3.73K views
0

Ruh dan Jiwa

Dua-duanya sama-sama tidak terlihat, dua-duanya ada di dalam hati manusia, dan menggerakkan manusia hingga dia tidak menjadi jasad kosong.

Manusia kadang mengira ruh dan jiwa itu satu, ada pula yang meyakini kalo itu berbeda

Jadi menurut kalian, kalau memang ruh dan jiwa itu berbeda, apa sebenarnya perbedaan Ruh dan jiwa manusia itu?

0

@author1 datang2 udah ngasih pertanyaan yg susah :IMUT

*mikir mode on*

aq kira jiwa dan ruh itu beda kata dgn pengertian yg sama, tp gak tau lg klo pengertiannya berbeda hehehe

0

pagi2 udah disuruh mikir nih sama kakak auth1

hhmm, menurutku ini yaah kak..

roh itu nyawa yg sudah ditiupkan Allah untuk mengisi tubuh/jasad kita, karna roh inilah kita bisa hidup di dunia. sedangkan jiwa adalah bagian dari diri kita juga yang lebih sensitif/memiliki perasaan. perasaan disini ga hanya sedih atau senang, tp semua perasaan kita. bedanya roh dan jiwa adalah ketika hanya jiwa kita yang mati sesungguhnya kita masi hidup tetapi kita seperti zombie yang tidak punya perasaan, kehendak, ataupun harapan. kita tak ubahnya seperti robot yang hanya menjalankan hidup tanpa bener2 hidup. sedangkan jika kita tanpa roh maka artinya kita mati dalam artian sebenarnya. maka dari itu dalam diagram lingkaran diatas roh berada diposisi terdalam (tengah), lalu jiwa, dan terakhir tubuh.

0

Jiwa itu itu yang berkaitan dengan hawa nafsu, dunia setan istilahnya lainnya. Jiwa yang lebih cenderung kepada sifat yang tercela. Hawa nafsu.

Ruh Lebih kepada zat yang mengisi jasad manusia. Tidak ada ruh tidak ada bisa kita merasakan nikmat, mendengar, melihat.

Manusia Ibarat mobil tanpa sopir bila tanpa roh.Mobil nggak bisa jalan kl nggak ada sopir. Orang meninggal punya lengkap inderanya tapi tdk merasakan apapun lagi. Punya mata tdk bisa melihat, punya mulut tp tdk merasa. Punya hidung tapi tdk membaui. Ruh pasti kembali pada penciptanya.

sekian terima gaji hehhe

0

Perbedaan Jiwa dengan Ruh
Jiwa dan ruh itu berbeda. Namun keduanya memiliki hubungan yang terikat satu dengan yang lain. Tidak akan ‘berfungsi’ dengan baik seorang manusia apabila jiwa dan ruhnya tidak saling berinteraksi dengan baik. Jiwa ada sebagai akibat bersatunya ruh dengan badan, sebab ruhlah yang menjadikan manusia hidup, dan selama manusia itu hidup, mereka dapat menentukan pilihan hidupnya karena ada peranan jiwa di dalam tubuh manusia.

1. Berdasarkan subtansi
Dalam QS. A Nahl (16) : 78, QS. Yusuf : 22, QS. Al Insaan (76) : 1, dan QS. Asy Syam (91) : 7-10 dijelaskan bahwa jiwa merupakan dzat yang labil kualitasnya. Bisa naik, turun, kotor, bersih, dst. Perkembangan kualitas jiwa seseorang terjadi seiring dengan pengalaman hidup, ilmu, dan umurnnya.
Sementara, ruh dalam QS. Al Hijr (15) : 29, QS. Tahrim (66) : 12, QS. As Sajdah (32) : 9 digambarkan sebagai dzat yang selalu baik, suci, dan berkualitas tinggi. Bahkan merupakan ‘turunan’ dari Dzat Ketuhanan.

2. Berdasarkan fungsi
Jiwa adalah ‘sosok’ yang bertanggung jawab atas segala perbuatan kemanusiannya. Jiwa memiliki kebebasan untuk memilih kebaikan atau keburukan dalam hidupnya yaitu sebagai amal (baik amal baik ataupun amal buruk).
Pertanggungjawaban itu akan dipikul oleh jiwa ketika ia dikembalikan ke badannya pada hari kebangkitan kelak. Berbeda dengan jiwa, ruh merupakan anugerah Allah yang menularkan sebagian sifat-sifat Allah. Dengan ditiupkannya ruh, saat itulah manusia dapat bernafas.
Intinya, ruh berfungsi sebagai ‘sesuatu’ yang menjadikan manusia itu hidup dan jiwa merupakan ‘sosok’ penentu setiap pilihan dalam kehidupan.

Perbedaan makna jiwa dengan ruh dapat kita lihat dalam kegiatan sehari-hari. Tatkala seseorang terlelap dalam tidur, hembusan nafas dan detak jantungnya masih terdengar karena yang ditahan oleh Allah adalah jiwanya, bukan ruhnya. [QS. Az Zumar (39):42]

3. Berdasarkan sifat
Jiwa berpotensi dapat merasakan kemarahan, kesedihan, kegembiraan, ketenangan, dll. Sedangkan ruh bersifat stabil. Ruh adalah kutub positif dari sifat kemanusiaan sebagai lawan dari sifat setan yang negatif.

Keberadaan jiwa dan ruh

Ruh terbuat dari cahaya
Secara substansi sifat ruh digambarkan adalah sbg dzat yang selalu baik dan berkualitas tinggi.
Dengan ruh itulah manusia menjadi memiliki kehendak. Dengan ruh itu pula manusia bisa berilmu pengetahuan. Dengan Ruh itu pula ia menjadi bijaksana, memiliki perasaan cinta dan kasih sayang, serta berbagai bagai sifat ketuhanan, dalam skala manusia.

Ruh adalah dzat yang menjadi media penyampai Sifat-sifat Ketuhanan di dalam kehidupan manusia.
Dalam kaitannya dengan jasmani, Allah menjelaskan bahwa ruh tersebutlah yang menjadikan fungsi-fungsi kehidupan seperti penglihatan, pendengaran dan hati seorang manusia bisa dipahami oleh jiwa. Jika tidak karena ruh, maka fungsi penglihatan, pendengaran dan ‘hati’ tidak menghasilkan kefahaman sebagaimana seorang manusia.

Secara fungsinya ruh adalah dzat yang selalu baik dan berkualitas tinggi. Ruh, selalu ‘mengajak’ kepada kebaikan. Ini juga ada kaitannya dengan istilah ruh yang digunakan untuk menyebut malaikat. Ruh mewakili sifat-sifat malaikat yang penuh dengan ketaatan, keikhlasan, akal sehat, kesucian, cinta kasih dan kesempurnaan.

Dan kalau secara sifat ruh bersifat stabil dan merupakan kutub positif dari sifat kemanusiaan. Ruh juga digambarkan bagaikan malaikat yang mengajak pada cahaya yang terang benderang, melepaskan diri dari dunia kegelapan hawa nafsu.

Jiwa (Nafs) juga terbuat dari cahaya, tetapi jiwa digambarkan sebagai dzat yang bisa berubah-ubah kualitas: naik dan turun, jelek dan baik, kotor dan bersih, dst.

Jiwa (nafs) didalam tubuh manusia bersemayam di tiga tempat yaitu
1. Yang memerintah/bersemayam di otak ini yang disebut dengan akal atau pikiran atau logika sehingga manusia berilmu pengetahuan
2. Yang merasakan baik dan buruk/berkaitan dengan kejiwaan/mampu membedakan baik dan buruk) ini tempat bersemayam Qalbu yang memiliki rasa diantaranya perasaan cinta dan kasih sayang, sabar, ikhlas, tawakal, syukur, benci, iri, dengki, tamak, pelit dll 

3. Yang menjalankan perintah, bersemayam diseluruh sela-sela antara daging dan darah dan bersemayam pula di urat nadi dan syaraf-syaraf ini yang disebut dengan keinginan atau kehendak atau nafsu

Lantas dimanakah posisi Ruh? Sebagaiman kita ketahui bahwa sel merupakan unit terkecil kehidupan. Setiap sel mampu melaksanakan aktifitas kehidupan, seperti respirasi oleh mitokondria, sekresi oleh kompleks golgi, serta proses pencernaan oleh lisosom. Selanjutnya sel-sel itu bersatu membentuk jaringan-organ-sistem organ-organisme, yaitu manusia, alias kita. Secara tidak langsung kita telah menemukan jawaban bahwa ternyata ruh itu bersemayam di setiap sel tubuh.

Jadi jiwa adalah ‘akibat’. Jiwa muncul akibat interaksi antara ruh dengan jasmani. Jiwa dapat mengikuti petunjuk ruh lantas menuju pada kebaikan atau justru tertarik pada jasmani yang cenderung mengtuhankan hawa nafsu dan menggiring manusia pada keburukan. (Yahoo)

0

Ruh itu bungkusnya jiwa, sedangkan jiwa bungkusnya raga. Jadi di dalam raga kita yang kita llihat sehari-hari ini terdapat jiwa dan ruh, dua entitas yang berbeda. Sebelum jiwa bersama-sama ruh ditiupkan ke dalam raga manusia dipanggil dulu ke hadapan Allah Ta’ala di suatu saat yang peristiwa itu terekam dalam Al Quran Surat Al A’raaf [7] ayat 172. Dikatakan sbb:
Allah mengambil kesaksian atas anfus (jiwa-jiwa) mereka ,
Perhatikan di sini dikatakan yang diambil kesaksian adalah jiwa-jiwa bukan ruh. Dengan demikian entitas utama manusia adalah jiwanya. Adapun ruh berfungsi untuk menghidupkan jiwa dan raga. Sedangkan raga adalah kendaraan jiwa selama berada di alam dunia dan alam mulkiyah. Jadi jiwa kita yang berjalan sejak di alam alastu (alam persaksian), alam rahim, alam dunia, di alam barzakh dan seterusnya Jiwa kita dan seluruh manusia dipanggil ke hadapan Allah ta’ala. Allah bertanya, Bukankah Aku Rabbmu ? Dan kita pun dulu menjawab Iya, dan kami bersaksi (balaa syahidna) Dialog ini menunjukkan bahwa kita sudah mengenal Tuhan disana.

DayNight
DayNight