Vitamins Blog

Hiden Love || Chapter 1

Bookmark

No account yet? Register

8b7c02bcc455f71fe80e677df6b1c099

9 votes, average: 1.00 out of 1 (9 votes, average: 1.00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

 

Hola,

Author bangkit dari mati suri. Yah, setelah penuh drama write blok akhirnya jadi satu chapter Jadi mohon maaf kalo ceritany masih agak maksa, maklum masih belum sembuh.

BTW, yang tanya Oh, My Bo(ss)yfriend lanjut apa enggak? Aku rasa enggak dilanjut ya. Aku kehilangan Arivah, jadi aku stop sampe chapter kemarin. Terima kasih banyak-banyak buat yang udah mau baca, kasih semangat dan mau nunggu updatean cerita abal-abal aku

Buat yang ini, masih dalam proses. Tapi aku berusaha buat nerusin ceritanya. Semoga bisa sampe ending.

So, Happy Reading—

 

 

“Apa kau akan datang ke acara makam malam hari ini, Loui?”

Louis Collins mengalihkan perhatiannya dari mesin ketik kepada Evans Murphy yang baru saja menerobos ruang kerjanya tanpa perlu bersopan santun dengan mengetuk pintu terlebih dahulu.

“Makan malam apa?” kata Louis sambil kembali memusatkan perhatiannya pada mesin ketik di hadapannya. Hampir saja ia lupa akan paragraf yang akan ia tulis gara-gara kehadiran Evans.

Louis tahu pria itu memutar bola matanya tapi ia  mengacuhannya.

“Makan malam di rumah sir Mark Sunderson tentu saja,” kata Evans dengan dramatis seperti biasa. “Tunggu, kau tidak bermaksud lupa dengan sir Sunderson bukan? Kalah kau melupakan orang tua itu, kau sungguh keterluan.”

Sejujurnya, Louis sudah lupa tentang acara makan malam apalah itu. Ia bahkan lupa kapan ia mendapat undangan makan malam dari Mark Sunderson.

“Emm,” hanya itu yang bisa keluar dari mulut Louis sementara isi kepala dan tubuhnya masih berkonsentrasi pada naskah di depannya.

“Jawaban macam apa itu? Kau….”

“Bisa kau diam sebentar, Evans?” sela Louis, “Aku sedang mengetik naskahku. Apa kau akan mengoceh di sana sepanjang hari? Oh tidak, Evans. Kau harus menahannya dulu. Aku sedang berkonsentrasi di sini, kau tidak ingin seluruh ocehanmu tidak sengaja kuketik dalam novelku bukan?”

Evans melotot tidak terima, tapi selanjutnya ia tidak membantah.

“Baiklah, hanya sampai kau menyelesaikan naskahmu, aku akan diam sambil menikmati teh buatan Penny. Kau tidak keberatan kan Penny?”

Tepat pada saat itu seorang wanita berumur setengah abad masuk sembari membawa nampan berisi sepoci teh harum dan dua cangkir.

“Ya, aku membawakannya untuk kalian. Apa kau juga membutuhkan camilan, sir Evans?”

Nein, danke, Penny*1. Aku tidak ingin merepotkan pinggangmu.”

Wanita tua itu tertawa sambil mengibas tangan. “Sama sekali tidak. Aku ingat baru saja membuat pie apel di dapur. Aku akan membawakannya jika kau mau.”

“Terdengar lezat. Ok ma Chéri*2. Hanya karena kau memaksaku, kurasa kau benar. Aku membutuhkan pie pie itu.”

Sepeninggal Penny—yang tertawa sambil bersemu merah—Evans menoleh pada Louis yang sekarang tengah menatapnya dengan sebelah alis terangkat.

“Apa? Dia memaksaku? Apa yang bisa aku lakukan?”

Louis tidak menjawab, sebagai gantinya ia hanya memutar bola matanya karena ia tau, kalau ia membuka suara permasalahan ini akan sangat panjang. Terutama jika ia berdebat dengan Evans.

Penny datang enam menit kemudian dengan seloyang pie apel yang dijanjikan, dengan senang hati Evans melahapnya tanpa memedulikan apakah Louis mendapatkan bagiannya atau tidak. Sungguh kawan yang baik.

 

***

 

“Nah, jadi, sampai di mana kita tadi?” kata Louis setah ia memastikan bahwa tidak ada kalimat dari ocehan Evans yang terbawa dalam naskahnya.

Evans yang duduk—lebih tepatnya berbaring—di sofa berlengan Louis hanya mengibas tangan sambil memegangi perutnya yang buncit karena kekenyangan.

“Oh, aku sudah lupa apa yang akan aku katakan padamu. Yah, pokoknya kau harus menghadiri acara makan malamnya.”

Louis menyimpan naskanya ke dalam amplop coklat untuk kemudian ia serahkan ke pada mr. James—kepala editornya. Ia bertanya sambillalu, “Kenapa aku perlu menghadiri acara makam malam itu? Aku hanya penulis, bukan orang yang terlalu penting.”

Evans menoleh dengan memberengut. “Kata ‘tidak terlalu penting’ itu membuatku merasa kalau aku yang paling sok penting di sini.” Pria itu bangkit dari tidur malasnya. “Dengar. Sebenarnya aku benci mengatakan hal ini. Kau harus datang karena kau masih memiliki garis keturunan bangsawan, kau ingat?”

“Hanya kakeku, jika kau lupa,” koreksi Louis. “Ayahku bahkan tidak mewarisi apapun darinya dan aku juga tidak.”

Evans memutar bola matanya, lelah. “Ayahmu sudah menjadi anggota senat. Maafkan aku harus mengatakan itu, sobat. Dia pasti sibuk berkeliaran di forum, karena itu kau datang untuk mewakilinya.”

Louis berdecak pelan.

“Jika kau tetap berencana untuk tidak datang. Aku yakin Bianca akan dengan senang hati datang untuk menyeretmu keluar dari gua. Gadis itu tidak suka dengan penolakan.”

“Kenapa kau membawa-bawa Bianca….”

Ah, sekarang Louis ingat. Tiga hari lalu dirinya dan Bianca Estelle menghadiri acara pameran seni di Holyrood. Gadis itu bilang Louis akan senang datang ke sana karena akan ada banyak sekali kurator seni dan beberapa orang penting yang harus Louis kenal.

Louis sendiri tidak yakin apakah ia harus mengenal semua tamu undangan yang hadir saat itu. Bianca memperkenalkan pada Louis orang-orang yang ia kenal. Ia sendiri tidak terlalu menghapal nama-nama mereka, ia bahkan tidak ingat. Hal yang ia ingat hanya pengalamannya yang diseret Bianca kesana dan kemari, padahal kakinya sudah sangat lelah dan ia sudah ingin sekali pulang.

Ya, mungkin saat itu juga mereka bertemu dengan Mark Sunderson. Louis tidak begitu ingat. Tetapi ya, rasanya Bianca pernah mengatakan—atau membuat kesepakatan—untuk makan malam bersama di rumah sir Sunderson.

Jika ia diberikan pilihan untuk pergi ke acara semacam itu atau terjun payung dari dari menara Effel, ia akan memilih terjun. Louis yakin itu. Ia tidak begitu menyukai keramaian. Keramaian memaksanya mengeluarkan banyak energi untuk berbicara hanya untuk basa-basi. Sementara Louis tidak pernah tahu caranya mencari topik pembicaraan dengan orang lain.

“Bisakah kau saja yang menggantikanku, Evans?” keluh Louis sambil menggerang frustrasi.

“Berdoa saja akan ada hal baik jika kau datang ke sana.”

“Aku hanya merasa ini bukanlah ide yang bagus jika aku terus berkeliaran di pesta-pesta tersebut.”

Evans memutar bola matanya untuk yang terakhir kalinya sebelum ia bangkit dan meraih amplop coklat yang disodorkan Louis.

“Kau hanya terlalu cepat berspekulasi.”

Louis menggerang sekali lagi.

 

***

 

Malamnya, Louis berhasil diseret jeluar oleh Bianca Estelle. Wanita itu mendatangi kediamannya seperti biasa dan menyuruh—atau lebih tepat memaksa—Louis untuk bersiap-siap. Ia bahkan menyiapkan sendiri baju yang harus dikenakan Louis tanpa perlu disuruh oleh siapapun.

Setengah jam kemudian Louis sudah siap dengan setelan jas resminya yang dasinya sering kali ia tarik, semata-mata untuk melegakan lehernya yang terasa tercekik, dan Bianca akan senang hati menepis tangannya agar berhenti membenarkan dasinya gang sudah rapih.

“Bisakah kita pulang sebelum hidatang penutupnya disajikan?”

Pertanyaan tersebut keluar begitu taksi mereka tiba di tempat acara. Bianca yang mendengar hal tersebut hanya tertawa menanggapi pertanyaan konyol Louis.

“Kau pasti akan menyukainya,” katanya tanpa benar-benar memperhatiakn ekspresi Louis yang sudah memberengut.

Louis hanya pasrah begitu seorang oelayan yang bertugas di depan rumah membukakan pintu baginya dan Bianca.

Begitu mereka memasuki rumah barulah terlihat bahwa ini bukan sekadar acara makan malam biasa, ini lebih mirip pesta makan malam. Melihat begitu banyak tamu yang hadir dalam ruangan tersebut.

“Tidak terlihat seperti acara makan malam,” komentar Louis jujur.

“Ya, kau benar.” Bianca membenarkan, “Ada banyak orang yang hadir. Oh, lihat? Itu tuan Kovensky. Dia adalah produser teater yang sedang melejit saat ini. Aku akan mengenalkannya padamu nanti.” Bianca menunjuk kesalah satu arah—lebih tepat pada seseorang—yang diacuhkan oleh Louis.

Louis tidak tertarik, sungguh. Kalau boleh jujur ia ingin tetap di rumah, di dalam ruang kerjanya sambil menyelesaikan naskannya. Tapi Bianca selalu memintanya untuk menemani wanita itu pergi ke acara-acara seperti ini karena ia tidak ingin datang sendirian. Ya, selama wanita itu hanya memintanya menemaninya sesekali itu masih tidak apa-apa. Tetapi Bianca malah mengajaknya untuk menemaninya hapir setiap kali wanita itu diundang ke segala acara.

“Oh, itu sir Sunderson.”

Akhirnya mereka menenukan si empunya acara di salah satu meja di tengah ruangan acara. Ia duduk bersama beberapa orang dan nampak tengah berdiskusi serius. Seolah menyadari kehadiran mereka, pria tua tersebut menoleh ke arah mereka kemudian berdiri untuk menyambut Louis dan Bianca.

“Oh, Louis Collins dan gadis cantiknya Bianca Estelle! Senang melihat kalian di sini.”

“Selamat malam, sir. Terimakasih telah mengundang kami ke acaramu.” Louis menjabat tangan pria tua tersebut dengan mantap.

“Tidak masalah. Justru aku berterimakasih. Sebenarnya ini acara pertunangan cucuku, maaf aku tidak mengatakannya dari awal.”

Bianca di samping Louis terkesiap dengan alami. “Oh, astaga. Kalau begitu kita perlu memberi selamat pada mereka. Benar begitu Loui?”

“Ya, kita akan bertemu dengan mereka … secepatnya.” Louis menekan kelimat terakhirnya dengan samar.

Pria tua tersebut terkekeh cukup keras. “Jangan buru-buru. Aku yakin mereka sudah banyak mendapat ucapan selamat. Nah, apa kalian sudah mencicipi hidangannya? Jika belum kalian perlu mencicipinnya terlebuh dahulu.”

“Baiklah, sebaiknya kami mencari tempat duduk….”

“Kenapa harus mencari, kita bisa duduk bersama di sini. Ayo duduklah, sebentar lagi makan malamnya dihidangkan.”

Sir Sunderson menggiring mereka duduk. Louis menggerutu dalam hati bahwa ini bukan ide yang baik. Louis merasa, ia sudah pasti tidak diijinkan untuk pergi dari sini.

“Bagaimana kabar kakekmu?” tanya sir Sunderson begitu semuanya duduk.

“Ia baik. Ia tidak sabar untuk kembali ke Schottland begitu diberitahu bahwa aku bertemu dengan Anda.”

Sir Sunderson tertawa kencang sampai-sampai Louis bisa melihat beberapa gigi graham pria tua tersebut telah hilang. Mark Sunderson adalah pria tujuh puluh tahunan yang sebenarnya masih tampak segar bugar. Tatapannya masih tajam, tangannya cukup kuat, terlihat ketika ia menjabar tangan Louis. Sampai Louis yakin bahwa Mark Sunderson masih bisa memegang senapan atau bahkan berlari kencang di medan perang. Meski begitu kerutan dan giginya yang sebagian hilang adalah bukti bahwa manusia tidak selamanya muda.

“Syukurlah, aku sungguh berharap bisa bertemu dengannya dan mengenang beberapa peristiwa di masa lalu.”

“Aku yakin kakek akan senang hati jika mendengarnya.”

“Bagaimana dengan pertunjukanmu, Mademoiselle*3?”

“Sangat baik. West End selalu ramai pengunjung,” Bianca menjelaskan dengan penuh semangat seperti biasa. Suaranya yang nyaring dan merdu seperti sudah diatur agar bisa terdengar oleh beberapa orang di seberang meja. “Kuharap semua berjalan lancar hingga pertunjukan malam penutupan nanti.”

Mata pria tua tersebut berbinar-binar senang. “Sangat bagus. Aku harap bisa datang sebelum malam penutupan, tapi kadang pinggangku tidak pernah mau diajak bekerja sama dengan kursi-kursi di teater,” katanya sambil menepuk pinggangnya sendiri.

“Jangan terlalu keras memukul pinggang malangmu, paman,” sahut sebuah suara dari belakang punggung Louis yang terdengar familiat. “Kau tidak ingin pinggangmu sakit lagi seperti kemarin bukan?”

Mata pria tua tersebut berbinar-binar, senyumnya cerah dan menyebut sebuah nama yang membuat Louis terlempar pada satu masa.

Mon chéri*4, Mery! Akhirnya kau datang. Kemarilah.”

Kemuduan seorang gadis muda dengan gaun berpotongan sederhana menghampiri Mark Sunderson dan memeluknya dengan erat. Louis dan Bianca yang menyaksikan reoni tersebut hanya diam.

“Kupikir kau tidak akan pernah datang,” katanya.

“Aku yakin Eliz tidak akan senang dengan gagasan itu. Jadi aku datang hari ini.”

Seolah-olah tersadar tentang keberadaan Louis dan Bianca di sana, ia berbisik sesuatu pada wanita muda tersebut sebelum berkata,

“Ah, kuperkenalkan pada kalian keponakanku….”

Tepat saat itu wanita itu berbalik dan mata Louis langsung bertemu dengan mata emerald yang tidak pernah ia lupakan hingga hari ini. Manik mata seorang gadis di masa silamnya.

“Mery Anneliese.”

Tampa sadar Louis berdiri terlalu cepat sampai-sampai membentur tepian meja dan menimbulkan bunyi cukup keras dari guncangan porselen di atasnya. Bianca dan beberapa orang lainnya menoleh terkejut, tapi Louis bahkan tidak menyadarinya.

Wanita tersebut juga sempat terkejut sampai sebuah senyum cerah merekah di bibirnya. Ah, ini berbahaya, semua kenangan dalam kepala Louis berkelebatan saat itu juga.

Wanita tersebut membuka mulut dan menyapa dengan nada yang tidak pernah Louis lupakan hingga hari ini.

“Louis Collins, senang melihatmu kembali.”

 

 

 

TBC

*1. Tidak, terimakasih, Penny.

*2. Baiklah, sayangku.

*3. Nona.

*4. Sayangku.

15 Komentar

  1. famelovenda menulis:

    Yuhuuuuu.. eelcomrback, Kak. Moga tetap semangaaat, yaaa.. :lalayeye :lalayeye :lalayeye

    Ditunggu update selanjutnya, Mery dan Louis. Apa mereka bakal jambak2n? :NGAKAKGILAA :NGAKAKGILAA :NGAKAKGILAA

    1. Makasih udah mau baca :NGAKAKGILAA :NGAKAKGILAA :NGAKAKGILAA
      Enggak jambak-jambakan sih, cuman bakuhantam aja :backstab :backstab :backstab

  2. Indah Narty menulis:

    Selamat datang kembali :lalayeye

    1. Makasih udah baca :lalayeye :lalayeye :lalayeye

  3. Novita sari menulis:

    Tetap semnagtt ya kak

  4. rosefinratn menulis:

    Oh,chocovado is back… :berikamiadegankiss! :berikamiadegankiss!

    1. Terimakasih sudah menunggu :nangiskeras :nangiskeras :nangiskeras

  5. Lgi dong :lalayeye

  6. Tks y kak udh update.

  7. Lely Damayanti menulis:

    Mantankah???