benar-benar jarang kulakukan. Aku hanya mengikuti perintahnya. Duduk disampingnya.

“kenapa kau meninggalkan acara itu Amelia?”

Dia kembali bertanya, aku merasakan sensasi aneh ketika dia menyebut namaku.

Tidak, cara Adrian menyebut namaku, tidak seperti orang lain. Nadanya begitu tulus

“aku hanya tidak suka…” sahutku dengan nada tercekat

“dan kau? Kenapa kau tidak lari saat melihatku…biasanya orang-orang akan lebih memilih untuk menghindariku”

Dia memandangku heran, bagus! Mungkin setelah ini dia benar-benar akan lari meninggalkanku.

“lari? Kenapa aku harus lari? Memangnya kamu hantu? Aku tidak peduli dengan mereka…yang jelas menurutku, kabar yang sering kudenga tentangmu itu tidak benar…” paparnya.

Aku hampir tertawa “aku memang hantu…hantu siburuk rupa!” sahutku. Apa aku merusak lagi?

Sekali lagi, aku dibuat terkejut dengan reaksinya, dia tertawa

“kau sungguh lucu, kamu adalah hantu? Tidak..tidak, hantu lebih menyeramkan!”

“apa kau pernah melihat hantu?” tanyaku padanya.

Dia mengangguk dengan pasti

“ya! Dan kau tidak akan pernah membayangkan bagaiamana menyeramkannya mereka..”

Dia berujar dengan wajah menakut-nakuti. Konyol!

Aku bahkan tidak akan ketakutan hanya karena ceritanya itu. Aku sudah mengalami hal yang lebih buruk, lebih buruk dari melihat hantu…

Yaitu kesendirian…

Aku kembali melayang dalam pikiranku

“ck…kau diam lagi!”

Adrian berdecak, aku tersentak mengerjapkan mataku.

Aku menundukkan wajahku, dan memasang topengku, aku tidak mau berharap.

“Amelia…apakah kau mau menjadi temanku?”

Aku mendongak, apa aku sedang bermimpi? Apakah permintaan itu benar-benar terlontar dari mulutnya? Benarkah? Benarkah? Aku hampir terlonjak karena terlalu senang. Aku akan menjawab pertanyaannya, tapi

“Adrian….!!”

Seseorang meneriakkan namanya.

Adrian mendesis “maafkan aku Amelia, aku harus pergi…huh dasar Christopher..dia benar-benar berisik” dia berdiri dari tempatnya.

Apa dia akan pergi?

Sebelum melangkah Adrian menatap padaku

“kuharap kita bisa bertemu lagi…sampai jumpa..”

Setelah mengatakan hal itu, Adrian segera berlari. Aku menatap kepergiannya…

Dari kejauhan aku melihat seorang anak laki-laki menunggunya

Itu pasti Christopher… tebakku.

Aku terdiam..kini aku kembali sendirian.

Aku meremas buku ditanganku..entah kenapa hatiku terasa menghangat, hal baru yang mampu kurasakan.

Tapi, tiba-tiba aku merasakan tubuhku melemah.

“Amelia…oh Ameliaku..”

Suara bisikkan samar-samar itu terasa nyata. Kepalaku pusing, tubuhku limbung…dan aku bisa merasakan saat tubuhku jatuh kedalam danau.

Aku tak mampu bernapas, mataku terbuka…suara itu kembali datang

“Amelia…saatnya kau menemui ibumu…”

Aku tak mampu menggerakkan tubuhku…napasku hampir hilang.

Apa aku akan mati?

Samar-samar, aku dapat melihat seseorang berlari dan menceburkan diri kedalam danau, dan menarik tubuhku.

Apa itu kau Adrian?

21 Komentar

  1. SunbellaNabila menulis:

    Maaf kalo nanti up ny lambat
    makasih buat yang udah baca, ini di italic tapi susah, kenapa ya?

  2. Sebenernya kutukan apa siih yg terjadi sama amelia??? Hmm penasaran,, update tiap hari pliiiisss
    Amazing,, kasih tanda lope dong biar aku vote cerita kamu,

    1. SunbellaNabila menulis:

      Hayo, itu udah muncul tanda votenya. :LOONCAT

    2. sudah daku vote

    3. SunbellaNabila menulis:

      Yep, makasih ya udah baca :freya :MAWARR moga cerita aku ini gak bikin kecewa, masih amatiran soalnya hehe :tepuk2tangan

  3. Di tunggu besok.ga sabar…
    Penasaraaaannnn banget..

    1. SunbellaNabila menulis:

      Sbar..sabar, kalo sabar disayang tuhan, haha
      apdate ny gak bisa sering2 ini aku lagi sibuk ngurus UN

  4. Keren ceritanya..
    Sering” update dong.
    Penasaran siapa yg nolong.

    1. SunbellaNabila menulis:

      Ciee. Penasaran :ngintipdoang
      moga bisa update cepat ya. Makasih dh baca :PANDAELUS :CUBITPIPI

  5. Ngga kalah sama py sairaakira lohhh……byk vote 2 u

    1. SunbellaNabila menulis:

      TIM PSA inspirasiku, emejinglah

  6. keren ceritanya… 🙂

    1. SunbellaNabila menulis:

      Keep reading ya… ??

  7. Ceritanya bagus… Menarik
    ….. Semoga Alicia seterusnya bersikap gitu ke Amelia ???

  8. Keren ceritanya. Saya suka saya suka

  9. KhairaAlfia menulis:

    Keren!!

  10. Waduhhh, itu kena kutukan apa si Amel ya

  11. Penasaran nih

  12. fitriartemisia menulis:

    bagus ceritanyaaa, up up hehe

  13. Apakah ini dilanjut??

  14. Ditunggu kelanjutannyaa

Tinggalkan Balasan