Vitamins Blog

Catatan Seila

Bookmark

No account yet? Register

16 votes, average: 1.00 out of 1 (16 votes, average: 1.00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

 

Namaku Seila, umurku 23 tahun. Aku hidup di salah satu kota terbesar di Indonesia. Tak banyak hal yang aku sukai, namun sebaliknya, ada bermacam hal yang kubenci. Wajahku—bukan bermaksud menyombongkan diri—cantik. Aku berasal dari keluarga yang kurang mampu. Tidak memiliki banyak teman semasa remaja. Adapun hal yang membuatku merasa tenang hanyalah memperhatikan. Aku suka melihat rintik hujan yang turun di antara sela-sela jemariku, merasakan sensasi dingin yang menyergap pori-pori kulitku. Seolah aliran dingin mampu membasuh separuh kegusaranku, walau sebenarnya tak sedikit pun kegundahanku berkurang. Lalu, aku senang melihat kelopak bunga yang mekar di musim hujan. Kau tahu, bunga-bunga itu tampak seperti terlahir kembali saat butir-butir hujan menggerus debu dan membiarkan keindahan alam terpampang di hadapan manusia. Aku juga suka mengurung diri; membaca bertumpuk-tumpuk buku, membiarkan tokoh-tokoh fiktif memperjuangkan nasib, dan berandai; bagaimana bila aku menggantikan salah seorang tokoh yang ada di sana.

Maka dari itu, aku ingin mengungkapkannya padamu. Terserah, kau boleh berpikir buruk. Aku tidak peduli. Lebih baik bila kita saling memahami. Aku hanya ingin menunjukkan sisi gelapku. Aku muak. Aku tak senang pandangan sekitar yang menilaiku sempurna tanpa tahu isi hatiku. Aku sudah bosan memakai topeng dan tersenyum pada lelucon konyol manusia.

Sayang, bukankah kau selalu merasa diriku ini sempurna? “Segala yang kuinginkan ada padamu,” katamu padaku.

Sesungguhnya aku selalu merasa kosong.

Tak peduli seberapa banyak cinta yang kucari, dan entah mengapa. Tak satu pun dari cinta-cinta itu memenuhi lubang yang ada di hati. Orang lain mampu mengucap sumpah setia pada pasangan mereka. Berjanji bahwa tak akan ada apa pun yang mampu memisahkan ikatan, kecuali Ia Yang Memiliki Semesta.

Apakah aku termasuk orang-orang yang tak bersyukur?

Jawabnya, aku tidak tahu.

“Apakah aku pernah menjadi bagian darimu?” tanyamu padaku.

Aku tak tahu…

Aku tak pernah tahu.

Sayang, aku tak ingin menjejalimu dengan omong kosong dunia. Kau tahu, kan, hidup ini terlalu sesak dengan segala pewayangan. Aku bukan Sembodro yang seia dan sekata dengan Arjuna. Sebenarnya, akulah para Kurawa yang selalu merasa kurang akan nikmat sang dewa. Oleh karena itu, aku pun tahu Sengkuni yang berbisik lembut di telingamu. Ia mencoba menggoyang keyakinanmu padaku.

Meski tahu, aku memilih diam.

Tidak. Sayang, tolong jangan berpikir aku tak tahu diri.

Kubiarkan Sengkuni menuang anggur dusta dalam cawanmu sebab aku ingin menguji kesungguhan hatimu. Benarkah kau tulus menginginkanku? Sanggupkah kau mencintai kekuranganku sebagaimana kau menyukai kelebihanku? Apakah kau bisa menyelami kebenaran di antara lautan kebohongan?

Hanya itu. Tidak lebih.

Sayang, wanita memang seperti itu. Atau mungkin hanya wanita tertentu saja yang senang menguji pasangannya.

Aku tak lebih dari tulang rusuk yang dihidupkan dalam wujud keindahan. Kami, para wanita, diciptakan untuk melengkapi kekurangan pria. Mirisnya, kaum perempuan tak pernah mengeluh akan keadaan hierarki mereka di antara dominasi pria. Aku ingin kau tak menjadi bagian dari mereka yang tak mengerti seberapa berharganya arti dari saling mengasihi.

Sayang, mungkin karena itulah aku tak ingin terikat padamu.

Bila belum bersumpah setia saja kau tak mampu menahan egomu padaku, bagaimana nantinya setelah kita hidup serumah?

Aku bosan. Kau berkata, “Aku lebih senang kau memakai baju berwarna meerah.”

Aku tak suka. Sekalinya aku mengamini permintaanmu, aku merasa muak.

Untuk apa aku berubah menjadi sesuatu yang bukan diriku? Sesuatu yang bukan Seila?

Sayang, jangan naif.

Duniaku adalah tempat yang dipenuhi realitas. Aku tak suka berperan menjadi yang lain. Semua wanita akan merasa sedih bila mereka dipaksa menjadi yang lain.

“Aku hanya ingin kau melihatku sebagai AKU!”

Bisakah kau melihat AKU yang sebenarnya? Atau kau lebih senang menjejaliku denangan drama picisan? Apakah tak cukup AKU yang ini sehingga kau memintaku menjadi AKU yang lain?

“Aku mencintaimu.”

Aku tak percaya padamu. Kalau cinta lalu mengapa aku merasa kosong? Tak ada rasa panas yang menjalar saat tangan kita bergandengan. Aku pun tak merasa nyaman saat kita duduk bersama.

Nah, mungkin aku mulai menyadari sesuatu.

Sesuatu yang sangat penting.

Sesuatu yang tak boleh aku lupakan.

Sesatu yang tak boleh diabaikan para wanita.

“Cintai ia yang menerima kekuranganmu.”

Pepatah lama, dan aku menyukainya. Sayang, kalau kau tak bisa menerimanya, maka lebih baik aku pergi; kita akhiri hubungan ini.

Aku ingin dicintai oleh ia yang mampu menerima kekuranganku. Aku ingin disayangi dia yang mampu merubah sakitku dan menyembuhkan lukaku. Aku ingin dipeluk dan merasa nyaman dengan ia yang tak membedakan diriku.

Aku egois?

Tidak masalah. Aku tak akan ragu dengan keputusanku. Cinta bukan hanya masalah komitmen.

“Aku juga bisa menjadi lelaki yang kauinginkan,” rajukmu.

Oh, sudah terlambat.

Aku telah menemukan jalanku. Kau tak melihat persimpangan yang membentang di hdapan kita. Kau terlalu larut dengan dongen picisan Sengkuni. Hei, aku tahu, sangat tahu. Sengkuni terlalu lama meracunimu dengan bualan. Aku tak ingin berjalan di bawah kendali Sengkuni.

Aku bebas.

Aku bebas dari segala doktrinmu.

Doktrin cintamu.

Sayang, jangan menangis. Cari saja Seila yang lain sebab Seila yang ini tak akan kembali padamu.

4 Komentar

  1. Seila yg ini mencari lelaki yg mencintai kelebihan dan kekuranganny bukan hanya mencinta kelebihanny aja
    Aq kok merinding yak bca cerita ini, emmmmm apa krna dikau bahas ny gmnnnn gtu ehh hihi
    Semangat ka

  2. Seila menginginkan orang yg juga mencintai kekurangannya bukan hanya kelebihannya saja,,
    Dan bukankah semua wanita menginginkan yg seperti itu??
    Bahkan pria juga menginginkannya bukan??

  3. Sering skli kelebihan menjadi satu2nya yg dilihat tanpa melihat kekurangan yg ada pdhl dua2nya bisa berjalan beriringan jika ada yg menerimanya, ada yg mendukung dan tak mempermasalahkan kekurangan itu.
    Semangat untuk Seila jg untk kk

  4. fitriartemisia menulis:

    duh, merinding yaa, detail banget penggambaran perasaan Seilanyaaa, good